" Apa?!!!!!" ucap seorang gadis dengan nada agak tinggi namun berusaha ia kontrol karna ia ingat sedang bicara dengan bapak nya.
diruang tamu seorang gadis sedang duduk bersama orang tuanya terkejut mendengar penuturan bapak tentang sebuah pernikahan dengan om tua yang sombong dan menyebalkan.
aarghh tidak tua tapi lebih tepat nya ganteng namun ntah bagaimana alia selalu menyebutnya om padahal masih muda xixiix
" Alia ngga mau pak, Alia ngga mau nikah sama om om sombong itu ngga mau pak. apa ngga ada cara lain selain hal konyol itu?."
" nikah itu ngga konyol ia, jangan bicara mu." ucap bapak dengan nada sedikit tinggi
" iya pak tapi maksud nya apa ngga ada cara lain pak? Alia ngga mau nikah karna terpaksa pak terlebih bapak sama ibu tau Alia ngga suka sama om sombong itu, hih amit amit tujuh turunan 8 tanjakan 9 gejlukan dehh pak" ucapnya sembari bergidik ngeri.
" kau ini jangan seperti itu, mas Rangga itu baik orangnya tau ngga? kamu aja yang suka ngejelekin dia tanpa tau sifat aslinya."
" emang aslinya nya begitu kok."
" susah ngebilangin keras kepala kaya kamu ini" bapak menggeleng pasrah
" sudah toh sudah ini kenapa jadi bapak sama Alia ribut? kita kan sedang cari jalan keluarnya bersama." ibu yang sedari tadi diam pun melerai karna sang anak dan suaminya mulai keluar dari jalur permasalahan.
bapak yang kelelahan kerja bekerja ahh tidak mungkin karna pikirannya juga yang sedang kacau dan pusing dengan masalah yang tiba-tiba datang tanpa aba-aba membuat badannya lelah sekali tidak seperti biasanya sekalipun ia pulang larut malam karna tugas yang penting pun ia tak selelah dan selusuh ini.
memang beban pikiran kadang kali bisa mengobrak Abrik sampai ke badan walau hanya sekedar dipikirkan dikepala.
" Alia bapak tau ini keputusan yang tidak adil atau bahkan mungkin menyakitimu. tapi nduk bapak tau kamu sudah dewasa dan sudah mengerti baik dan buruk nya. hanya saja hidup memang sulit ditebak, kadang kala kita sudah merencanakan menikah dengan seseorang pun harus kandas jika memang takdir tidak mengizinkan dan kadang apa yang tidak kita rencana terjadi begitu saja." bapak menarik nafas dalam dan membuangnya perlahan
" bapak hanya minta pikirkan nak bagaimana dan kenapa keputusan ini bapak dan pak aji ambil semua demi kebaikan bersama. memang mungkin tidak adil bagi kalian berdua hanya saja tidak ada cara lain selain ini bahkan sekalipun pak aji bisa membayar media untuk menghapus berita tersebut namun jejak nya masih ada dan bahkan tetangga kita pun sudah tau dan itu sudah sangat mempermalukan baik kita maupun keluarga pak aji.."
ibu mengusap punggung bapak yang terus menarik dan membuahkan nafas berkali kali menandakan bahwa ia pun sedih namun harus tetap tegar demi kebaikan keluarga.
" mereka keluarga baik, pak aji dan Bu Santi mereka baik nduk. bapak setiap hari bertemu dan berkerja untuk mereka walau keputusan ini berat tapi bapak percaya mereka adalah keluarga yang akan menyayangimu nak."
" pakkk.." seru Alia Dengan nada serak yang berusaha menahan air mata nya
" kenapa? cinta? apa karna kau tidak mencintai nya?" Alia hanya diam membisu sembari menunduk dan memainkan jarinya
" kau tau cinta tidak melulu di awali dengan manis kadang cinta tumbuh karna dari rasa benci dan kau tau cinta dan benci itu beda tipis bahkan ada yang mengatakan cinta yang hadir dengan diawali benci adalah rasa cinta yang amat besar nantinya."
