Keesokkan harinya Risa sibuk dengan baju barunya. Ia berdiri di depan cermin, memandangi dirinya dengan wajah ragu.
“Anjir, kependekan rok-nya, Tari…” ucap Risa bingung sambil menarik ujung roknya agar terlihat lebih panjang.
Tari yang sedang sibuk memilih lipstik menoleh sekilas lalu terkekeh.
“Lah, kalo punya gue mah gede dong. Mau nggak?” tawarnya sambil mengangkat alis, seolah sengaja menggoda.
“Ogah, ah. Pake ini aja…” Risa mendengus, tapi tetap mengancingkan kemejanya dengan wajah setengah pasrah.
Tari mendekat sambil menaruh lipstik ke meja rias. “Rambut lo nggak diiket?” tanyanya sambil mengaplikasikan maskara dengan hati-hati.
“Ngga, ah. Digerai aja. Dingin ini, biar anget,” sahut Risa santai sambil menyisir rambut panjangnya yang lembut jatuh di bahu.
“Ok, udah yuk.” Tari menenteng tasnya dengan penuh percaya diri, sementara Risa masih menatap dirinya di cermin dengan napas dalam.
“Ok, I’m ready. Huh… bismillah…” ucap Risa bersemangat, meski dalam hatinya gugup setengah mati.
Mereka pun berangkat naik mobil Tari menuju perusahaan properti tempat Tari bekerja. Dari kejauhan, gedung menjulang itu sudah terlihat megah dan berkelas.
“Anjiiir… gila, gede banget bangunannya! Gue kira kantor biasa, anjir…” Risa refleks menepuk bahu Tari dengan mulut ternganga.
Tari hanya melirik malas. “Udah, masuk. Hayu!” katanya datar, berjalan anggun menuju lift.
Lift yang penuh sesak membuat Risa gelisah. Ia merasa semua mata tertuju pada roknya yang kependekan. Wajahnya panas, jantungnya berdebar.
“Ngga pede gue…” rengeknya pelan sambil menunduk.
Tari menepuk lengannya santai. “Gak apa-apa. Santai aja. Nih, lo duduk di sini,” ucap Tari sambil menunjuk kursi tunggu dengan ekspresi cuek.
“Ok…” sahut Risa sambil duduk, mencoba mengalihkan perhatian dengan memainkan ponselnya.
Saat itu sebuah pesan masuk. Nomor baru.
Sayang, kamu dimana? Aku kangen.
Pesan dari Reno.
Risa terdiam. Matanya bergetar. Hatinya nyaris runtuh, ingin membalas, tapi gengsinya menahannya. Ia menggigit bibir, mencoba tegar.
Tiba-tiba suasana mendadak berubah. Lobi kantor yang tadi ramai mendadak sunyi.
Semua orang diam seketika. Sosok pria dengan aura dingin memasuki ruangan. Langkahnya tegas, tatapannya menusuk.
Evan. Sang pemilik perusahaan.
Tatapannya sekilas menyapu seluruh ruangan, lalu berhenti tepat pada Risa yang sedang menunduk memainkan ponselnya.
“Karyawan baru?” suaranya berat, dingin, membuat bulu kuduk Risa meremang.
Risa buru-buru berdiri. “Ekh… pa, saya yang mau ngelamar…” jawabnya gugup, wajahnya memerah.
Evan menyipitkan mata. Tatapannya tajam menyapu dari ujung rambut hingga ujung kaki Risa.
“Di sini dilarang main HP di jam kerja. Faham itu?” suaranya ketus, seperti cambuk.
Risa hampir kehilangan suara, bibirnya bergetar. Namun sebelum ia sempat menjawab, Tari datang terburu-buru.
“Pa Evan, ini teman saya yang mau melamar kerja. Maaf, pa, saya lupa ngasih tau kalo nggak boleh pegang HP.” Suara Tari lembut, sopan, berbeda jauh dengan gaya bicaranya sehari-hari.
Evan hanya menatap dingin lalu berbalik. “Ikut saya.”
Risa menelan ludah. Anjir, jantung gue copot! gumamnya dalam hati, namun tetap melangkah mengikuti pria itu.
Mereka memasuki ruangan besar dengan desain elegan. Di depan meja kerja megah, papan nama itu terpampang jelas:
CEO Evan Mahendra
Risa berdiri kaku di depan meja, berusaha terlihat tenang, tapi jantungnya berdegup kencang seperti genderang perang.
“Risa Pramesti, usia 25 tahun. Pernah kerja bagian desain grafis di Jakarta, di perusahaan besar. Kenapa melamar ke sini?” suara Evan berat, tegas, sambil memutar kursinya. Tatapannya menusuk lurus ke arah Risa.
“Saya… mau coba hal baru, pak…” jawab Risa gugup, tangannya meremas ujung roknya.
“Coba??” Evan mengeraskan suara, membuat udara terasa semakin berat. “Jadi sekretaris itu bukan ajang coba-coba. Kalau kamu salah ngatur jadwal saya, bisa hilang miliaran!”
Risa menelan ludah, memaksa tersenyum kaku. “Ya… saya usahakan nggak salah, pak. Saya teliti kok. Makanya bisa kuat kerja tiga tahun di Jakarta.”
“Kenapa keluar dari sana? Gajinya besar, loh.” Nada Evan menantang, seolah ingin menguji.
Risa menarik napas panjang, lalu menjawab jujur, “Mau pulang aja ke kampung halaman. Di Jakarta… panas, pak.”
Seulas senyum nyaris muncul di wajah Evan. Hampir. Namun ia segera menahannya, kembali menatap dingin. Ia berdiri perlahan, berjalan mendekat.
“Memang kamu mau gaji cuma enam juta sebulan di Bandung?” tanyanya, langkahnya mantap mendekati Risa.
“Mau sih, pak. Yang penting dekat sama orang tua saya…” jawab Risa lirih, tapi tulus.
“Udah nikah?” suara Evan kini terdengar lebih rendah, tapi tetap menusuk.
“Belum, pak,” jawab Risa sambil menunduk, wajahnya memerah.
“Bagus. Soalnya kita sering keluar kota. Saya butuh yang single, dan kalau bisa… nggak punya pacar. Biar nggak ribet.” Evan bersandar di meja, menatap Risa tajam.
“Oh, gitu ya, pak…” Risa gugup, menunduk semakin dalam.
“Punya pacar?” Evan menembakkan pertanyaan berikutnya, tatapannya dingin, seolah bisa membaca pikiran Risa.
“Ng… nggak, pak.” Risa menjawab tegas, meski hatinya mencelos.
“Yang bener? Nanti rewel pas keluar kota, pacarnya nyusul…” suara Evan terdengar setengah bercanda, tapi tanpa senyum sedikit pun.
“Ngga kok, pak. Saya jujur.” Risa buru-buru mengangkat tangan, tanda sumpah.
Evan mengangguk sekali, lalu berjalan kembali ke kursinya. “Ok. Hari ini mulai kerja ya. Tapi… rok kamu kependekan. Besok jangan pake lagi.”
Risa terperangah. “Apa? Pak… saya kerja hari ini?” suaranya nyaris teriak, tak percaya.
“Iya. Kenapa? Nggak mau?” balas Evan dingin, alisnya sedikit terangkat.
“Ng… nggak kok, pak. Saya mau! Saya siap, pak! Terima kasih banyak, pak!” Risa tersenyum lebar, matanya berbinar penuh rasa lega bercampur bahagia.
“Meja kamu di luar. Catat dan atur jadwal pertemuan. Kalau ada tamu yang tidak ada janji dengan saya, jangan diterima. Oke?” suara Evan tegas, memberi instruksi terakhir.
“Ok, pak! Siap!” Risa menjawab mantap, senyumnya tak bisa disembunyikan. Hatinya berteriak girang—meski dalam kepalanya, rasa gugup masih mencekam.
Hari pertama bekerja, Risa langsung disibukkan dengan dering telepon yang tak henti-hentinya berbunyi.
Tangannya lincah mencatat janji pertemuan dan jadwal meeting Evan. Sesekali ia bolak-balik masuk ke ruangan bos barunya itu, membawa agenda di tangan.
“Pak, pukul sembilan ada meeting di ruang rapat bersama bos besar,” ucap Risa dengan sopan, suaranya sedikit bergetar karena masih gugup.
“Ok.” Evan menjawab singkat sambil menandatangani dokumen, tatapannya sama sekali tidak menoleh pada Risa.
Risa buru-buru pamit keluar, berusaha menjaga sikap. Tak lama kemudian, Evan pergi meeting dengan setelan jas hitam rapi.
Tubuh tingginya dan rambut cepak memberi kesan gagah, namun entah kenapa, bagi Risa ada sesuatu yang membuat dadanya sesak. Sekilas… nada bicaranya, bahkan tatapannya, mengingatkannya pada Reno.
Astaga… kok gue nggak bisa move on dari Reno sih? batinnya menjerit, tapi buru-buru ia alihkan pikirannya dengan kembali fokus pada pekerjaan.
Pukul 10.30, Evan kembali. Risa cepat-cepat bangkit dan mengikuti ke ruangannya dengan buku catatan di tangan.
“Pak, pukul 13.00 ada jadwal survei lokasi pembangunan perumahan,” ucap Risa sambil melihat catatannya.
Evan hanya mengangguk tipis, tetap menatap layar laptop.
“Pukul 14.00 ada pertemuan di restoran Jepang dengan klien,” lanjut Risa sambil menutup bukunya dengan hati-hati.
“Ok. Udah? Nggak ada lagi?” Evan bertanya datar, seolah sekadar menggugurkan kewajiban.
“Udah, pak,” jawab Risa sambil tersenyum kecil, lalu hendak pergi.
