Another plan

2239 Words
Zeus Distro Tempat multi fungsi itu kini suasananya mendadak mencekam. Setelah Aiden menutup Distro dan mengizinkan para Pegawai lainnya pulang lebih cepat, keempat laki-laki tampan ini langsung mengistirahatkan tubuhnya di atas sofa distro tepatnya di ruang khusus Crew berada. Suasana panas dari emosi keempatnya memenuhi setiap sudut ruangan. Niat mereka bersenang-senang melepas stress malah berakhir tambah stress. Mana tahu mereka jika disana akan ada Serkan dan Keyra. Sepertinya alam sedang menyempitkan sekitar dan menguji kesabaran mereka hingga batas akhir. Berharap mendapatkan kedamaian di tengah-tengah kepusingan, mereka malah mendapatkan kepusingan lain yang pasti mengusik ketenangan hati untuk kedepannya. Aldi yang sedang mengipasi wajanya dengan tangan menatap horror ke arah Damian yang kini tengah menenggak minuman bersoda seperti kesetanan. Laki-laki itu benar-benar seperti kerasukan setan haus. Menelan semua cairan itu dengan mudah dan tanpa jeda. Beberapa kali juga terdengar sendawa keras yang sepertinya cukup sakit bila melewati hidung. Seluruh stok minuman soda tersebut di ambil oleh Dami dari kulkas Distro. Masih ada sekitar empat kaleng yang utuh belum dibuka. "Dam, perut lo bisa kembung. Udah tiga kaleng lo minum gituan." Dami yang hendak membuka kaleng keempat itu menatap tajam Ilo karena merasa terganggu. Bagaimanapun caranya, dirinya membutuhkan pelampiasan atas kemarahannya. "Bacot lo!" protesnya marah. Ilo berdecak. "Ngeyel banget." Dami tak sengaja menatap Aiden yang tengah menyender di pintu. Tatapan manusia satu itu lebih menusuk dari pisau. Apalagi tatapan tajamnya tersebut ditujukan kepada dirinya. Aiden seakan mengatakan kepadanya untuk berhenti. Tanpa suara pun Aiden bisa dengan mudah mengancam seseorang. Membuatnya takut dan terintimidasi. "Iya-iya gak lagi." Dami akhirnya menyimpan kaleng soda yang belum sempat terbuka itu ke meja lalu menghembuskan nafasnya. Tidak jadi meminumnya karena ia juga sebenernya sudah tidak kuat. Hanya saja Dami mencoba menenangkan pikirannya yang panas dan berharap agar emosinya reda. Padahal nyatanya masih sama saja. Perasannya penuh amarah dan dendam. Nafas Dami pun berat dan alisnya selalu terkerut. Aiden menggeleng pelan melihat tingkah Dami. Ia berjalan mendekati sahabat-sahabat nya lalu memijat pelipisnya. "Keadaan makin kacau." Semuanya berjalan diluar kendali, bahkan Aiden si cerdik pun kewalahan mengatasinya. "Gue tau," ucap Aldi. Aiden menatap Aldi, Ilo, dan Dami bergantian. "Lo percaya kalau gue bilang si Serkan punya rencana jahat?" "Percaya, lah. Kapan si b*****t itu gak jahat? Si Keyra aja yang b**o. Mentang-mentang si Serkan ganteng," ucap Ilo emosi. "Kok lo jadi muji dia si, Lo?" Ilo menatap horror Damian. "Heh, gue gak muji dia. Tapi emang dasar nya cewek pasti kecantol pesona ketua geng, kan? Keyra pasti ngira si Serkan itu Garka. Apalagi keadaannya mempermudah orang licik kayak Serkan memanfaatkannya. Gue antara kasian sama males liat itu cewek." "Padahal mau gimanapun diliatnya, Garka jauh lebih oke dibanding dia, dasarnya aja si Keyra buta," lanjut Ilo. "Gini." Aiden merubah raut wajah datarnya menjadi serius. Jika Aiden sudah serius seperti itu, tandanya mereka memang tak bisa becanda lagi. Dan situasi sekarang pun tidak memungkinkan mereka untuk becanda. "Gue bakal selidiki apa motif Serkan tiba-tiba deketin Keyra. Lo semua curiga gak sih, kenapa Serkan gak nyerang kita walaupun tahu posisi Ketua lagi kosong?" Dami menyerengitkan alisnya, ia mengusap dagunya lalu mengangguk-angguk. "Bener juga, seharusnya sekarang itu peluang bagus buat Geng Akasa nyerang kita selagi Ketua sejati Zeus gak ada." "Kayaknya si Serkan emang lagi rencanain sesuatu," ucap