" hih amit amit deh ih si bapak malah ngomongnya begitu, bisa bisa bukannya jatuh cinta malah jatuh jantung gua ngadepin kelakuan menjengkelkan nya dia". batin Alia bergumal dengan kesal jika mengingat kelakuan om tua tersebut.
"pikirkan lagi bapak mandi dulu."
bapak melenggang pergi meninggalkan istri dan anaknya yang masih terdiam ditempatnya.
" kamu pikirkan baik baik. kalo memang ragu shalat malam dan minta petunjuk sama tuhan ya."
" iya Bu Alia ke kamar dulu."
Tengah malam, Alia terbangun dan melirik jam dihandphone nya tepat menunjukan jam 00.00 yang artinya tepat tengah malam.
" apa aku shalat malam aja ya, sesuai apa kata ibu daripada aku salah ambil keputusan mending aku minta petunjuk aja biar hati aku juga tenang."
Alia menjatuhkan kaki dari ranjangnya untuk pergi keluar kamar dan melaksanakan wudhu terlebih dahulu untuk melaksanakan niatnya.
setelah beberapa menit ia pun selesai dan kini tibalah ia berdoa kepada sang pencipta tentang jalan apa yang akan ia ambil agar tidak ada penjelasan nantinya.
sebuah tempat sepi yang tak berujung dan tidak ada seorang pun disana.
tiba tiba ada suara bariton seorang pria dengan nada tegas namun lembut dan begitu syahdu didengar.
" sayang" ia menoleh mencari dari mana sumber suara tersebut berasal namun ia tak menemukan karna tempat ini gelap dan ia ragu untuk melangkah kaki kemana pergi nya.
" Alia, aku mencintaimu." sebuah cahaya yang datang dari belakang sontak membuatnya membalikan badan dan melihat tubuh tegap sang pria berdiri didepannya namun wajah nya tak terlalu jelas karna sinar cahaya yang menyilaukan.
lambat laun matanya bisa menyesuaikan cahaya dan melihat sosok yang mualai mendekat ke arahnya dengan senyuman dibibirnya.
tepat ketika pria tersebut berdiri didepannya ia terkejut sambil menutup mulutnya.
" kamu??" senyum manis sang pria tidak lepas dari bibir tipisnya kemudian menganggukan kepala.
" apakah ini bener kamu?"
" tentu saja aku sudah didepan mu, sentuh lah aku jika kau tak percaya."
Alia mencoba menggapai wajah sang pria walau ragu tapi ia meyakinkan diri nya untuk menyentuh pipi pria tersebut hingga.....
" Alia bangun ayo bangun nduk ini sudah siang ayo siap siap katanya kamu hari ini harus berangkat pagi? ayo cepat bangun." ibu coba membangunkan Alia dengan menepuk pipi anaknya dengan pelan
" hah ibu?"
" iya ini ibu. kok kamu kaget sih ini kan ibu kamu."
"ternyata itu cuma mimpi, tapi kenapa seolah kenyataan ya? mana mukanya jelas banget dan berasa beneran nyentuh pipi nya lagi". gumam Alia dalam hati
" loh kok malah ngelamun? ayo bangun nanti kamu terlambat."
" ah iya bu." dengan muka gelagapan dan nuansa baru bangun tidur pun hanya menjawabnya dengan singkat.
" kamu semalam shalat malam nduk apa ini habis shalat subuh ketiduran?."
" semalam aku shalat malam Bu dan ketiduran disini hehe." cengirnya menunjukan gigi rata nya
" duuh kamu itu nanti masuk angin tidur dilantai begini, angin malam itu ngga baik buat kesehatan apalagi kamu ini tidur dilantai begini."
" iya Bu maaf Alia ketiduran sehabis shalat."
" yasudah kamu mandi ibu buatkan teh hangat dan perutmu jangan lupa kamu olesi minyak kayu putih biar ngga kembung."
" iya Bu Alia mandi dulu."