3 hari sebelum kepulangan Garka...
New York City, US
21.45 PM
Seorang perempuan cantik berambut pirang memarkirkan mobilnya di pelataran sebuah Mansion. Mobil mewah itu begitu mencolok karena warnanya yang terang dan model design nya yang super keren. Termasuk salah satu super car yang berharga fantastis dan bukan sembarang orang bisa membelinya.
Wajah ramping dengan mata tertutup oleh kacamata dan tubuh tinggi semampai yang terbalut dress hitam elegan itu keluar dari mobil lalu berjalan anggun menuju pintu utama Mansion. Langkah nya terhenti saat seorang Bodyguard yang berjaga didepan pintu tertutup itu menunduk sopan kepadanya. Perempuan ini melepas kacamatanya dengan jari lentiknya.
"Dimana dia?" tanyanya.
Bodyguard dengan pin khusus di kerahnya itu tersenyum sopan. "Di taman belakang Mansion, Nona. Beliau berpesan agar tidak boleh ada yang menganggu nya." Tidak ada yang tidak mengenal dia. Satu Mansion sudah tahu akan posisinya meskipun disini bukan Mansion milik perempuan itu.
Perempuan cantik ini memutar bola matanya. "Biarkan aku masuk, aku tak akan membuat kekacauan."
"Tapi Nona—"
"Atau kau mau ku laporkan pada atasan mu yang sebenarnya?" potongnya dengan nada mengancam. Ada keseriusan diwajahnya.
Bodyguard itu gelagapan. Ia menunduk lalu menggeleng. "Tidak, Nona."
"Biarkan aku masuk. Diluar sini dingin, kau tega membiarkan seorang wanita berdiri diluar tanpa kepastian?"
"Baik, Nona."
Akhirnya Bodyguard itu membukakan pintu utama Mansion untuk sang wanita. Meskipun dia diperintahkan untuk menjaga pintu utama agar tidak ada yang masuk, namun ancaman perempuan tadi benar-benar serius. Ia tak punya pilihan.
Selain bekerja untuk Tuan Mudanya, ia disini direkrut oleh bos utama yang mempunyai kuasa lebih. Mau tidak mau kali ini ia harus mengalah, toh perempuan itu bukan penjahat atau orang sembarangan.
Perempuan bernetra indah ini lantas mengayunkan kembali kaki jenjangnya menapaki lantai luas Mansion. Dirinya menatap seluruh penjuru Mansion yang benar-benar luas.
Tempat sebesar ini sangat sepi dan hening. Bagi dirinya yang tidak suka keheningan pasti akan sangat menyiksa tinggal disini. Bersama dengan senyap dan gelapnya malam, akan dengan mudah membuatnya mengingat semua luka lama.
Lalu tatapan yang sejak tadi bergrilya itu kini jatuh pada sebuah pintu yang terbuka. Ia menghampiri pintu itu dan ia dibuat mematung. Angin menerpa langsung saat ia mendekati tempat tersebut. Rasa dingin yang menembus kulit sepadan dengan apa yang ia lihat dan rasakan kini.
Disana, tepat didepannya terdapat sosok laki-laki yang tengah duduk santai sambil memangku gitar. Dirinya dibuat terhipnotis akan suara serak yang mengalun indah itu, ditambah lagi dengan petikan gitar yang semakin menambah suasana menenangkan tersebut.
Sunyinya malam membuat suara tersebut terdengar sangat jelas. Membuktikan betapa luar biasanya sosok yang asyik dengan dunianya sendiri itu.
Saat kau jatuh
Lukai hati...
Dimanapun itu...
I'll find you..
Meskipun dirinya tidak mengerti bahasa dari lirik lagu tersebut, tapi ia yakin jika makna nya sangat dalam. Terlihat dari wajah laki-laki itu yang sangat menghayati dan penuh penjiwaan. Jika dirinya gila, mungkin ia akan mencintai sepenuh hati laki-laki itu dan tidak akan menyia-nyiakan nya. Namun dirinya telah berjanji, sekuat apapun perasaannya ia tak akan pernah mencintai laki-laki tersebut.
Ia tidak akan pernah dan tidak akan bisa. Menganggap orang lain sebagai pengganti kekasihnya dulu adalah hal kejam dan biadab. Dia tidak ingin menyakiti orang lain karena ambisinya.
Saat kau lemah
Dan tak berdaya..
Lihat diriku...
Untuk mu...
Tanpa sadar ia melangkahkan kaki semakin mendekati si pemilik suara. Seakan terhipnotis beribu-ribu kali, dirinya hingga dibuat tak bisa berkata-kata dengan pandangan terpaku pada satu sosok.
Suara dan lantunan melodi yang dihasilkan mampu membuat jantung berpacu lebih kencang. Rasanya ia ingin menghentikan waktu untuk kali ini saja. Mengagumi salah satu ciptaan Tuhan yang tidak ditakdirkan untuknya. Rasanya damai dan sejuk, seperti berlabuh pada tempat yang tepat.
Lampu-lampu kecil yang terpasang disana seakan menambah kesan romantis dan juga manis. Terpaan lembut angin malam mengenai rambut laki-laki itu, membuatnya terlihat berjuta-juta kali lebih menawan. Dilihat dari samping saja sudah tampan, bagaimana jika ia dinyanyikan sembari ditatap lembut oleh si pemilik suara itu?
Kapanpun mimpi terasa jauh
Oh, ingatlah sesuatu
Ku akan selalu..
Jadi sayap pelindung mu..
Sungguh indah, ia baru tahu jika laki-laki dihadapannya kini mempunyai suara semerdu ini. Beruntung sekali seseorang yang memiliki dia. Ia harap tidak ada yang menyakitinya, karena mendapatkan yang seperti ini sangat susah sekarang.
Laki-laki dihadapannya ini masih tak menyadari kehadiran dirinya. Laki-laki itu sibuk memejamkan mata sembari bernyanyi syahdu. Sepertinya dia bernyanyi sambil membayangkan wajah seseorang, karena sesekali bibir itu tersenyum sangat mempesona. Padahal biasanya dia tidak mudah memberikan senyum seperti itu pada sembarang orang.
Saat duniamu mulai pudar..
Dan kau merasa hilang..
Ku akan selalu..
Jadi sayap pelindung mu...
Tepukan tangan seseorang tepat di sampingnya membuat laki-laki yang tengah memangku gitar ini mengerjap hebat. Ia terkejut saat ada seseorang yang berani mengganggunya. Apalagi mendengarnya bernyanyi. Selama ini hanya segelintir orang yang tau akan suara bernyanyi nya ini.
"How beautiful! I like your voice!"
"How Dare you! Kenapa kau bisa masuk kesini?!" geramnya dengan nada rendah. Ia sedikit tidak suka dengan keberanian orang dihadapannya kini. Padahal bersantai sendiri sambil bernyanyi seperti ini termasuk salah satu privasinya.
"Oh, come on! Aku bisa melakukan apapun semauku, Garka," ucap perempuan ini dengan nada congkak dan menyebalkan seperti biasa.
Garka mendengus. Ia menyenderkan gitar itu dimeja. Sudah tidak ada minat ia memainkannya lagi. "Sungguh tidak sopan masuk ke rumah orang lain dengan ancaman seperti itu, Angel."
Angel terkekeh. Ia mendekati Garka lalu duduk dihadapannya. Tempat itu seperti taman dengan dua buah bangku berukuran panjang dan sebuah meja panjang.
Tempat ini dibuat hanya untuk melepas stress semata. Garka bukan tipe orang yang senang berkebun apalagi meminum teh di luar seperti ini. Dia juga lebih sering mengunjung taman ini saat malam hari, karena pemandangan nya lebih indah saat suasana gelap.
Ada sebuah kolam kecil berisi ikan hias yang cantik-cantik disana. Ada juga sebuah gazebo mini terletak di pojokan dan juga beberapa tanaman hias yang indah dan menggemaskan.
Mansion ini salah satu milik Reno di Amerika. meskipun tidak sebesar Mansion utama yang letaknya di Indonesia, tapi tempat ini tidak bisa dibilang sederhana juga.
"Bagaimana kau tahu jika aku masuk kesini dengan cara mengancam bodyguard yang menjaga pintu Mansion?"
Garka menaikkan sebelah alisnya. "Aku tidak tau, kau yang memberitahuku barusan. Aku hanya menebak saja. Karena wanita seperti mu sangat tidak sopan."
Angel melototkan matanya. "Kau!!—" Wanita itu tidak melanjutkan ucapannya, namun kedua tangannya mengisyaratkan jika ia kesal. Jika saja kondisinya sedang memakai celana, dia akan menendang Garka hingga ke China.
"Pergilah, aku sedang ingin sendiri." Garka mengibaskan tangannya seperti isyarat mengusir.
"Tidak. Aku diperintahkan Daddy untuk memeriksa keadaanmu."
"Apa harus selarut ini?"
Angel menatap Garka. "Kau tahu aku sibuk."
Garka memilih mengalah. "Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja. Justru jika kau masih ada disini, aku bisa masuk rumah sakit lagi karena tekanan darah ku tinggi."
"Bisakah kau bersikap baik sedikit padaku? Aku mantan calon kakak iparmu, Garka." Angel mencebikkan bibirnya kesal. Matanya menyipit merajuk pada Garka.
"Kau yang memulai. Sudah aku bilang, aku sedang ingin sendiri," ucap Garka menghela nafas.
"Ceritakan lah."
Garka melirik Angel sekejap lalu ia menatap ke atas, tepatnya ke arah langit yang gelap tanpa adanya bintang disana. "Apa maksud mu?"
"Aku tau kau tengah rindu seseorang. Lagumu menjelaskan semuanya." Angel menumpukkan kedua tangannya di atas meja, memusatkan segala perhatian pada Garka. Dia sedang berperan menjadi teman yang baik meskipun kadang menyebalkan.
Garka terkekeh pelan. "Memangnya kau mengerti lirik lagu berbahasa Indonesia itu?"
Angel nyengir lalu menggaruk tengkuknya. "Yah... aku bisa merasakan perasaanmu."
Angel tidak bohong. Meskipun dia tidak mengerti arti dari lagu yang tadi Garka nyanyikan, tapi Angel bisa merasakan ada kesedihan, kegundahan, dan kekhawatiran yang membuncah. Untuk itu dia yang seharusnya langsung pulang setelah tahu keadaan Garka jadi memilih untuk tetap tinggal disini selama beberapa saat.
Ia ingin mendengar jika saja Garka membutuhkan teman untuk berkeluh kesah.
Garka tersenyum tipis. Ia membayangkan seseorang yang selalu menjadi candu bagi dirinya. Setiap ekspresi dan setiap ucapan hangat gadisnya sangat ia rindukan. Terbayang-bayang saat-saat yang membahagiakan itu. Sudah lama rasanya Garka tidak lagi bahagia seperti itu.
"Kau benar, aku sedang merindukan seseorang."
"Keyra?"
Garka menatap Angel. "Yes, she is."
"Aku punya nomor kontaknya. Apa kau ingin menghubunginya?" tanya Angel saat mengingat dirinya masih menyimpan kontak Keyra setelah kejadian dulu.
"Tidak," ucap Garka cepat. "Aku ingin memberikan kejutan untuknya."
Angel menaikkan sebelah alisnya. "Kejutan seperti apa?"
"Mereka pasti mengira aku sudah mati, dan aku ingin memberikan kejutan untuk Keyra dan juga sahabat-sahabat ku. Kepulangan ku tinggal tiga hari lagi. Dan aku sangat tidak sabar." Garka tersenyum. Ia tengah membayangkan ekspresi bahagia Keyra dan sahabat-sahabat nya saat tahu jika dirinya selamat. Bagaimana hebohnya mereka saat melihat sosok Garka yang utuh kembali lagi di antara mereka.
Memikirkannya seperti ini saja Garka sudah senang rasanya.
"Kau benar. Mereka pasti akan menganggapmu seperti hantu yang penasaran," canda Angel.
"Aku belum mati," ucap Garka kesal.
Angel tertawa.
Garka menghela nafas. "Aku benar-benar merindukan dia, Angel."
"Aku tahu. Karena aku pun seperti itu disaat aku benar-benar kehilangan Gevan."
Garka diam saja. Suasana mendadak sedih.
"Merindukan seseorang yang telah tiada lebih menyakitkan." Angel tersenyum miris. Ia mengusap lengannya yang terasa dingin. "Setidaknya kau harus bersyukur karena dia baik-baik saja."
"Ya, aku bersyukur. Semoga Keyra baik-baik saja disana."
Angel terkekeh. "Dia juga pasti merindukanmu, Garka."
"Pasti," ucap Garka dengan pikiran yang melayang.
***
Pada saat yang bersamaan..
Jakarta, Indonesia
09.50 AM
"Serkan ini mau kemana, si?"
"Udah lo diem aja, nanti juga tau."
Keyra mencebikkan bibirnya kesal. Tidak ada angin tidak ada badai Serkan tiba-tiba mengajaknya keluar dari rumah nyamannya. Laki-laki berjaket kulit hitam itu tidak memberitahu akan mengajak dirinya kemana. Ditanya beberapa kali pun Serkan akan menjawab dengan kalimat yang sama.
Padahal tadi pagi ia masih bergelung dalam selimut, berniat untuk bangun sore hari karena tadi malam ia sudah begadang menonton film kesukaannya. Libur akhir semesternya sudah mendekati masa tenggang, jadi Keyra tidak ingin menyia-nyiakan waktu rebahannya yang berharga itu. Apalagi nanti dia akan dihadapkan kembali dengan tugas yang mengunung. Keyra tidak akan punya waktu untuk berleha-leha seperti ini.
Gadis ini termasuk tipe orang rajin yang tidak tanggung-tanggung. Keyra akan mati-matian belajar agar nilainya tidak ada yang turun. Soalnya Kevin selalu bilang, jika ingin menjadi dokter, nilai disekolahnya tidak boleh ada yang turun barang sedikit pun.
Maka dari itu, disaat ada waktu senggang. Keyra akan memanjakan dirinya dengan bermalas-malasan.
"Lo laper, gak?" tanya Serkan tanpa menatap Keyra, dirinya tengah fokus menyetir. Penampilan laki-laki ini cukup keren dan stylish.
Tadi pada saat Serkan mengajaknya, Keyra berusaha menyamakan outfit agar terlihat nyambung. Karena Serkan tidak memberitahu dirinya akan pergi kemana.
"Laper, lah. Lo kan dateng-dateng langsung ngajakin keluar."
Serkan terkekeh. "Abisnya lo anak perawan bangunnya siang, gak baik tau."
Keyra mencibir. "Liburan itu delapan puluh persen dipakai rebahan, sisanya buat mandi sama main hp."
Serkan tertawa. "Itu namanya males."
"Biarin."
Serkan tersenyum, ia mengacak rambut Keyra gemas.
"Serkan rambut gue jadi berantakan, ya!! Gak suka, ah!"
"Tetep cantik, kok."
Keyra memutar bola matanya malas. Ia mengambil cermin kecil di tasnya lalu merapikan rambutnya. Entah kenapa sudah beberapa kali Serkan menyebutnya cantik atau mengeluarkan kata-kata manis tapi tidak membuat Keyra merasa tersanjung. Jatuhnya terkesan biasa saja, hampa. Seperti pujian orang asing yang tidak penting di hidupnya.
Berbeda jika Garka yang menyebut nya cantik. Apalagi disertai tatapan lembut dan senyuman manis yang hanya ditampilkan kepadanya itu. Sungguh membuat hati Keyra ambyar. Pipinya akan memerah bersamaan dengan jantung yang berdetak kencang.
Keyra berdecak. Lagi-lagi ia teringat kenangannya dengan Garka. Sampai saat ini pun Keyra belum rela kehilangan Garka. Ia yakin jika suatu hari nanti Garka-nya akan kembali. Garka sudah berjanji kepadanya akan kembali dengan selamat.
Dia juga berjanji akan melewati hari tua bersama-sama. Tidak mungkin Garka meninggalkannya secepat ini. Hatinya menolak keras, seakan sudah ada pemberitahuan jika Garka memang masih hidup.
"Key."
"Key?"
Serkan menyerengit. Ia membuka seatbelt nya lalu menepuk pelan pipi Keyra yang sepertinya tengah melamun. "Keyra?!"
Keyra tersentak. "Apaan, sih? Ngagetin aja!" tanya Keyra sewot saat dirinya sudah sadar sepenuhnya.
Serkan menaikkan sebelah alisnya. "Lo gue panggil-panggil gak nyaut. Kita udah sampe."
Keyra menatap ke luar kaca mobil. "Kita ke mall?" tanya nya saat mobil mereka ternyata sudah terparkir di basement sebuah Mall. Dia terlalu lama melamun hingga tak sadar mobil sudah berhenti dan tujuan mereka telah tiba.
Serkan mengangguk. "Ayo keluar."
Keyra melepas seatbelt-nya dan mengikuti langkah Serkan. Mereka berdua berjalan beriringan masuk ke sebuah Mall ternama di kota itu. Banyak pengunjung yang datang, entah itu sendiri atau beramai-ramai.
Posisi Keyra dan Serkan saat ini terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang main ke mall. Padahal mereka hanya sahabat, dan Keyra sendiri tidak punya rasa sedikit pun kepada Serkan. Cuman perasaan nyaman dan aman.
"Ngapain kita kesini?"
"Mau makan dulu, gak?" bukannya menjawab pertanyaan Keyra, Serkan malah balik bertanya. Kebiasaan laki-laki satu ini. menjawab pertanyaan seseorang dengan pertanyaan lain.
"Enggak mood. Nanti aja." Keyra menatap Serkan. "Kita ngapain kesini?" tanya Keyra sekali lagi. Mereka sedari tadi hanya berjalan tak tentu arah. Keyra juga mana tahu jika Serkan akan membawanya kesini.
Serkan berdehem singkat ia tengah mengecek ponselnya. Serkan lantas menatap Keyra lalu memasukkan ponselnya ke saku celana. "Senang-senang, lah. Main timezone, yuk!"
Keyra menatap horror Serkan. Sejak kapan laki-laki ini suka main timezone? Ada yang aneh. Selama satu tahun ini ia mengenal Serkan, ia tahu jika Serkan benci keramaian. Apalagi permainan seperti itu.
"Lo serius?" tanya Keyra.
Serkan menyerengit. "Kenapa emangnya? Ini buat lo kok, gue gamau liat lo terus-terusan diem di rumah jadi bangke."
"s****n!" Keyra mendengus. Ia lalu berjalan meninggalkan Serkan menuju lantai teratas dimana timezone berada. Ia memang lumayan senang dan terhibur karena bisa kembali keluar rumah. Berharap rasa rindunya pada Garka akan terobati.
Tanpa Keyra ketahui, Serkan tersenyum misterius dibelakangnya. Ia sekali lagi mengecek ponselnya lalu berjalan menyusul Keyra.
Rencana nya baru akan dimulai. Serkan akan bermain cantik. Semuanya sudah ia perhitungkan dengan matang. Dengan ini, ia tidak akan kalah lagi. Dapat dipastikan kali ini Serkan akan menang.
Kalian berpikir jika Serkan menyukai Keyra? Hell No! Sudah lama perasaan Serkan mati terhadap perempuan. Bukannya ia kini menjadi seorang gay, bukan. Namun dendamnya kepada perempuan membuat Serkan tak merasa kasihan atau iba kepada sosok mahluk Tuhan tidak berjakun itu.
Ia tidak peduli jika Keyra akan sakit hati, atau dirinya disebut b******n. Karena nyatanya ia memang b******n.
"Serkan lelet, ih!" rajuk Keyra. Serkan masih berjalan cukup jauh dibelakangnya.
"Iya, tunggu!"
Serkan berlari kecil menghampiri Keyra yang sudah berdiri di depan pintu masuk timezone. Banyak orang berlalu lalang disana. Sebenar nya Serkan sangat benci dilingkungan seperti ini. Berisik dan menyebalkan. Tapi demi rencananya, ia rela melakukan apapun asal apa yang ia rencanakan terwujud.
"Serkan main basket dulu, ya. Ayo kesana!"
Serkan mengangguk. "Lo duluan kesana. Gue mau beli koinnya dulu."
Keyra berlari ke arah orang-orang yang tengah memasukkan basket kedalam ring. Sedangkan Serkan berjalan menuju tempat pembelian koin. Ia melirik sekitar dengan minat. Tempat ini sangat pas untuk ia melancarkan aksinya.
Serkan membeli beberapa koin untuk Keyra. Tatapannya kini jatuh pada sekelompok orang yang tengah bermain capitan boneka. Tampak mereka sangat bahagia dan tertawa kencang. Tanpa tahu jika Serkan sudah mengincar momen ini dari jauh-jauh hari.
"Kena lo," gumam Serkan.
Serkan tersenyum miring. Kali ini dapat dipastikan rencana besarnya akan berjalan sangat lancar.