Bab 2. Sisa gaji suami

1649 Words
"Mas Rendra lembur?" Kinan bertanya saat mendapati Rendra baru pulang ke rumah jam 10 malam. Kinan tidak bertanya perihal Rendra yang tidak masuk kantor hari ini, dia memilih berpura-pura tidak tahu apa-apa dan ingin melihat apa Rendra akan jujur padanya atau malah berbohong. Rendra yang tengah meregangkan dasi di lehernya mengangguk membenarkan, lalu membuka jas di tubuhnya dan menyimpan ke keranjang kotor. Tanpa Rendra sadari, ada perubahan di raut wajah Kinan saat dirinya mengiyakan pertanyaan Kinan. Rendra berbohong tentang cuti mendadaknya, satu kebohongan yang Kinan dapatkan. "Perasaan akhir-akhir ini Mas Rendra sering banget lembur, bahkan kadang bisa sampai bahari-hari dinas ke luar kota. Se sibuk itu pekerjaan kantor," bila diperhatikan, nada suara Kinan mengandung jejak cibiran. Namun, karena dibalut dengan ekspresi ngeluh, Rendra menangkapnya itu hanya ungkapan hati istrinya saja. "Semua orang di kantor sibuk karena ada proyek baru, maaf ya jadi waktu kita berkurang." Rendra tersenyum tipis, lalu mengambil handuk dan berlalu masuk ke dalam kamar mandi. Selepas kepergian Rendra, Kinan menatap pintu kamar mandi dengan bibir menipis dan kedua tangan terkenal erat. Kalau bukan karena tadi dirinya melihat Rendra yang memasukkan seorang perempuan ke dalam mobil, mungkin tidak akan sekuat ini kecurigaan Kinan. Di tambah kebohongan yang Rendra katakan, malah semakin memperkuat kecurigaan itu. "Aku tidak menyangka suami yang kuanggap baik ternyata tega membohongiku," gumam Kinan sambil mengusap setetes air mata yang menggenang di sudut matanya, Kinan tidak mau menangis sebab itu membuatnya terlihat lemah. Kinan menarik nafas panjang, dia harus bisa mengendalikan diri selama Rendra belum terbukti benar-benar selingkuh. Hingga ke esokan harinya, saat Kinan membantu mbok Sinem mengerjakan pekerjaan rumah gerakan tubuhnya langsung terhenti tatakala dia mencium parfum perempuan dari baju yang kemarin malam Rendra kenakan. "Ada apa, Bu?" Mbok Sinem yang melihat majikannya tampak termenung di depan mesin cuci bertanya, takut ada yang salah pada mesin cuci atau bagian keairannya. Buru-buru Kinan menggelengkan kepala, "tidak ada apa-apa." "Oh, kirain kenapa." Mbok Sinem lega karena tidak ada masalah apapun. Selepas mbok Sinem berlalu pergi, Kinan segera mengambil celana yang Rendra kenakan dan memeriksa sakunya. Siapa tahu dia menemukan struk belanjaan atau semacamnya, tapi ketika dia tidak menemukan apapun Kinan langsung merasa lega. Namun, perasaan lega itu hanya sesaat, sebelum kemudian Kinan melirik tong sampah di depan. "Apa aku terlalu menaruh curiga pada mas Rendra?" gumam Kinan ragu saat dirinya hendak menghampiri tong sampah, dia takut apa yang dipikirkannya menjadi kenyataan. Mau bagaimanapun dirinya seorang istri, bila kedapatan suaminya selingkuh bukankah dunianya akan hancur? Setelah mempertimbangkan cukup matang, perlahan Kinan melangkah mendekati tong sampah dan menunduk. Tangannya sibuk mencari-cari sesuatu, lalu tatapannya jatuh pada secara kertas memanjang dan mengambilnya. "Struk belanjaan," gumam Kinan dengan pandangan bergetar. "Kenapa semua belanjaan ini barang-barang bayi semua? Hanya sedikit kebutuhan perempuan, sisanya benar-benar pakaian bayi dan segalanya." Meremas kertas di tangannya, Kinan kembali membuang ke tong sampah dan berlalu masuk ke dalam kamar. Dia mengambil ponsel, lalu mengirim pesan pada temannya yang bekerja satu kantor dengan Rendra. 'Puspa, apa kemarin mas Rendra masuk kantor setelah kena tegur bos?' ting Tidak lama balasan datang 'Rendra gak masuk, Nan. Dia menitipkan berkasnya pada orang lain, Rendra bilang tidak bisa ke kantor karena mertua kamu sakit.' "Apa benar laki-laki yang kemarin bersama perempuan itu adalah mas Rendra?" Tanya Kinan pada dirinya sendiri setelah membaca pesan balasan dari Puspa temannya. Sungguh Kinan ingin sekali berbaik sangka pada suaminya itu, berpikir kalau hanya kebetulan saja Rendra dan kecurigaannya tampak terhubung. Namun, fakta mulai terungkap, dengan adanya Rendra yang mulai ketahuan berbohong apa bisa Kinan masih mempercayai laki-laki seperti itu? Mengusap perut ratanya, Kinan menunduk sedih. Selama pernikahan dengan Rendra, suaminya itu memang sangat menginginkan kehadiran seorang anak. Itu sebabnya di saat gaji Rendra harus terbagi bersama ibu mertuanya, laki-laki itu masih keukeuh ingin mempekerjakan seorang pembantu agar dirinya tidak kelelahan di rumah. "Perempuan itu hamil, pasti bukan anaknya mas Rendra." Bisik Kinan dengan hati sedih, mencoba berpikir positif di antara kegundahannya. Kinan menghentikan segala pemikiran bodohnya, dia menghidupkan mesin cuci dan meninggalkannya untuk masuk ke dalam kamar. Saat Kinan mengambil ponsel, dia langsung melupakan semua permasalahannya saat ada seseorang dengan nama 'Dean' memesan lima syal rajut. "Alhamdulillah," gumam Kinan senang. Segera Kinan menuliskan pesanan yang baru masuk, beserta alamat pengiriman barangnya. Hari ini memang cukup menguntungkan bagi Kinan, sebab beberapa orang juga memesan tas, jaket, dan lainnya untuk pengiriman satu minggu kemudian. Kinan segera menghubungi Dinda, adiknya yang masih sekolah sekaligus membantunya merajut semua barang jualan. "Dinda, hari ini orderan masuk banyak. Nanti siang kakak akan ke rumah, apa ada yang harus dibeli?" "Alhamdulillah," seru Dinda ikut senang. "Jarum rajut Kak, di rumah hanya ada satu." "Oke," ujar Kinan sambil menutup panggilan. Sedangkan di tempat lain, Dinda yang baru menutup panggilan dari sang kakak tersenyum senang karena usaha yang kakaknya rintis dengan bantuan dirinya berjalan dengan baik. Kakaknya itu memang pandai dalam hal rajut-merajut, bahkan barang jadi sangat cantik dengan kualitas baik. "Laki-laki itu sangat perhatian pada Istrinya, aku iri. Semoga saja saat nanti usiaku sudah dewasa dan punya suami, dapat suami yang perhatianseperti itu." Keluh seorang perempuan di samping Dinda, dia tampak menghayal membayangkan dirinya bisa diberikan perhatian semanis itu. Dinda yang penasaran dengan ucapan temannya mengikuti arah pandangan sang teman, pandangannya langsung menyipit tatkala melihat seorang laki-laki dewasa yang tampak memanjakan seorang perempuan hamil. Bahkan laki-laki itu menyuapi perempuan hamil itu, tidak membiarkan kedua tangan sang perempuan bekerja seakan bila sampai melakukan hal itu akan membuat si perempuan kesakitan. Namun, keterkejutan di wajah Dinda bukan karena kagum pada cara laki-laki itu memperlakukan sang teman, tapi satu hal yang membuatnya merasa mengenali siapa laki-laki itu. "Tidak mungkin," gumam Dinda. Saat Dinda akan mengeluarkan ponsel untuk mengambil gambar dua orang yang tengah makan itu, temannya keburu menarik tangan hingga membuat Dinda tidak jadi mengambil gambar. Dinda ingin mengatakan pada temannya untuk jangan menarik tangannya, tapi dia takut kalau temannya bertanya dan alhasil tahu kalau dirinya mengenal laki-laki yang temannya ini kagumi. Saat ini Dinda memang berada di tempat makan, lebih tepatnya warung makan yang sesuai dengan isi sakunya. Namun, dia melihat laki-laki dan perempuan tadi di tempat makan sebelah, tentunya di tempat yang lebih berkelas dari pada tempat yang dirinya kunjungi. "Aku ingin mengatakan kalau mataku salah melihat, tapi bagaimana bisa aku berpura-pura seperti itu di saat melihat dengan jelas wajahnya?" Keluh Dinda saat berjalan, sengaja berucap pelan agar tidak didengar oleh temannya. Hingga sampai di rumah sederhana peninggalan kedua orang tuanya, Dinda melihat pintu rumahnya terbuka. Dia tahu kalau Kinan sudah datang, buru-buru Dinda memperbaiki raut wajahnya agar terlihat biasa saja. "Kak Kinan?" Panggil Dinda sambik masuk setelah melepas sepatu. "Sini, Dinda." Kinan yang ternyata duduk di kursi tamu melambaikan tangan pada Dinda, mengisyaratkannya agar mendekat. Saat Dinda duduk di sampingnya sambil melepas tas, Kinan berucap. "Semua peralatan sudah kumpul, kita tinggal merajutnya saja. Kamu sudah makan belum?" Kinan mengangguk mengiyakan, "sudah, tapi aku mau ganti baju dulu." "Cepat, ya." Intruksi Kinan yang langsung diangguki oleh Dinda. Tidak lama Dinda keluar dari kamar dengan pakaian santai, dia duduk di samping Kinan yang tampak serius dengan pekerjaannya. Kakaknya ini cantik, baik, dan yang terpenting satu-satunya keluarga yang dirinya punya. Dinda tidak akan bisa melihatnya sedih, membuat Dinda bingung antara mengatakan apa yang tadi dia lihat atau tetap menyimpannya rapat-rapat. "Kak Rendra baik kan sama Kakak?" Tanya Dinda sambil memulai mengerjakan pekerjaannya. Gerakan tangan Kinan berhenti sejenak dan itu jelas dapat Dinda tangkap, lalu Kinan tersenyum sambil mengangguk mengiyakan. "Baik kok, kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?" Dinda menggeleng pelan, "hanya ingin bertanya saja, sebab kalau kak Rendra menyakiti Kak Kinan aku tidak akan tinggal diam. Aku akan datang ke rumah Kakak, ke kantornya kak Rendra, bahkan ke manapun kak Rendra pergi aku akan terus mengikuti untuk menerornya. Pokoknya kalau sampai aku tahu Kak Kinan meneteskan satu tetes air mata karena disakiti kak Rendra, aku akan maju pasang badan." Kinan tergelak, dia mencubit pipi Dinda karena gemas. "Kakak pegang ucapan kamu." Dinda langsung mengangguk cepat, ikut tersenyum saat melihat sang kakak juga tersenyum. Dinda tidak peduli kalau fakta selama ini dirinya sakit leukimia, semua biaya pengobatan Rendra yang tanggung. Selama Rendra menyakiti Kinan, dia tidak akan membiarkannya. Bagi Dinda mati pun tidak apa-apa, asal kakaknya bisa bahagia tanpa ada yang menyakitinya. Sore hari pekerjaan sudah selesai hingga setengah, Kinan berpamitan pada Dinda untuk pulang. Sejujurnya Kinan sudah sering meminta agar Dinda tinggal saja di rumahnya bersama Rendra, sebab mau bagaimanapun Dinda adalah perempuan juga punya penyakit leukimia. Kakak mana yang tidak khawatir, tapi Dinda keukeuh tidak mau dengan alasan jauh ke sekolah. Sekitar pukul delapan malam, Rendra pulang dengan penampilan kusutnya. Akhir-akhir ini Rendra terlihat lelah, bahkan seperti orang yang punya banyak masalah. Melihat hal itu, Kinan berpura-pura tidak menaruh curiga Rendra kalau dirinya mengendus ada kejanggalan. "Sepertinya mbok Sinem kita berhentikan saja dari pekerjaan di rumah ini," ucap Rendra sambil melepas pakaian di tubuhnya. Kinan yang tengah duduk di atas ranjang mendongak, menatap Rendra tidak mengerti. "Kenapa?" Setelah melepas semua pakaian dan menaruhnya ke keranjang cucian, Rendra mengambil handuk sambil berucap. "Pengeluaran uang semakin bertambah, Mamah minta uang bulanan di tambah. Mas bingung, kalau mbok Sinem di berhentikan uangnya bisa buat menutupi kebutuhan Mamah." Kinan menunduk, dia mengingat struk belanjaan yang ditemukan di tong sampah. Kinan tidak yakin kalau ibu mertuanya menginginkan uang tambahan, dirinya malah lebih yakin kalau sebagian uang Rendra berkurang karena harus membelanjakan uangnya untuk kebutuhan bayi itu. "Terserah Mas Rendra saja," Kinan bertanya tak acuh. Kinan tidak akan berhenti mencari tahu, dia akan berusaha melihat kebenaran bagaimanapun watak Rendra yang sebenarnya. Setia atau tidak, tapi yang jelas bila Rendra terbukti memiliki simpanan Kinan tidak akan lagi melanjutkan pernikahan ini. Rendra mengeluarkan uang dari dalam tas, lalu menyimpannya ke hadapan Kinan. "Itu sisa uang gaji Mas bulan ini, kamu atur dan cukup-cukupi saja." Kinan mengambilnya, dia menaikan salah satu alisnya saat menghitung berapa lembar uang dalam amplop. Hanya 10 lembar uang merah, sedangkan gaji Rendra setahu Kinan adalah sembilan juta. Bila empat juta untuk ibunya, lalu empat juta yang lain ke mana? ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD