Bab 5. Ayo, kita cerai

1775 Words
"Apa maksud kamu berbicara seperti itu, Kinan?" Tanya Rendra dengan wajah memerah, marah tentu saja dirinya tersinggung dengan tuduhan Kinan. "Mas tidak tahu-menahu mengenai bayi itu, kenapa kamu asal tuduh saja?" "Aku menemukan struk belanjaan peralatan bayi di tong sampah, itu Mas Rendra yang membuangnya ke sana. Sekarang ada bayi di depan pintu rumah dengan mengatas namakan anaknya Mas, bagaimana aku tidak berpikir kalau bayi ini memang anak Mas " Ungkap Kinan dengan suara tertahan, dia tidak akan bisa tenang setelah kedatangan bayi ini. "Aku memaang selalu di rumah, hanya istri biasa, tapi satu hal aku tidak bodoh hingga tidak tahu kalau suamiku selalu berbohong padaku." "Kamu ngelantur," komentar Rendra sinis. "Bawa saja bayi itu masuk, kasihan bila terus di luar nanti kedinginan dan sakit. Itung-itung kamu latihan mengurusnya sebelum punya bayi sendiri." Rendra berniat membalik badan, tapi langkahnya langsung terhenti tatkala dia melihat Kinan melalui ujung matanya tetap tidak bergerak untuk membawa bayi itu masuk ke dalam rumah. Di luar cuaca begitu dingin, membuat Rendra kesal hingga laki-laki itu kembali membalik badan dan menatap Kinan. "Tunggu apa lagi? Cepat bawa bayi itu masuk ke dalam rumah." Jangankan menyentuh bayi yang saat ini mulai menangis mungkin selain kedinginan juga haus, Kinan malah melenggang masuk sendirian tanpa sudi membawa bayi itu bersamanya sesuai perintah Rendra. Mungkin Kinan belum bisa memastikan kalau bayi itu anaknya Rendra, atau perselingkuhan suaminya ini, tapi satu hal Kinan tidak akan mau mengurus bayi orang lain yang diletakkan begitu saja di depan rumah. Kalau Rendra setuju, Kinan akan menitipkannya ke panti asuhan. "Kinan," panggil Rendra, tapi tak dianggap oleh Kinan. Rendra menggeram rendah, dia memukul angin saking kesannya sebelum kemudian dengan terpaksa berjalan ke arah pintu dan menggendong bayi yang masih merah dan terlihat baru dilahirkan. Sebelum membawanya masuk ke dalam rumah, Rendra menyempatkan melihat sekitar halaman rumah berharap orang yang meletakan bayi ini masih ada. "Sialan!" Gumam Rendra saat tidak menemukan siapapun. Walau terpaksa, Rendra tetap membawa bayi dalam gendongannya masuk ke dalam rumah beserta peralatan yang ditinggalkan. Dia menutup pintu, kebingungan harus melakukan apa pada bayi dalam gendongannya ini. "Kinan terlihat marah, bagaimana aku mengurus bayi ini?" Keluh Rendra sambil memijit pelipisnya. Saat masuk ke dalam kamar, Rendra menemukan Kinan yang tengah memainkan ponsel di atas ranjang. Rendra masuk, meletakan bayi yang tengah menangis itu ke samping Kinan. "Kinan, bayinya menangis. Kamu buatkan s**u dan beri dia minum." Perintah Rendra dengan nada jengkel, tapi sama sekali tidak direspon oleh Kinan dan malah istrinya itu bangun dari duduk berjalan menjauh dari bayi. Andai Kinan tidak punya pemikiran kalau bayi ini adalah milik Rendra dan kekasihnya itu, mungkin Kinan tidak akan setega ini mengabaikan makhluk kecil yang meminta tolong untuk diberi minum s**u. Namun, Kinan juga manusia biasa, memandang bayi ini saja sudah membuatnya muak hingga ingin menyimgkirkannya segera. "Kinan," geram Rendra hampir kehabisan rasa sabar. Mendengar Rendra seperti hampir hilang kesabaran, Kinan menurunkan ponsel dan melirik suaminya itu dengan seringaian samar. Sorry saja, bukan Kinan namanya kalau akan menuruti begitu saja perintah Rendra. "Aku akan memberinya minum s**u, juga mengurusnya, asal Mas Rendra menyetujui syarat yang akan aku berikan." "Ya, katakan saja, apa itu?" Tanya Rendra dengan nada tak peduli. Kinan melebarkan seringaiannya, lalu berujar dengan nada angkuh. "Aku mau mengurus bayi itu, tapi hanya sampai besok." Begitu mendengar ucapan Kinan, Rendra langsung menatap ke arahnya dengan kernyitan di dahi. "Sebab besok bayi itu kita antarkan saja ke kantor polisi sebagai orang hilang, lalu nantinya juga kalau tidak ada yang mau mengaku pasti dimasukkan ke dalam panti asuhan." "Apa kamu sudah gila?" Teriak Rendra dengan nafas yang saling bersahutan, pertanda kalau laki-laki itu tidak menyetujui dan murka akan usulan Kinan. Kinan mengedikkan bahu tak acuh, dia menatap Rendra seakan matanya berkata 'pilihan tetap ada di tanganmu. Setuju dengan usulanku, maka bayinya akan aku urus. Tidak setuju, kamu urus saja bayi itu sendiri'. Melihat ke frustasian di wajah Rendra, Kinan tertawa jahat dalam hatinya. Ini baru permulaan, Kinan tahu dirinya harus membalas rasa sakit hatinya mengingat bagaimana berkali-kali Rendra membohongi dirinya bahkan sampai berani menukar obat untuknya. Selain membuat hatinya lega, juga sekalian mendidik orang munafik seperti suaminya ini. Adapun teguran untuk Rendra, Kinan tahu itu pasti datang pada awal atau akhir hidup Rendra. Tak perlu Kinan yang membalas, bila Rendra terbukti berkhianat bukankah tinggal menunggu ganjaran bagi laki-laki ini menerima benih yang dia tuai? "Baiklah, terserah kamu saja." Rendra angkat tangan, dia berjalan ke luar dari dalam kamar setelah sebelumnya menyempatkan untuk mengambil ponsel. Setelah Rendra pergi, Kinan menoleh pada bayi di atas ranjang yang tak berhenti menangis dari tadi. Dia memunduk, menggendongnya dengan menimangnya perlahan. "Kamu anak siapa?" guman Kinan sambil mengelus pipi bayi dalam gendongannya. Kinan belum punya pengalaman mengurus bayi, jadi dia kurang mengerti kenapa bayi dalam gendongannya tidak berhenti menangis. Menyerah, Kinan mengambil ponsel dan mencari tahu penyebab bayi tak berhenti menangis di situs pencarian. "Popoknya basah," gumam Kinan membaca yang tertera di ponsel. Segera Kinan meletakan bayi ke atas ranjang, dia memeriksa popoknya dan ternyata baik-baik saja. Selanjutnya Kinan kembali membaca di ponsel, hingga satu-persatu saran yang ada dia lakukan. Hingga akhirnya Kinan pada penjelasan terakhir, yaitu bayinya haus atau lapar. "Oh, kamu haus rupanya." ujar Kinan saat dia mengasongkan satu jari tangannya pada mulut mungil di depannya, dia merasakan ada hisapan kuat pada ujung jarinya. Segera Kinan menghampiri tas bayi, dia menemukan sebuah s**u formula lengkap dengan dotnya. Kinan membawa s**u formula dan dot ke dapur, dia memperkirakan berapa sendok s**u dengan takaran air hangat yang harus diberikan. Setelah memastikan air s**u hanya hangat sedikit, Kinan membawanya masuk ke dalam kamar dan memberi bayi itu minum. Di luar Rendra yang berniat menghubungi seseorang tapi tidak diangkat hampir melempar ponsel ke lantai, tapi urung tatkala dia tahu apa yang dirinya lakukan hanya merugikan diri sendiri. Rendra menoleh ke arah kamar saat tidak lagi mendengar bayi itu menangis, perlahan Rendra melangkah mendekati pintu dan mengintip apa yang saat ini Kinan lakukan pada bayinya. Ternyata bayi itu tengah meminum s**u, di sampingnya ada Kinan yang tengah memegang botol s**u sambil memperhatikan sang bayi. Rendra yakin kalau bayi itu Kinan rawat, lambat laun Kinan akan menyayanginya dan bisa menerima bayi itu bagaimanapun asal-usulnya. "Aku hanya perlu mencari cara agar bayi itu tidak dibawa ke kantor polisi besok," guman Rendra penuh tekad. Perlahan Kinan melepaskan p****g dot dari bibir mungil sang bayi, begitu hati-hati Kinan lakukan agar bayinya yang sudah terlelap tidak terbangun. Selepas berhasil menjauhkan dot dari bibir bayi, Kinan berdiri dan melirik ke arah pintu pada Rendra yang tengah mengintip di sana. Kinan mendekati pintu, lalu membukanya dan menatap Rendra tanpa riak di wajahnya. Dia berjalan melewati Rendra, tapi sesaat langkahnya terhenti sejenak hanya untuk berbicara. "Kita perlu bicara Mas Rendra, jadi ayo ikuti aku." Rendra menarik nafas panjang, lalu menghempaskannya perlahan sambil menatap punggung Kinan yang mulai berjalan menjauh. Dengan langkah berat Rendra mengikuti Kinan, dia duduk berhadapan dengan Kinan yang kini sudah duduk di sofa sambil melipat tangan di depan d**a. "Masalah Mas yang tidak pulang dua hari lebih kemarin, itu karena Mas punya pekerjaan mendadak di kantor. Mas ditugaskan ke luar kota, di sana sangat sibuk hingga tidak sempat memegang ponsel." Jelas Rendra, bahkan sebelum Kinan meminta penjelasan. 