bc

Kubayar Lunas Pengkhianatan Suamiku

book_age18+
2.3K
FOLLOW
18.6K
READ
revenge
love-triangle
family
HE
arrogant
boss
drama
bxg
secrets
civilian
like
intro-logo
Blurb

Bermula dari sebuah syal hasil rajutan tangannya sendiri yang Kinan berikan untuk Rendra malah dipakai oleh seorang perempuan hamil, mengantarkan Kinan pada sebuah kebenaran yang menguak fakta pengkhianatan suaminya.

Bahkan suatu hari kinan menemukan struk belanjaan peralatan bayi, dua hari kemudian tiba-tiba saja di depan pintu rumahnya dia mendengar ada suara tangisan bayi. Begitu membuka pintu, benar saja seorang bayi baru dilahirkan tergeletak tak berdaya dengan membawa sebuah tulisan yang menyatakan kalau bayi ini milik Rendra.

Apa benar bayi ini milik Rendra hasil perselingkuhan dengan perempuan hamil yang saat itu memakai syal hasil rajutan tangan Kinan?

Dan apa Kinan akan tinggal diam?

Tentu tidak, Kinan bukan perempuan lemah bahkan tanpa Rendra tahu dirinya punya sebuah usaha yang menjanjikan bekerja sama dengan laki-laki misterius penopang kesuksesannya.

Jadi bila Rendra menceraikannya, Kinan tidak akan kesulitan perihal uang atau tak perlu takut hidup sengsara. Kinan akan membalas pengkhianatan suaminya, membalasnya dengan lunas hingga semua rasa sakit hatinya terpuaskan.

***

chap-preview
Free preview
Bab 1. Awal mula kecurigaan
"Cuaca siang ini begitu dingin, Kamu enak terlihat hangat gitu karena punya syal." ujar seorang perempuan pada sang teman, dia melirik iri kain hangat yang terlilit di leher temannya. "Hm, ini memang hangat." Jawabnya sambil tersenyum setuju pada ucapan temannya, satu tangannya mengusap perut yang sudah membesar. Kinan yang berdiri di belakang dua orang perempuan tengah mengobrol ikut melihat syal yang dibicarakan, matanya menyipit memperhatikan. Entah kenapa dia merasa tak asing dengan syal itu, seakan dibuat sama dengan milik suaminya yang dirinya berikan satu bulan lalu. "Maaf, kamu mendapatkan syal itu dari mana?" Merasa kalau syal itu sama persis dengan milik Rendra--suaminya, Kinan memutuskan bertanya sambil menepuk pundak perempuan di depannya. Kina tersenyum tipis, berusaha bersikap biasa saja walau hatinya sungguh merasa curiga begitu perempuan itu menoleh dan dia dapat melihat dengan jelas syal yang benar-benar mirip dengan milik suaminya. Di ujung syal itu ada huruf R, benar-benar sama dengan hasil rajutan tangannya. Syal itu hasil rajutan tangannya sendiri, Kinan sampai tidak tidur satu malam demi menyelesaikannya. Jadi sudah jelas Kinan akan mengenali bagaimana pola rajutan syal itu, dan setelah diperhatikan dengan jelas syal itu kemiripannya memang 98%. "Ini hadiah," ungkap perempuan itu sambil mengusap syal di lehernya. Kinan mengangguk mengerti, lalu kembali bertanya setelah dirinya belum merasa puas. "Itu syal yang bagus, sangat cocok digunakan untuk kulitmu yang putih. Pasti orang yang memberikannya adalah seorang yang istimewa karena dapat mencocokkan pemberiannya untukmu." ting Perempuan itu mengeluarkan ponsel, dia memainkannya sejenak sebelum kemudian menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas lalu menatap Kinan. "Kamu benar, orang yang memberikan syal ini adalah seorang yang istimewa. Dia kekasihku dan sekarang sudah menunggu di depan, duluan ya Mbak." Kinan mengangguk mengiyakan, selepas perempuan itu pergi perlahan senyum di bibirnya surut seketika. Dia menatap kepergian perempuan itu yang mulai menjauh, menarik nafas panjang sebelum kemudian berlalu pergi sebelum hujan turun membasahi bumi. Kinan melupakan tujuannya pergi ke toko sebelah setelah melihat syal buatannya untuk Rendra kini malah dipakai oleh perempuan lain, hatinya panas luar biasa dan dia butuh bicara dengan Rendra segera. Kekasih? Ulang Kinan dengan tawa tak percayanya saat mengingat perempuan itu mengatakan kalau syal di lehernya pemberian kekasihnya. Kinan takut apa yang dirinya pikirkan ternyata benar, entah dirinya bisa sanggup atau tidak bila kekasih yang perempuan itu maksud benar-benar Rendra. Sampai di rumah, Kinan mencari keberadaan Rendra. Namun, sejauh dia mencari, Rendra tak kunjung dia temukan keberadaannya hingga pandangan Kinan melihat mbok Sinem pembantu rumah tangga. "Mbok, apa mas Rendra pergi?" Tanya Kinan sambil berdiri di ambang pintu, melihat mbok Sinem yang tengah mengangkat jemuran dari halaman rumah belakang. "Baru setengah jam yang lalu," timpal mbok Sinem sambil mendekat. "Mbok kira pergi karena mau jemput Ibu, soalnya bapak pergi setelah mendapat telpon dari seseorang. Bapak tampak melihat ke luar rumah, melihat cuaca yang akan turun hujan bapak langsung bergegas memakai jaket dan ambil kunci mobil." Kenapa sangat kebetulan? Kinan berpikir kalau kepergian Rendra sangat cocok dengan kekasih perempuan yang tadi dia temui tengah menjemput perempuan itu. Kinan memejamkan mata sejenak, berdoa semoga kekasih perempuan itu bukan suaminya. "Mungkin ketemu temannya, kalau begitu aku masuk dulu." Pamit Kinan pada mbok Sinem, saat ini dirinya tidak bisa berpikir jernih selain pikiran kotor terus membayanginya terus-menerus. Kinan masuk ke dalam kamar, lalu menutup pintu dan duduk di atas ranjang. Kinan mengeluarkan ponselnya, mencoba menghubungi suaminya. Ini hari minggu, suaminya tidak akan sibuk karena jelas tidak masuk kantor. "Kok gak diangkat?" gumam Kinan sambil menjauhkan ponsel dari alat pendengarannya, mencoba kembali menghubungi Rendra dan kali ini malah lebih parah karena ponsel suaminya tidak aktif. "Ada apa sebenarnya dengan mas Rendra?" Kinan menatap lemari pakaian, dia berdiri dan membukanya. Dengan cepat Kinan berusaha mencari keberadaan syal yang dia berikan para Rendra, tali setelah dia cari ke setiap sudut lemari syal itu tak kunjung ditemukan. Pada akhirnya Kinan menyerah, dia akan menanyakan perihal syal itu pada Rendra setelah suaminya pulang nanti. Kini Kinan hanya perlu bersabar, dia memutuskan untuk membereskan kembali semua pakaian Rendra seperti semula. Malam hari Rendra baru pulang, laki-laki itu tampak kelelahan bahkan langsung menjatuhkan tubuh ke atas ranjang tanpa melepas jaket atau sepatu yang dikenakannya. "Dari mana?" Tanya Kinan sambil berdiri di ambang pintu. "Biasa, ketemu teman." jawab Rendra tanpa menoleh ke arah Kinan. Kinan sedikit memiringkan kepala, "aku telpon malah gak diangkat, lalu tiba-tiba saat mau telpon lagi ponsel Mas Rendra tidak aktif." Rendra mengeluarkan ponselnya, lalu melempar ke atas ranjang. "Batrei habis, saat pergi tadi Mas lupa gak mencharger-nya terlebih dahulu." Kina berjalan masuk, dia melepas jaket yang Rendra kenalan lali menyimpannya ke gantungan. Selepas itu dia juga melepas sepatu milik Rendra, menyimpannya agak di pinggir. "Tadi aku lihat syal yang waktu itu dirajut untuk Mas Rendra dipakai perempuan." Rendra yang semula tengah tiduran langsung membuka mata, dia bangun duduk dan menatap ke arah Kinan dengan pandangan yang hampir tidak terbaca. Entah terkejut atau tidak percaya, tapi yang jelas Rendra berusaha menutupi ekspresinya itu di depan Kinan. "Mungkin kamu salah lihat. Syal seperti itu bukan hanya satu, ada banyak di dunia ini." "Itu syal hasil rajutan tanganku sendiri, aku tidak mungkin salah mengenalinya." Timpal Kinan tak mau kalah. "Sekarang syal itu mana kalau memang ada banyak di dunia ini? Mas Rendra masih menyimpannya, bukan?" Rendra tersenyum minta maaf, lalu menggemgam tangan Kinan dengan pandangan salah tingkah. "Saat dinas kemarin ke jepang, rekan kerja terkena flu. Mas kasih syal itu karena kasihan, maaf ya. Jangan marah, nanti Mas minta balik syal itu bila kamu tidak setuju Mas kasih syalnya sama orang lain." "Laki-laki apa perempuan?" Selidik Kinan. "Laki-laki," timpal Rendra berusaha meyakinkan. "Mungkin saja syal itu diberikan lagi pada kekasihnya." "Aku kira Mas Rendra kekasih perempuan itu," gumam Kinan yang masih dapat di dengar oleh Rendra, membuat laki-laki itu berusaha tersenyum mendengarnya. "Tapi tetap saja aku tidak suka saat perempuan lain mengenakan syal yang aku buat sendiri untuk Mas Rendra, aku cemburu." "Bagaimana kalau kamu buatkan lagi Mas syal?" Tawar Rendra. Kinan menggelengkan kepala, "tidak bisa Mas, aku mulai sibuk." "Sibuk apa?" Tanya Rendra penasaran, sebab setahunya Kinan hanya di rumah tanpa melakukan apapun. "Ada deh," rahasia Kinan. Saat melihat Kinan yang naik ke atas ranjang dan membaringkan tubuhnya, Rendra diam-diam mengusap wajahnya kasar. Dia yang memang lelah memilih ikut merebahkan tubuh di samping Kinan, memejamkan mata tanpa sempat bersih-bersih terlebih dahulu karena terlalu mengantuk. Pagi hari setelah menyiapkan semua kebutuhan Rendra untuk berangkat kerja termasuk sarapan, Kinan membantu mbok Sinem mengerjakan sisa rumah tangga. Jadi setelah Rendra berangkat, rumah sudah bersih dan Kinan bisa memulai bisnisnya yang diam-diam dia lakukan sudah enam bulan berjalan. Bisnis yang Kinan jalankan memang terhitung baru, penghasilannya pun tak seberapa. Jadi Kinan memang sengaja merahasiakannya terlebih dahulu pada Rendra, setelah dirinya nanti sukses baru Kinan akan berani mengatakan semuanya. Walau Rendra baik, tapi tidak dengan keluarganya. Kinan tahu keluarga Rendra terutama ibu dan kakaknya selalu mengatakan dirinya hanya menumpang hidup enak pada Rendra, seakan tidak ikhlas ibu dan kakaknya selalu datang meminta setengah gaji Rendra untuk mereka. Itu sebabnya Kinan memutuskan untuk ikut cari uang, dia ingin membuktikan kalau dirinya juga mampu hidup nyaman dengan uang hasil jerih payahnya sendiri. "Mbok, aku keluar bentar ada yang harus dibeli." Pamit Kinan sambil berjalan keluar dari rumah. "Iya, Bu." Balas mbok Sinem agak meninggikan suaranya. Saat sampai di toko Kinan masuk dan mengambil apa yang ingin dirinya beli, saat Kinan membayarnya dia menyipitkan mata tatkala seakan melihat ada Rendra. Namun, anehnya Rendra tengah membuka pintu mobil, lalu seorang perempuan masuk ke dalamnya. Sayangnya Kinan hanya dapat melihat laki-laki itu dari samping, jadi wajahnya tidak bisa ia kenali dengan jelas. Satu hal yang bisa Kinan yakini, perempuan yang masuk ke dalam mobil itu hamil dan perempuan sama yang dia temui di depan toko kemarin. "Apa benar itu mas Rendra?" gumam Kinan ragu. Ini jam kerja, Rendra seharusnya berada di kantor bukannya malah kelayapan keluar bersama seorang perempuan. Jadi Kinan merasa kalau laki-laki itu memang bukan Rendra, melainkan hanya laki-laki yang mirip dengan suaminya. Mengabaikan kecurigaannya, Kinan pulang ke rumah dan mulai mengambil ponsel untuk memotret barang-barang jualannya. Ini adalah beberapa tas rajut, sulam, dan hasil kreasi lainnya. Bukan hanya tas, ada juga sepatu, sabuk, dan banyak lainnya. Rendra tidak pernah tahu kalau dirinya suka membuat kerajinan seperti ini dan menjualnya ke pasaran, sebab baik itu Rendra, ibu mertuanya, dan keluarga Rendra yang lain tidak pernah ada yang mendukung. ting Saat sedang memotret semua barang jualannya, satu notifikasi pesan malah masuk ke dalam ponsel. Kinan menghentikan sejenak aktivitasnya, lalu membuka pesan yang masuk dari temannya yang kebetulan kerja satu kantor dengan Rendra. 'Nan, suami kamu gak kerja, dia cuti mendadak, bos marah-marah di kantor. Kalau Rendra ada di rumah, kasih tahu dia buat masuk. Bos bilang gak apa-apa siang juga, soalnya di Rendra ada berkas penting yang mau dipakai rapat sama klien.' prangggg Ponsel di tangannya Kinan jatuh seketika setelah membaca pesan yang dikirim temannya. Kinan mengingat kembali semua kecurigaannya pada Rendra, tentang syal yang dipakai perempuan asing, tentang Rendra yang tadi dirinya lihat satu mobil bersama perempuan, dan tentang Rendra yang dia anggap tengah kerja tapi rupanya cuti mendadak dan tidak ada di rumah. "Aku harus menyelidiki mas Rendra," gumam Kinan setelah dirinya dapat menguasai kesadarannya kembali. ***

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.9K
bc

TERNODA

read
199.4K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
15.3K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.3K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.4K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
71.3K
bc

My Secret Little Wife

read
132.4K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook