"Satu juta, Mas?" Tanya Kinan memastikan.
"Iya," ujar Rendra sambil berniat masuk ke dalam kamar mandi. "Bulan ini Mas tidak dapat bonus, malah kena potong gaji sama bos."
"Kalau Mbok Sinem di berhentikan, itu artinya aku yang harus mengerjakan pekerjaan rumah." Ungkap Kinan sambil menyimpan uang ke dalam laci, lalu kembali menatap Rendra dengan pandangan bertanya. "Bukannya apa, tapi bukankah Mas Rendra sendiri yang mengatakan agar aku jangan terlalu lelah bekerja agar bisa fokus pada program hamil?"
Rendra langsung mengurungkan niatnya yang hendak masuk ke kamar mandi, dia menatap Kinan sejenak lalu berucap. "Mau gimana lagi? Dulu sebelum Mas menikahi kamu mamah mau merestui asal uang gaji Mas diberikan setengahnya pada beliau, sekarang mamah lagi butuh uang tambahan Mas tak kuasa menolaknya. Tolong mengerti Mas, ya, Kinan."
Pada akhirnya Kinan diam, tapi bukan berarti dia menerima begitu saja apa yang Rendra katakan barusan. Semula Rendra membohonginya, lalu sekarang suaminya juga mulai mengurangi jatah uang bulanan. Dan apa katanya tadi? Tidak dapat jatah bonus bulanan dan malah kena potong, bukankah Rendra mengatakan kalau akhir-akhir ini dia sering lembur harusnya punya bonus bulanan tinggi.
"Kamu semakin mencurigakan, Mas." gumam Kinan sambil menatap pintu kamar mandi seakan tengah menatap Rendra.
Hingga ke esokan harinya.
"Mbok pamit ya, Bu." Mbok Sinem berpamitan, dia menyalimi Kinan dengan tersenyum walau terlihat terpaksa.
Ya, setelah Rendra memberinya gaji, Kinan memang langsung memberhentikan mbok Sinem seperti Intruksi Rendra. Sebenarnya Kinan sangat tergantung dengan kehadirannya Mbok Sinem, selain mengerjakan semua pekerjaan rumah Mbok Sinem juga orang yang menemaninya di rumah saat Rendra tidak ada.
"Hati-hati," Kinan mengangguk mengiyakan, lalu dia menyelipkan sebuah amplop pada tangan Mbok Sinem sambil berbisik. "Ini uang pasongan dari aku buat Mbok, tolong diterima. Namun, jangan bilang sama Mas Rendra, soalnya uang ini adalah hasil penjualan tas rajut milikku yang tidak diketahui mas Rendra."
"Teima kasih banyak, Bu." Mbok Sinem sangat senang, sebab dirinya akan punya uang untuk hidupnya sebelum mendapatkan pekerjaan baru.
Kinan melambaikan tangannya saat melihat kepergian mbok Sinem, setelah pembantu yang selarang telah menjadi mantan itu pergi dan tidak terlihat lagi Kinan memutuskan untuk masuk ke dalam rumah. Ini masih pagi, saat tadi dirinya menghampiri mbok Sinem suaminya itu masih mandi.
ceklek
"Ki-kinan," tergagap Rendra berucap saat membalik badan setelah mendengar pintu kamar terbuka, dia langsung melepaskan sesuatu di tangannya dan kembali menyimpan ke tempat semula. Rendra tersenyum kaku, menutup laci meja lalu berjalan menghampiri Kinan.
Pandangan mata Kinan beralih menatap Rendra setelah dari laci, dia memperhatikan kejanggalan pada wajah suaminya. "Mas Rendra ngapain kayak orang terkejut begitu saat ketahuan tengah membuka laci meja?"
"Hah? Terkejut?" ulang Rendra sambil mengibaskan tangan. "Mana ada terkejut, mungkin itu prasangka kamu saja."
Kinan berjalan mendekati laci meja, lalu membukanya dan melihat apa ada sesuatu yang hilang atau apa. Namun, tidak ada apa-apa, dalam laci ini hanya terdapat obat yang dokter berikan untuk kesuburannya selama program hamil.
"Tidak ada apa-apa, tadi Mas hanya mengecek apa obat kamu masih ada atau tidak." Rendra menjelaskan buru-buru, dia berusaha mengalihkan perhatian Kinan dengan kesalahannya. "Sekarang Mas tanya, baju untuk kerjanya Mas kamu belum siapin?"
"Sebentar," Intruksi Kinan sambil berjalan ke arah lemari, lalu mengambil beberapa helai pakaian lengkap untuk kerja Rendra. Kinan memberikannya pada Rendra, lalu berjalan keluar dari kamar guna memberikan ruang untuk suaminya berganti baju.
Selepas kepergian Kinan, Rendra langsung bernafas lega. Dia melirik laci meja, lalu menarik nafas panjang sebelum kemudian kembali melanjutkan memakai baju kerja yang tadi Kinan siapkan untuknya.
Karena mbok Sinem sudah tidak bekerja lagi, jadi kini Kinan lah yang mengerjakan semua pekerjaan rumah. Hingga siang hari Kinan baru mengemas syal hasil rajutannya untuk di kirim ke alamat yang sudah tertulis, pemilik nama Dean pemesannya.
"Semoga dia suka dengan hadiahnya," ujar Kinan sambil menyelipkan satu sapu tangan sebagai hadiah pembelian lima syal sekaligus. Kinan mengirimkan paketnya, lalu pulang ke rumah dengan hati senang.
Kinan berjualan memang bukan menggunakan nama aslinya, diam-diam dia mengganti nama dan hasilnya sungguh membuat geli. Bila di kenyataan ibu mertua dan kakak iparnya selalu menghina hasil rajutan tangannya, tapi di media sosial mereka selalu memuji-muji bahkan mengatakan akan membeli salah satu hasil rajutan tangannya.
ting
Ada notifikasi masuk, Kinan membuka ponselnya dan ternyata itu adalah dari Dean sang pemesan syal.
'Apa kamu sudah mengirimnya?'
Segera Kinan membalas pesan dari Dean.
'Sudah, mungkin membutuhkan waktu satu sampai dua hari baru sampai ke tempat Anda.'
ting
'Saya membutuhkan sebuah tas perempuan, tapi butuh hari ini juga. Kalau saya beli dari kamu, apa kita bisa COD saja agar saya bisa mendapatkan barang itu hari ini?'
Mendapat balasan pesan berupa pembelian lagi, tentu saja hati Kinan bahagia. Lagi pula dirinya tidak perlu meminta izin pada Rendra, sebab suaminya itu sudah mengatakan dirinya bisa melakukan apapun tanpa izin darinya. Kinan berpikir dirinya tinggal meminta Dinda menemani untuk ketemu klien, itu sudah lebih dari cukup.
'Tentu bisa, tapi tempat kita ketemunya saya yang menentukan.'
Tentu saja untuk keamanan dirinya dan Dinda, Kinan akan memilih tempat yang baik dan sudah pasti jauh dari kejahatan. Dengan begini keselamatannya terjamin, tidak perlu takut bila pembeli itu berniat jahat padanya.
'Baiklah, tidak masalah. Saya sudah melihat tas yang kamu jual dan sudah menentukan pilihan. Saya akan kirim gambarnya, lalu kamu segera tentukan lokasi kita ketemu.'
'Baik,' balas Kinan cepat.
Kinan menatap tas yang dikirim pembelinya barusan, dia bernafas lega karena tas itu sudah ada stok tidak perlu membuatnya lebih dulu. Dengan cepat Kinan menentukan lokasi ketemu, lalu mengirim pesan pada Dinda agar mau menemaninya mengantar barang pada pemilik barunya.
Sore hari seperti perjanjian, Kinan membawa tas yang diinginkan pembelinya yang bernama Dean. Dia dan Dinda duduk di bawah pohon, menunggu kedatangan seseorang yang belum pernah bertemu dengannya sekalipun.
Saat ada mobil yang berhenti di depannya, Kinan dan Dinda segera berdiri. Keduanya melihat seorang laki-laki dengan pakaian serba hitam, topi di atas kepalanya, lalu wajah yang setengah terhalang oleh masker turun dari dalam mobil.
"Mas Dean?" Tanya Kinan untuk memastikan.
Laki-laki itu menganggukkan kepalanya, lalu mengulurkan tangan untuk melihat barang yang dibelinya. Dia melihat sejenak barang di tangannya, lalu mengangguk puas sebelum kemudian mengeluarkan uang dan memberikannya pada Kinan.
"Ditunggu next orderannya," ucap Kinan saat laki-laki itu kembali masuk ke dalam mobil, lalu melaju pergi tanpa mengatakan satu patah kata pun.
"Padahal hanya tas rajut tapi aku merasa menjual narkoba, miaterius sekali orang itu." Komentar Dinda saat mobil yang laki-laki itu lajukan sudah pergi jauh.
Kinan terkekeh pelan, "Kakak malah lebih terkejut, sebab Dean itu bila di chat sangat banyak interaksi dan ternyata di dunia nyata malah orangnya tertutup dan pendiam."
Pada akhirnya Dinda dan Kinan tertawa bersama, mentertawakan orang yang di masa mendatang siapa yang tahu akan sering berinteraksi dengan mereka. Bahkan mungkin juga, laki-laki itu akan menjadi pelindung dan prnolongnya.
Sampai ke rumah, Kinan merebahkan tubuh ke atas ranjang. Matanya berkedip dan langsung bangun duduk saat mengingat tidak ada mbok Sinem di rumah ini sekarang yang mana akan menyiapkan makan malam, jadi terpaksa Kinan harus membiasakan diri mulai selarang menyiapkan segala kebutuhan rumah termasuk dalam hal menyiapkan makanan.
"Inilah akibatnya karena terlalu rajin mencari uang, tapi berakhir menjadi pembantu untuk diri sendiri saat pulang ke rumah. Untung saja ini masih sore, jadi aku bisa menyempatkan masak ala kadarnya untuk menyambut mas Rendra nantinya." Monolog Kinan sambil berjalan ke luar dari kamar, menuju dapur dan melihat bahan masakan apa saja yang bisa dirinya olah.
Selepas memasak, tidak lama Rendra pulang ke rumah. Laki-laki itu tidak banyak berkata, hanya duduk di meja makan dan menghabiskan makan malamnya.
"Jangan lupa minum obatnya," ujar Rendra saat melihat Kinan yang tengah membereskan peralatan bekas makan barusan.
"Iya," patuh Kinan.
Begitu pekerjaan di dapur sudah rampung, Kinan membawa gelas ke kamar dan mengambil obat dari dalam laci. Begitu mengeluarkan satu butir, dia terdiam karena merasa obat di tangannya sedikit berbeda dengan obat yang selama ini dikonsumsinya.
"Ada apa?" Tanya Rendra yang tengah duduk di sisi ranjang.
Kinan terdiam sejenak, lalu menggelengkan kepala. Dia memasukkan satu butir obat, lalu meminum air sebagai tambahan. Saat Rendra keluar dari dalam kamar, Kinan segera berlari masuk ke kamar mandi dan memuntahkan kembali obat dari dalam mulutnya.
"Aku yakin obatnya berbeda dari yang biasa aku minum, pasti tadi pagi mas Rendra yang menggantinya. Namun, obat apa ini?" gumam Kinan sambil menatap obat di telapak tangan yang baru saja dirinya muntahkan, sebelum ketahuan Rendra buru-buru Kinan mencuci tangannya dan membiarkan obat itu larut dalam air dan mengalir hilang begitu saja.
Kinan akan membawa obat ini besok siang ke apotek, dia akan mencari tahu jenis obat apa yang ingin Rendra berikan padanya. Perasaan Kinan semakin tidak karuan, bahkan dirinya sudah mulai merasa tak aman tinggal bareng bersama Rendra.
Malam hari saat Kinan dan Rendra tidur, alat pendengaran Kinan mendengar ada bunyi getaran dari ponsel. Tentu saja bukan ponsel dirinya, sebab Kinan tidak mengaktifkan ponsel saat tidur. Itu adalah panggilan yang masuk pada ponsel Rendra, terbukti dari pergerakan di sisi Kinan pertanda kalau Rendra tengah terbangun.
"Hallo," suara Rendra lirih menimpali panggilan dari orang yang menghubunginya.
Mendengar balasan dari si pemanggil, teeperanjat Rendra langsung turun dari atas ranjang. Dia mengambil jaket, lalu memakainya terburu-buru. Rendra juga mengambil kunci mobil, mengabaikan Kinan yang terbangun dan duduk melihat dirinya tampak seperti orang kesetanan.
"Mas Rendra mau ke mana?" Tanya Kinan saat melihat Rendra berlari keluar dari kamar.
Kinan mengikutinya dari belakang, dia terdiam di ambang pintu saat Rendra masuk ke dalam mobil dan melaju pergi mengacuhkan dirinya. Perlahan Kinan kembali masuk ke dalam rumah, lalu menutup pintu dan duduk di sofa. Kinan melihat jam di dinding, angka menunjukkan pukul dua dini hari.
"Ke mana Mas Rendra pergi malam-malam begini?" gumam Kinan dengan banyaknya dugaan yang meracuni pikirannya.
***