"Anjir lo Dam, ah! Masa main ginian aja gak bisa? Cupu lo!"
Damian mendengus. Ia menjambak rambut Aldi hingga sahabatnya itu meringis. "Ngaca lo! Udah berapa koin yang lo abisin buat naklukin ini mesin, hah?!" tanyanya kesal karena dia tidak terima di sebut cupu.
Padahal dia sudah mati-matian mengerahkan seluruh tenaga dan juga fokusnya. Tapi entah kenapa permainan terkutuk ini seakan menolak untuk bisa ditaklukan.
Sedari kecil hingga dia remaja sekarang, belum pernah seumur-umur dia berhasil memenangkan permainan ini. Antara penasaran dan kesal bercampur aduk. Padahal melihat orang-orang saat memainkan ini seperti nya gampang-gampang saja.
"Gue masih mending ya daripada si Ilo. Koinnya udah hangus, lenyap, ditelan Black Hole."
Ilo berdecak. "Berisik lo thanos! Lagian udah tau mesin kayak gini diakalin sama pemilik nya. Mana mungkin bisa dapet?"
Dami dan Aldi tertawa bersamaan. "Halah alesan aja lo, bujang!"
"Banyak kok yang bisa mainin, kitanya aja yang kurang beruntung," ucap Aldi.
"Lo kalau udah mau nyerah sana aja pulang, nangis ke mamah," kata Dami sembari tertawa.
"Den, bantuin gue kek. Gue di bully nih." Ilo menatap Aiden dengan tatapan menjijikan hingga membuat laki-laki dingin tersebut bergidik ngeri.
"Sana jauh-jauh dari gue," ucap Aiden.
Ilo menyipitkan matanya kesal. "Tega ya lo."
"Ayo, Den. Gue sedari kecil sampai sekarang belum pernah bisa jinakin mesin ini. Sumpah, dah. Bukannya dapet boneka, malah emosi yang gue dapet," ucap Aldi. "Bahagia engga, darah tinggi iya."
"Jadi miskin juga. Semua koin gue raib di telan ini mesin," kata Ilo sambil menatap mesik dihadapannya dengan penuh dendam.
Aiden menghela nafas. "Awas lo nya."
Dami, Aldi dan Ilo menyingkir. Ketiga laki-laki berbandana Zeus yang melingkar di kepalanya itu tersenyum bersamaan. Akhirnya Aiden angkat kaki dari tempatnya berdiri. Sudah terhitung satu jam mereka memainkan permainan ini. Namun Aiden hanya diam ditempatnya sambil menonton mereka. Bahkan koin milik Aiden masih utuh tak tersentuh.
Saking penasarannya dengan permainan tersebut, mereka menghabiskan waktu cukup lama disini. Bahkan beberapa pengunjung timezone yang ingin memainkan mesin laknat ini pun diusir dengan nada galak oleh Ilo.
Sampai ada anak kecil yang menangis karena dilarang memainkan mesin itu. Sungguh tidak ada kerjaan sekali anak-anak geng ini.
Jika Aiden ditanya 'kenapa beli koin kalau gak dimainin?' maka Aiden akan menjawab. 'Paksaan dari ketiga dajjal yang mengelilinginya.'
Aiden sebenarnya bosan dan lelah berada di tempat ramai seperti ini. Ia ingin pulang dan memainkan gamenya. Namun lagi-lagi ia tidak bisa meninggalkan ketiga laki-laki haus belaian itu begitu saja. Mereka tidak mau pulang sebelum mereka bisa membawa pulang boneka yang bertengger manis di dalam sebuah mesin berpenampilan imut ini.
"Gue yakin, lo juga pasti gak bisa," ucap Dami meremehkan. Tampangnya sangat yakin karena sudah puluhan kali ia mencoba tetap gagal.
Aiden mendengus. Ia mulai memasukkan dua koin kedalam mesin. Capitan nya ia gerakan dengan tombol. Mata tajamnya menatap malas kearah sebuah boneka berukuran sedang berwarna pink. Dengan cekatan tangannya mengarahkan capitan itu dan mengenainya.
Damian, Aldi, dan Ilo sudah panas dingin ditempatnya. Mereka menatap serius kearah boneka yang tercapit itu. Biasanya boneka akan jatuh sebelum terarah kelubang pengambilan. Namun ditangan Aiden?
"Anjir Anjir Anjir!!!"
"The God of Game ini!!"
"Gak kaleng-kaleng!!"
Aiden menutup telinganya karena sahabat-sahabatnya berteriak cukup kencang memekakan telinga. "Berisik!" decaknya malas lalu memainkan semua koinnya pada mesin ini. Ia hanya mendapatkan tiga boneka karena separuh koin yang dibelinya sudah di palak oleh tiga teman tak tahu malunya.