“Tunggu, Risa.” Suara Evan menghentikan langkahnya.
Risa menoleh cepat. “Ya, Pak?”
“Kalo ada cewek ke sini… bilang saya nggak ada. Ok?” ucap Evan, wajahnya malas, tapi tatapannya menusuk.
“Ouh, siap, Pak.” Risa menunduk sopan lalu keluar, meski dalam hatinya penuh tanda tanya.
Ia kembali duduk di mejanya, sibuk lagi dengan telepon yang terus masuk. Hingga pukul 11.30, seorang wanita cantik bertubuh tinggi masuk dengan langkah angkuh. Wajahnya datar, dingin, tatapannya tajam menusuk Risa.
“Evan-nya ada?” suaranya jutex, penuh arogansi.
“Ngga ada, Bu. Ada yang bisa saya bantu?” Risa menjawab sopan, menampilkan senyum kecil.
Wanita itu menyipitkan mata. “Kamu karyawan baru?” nadanya ketus, penuh meremehkan.
“Iya.” Risa mengangguk, tetap menjaga senyumnya.
Tatapan wanita itu turun dari ujung rambut hingga ke rok pendek yang dikenakan Risa. Bibirnya menyeringai sinis.
“Sexy amat baju kamu. Mau kerja apa mau godain pacar orang?” katanya tajam sambil mendelik. Tanpa permisi, ia langsung masuk ke ruangan Evan.
“T-tapi, Bu…” Risa kaget, buru-buru mengejar.
Di dalam, Evan mendongak dari kursinya, wajahnya langsung berubah kesal. “Saya sudah bilang, Risa! Bilang saya tidak ada!” suaranya meninggi.
“S-sudah, Pak! Tapi dia masuk gitu aja…” Risa panik, tubuhnya gemetar.
Wanita itu berdiri dengan penuh amarah. “Lo cari sekretaris modelan gini biar bisa selingkuh, Van?” ucapnya emosi, matanya penuh benci.
Evan bangkit berdiri, wajahnya merah menahan marah. “Apa lo bilang?! Hah?! Ngapain lo ke sini?! Kita udah nggak ada hubungan lagi!”
Risa terlonjak kaget.
Ia merasa ketakutan, buru-buru mundur dan keluar dari ruangan, menahan napas di depan pintu. Namun dari kaca jendela, ia masih bisa melihat jelas.
“Lo b******k, anjing!” teriak wanita itu—namanya Gina—sambil menampar Evan keras.
“Aww…” Risa refleks mengernyit, melihat tamparan itu begitu keras.
Mata Evan membara.
Dengan emosi tak terkendali, ia mencekik leher Gina. “Lo kurang ajar ya, anjing!” suaranya bergemuruh, penuh kebencian.
Gina tercekik, wajahnya memerah, napasnya tersengal.
Risa panik, langsung masuk kembali tanpa pikir panjang. “Pak! Maaf, saya ikut campur, tapi dia bisa mati, Pak!” ucapnya cemas, mencoba menahan tangan Evan.
“Diam kamu! Bukan urusan kamu!” Evan berteriak, matanya liar. “Cewek ini pantas mati!”
“T-tolong…” Gina berontak, suaranya melemah, tangannya mencakar udara.
“Pak, lepasin…” Risa memohon dengan suara lembut, nekat menarik tangan Evan perlahan.
Evan terhenti sejenak. Napasnya memburu. Lalu dengan kasar ia melepaskan cengkeramannya, menghela napas panjang penuh amarah.
“Jangan ke sini lagi! Dasar p*****r!” ucap Evan dingin, menatap Gina penuh jijik sebelum berbalik ke kursinya.
Risa terpaku. Se-b******k apa bos gue ini? pikirnya ngeri.
“Bu, nggak apa-apa? Saya bantu, ya…” Risa akhirnya meraih Gina dengan hati-hati, membantunya berdiri.
Gina menatap Evan dengan penuh dendam. “Liat aja, Evan! Gue akan buat perhitungan sama lo! Anjing lo!” teriaknya sebelum pergi dengan langkah gemetar.
Risa menghela napas panjang, tangannya masih bergetar. Ia berbalik hendak kembali ke mejanya, namun suara dingin menghentikannya.
“Sini kamu.”
Risa menoleh, jantungnya seakan jatuh. “I-iya, Pak… maafkan saya…” ucapnya gugup, wajahnya pucat.
Evan menatapnya tajam, lalu bersandar di kursi. “Makasih udah ingetin saya. Kalau nggak ada kamu… udah saya bunuh cewek tadi.” Nada suaranya kesal, tapi serius.
Risa menelan ludah. “S-sama-sama, Pak… saya kembali ke meja saya ya, Pak…” ucapnya lirih, buru-buru melangkah keluar.
Begitu duduk kembali, ia menutup wajah dengan kedua tangan. Anjir… hari pertama aja udah gini. GILAAA! batinnya menjerit, matanya menatap kosong ke arah meja.