'Jelas-jelas aku melihat kamu di rumah sakit hari kemarin, Mas. Kamu masih berani berbohong, tidak tahu malu.' batin Kinan mencibir penjelasan Rendra. "Mengenai masalah bayi itu," Rendra menggelengkan kepala. "Mas benar-benar tidak tahu, kamu jangan terpengaruh sama tulisan yang ada bersama bayi itu. Mungkin saja itu tulisan orang yang iseng atau bahkan ingin mencerai-beraikan hubungan kita." Kinan masih diam, dia ingin melihat sejauh mana Rendra akan terus membela dirinya agar terlihat bersih di depannya. Padahal tanpa sepengetahuan Rendra, Kinan bisa tahu mana saat Rendra berbohong atau jujur dari beberapa bukti kecurigaannya selama ini yang terkumpul. Rendra menegakan punggung, kedua tangannya saling terpaut gelisah saat melihat tidak ada perubahan ekspresi apapun di wajah Kinan setelah dirinya memberi penjelasan. Rendra menggoyangkan bibir, lalu kembali berujar. "Kita kan tengah dalam proses program hamil, dengan adanya bayi itu mungkin salah satu cara agar kamu bisa latihan mengurus bayi sebelum hamil. Bagaimana kalau kamu urus saja bayi itu, setelah nanti hamil bayinya bisa kita titipkan ke panti asuhan." Ya Rendra sudah memikirkannya. Rendra akan membujuk Kinan agar mau mengurus bayi itu, bila nanti Kinan sudah jatuh cinta pada bayinya pasti tidak akan tega menitipkannya ke panti asuhan. Merasa idenya kali ini sangat brilian, Rendra bangga akan pemikirannya sendiri. Adapun cepat atau lambatnya Kinan hamil, Rendra sudah memikirkan itu dan dia akan membuat Kinan tidak hamil dalam satu atau dua tahun ini demi agar istrinya ini bisa fokus mengurus bayi itu. 'Bagaimana bisa aku hamil kalau kamu terus-menerus memberiku pil kontrasepsi, Mas?' Batin Kinan ingin sekali meneriaki Rendra, tapi dia harus bisa menahan diri demi kelangsungan rencananya. "Jadi bagaimana, Kinan? Kamu mau bukan mengurus bayi itu?" Tanya Rendra setelah bujukannya, dia menunggu tanggapan Kinan dengan rasa tidak sabar. Perlahan Kinan menggelengkan kepala, dia tetap pada pendiriannya membuat Rendra tercengang karena tidak menyangka dengan kekeras kepalaan Kinan. "Aku tidak mau mengurus bayi itu, kita tetap akan melaporkannya pada polisi besok. Kalau Mas Rendra tidak setuju, silakan urus sendiri bayi itu dan jangan libatkan aku." "Kalau itu maumu, maka Mas juga bisa menghentikan biaya untuk pengobatan Dinda. Biarkan saja Dinda semakin sekarat dengan penyakitnya," putus Rendra sambil mengancam, laki-laki itu yakin kalau Kinan tidak akan berani membantah ucapannya bila sudah membawa-bawa nama Dinda. "Jadi begitu," angguk Kinan tanpa takut sama sekali. "Baiklah, kalau itu maumu. Mas Rendra tidak perlu lagi membiayai Dinda." "Kinan--," Rendra tercekat, tidak menyangka kalau Kinan bisa seberani ini. "Karena tadi Mas Rendra sudah mengatakan bagian, kini giliran aku yang berbicara." Kinan menatap Rendra dengan pandangan memindai, lalu perlahan berucap. "Mas Rendra akan jujur sendiri atau aku yang akan mengatakannya?" "Maksudmu jujur dalam hal apa? Mas tidak pernah membohongimu." Rendra sedikit memalingkan wajah, lalu kembali menatap Kinan dengan sorot tersinggung. Kinan melirik botol obat yang ada di sampingnya, lalu menyimpan ke atas meja. Bukan hanya sampai sana, Kinan juga membuka botol obat itu dan mengeluarkan isinya hingga berhamburan di atas meja. "Kenapa Mas Rendra mengganti obat ini dengan pil kontrasepsi?" Bibir Rendra bergetar, terbuka dan tertutup. Namun, tidak ada satu patah katapun yang keluar, hanya matanya yang menunjukkan keterkejutan mungkin tidak menyangka kalau Kinan akan menyadari perbedaan obat dalam botol. "Mas tidak pernah mengganti isi dalam botol obat itu," setelah terdiam cukup lama dalam berpikir, akhirnya Rendra melanjutkan ucapannya. "Kamu jangan menuduh Mas yang tidak-tidak, Kinan." Kinan mendengkus malas, dia tertawa tak percaya sebelum kemudian menimpali pembelaan Rendra. "Jadi Mas Rendra memilih berbohong. Baiklah kalau begitu, kalau Mas Rendra tidak bisa lagi aku percaya maka kita hanya perlu hidup masing-masing." "Ma-maksud kamu?" Rendra tergagap bertanya. "Ayo, kita cerai." Jelas Kinan tegas. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD