Dua hari berlalu Rendra tidak pulang ke rumah, laki-laki itu juga tidak mengangkat panggilannya. Berbagai macam pikiran buruk tidak bisa Kinan hilangkan, bahkan semakin menjadi dan kini kepercayaannya pada sang suami mulai terkikis walau Rendra belum benar-benar terbukti berselingkuh darinya.
"Saking pusingnya memikirkan sikap mas Rendra akhir-akhir ini, aku sampai lupa kalau ada pekerjaan merajut jaket untuk pelanggan." gumam Kinan Sambil turun dari atas ranjang, lalu berjalan membuka laci meja untuk mengambil benang rajut dan jarum untuk memulai kerajinannya. Namun, saat pandangan Kinan tidak sengaja melihat ke arah botol obat, mendadak gerakan tangannya langsung terhenti.
Alih-alih mengambil benang dan jarum, Kinan malah mengambil botol obat penyubur agar dirinya bisa cepat hamil. Kinan membukanya, terdiam saat melihat isinya sudah beda dengan obat yang selalu dirinya konsumsi selama ini.
"Aku harus ke apotek," gumam Kinan sambil menutup kembali botol obat, lalu mengambil tas dan memasukkan botol obat itu ke dalamnya.
Masalah merajut jaket untuk pesanan pelanggan masih banyak hari yang tersedia, jadi Kinan tidak terburu-buru harus mengerjakannya hari ini juga. Dia bisa ke apotek untuk menanyakan obat apa di dalam tasnya ini, agar dirinya bisa tahu sebenarnya kenapa Rendra sampai mengganti obat ini.
Saat sampai di apotek, baru saja Kinan akan mengeluarkan botol obat dari dalam tas. Pandangan Kinan tidak sengaja melihat siluet bayangan seseorang yang dikenalinya, buru-buru Kinan menyimpan kembali botol obat ke dalam tas lalu berlari mengikuti siluet yang dirinya lihat.
"Aku yakin orang tadi adalah mas Rendra," gumam Kinan sambil mengedarkan pandangan, dia berdecak kesal karena rupanya malah kehilangan jejak.
Kinan menatap rumah sakit di depannya, agak tidak yakin kalau Rendra masuk ke dalam. Mengusap wajahnya frustasi, Kinan berniat membalik badan tapi justru tubuhnya malah bertubrukan dengan seseorang hingga membuatnya hampir jatuh andai orang yang menubruknya tidak buru-buru menarik tangannya.
Sadar kalau yang saat ini memegang tangannya adalah seorang laki-laki, buru-buru Kinan melepaskan pegangan itu. Dia menunduk minta maaf, sebab tanpa lihat-lihat langsung membalik badan dan pada akhirnya harus menubruk orang lain.
"Maafkan saya, saya terlalu ceroboh hingga akhirnya menubruk Anda." ujar Kinan dengan rasa bersalah.
"Mbak Kinan?"
Mendengar suara bernada rendah di depan yang mengenali dirinya, perlahan Kinan mendongak dan matanya seketika langsung melebar terkejut saat menemukan laki-laki bermasker dengan topi yang menutupi rambutnya. Itu adalah Dean, pelanggannya yang sering membeli beberapa barang dari dirinya.
"Mas Dean," seru Kinan sambil tersenyum, tidak menyangka bisa sekebetulan begini bertemu dengan orang yang dikenal di tempat ramai begini.
Dean mengangguk membenarkan kalau seruan Kinan memang benar ini adalah dirinya, laki-laki yang wajahnya tertutup masker itu tampak menatap Kinan penuh pertimbangan. "Syal yang saya beli dari kamu ternyata sangat disukai oleh klien sebagai hadiah, juga tasnya mamah bilang begitu cantik. Melihat ada potensi yang bisa dikembangkan dalam produk jualanmu, bagaimana kalau kita kerja sama?"
"Kerja sama dalam hal?" Tanya Kinan memastikan.
Dean melihat sekitar, banyak orang lalu-lalang dan bahkan sebagian dari mereka tampak menaruh perhatian. "Sebenarnya agak tidak nyaman berbicara di sini, tapi saya tidak punya banyak waktu. Jadi saya akan meringkasnya saja, maksud kerja sama yang saya tawarkan adalah kamu menyediakan barang dan saya bagian pemasaran."
Kinan menutup mulut terkejut, ini adalah berita bagus bagi bisnisnya. "Sungguh?"
"Ya, tapi kita bicara lagi lain kali, saya ada keperluan penting." Dean melambaikan tangan, lalu melangkah melewati Kinan dan masuk ke dalam rumah sakit.
Kinan mengikuti dengan pandangan kepergian Dean, masih ada senyum di bibirnya. Setelah Kinan lihat-lihat, Dean ini sungguh tertutup. Selain masker dan topi, kedua tangannya juga memakai sarung tangan. Bila Kinan tidak mengenal Dean sebagai pelanggannya, mungkin dirinya bisa menyangka kalau Dean adalah perampok atau buronan polisi.
"Mungkin dia punya alasan tersendiri kenapa bisa berpenampilan se tertutup itu," gumam Kinan sambil mengedikka bahu acuh.
Karena perihal dia melihat Rendra juga tersambung dengan ketemunya Dean, Kinan jadi lupa pada tujuan awalnya datang ke sini. Dia menghela nafas dalam, lalu bergegas kembali untuk ke apotek yang bersisian dengan gedung rumah sakit.
Sampai di depan petugas apoteker, Kinan mengeluarkan kembali botol obat dari dalam tasnya. Dia menggeser ke hadapan sang apoteker, "maaf Mbak, saya mau bertanya mengenai obat dalam botol ini apa masih sama dengan obat asli milik botolnya?"
"Saya periksa dulu ya, Mbak." Jawab sang apoteker sambil menerima botol obat dari tangan Kinan.
Kinan menunggu dengan sabar saat sang apoteker membawa botol obat miliknya ke belakang, dia agak menyingkir saat orang-orang datang dan membeli obat. Tidak lama setelah menunggu dalam kurun waktu sekitar lima belas menit, sang apoteker keluar dengan botol obat itu.
"Bagaimana, Mbak?" Tanya Kinan dengan harap-harap cemas.
Sang apoteker tampak terdiam sejenak, mungkin memikirkan kenapa bisa botol obat ini yang jelas-jelas penyubur kehamilan malah isinya berbeda. Apoteker itu berniat mengembalikan botol obat pada Kinan sembari menjelaskan, "isi obat dalam botol ini adalah pil kontrasepsi."
deg
Gerakan tangan Kinan yang hendak mengambil botol obat dari tangan sang apoteker langsung terhenti, terlalu terkejut setelah mendengar penjelasan sang apoteker yang sangat di luar nalar. Bahkan saking kagetnya tangan Kinan sampai bergetar, perempuan itu tidak bisa mempercayai kalau Rendra telah menukar obat miliknya dengan obat pencegah kehamilan.
"A-Apa Mbak yakin?" Tanya Kinan memastikan.
Sang apoteker mengangguk mengiyakan, tidak ada keraguan sama sekali pada wajahnya. "Ya, tentu saja."
"Terima kasih kalau begitu," lirih Kinan sambil mengambil kembali botol obat dari tangan sang apoteker, lalu menggemgamnya erat sebelum kemudian memasukkannya ke dalam tas.
Kinan pulang dengan langkah seakan melayang, bernafas pun rasanya sangat hampa. Tega sekali Rendra memberinya pil kontrasepsi di saat laki-laki itu sendiri yang terus-menerus menginginkan seorang anak hadir dalam pernikahannya, tapi pada kenyataannya ternyata Rendra juga yang menghalanginya agar jangan hamil.
Awan semakin mendung, Kinan juga tahu kalau hari ini perkiraan cuaca akan turun hujan lebat. Namun, alih-alih cepat untuk pulang, Kinan malah duduk sendirian di taman di antara gerimis mulai datang.
"Aku tidak mau menangis, sebab itu membuatku terlihat lemah. Namun, kenapa air mata ini malah berjatuhan?" Keluh Kinan sambil sibuk mengusap air matanya, dia terisak sambil menunduk menyembunyikan wajahnya.
"Mas Rendra, cepat atau lambat aku pasti mengetahui alasan kamu melakukan semua ini padaku," Kinan bergumam penuh tekad, dia berjanji pada dirinya sendiri akan membongkar sebenarnya rencana apa yang suaminya itu lakukan untuknya.
Hingga akhirnya hujan turun semakin lebat, Kinan tersenyum samar sebab bila dengan begini mau seberapa keras pun dirinya menangis suaranya akan teredam oleh suara hujan dan air matanya akan bercampur dengan air hujan.
Tanpa Kinan sadari, seseorang dengan pakaian tertutup memperhatikannya dari dalam mobil. Bahkan saat Kinan keluar dari apotek hingga datang ke taman, dia mengikutinya. Laki-laki itu menurunkan jendela mobil, lalu melambaikan tangan pada seorang petugas taman yang tengah memeriksa keadaan.
"Ya?" Sang petugas taman bertanya setelah dirinya berdiri di samping mobil.
"Tolong berikan payung ini pada perempuan yang tengah duduk di kursi itu," tunjuk Dean pada Kinan sambil menyerahkan payung pada sang petugas taman. Dean juga menambahkan satu lembar uang, "ini untukmu sebagai tanda terima kasih."
"Baik dan terima kasih," ucap sang petugas taman dengan senyum senangnya, lalu mengambil payung dari tangan Dean dan membawanya pada Kinan. Saat sampai di depan Kinan, petugas taman itu menyimpan payung di Samping Kinan. "Mbak, ini payung buat Mbak."
Kinan melirik payung yang kini tersimpan di sampingnya, lalu menatap sang petugas taman dengan senyuman. "Terima kasih, tapi Bapak tak perlu memberi saya payung. Saya sudah terlanjur basah, Bapak ambil lagi saja payungnya."
"Payungnya bukan dari saya, tapi dari laki-laki dalam mobil itu." Tunjuk sang petugas taman pada mobil Dean, tapi sayang sekali Kinan tidak bisa melihatnya lantaran mobil itu sudah melaju pergi. "Yah, sudah pergi Mbak."
Kinan menatap penasaran mobil siapa itu, tapi dia tidak bisa melihat jelas orang yang mengemudikannya lantaran sudah melaju pergi. Alhasil Kinan mengambil payungnya, mengucapkan terima kasih sebelum kemudian dia melangkah pergi meninggalkan taman untuk pulang ke rumahnya.
Sampai ke rumah keadaan Kinan memburuk, dia terkena flu hingga tubuhnya menggigil kedinginan. Mungkin efek dari hujan-hujanan membuat tubuhnya melemah, sekarang Kinan hanya dapat berbaring di atas ranjang dengan selimut membungkus tubuhnya.
"Walau aku sakit, mas Rendra tetap mengabaikan semua panggilanku baik itu bentuk suara atau pesan." Kinan menghela nafas, dia memutuskan untuk tidak lagi berusaha menghubungi Rendra. "Baiklah mas Rendra, kamu sendiri yang memintaku untuk berubah. Maka aku akan berubah, kamu mengabaikanku maka aku juga bisa melakukan hal yang sama."
Ke esokan harinya Rendra pulang ke rumah, tapi Kinan tidak menanyakan alasan kepergian Rendra hingga tidak pulang bahkan Kinan juga mengabaikannya. Hal itu Kinan lakukan bukan karena dia merajuk, tapi hatinya terlalu terluka dengan semua yang Rendra lakukan padanya.
"Mas capek banget, sekarang mau istirahat dulu baru setelahnya kita bicara. Mas pasti menjelaskan alasan kepergian mendadak malam itu," ujar Rendra tanpa Kinan bertanya sekalipun, laki-laki itu sadar kalau Kinan marah dengan pertanda istrinya itu mengabaikan dirinya.
Sore hari Rendra baru keluar kamar dengan penampilan lebih segar, dia mengerjapkan matanya saat samar dia mendengar ada suara aneh yang masuk ke alat pendengarannya. Perlahan Rendra mengikuti sumber suara, langkahnya langsung terhenti tatkala melihat Kinan di ambang pintu tengah menunduk menatap sesuatu.
"Kinan," panggil Rendra dengan suara tercekat, wajahnya sudah memucat seperti orang yang kehilangan darahnya.
Kinan mengalihkan perhatiannya dari objek yang semula di pandang ke arah Rendra, nafasnya putus-putus sebelum kemudian berseru dengan suara yang mengandung amarah. "Mas Rendra, kenapa bisa ada bayi di depan pintu rumah? Di sini bahkan ada tulisannya kalau bayi ini adalah anaknya ... Mas Rendra."
deg
Jantung Rendra rasanya langsung berhenti berdebar, tubuhnya semakin kaku bahkan dia tidak bisa untuk sekedar mengeluarkan suara untuk membantah prasangka Kinan barusan.
"Mas Rendra," suara Kinan kembali terdengar, kini lebih menuntut. "Apa benar anak ini adalah anaknya Mas Rendra? Katakan Mas! Selama dua hari ini kamu ke mana? Kamu bukan menemani seorang perempuan melahirkan, bukan?"
***