Pengunjung yang lewat di sekitar mereka tertawa melihat kehebohan yang diciptakan oleh trio heboh itu. Hanya karena sebuah mesin capit boneka mereka bisa senang tak terbendung.
Dami mengambil semua boneka yang didapat oleh Aiden tadi. Ia memeluknya senang seperti anak kecil. "Akhirnya kita bisa taklukin mesin laknat ini!"
"Akhirnya kita bisa keluar dari sini dengan tenang!" ucap Aldi lebay. Ia merebut satu boneka dari pelukan Dami, disusul Ilo yang juga merebut boneka itu.
Aiden berdehem. "Gue setuju! Ayo keluar!" ucapnya sambil melangkah pergi dari tempat itu. Dia sudah tidak nyaman berada disini karena tempatnya semakin ramai. Apalagi banyak perempuan yang modus bolak-balik disekitar mereka hanya untuk cari perhatian.
Mereka bertiga berjalan sembari bersorak heboh dibelakang Aiden, mereka juga meremas gemas boneka silikon yang menggemaskan dan empuk itu dengan tak berperasaan. Keempatnya kini akan keluar dari tempat itu, namun belum sampai pintu keluar, langkah Aiden tiba-tiba terhenti ditengah jalan membuat ketiga sahabatnya dibelakang pun ikut berhenti.
Mereka semua menatap bingung ke arah Aiden yang malah diam saja.
"Kenapa, Den?" tanya Ilo.
Aiden tak menjawab. Ia sibuk menatap ke depan.
Dami sangat mengerti arti dari raut wajah Aiden. Maka dari itu ia mengikuti arah tatapan tersebut, dan seketika itu pula ia mengumpat keras.
"Anjing!"
Aldi dan Ilo mengikuti arah tatapan Dami. Mereka pun sama terkejutnya, tidak pernah terbayangkan sebelumnya akan terjadi hal seperti ini persis di depan mata mereka sendiri.
"Itu ngapain si Serkan peluk-peluk Bu Ketua gitu?!" Ilo bertanya histeris sambil menunjuk kearah dua orang yang tengah berpelukan.
Lebih tepatnya posisinya menyerupai pelukan. Serkan berdiri dibelakang Keyra dengan kedua tangan memegang tangan Keyra yang tengah memegang bola basket. Tatapan Serkan terlihat sangat mesra, Keyra pun nampak pasrah dan tidak terganggu sama sekali.
"s**l! Pisahin mereka cepet! Mereka bener-bener udah deket banget. Gak baik ini," ucap Dami.
Aiden tidak menghentikan ketiga sahabatnya yang tengah menghampiri Serkan dan Keyra. Ia hanya diam ditempatnya dengan perasaan berdebar kalut. Ia tidak akan pernah menyangka semua ini akan terjadi. Serkan, musuh besarnya Garka dekat dengan tambatan hati Garka? Sungguh mengerikan.
"Woy woy woy!! Modus banget lo anjir!"
Saat sudah dalam jangkauannya, Dami tanpa basa-basi langsung memukul rahang Serkan dari samping hingga laki-laki itu terpelanting. Keyra berteriak terkejut, begitupun pengunjung disana. Dami sampai rela melempar boneka yang dipegangnya hanya untuk menghajar Serkan.
"Lo boleh dapet kepercayaan Keyra! Tapi lo gak bisa milikin hati dia! Dia milik Garka!" teriak Dami. "Gak usah modus ya lo, t*i!"
Dami menarik kerah Serkan agar berdiri lalu memukul Serkan kembali hingga darah mengalir di sudut bibir Ketua Akasa itu. Sudah empat pukulan keras ia layangkan. Namun Dami merasa aneh, Serkan tidak melawan sama sekali dan malah menerima semua serangan Dami. Seakan Serkan sengaja membuat dirinya menyerang laki-laki itu.
Serkan begitu pasrah dan tidak mengangkat tangannya sedikit pun bahkan untuk sekedar melindungi wajahnya. Dami memang bisa dengan mudah menghajar Ketua Akasa ini karena akses wajahnya terbuka bebas, namun ia merasa ada yang janggal.
"STOP!! STOP, KAK!"
Dami yang lagi-lagi hendak melayangkan pukulan mendadak terhenti diudara. Nafasnya tak beraturan dan tangannya kebas juga basah karena darah dari Serkan. Ia kini beralih menatap Keyra yang kini menatapnya... benci?
Dami refleks menjatuhkan tubuh Serkan yang sangat lemas itu kebawah. Ia sedikit terhina melihat tatapan yang ditunjukkan Keyra padanya.
"LO APA-APAN SI, KAK?! KENAPA LO TIBA-TIBA NYERANG SERKAN?! DIA SALAH APA?!!"
Dami menyerengit kesal. "Dia." Ia menunjuk Serkan yang tergeletak dibawah dengan darah mengalir dari sudut bibirnya dan juga hidungnya. "b******n, Key! Dia udah modus sama lo!"
"Jaga mulut lo, Kak!"
"Jaga mulut gue?! Harusnya lo yang jaga diri! Jadi cewek murahan banget mau di pegang sana-sini sama cowok! Inget woy kalau lo itu udah punya cowok! Sikap lo yang kayak gini harusnya ga pantes buat Garka!"
PLAK!!
Aldi dan Ilo yang sejak tadi berdiri tak jauh dari Dami melototkan matanya. Mereka segera menghampiri Dami yang terlihat sangat murka dan marah. Mata nya sudah memerah dan kedua tangannya mengepal kuat.
"LO YANG b******n!! ELO KAK!! DIA GAK NGELAKUIN APAPUN TAPI LO PUKUL DIA!!" Keyra berteriak. "DAN LO DENGAN ENTENGNYA HINA-HINA GUE! DISINI LO YANG b******n!"
Nafas Dami memburu dengan pipi kanan nya yang memerah. Ia mengepalkan kedua tangannya semakin keras. Aldi dan Ilo berusaha menenangkan sahabatnya itu. Mereka menahan d**a Dami yang hendak maju. Kedua mata Dami pun ditutup oleh Ilo agar tak menatap ke arah Keyra yang bisa semakin memancing emosinya.
"Udah, Dam. Kita balik aja. Nanti ada satpam kesini berabe urusannya," ucap Aldi.
"Berhenti, Dam. Inget didepan lo itu cewek," kata Ilo sambil berusaha menahan bahu Dami.
Dami menatap Keyra benci. Kedua tatapan Keyra dan Dami sama-sama menyiratkan kebencian. Ia sudah muak melihat Keyra yang selalu membela Serkan bahkan sampai berani menamparnya.
Jika tahu akan seperti ini, dia tidak sudi membuang-buang tenaganya untuk menghajar Serkan. Keyra terlalu sombong akan dirinya sampai lupa siapa yang dulu selalu melindunginya.
"Terserah lo! Kalau suatu saat lo nyesel sama keputusan lo buat ngebela dia. Gak usah lo ngemis-ngemis minta maaf ke gue, apalagi ke Garka." Dami menyentakkan badannya membuat pegangan Aldi dan Ilo terlepas. "Gue muak sama lo!" lanjut Dami sambil menunjuk wajah Keyra.
Setelah mengatakan itu, Dami berjalan tergesa keluar timezone diikuti Aldi dan Ilo. Aiden? Laki-laki es itu baru menghampiri Keyra, dengan wajah super datarnya. Dia mengintimidasi gadis itu, membuatnya ciut seketika.
"Lo menyedihkan, Key." Aiden menatap Keyra menusuk. "Di satu sisi lo kehilangan Garka, di sisi lain lo juga sedikit demi sedikit kehilangan orang-orang yang peduli sama lo."
Keyra terdiam. Nafasnya masih memburu. Serkan bangkit lalu meringis pelan, ia menatap Aiden tajam seakan mengisyaratkan sesuatu. Aiden paham semua ini, ia pengamat handal. Dalam sekali lihat pun ia bisa tahu manusia modelan Serkan itu sangat manipulatif, licik dan jahat.
"Jangan bikin diri lo sendiri terjebak dalam keadaan yang menyulitkan orang lain. Lo selama ini kita jaga karena lo adalah bagian dari Garka." Aiden membalikkan tubuhnya. "Jangan bikin orang lain jadi makin benci sama lo," lanjutnya lalu pergi meninggalkan tempat tersebut.
Nafas Keyra terengah-engah. Ia menatap nyalang punggung lebar Aiden. Perkataan laki-laki itu sangat menusuk. Keyra kehabisan kata-kata untuk membalasnya. Bahkan hanya sekedar menyanggah pun ia tidak mampu.
Memang ya, orang pendiam sekalinya berkata panjang pasti menusuk. Apalagi jika tengah terluka.
"Key?"
Keyra berbalik. Ia menatap Serkan lalu meringis. "Ayo obatin dulu luka lo." Dia tidak tega melihat Serkan yang berdarah-darah seperti itu. Padahal laki-laki ini tidak ada salah apapun.
Keyra menatap sekitar. "Maaf atas kekacauannya," ucapnya sambil menundukkan tubuh kepada seluruh pengunjung yang sedari tadi menyaksikan drama itu.
"Ayo Serkan. Gue obatin luka lo."