Ilo. Laki-laki itu menyugar rambut nya yang belum dicukur kebelakang. "Pokoknya kita harus hati-hati, gak boleh lengah sedikitpun." "Apalagi lo, Den. Gue punya firasat kalau lo bakal diincer sama Akasa, secara lo Ketua pengganti Garka. Posisi yang pas buat target mereka selanjutnya. Karena gue yakin mereka mikir kalau lo adalah ancaman besar bagi Akasa," ucap Aldi. Aiden terdiam, ia tengah memikirkan kemungkinan terburuknya jika Garka belum kembali atau bahkan tidak akan pernah kembali. Zeus akan benar-benar berakhir. Anggota yang tadinya hampir melebihi 400 anggota kini tersisa 100 anggota. Bukan hanya akan terpukul mundur, Zeus bisa lenyap untuk selama-lamanya. Distro juga banyak kehilangan investor dan pelanggan setianya. Penghasilan turun drastis bahkan Aiden harus menumpuk modal dari uang pribadinya agar tempat ini bisa terus berjalan. Sedangkan Akasa, geng yang tercap sebagai musuh abadi Zeus itu semakin berjaya walaupun dikabarkan tengah hiatus sebelum kembali dibukanya anggota baru. Ini tidak bisa dibiarkan, semuanya terasa janggal. "Pokoknya gue bakal selidiki dulu semua kekacauan ini. Selagi belum ada perintah dari gue untuk nyerang, kita jangan gegabah. Salah langkah kita bisa celaka. Sekuat-kuatnya benteng Zeus, bakal roboh juga kalau kita gak ngatur strategi, apalagi jumlah anggota kita berada di titik terendah." Aldi, Dami, dan Ilo mengangguk menyetujui ucapan Aiden. Mereka tidak ingin geng yang dipercayakan oleh senior mereka ini hancur begitu saja. Apalagi sebelum ditangan mereka, Zeus benar-benar merajai jalanan. Akasa hanyalah lalat yang tak terlihat dimata Zeus. Namun, setelah kepemimpinan Akasa berpindah kepada Serkan, perlahan-lahan geng itu mulai menjadi ancaman untuk Zeus. Nama Akasa mulai terpandang dan berakhir menjadi saingan utama Zeus. Serkan memang bukan sembarang orang yang bisa diremehkan. Bakat liciknya sangat terdukung oleh Akasa dan anggota lainnya. Dia benar-benar ancaman nyata bagi Zeus. "Serkan gak bisa kita remehin. Otak dia licik. Kita juga harus terus lindungi Keyra, dia bisa aja jadi target Serkan." Dami melirik Aiden kesal. Sebenarnya ia tidak setuju dengan ucapan Aiden yang satu itu. Dami sudah malas menjaga Keyra, sakit sekali hatinya saat Keyra menampar pipinya begitu saja di depan umum. Bukan hanya malu yang ia dapat, tapi juga dendam. Padahal selama ini belum pernah ada yang menamparnya. Kalau memukul si pernah saat bentrok. "Dam, karena ilmu bela diri lo paling mumpuni dari kita semua, gue pengen lo awasi Key—" "Males, ah! Jangan gue, yang lain aja." Dami berdecak sebal memotong ucapan Aiden. Jika dirinya disuruh menjaga Keyra lagi, bisa-bisa dia mati berdiri karena terus-menerus menahan emosi. Tadi saja nasib baik karena ada Aldi dan Ilo yang menahan dirinya. Jika tidak, Keyra akan berakhir babak belur ditangannya. Karena jika ia emosi, tidak peduli lawannya perempuan atau laki-laki. Dami akan memberikan pelajaran bagi mereka agar tidak macam-macam dengannya. Selama ini Dami selalu mendapat amanah dari Garka untuk menjaga Keyra jika laki-laki itu tidak ada, tapi jika Keyra nya seperti itu, untuk apa ia menjaganya. Buang-buang waktu saja. Dami baik kepada Keyra karena menghormati dia yang posisinya adalah belahan hati Garka. Sebelum-sebelumnya juga sikap Keyra sangat asyik dan penurut. Setelah gadis itu bergaul dengan Serkan entah kenapa sikapnya jadi berubah drastis. "Dam, buat beberapa hari aja. Kasih waktu buat gue nyelidiki Akasa." Dami mendengus, "Kenapa gak si Ilo atau Aldi aja?" Aiden menghela nafas. "Yang dapet amanah dari Garka itu lo, Dam. Aldi dan Ilo udah gue tugasin buat ngajarin anggota baru fight." Dami menatap Aiden ragu. Ia benar-benar malas. "Tolong, Dam." lirih Aiden. "Oke, fine!" Dami menghembuskan nafasnya kasar lalu menghempaskan tubuhnya ke senderan sofa. Aiden tidak pernah memohon sebelumnya, laki-laki itu sepertinya benar-benar serius saat akan menjaga Keyra demi Garka. Padahal jika Dami di posisi Aiden, dia akan bodo amat pada Keyra. Gadis itu tidak pantas untuk menjadi kekasih Garka sang Ketua Zeus. "Kasih gue waktu buat selidiki Akasa." "Tapi, Den. Tiga hari lagi kita sekolah, gimana?" tanya Aldi. Aiden membasahi bibir bawahnya, "Justru kita lebih mudah buat ngawasin Keyra, kan? Kita bisa pantau dia di sekolah karena disaat itu Serkan lagi gak ada." Aldi berdehem. "Bener juga." Aiden menelan ludahnya susah payah. "Selama gue belum nemu motif Akasa gak nyerang kita, lo semua harus waspada. Kasih tau ke anggota lainnya jangan dulu pake bandana, karena mereka tau kalau anak Zeus punya bandana. Mereka bisa saja nyerang kita secara personal, pokoknya kita semua harus hati-hati." Ketiganya serempak mengangguk. "Siap, komandan!" "Semoga Garka kembali sebelum semuanya semakin kacau," ucap Aiden pelan. Ada harapan besar terselip didalamnya. *** Markas Akasa, Jakarta 13.30 PM "Sakit ya, bos?" "Mau gue usapin?" Serkan menatap jengah kepada dua sahabatnya yang abnormal ini. Setelah dari rumah Keyra, ia langsung menuju ke markas Akasa untuk memberitahu sebuah misi penting kepada anggota intinya sekaligus melaporkan rencana hari ini yang suskes besar. Namun, saat sampai disini ia malah berurusan dengan mahluk yang otaknya hanya satu giga, mereka sibuk meledek Serkan dan muka bonyoknya ini. Padahal mereka melihat sendiri alasan pipi Serkan menjadi biru seperti itu. "Itu kan perintah lo sendiri, gue cukup ikutin perintah lo." Didi mengangguk. "Bener kata Nino, tapi sejauh ini rencana kita kayaknya berhasil." "Berhasil, lah!" ucap Serkan. Laki-laki ini membuka jaket nya. "Gue pastiin rencana kita berhasil, untuk rencana hari ini gue akui berjalan dengan sempurna." Disana bukan hanya ada tiga orang ini. Ada beberapa anggota inti Akasa lain yang sedang berkumpul. Anggota inti geng ini memang tidak sebanyak benteng Zeus. Karena Serkan tidak menemukan orang-orang berpotensi lainnya. Susah mencari manusia seloyal para benteng Zeus. Ada sedikit rasa cemburu dihatinya. "Licik banget ya Ketua kita. Sekarang mainnya udah adu domba. Nanti adu gajah lama-lama," ucap Nino. Nino dan Didi tertawa, sedangkan Serkan menghela nafas. Sampai kapan dia akan berhadapan dengan duo mahluk ini. Tapi, Serkan juga cukup bangga kepada Didi dan Nino karena berhasil menjalankan tugas yang diberikan olehnya. Memang, jiwa Didi dan Nino seperti pelawak. Tapi, jika sudah serius mereka akan benar-benar tak bisa diremehkan. Flashback On Dua hari sebelum ke timezone... "Di, No, gue punya rencana." Didi dan Nino yang tengah bermain play station dikamar Serkan menoleh bersamaan. "Rencana apaan?" tanya Nino. Serkan menimbang-nimbang perkataannya. "Gue mau tugasin lo berdua buat jadi stalker." Didi dan Nino serempak melototkan matanya. "Buset! Lo mau nge-stalk siapa?" tanya Didi yang di angguki Nino. "Anak-anak Zeus," ucap Serkan. "Tumben banget?" tanya Nino. "Pokok nya gue punya rencana. Lo pantau Anak-anak Zeus pergi kemana dan ikuti. Lo harus bilang sama gue kalau mereka ada rencana main keluar atau apapun itu. Usahain lo dapet informasi itu." Serkan menatap serius kedua sahabatnya. Didi mengangguk. "Oke-oke. Jadi intinya gue harus ikutin kemanapun mereka pergi, terus kalau mereka ada rencana main ke suatu tempat atau berkunjung kemanapun, gue harus lapor ke elo?" Serkan tersenyum. "Yap, gue bakal bikin siasat yang sedari dulu selalu berhasil untuk membuat sebuah hubungan hancur." "Apa itu?" tanya Nino. "Adu domba," jawab Serkan. "Gue bakal bikin hubungan Anak-anak Zeus sama Keyra hancur. Gue pengen Keyra bener-bener bergantung sama gue. Nanti, setelah rencana kedua kita berhasil, kita serang Zeus." "Rencana kedua apaan?" tanya Nino. Mereka berdua selalu takjub karena Serkan mempunyai banyak rencana licik. "Masih rahasia." Serkan menyeringai. "Pokoknya lo harus kerjain apa yang gue suruh dengan benar." Nino dan Didi tersenyum lalu menyanggupi tugas nya. *** Satu hari sebelum kejadian di timezone... "Keliatan, gak?" "Kagak, mereka masih di dalem." Didi berdecak. "Betah amat si mereka di dalem, gak bosen apa, ya?" Nino terkekeh, "Gue mau lapor Serkan dulu kalau Anak-anak Zeus belum ada pergerakan." "Tapi, No. Sumpah ya, ini tempat kita mata-matain mereka gak elite banget." Nino berdecak. Ia menatap Didi lalu menunjuk ke Distro. "Cuman tempat ini yang paling deket sama aman buat mata-matain mereka. Gak usah protes lo, ah!" Didi mencibir. Ia menatap kebawah lalu menelan ludahnya. Ia membenarkan posisi duduknya. "No, gue takut jatuh." Nino yang tengah mengetik pesan untuk dikirimkan kepada Serkan terkekeh pelan. "Jatuh dari pohon setinggi gini gak bakal bikin lo mati," ucapnya. "Paling enggak patah tulang." "s****n!" Nino dan Didi menghabiskan satu hari untuk memata-matai anak Zeus. Namun pada hari itu tidak ada pergerakan pasti. Hingga keesokkan harinya Nino melihat keempat pengurus Zeus pergi keluar. Nino berinisiatif bertanya kepada pegawai Distro dengan dalih ia adalah teman dari Aiden. Mereka bertanya kemana perginya keempat laki-laki itu. "Timezone, Kan." "Lo yakin?" Nino mengangguk walaupun ia tahu jika Serkan tidak akan melihatnya, karena saat ini ia tengah menelepon Serkan. "Seribu persen." "Oke. Good Job! Lo terus ikutin mereka, jangan sampe ketauan. Nanti kasih tau gue mereka main di Mall mana." "Oke, Bos!" Telepon ditutup sepihak. Nino dan Didi mengikuti keempat laki-laki yang menjadi target nya itu dengan hati-hati. Mereka mengenakan masker dan juga topi agar tidak diketahui. Setelah hampir satu jam lebih memata-matai mereka, akhirnya Serkan datang bersama Keyra. Serkan sempat menatap mata Nino dan Didi yang memakai masker juga topi. Nino mengangguk mengerti kode tersebut. Artinya rencana akan berhasil. Kini tinggal Serkan yang memainkan perannya. "Anjir! Si Serkan berani mati juga." Didi mendesis saat Serkan dengan sengaja memeluk Keyra dari belakang saat sedang bermain basket. "Pertunjukan dimulai," ucap Didi saat melihat target mereka yang sebenarnya mulai terpancing. Didi dan Nino memperhatikan dari jauh Serkan yang kini tengah dipukuli oleh Dami. Rencana mereka berjalan mulus, Dami termakan umpannya. Sebenarnya mereka berdua sangat ingin membalas pukulan Dami yang berani-beraninya memukul ketua mereka. Hanya saja Serkan menyuruh mereka diam. "Ayo pulang, tugas kita selesai," ucap Didi kepada Nino. Flashback Off "Gue awalnya bakal ngira si Aiden tau rencana gue. Dia bener-bener orang yang berbahaya," ucap Serkan. "Kita harus hati-hati sama dia." Didi berdehem, "Lo udah dapet kepercayaan Keyra sekarang, terus lo mau apa?" "Gue udah nyiapin banyak rencana." Serkan tersenyum misterius. "Termasuk rencana kalau Garka balik kesini." "Emang lo yakin dia bakal balik? Selama ini gak ada kabar tentang dia lagi," ucap Nino. "Dan kalau dia balik pun pasti keadaannya bakal beda. Gak kayak dulu," lanjutnya. Serkan menatap Nino. "Apa salahnya gue nyiapin rencana cadangan? Garka bukan tipe orang yang gampang nyerah apalagi berhenti ditengah jalan." Nino terkekeh lalu menggeleng. "Enggak salah, sih. Justru lebih baik kalau punya rencana cadangan." "Sebelum serang geng nya. Kita serang otaknya." Didi dan Nino saling berpandangan. "Maksud lo?" Serkan menyeringai. "Liat aja nanti. Karena inilah rencana kedua gue."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD