Kekejam Sang Bos

1158 Words
Saat jam istirahat, pintu ruang Evan terbuka. Dengan langkah mantap, pria itu keluar sambil merapikan jasnya. “Saya istirahat langsung ke lapangan ya. Jika ada yang datang, suruh besok lagi ke sini,” ucap Evan dingin tanpa menoleh, seolah tak mau diganggu. “Baik, Pa,” jawab Risa sambil menunduk sopan, walau dalam hati ia menghela napas panjang. Begitu Evan menghilang di koridor, Risa akhirnya membiarkan dirinya merosot sedikit di kursinya. Ia menepuk pipinya pelan, mencoba menahan lelah, lalu berjalan lesu menuju ruang staf. “Tarii… istirahat yuk,” ucap Risa, suaranya parau seakan menahan tangis. “Anjir lah, ini karyawan baru gesit amat,” sahut Tari sambil berdiri, menatap Risa dengan ekspresi kaget. “Hari pertama kacau banget, Tarii…” Risa menggenggam lengan sahabatnya, hampir ingin menangis. “Sabaaar. Hayu kita makan,” ucap Tari lembut sambil merangkul bahu Risa. Mereka pun melangkah ke kafe siang itu. Aroma kopi dan makanan cepat saji memenuhi ruangan, sedikit menenangkan hati Risa. “Anjir lah… dari gaji 12 juta kerja enak, jadi 6 juta… dalam tekanan lagi,” keluh Risa sambil memegang burger dengan lesu. “Ngga segitu ege, gede gaji sekretaris. Gaji gue aja 10 juta,” ucap Tari santai sambil melilitkan spaghetti di garpunya. “Kata Pa Evan tadi, ih… bilang 6 juta,” jawab Risa sambil meneguk soda, bibirnya manyun. “Bercanda kali dia,” Tari terkekeh, menahan tawa. “Masa iya orang kayak gitu bercanda,” Risa menggeleng kesal, lalu tiba-tiba teringat sesuatu. “Ekh… gue belum buka HP gue.” Begitu layar ponsel menyala, beberapa panggilan tak terjawab dari Reno terpampang jelas. Nafas Risa tercekat. Tangannya bergetar saat menekan tombol telepon balik. “Halo sayang, aku kangen kamu, Risa…” suara Reno terdengar lembut, penuh rindu. Risa menutup mata, air matanya menetes. “Kita sudah usai ya… jangan ganggu aku lagi. Mungkin kamu nyaman dengan karyawan kamu. Makasih, dua tahun kenal sama kamu… baru kali ini kamu kasih luka sama aku, dan itu sakit banget, Ren…” “Tapi sayang, kamu salah paham! Dia yang cium aku, bukan aku yang cium dia! Aku sudah pecat dia, plis… pulang lagi ya. Kita nikah…” suara Reno bergetar, memohon. Risa menggigit bibirnya, menahan isak. “Maaf Ren… aku udah kerja. Pekerjaan ini menuntut aku agar tak punya pacar atau suami. Jadi… lupain aja aku. Tapi kalau memang jodoh… suatu saat kita ketemu lagi.” “Risa jangan gitu! Aku bisa hidupi kamu, kamu keluar kerja, jangan kerja lagi!” Reno hampir berteriak, emosinya memuncak. “Udah tanggung, Ren. Aku nyaman di sini… maaf ya. Bye… aku masih cinta kamu, Reno…” Risa menutup telepon dengan air mata deras membasahi pipinya. Ia terdiam, tak sanggup melanjutkan burgernya. Isakan kecil lolos tanpa bisa ia tahan. “Dih, lo mah… cowok lo minta balikan, lo yang nggak mau, lo yang nangis,” ucap Tari heran sambil menatapnya. “Gue nggak mau ke Jakarta lagi… panas,” jawab Risa manja, matanya sembab. “Kata siapa? Katanya enak kerja di sana, gajinya gede, punya calon suami, punya dua kafe, dijamin hidup enak. Salah paham sekali aja langsung di cut off. Gemini, Gemini… dasar!” Tari menghela nafas kesal. “Diem akh… bete,” sahut Risa sambil cepat-cepat menghapus air matanya. Setelah beberapa menit, Risa akhirnya menenangkan diri. Ia merapikan bedaknya, memandang cermin kecil untuk memastikan wajahnya tak lagi sembab. “Yuk, masuk lagi,” ucap Tari sambil menggenggam tangan Risa penuh pengertian. “Ok,” jawab Risa lirih, berdiri dengan lelah. Mereka pun kembali ke kantor siang itu. Dari pukul 13.00 Evan tak juga kembali, membuat suasana kantor hening. Risa hanya sibuk mencatat jadwal Evan untuk esok hari. Saat jam dinding menunjuk pukul 16.00, Risa berdiri dengan senyum lega. “Waktunya pulang,” ucapnya penuh semangat kecil. Ia mematikan komputer, merapikan meja, lalu berjalan ke arah Tari. “Yuk,” ucap Tari yang sudah siap. Mereka pun melangkah keluar bersama, meninggalkan kantor sore itu menuju apartemen Tari. “Gilaaa… anjir, Pak Evan tempramen abis! Lo tau, Tari… tadi pacarnya dicekik sampe muka merah banget,” ucap Risa dengan syok, tangannya masih bergetar saat mengingat kejadian itu. “Anjir! Yang bener lo?!” Tari kaget, matanya melebar sambil tetap fokus nyetir, hampir saja membanting setir. “Serius! Awalnya si cewek nampar Pak Evan. Terus, Pak Evan-nya kesal, dicekik gitu. Gue kasian, dong, liat cewek itu. Gue beraniin diri masuk, nggak peduli mau dipecat juga, terserah. Gue bilang, ‘Pak, nanti mati loh ibu-nya!’ Anjir sumpah… deg-degan parah. Lebih-lebih dari masuk rumah hantu!” Risa memukul-mukul dadanya sendiri sambil ngakak, mencoba menutupi ketegangannya. “Serius lo misahin mereka?!” Tari melongo, hampir tak percaya. “Iya! Akhirnya Pak Evan ngangkat tangannya. Ceweknya pergi sambil marah. Dan lo tau apa? Kirain gue bakal dikeluarin, eh malah bilang makasih! Kaget anjir!” Risa ngakak sambil menepuk paha Tari. “Serius? Tumben bilang makasih. Anjir, orang seangkuh itu…” Tari geleng-geleng tak percaya. “Makasih katanya… ‘Kalau nggak ada kamu, saya bisa bunuh dia!’” Risa menirukan gaya bicara Evan dengan wajah ketus, bikin Tari tertawa ngakak. Mereka pun larut dalam obrolan heboh itu, sampai tak terasa mobil sudah berhenti di parkiran apartemen Tari. Begitu masuk, suasana langsung berubah. Risa dan Tari berebut kamar mandi, saling dorong sambil teriak-teriakan kecil. “Gue duluan!” teriak Risa. “Eh anjir, gue duluanlah!” balas Tari, tapi akhirnya Risa yang lebih cepat. Beberapa menit kemudian, Risa keluar dengan wajah segar, berpakaian santai. Ia duduk di sofa, menyalakan rokok. Asap putih mengepul, matanya kosong menatap langit-langit. Setelah rokok habis, ia merebahkan tubuh, dan tanpa sadar air mata jatuh. “Gue kangen lo, Ren…” bisiknya lirih, suara bergetar. Tangannya meraih ponsel. Foto-foto dirinya bersama Reno terpampang jelas. Senyum Reno, pelukan hangat, janji-janji kecil yang dulu terasa indah. “Nanti kalo kita nikah, kita bulan madu ke Lombok, ya…” suara Reno terngiang jelas di kepalanya. “Rambut kamu udah panjang, sayang… nggak pengen ke salon?” bayangan Reno kembali muncul, lengkap dengan kebiasaannya menyisir rambut Risa dengan lembut. “Kamu kalo jalan hati-hati… jangan sampai nginjek pecahan kaca.” Ingatan itu menusuk lebih dalam—saat Reno mengobati kakinya yang berdarah. Risa tak mampu lagi menahan. Tangisnya pecah. “Renooo…” teriaknya lirih sambil mengusap air mata. Tari keluar dari kamar mandi, mendengus kesal melihat sahabatnya. “Eump, si PA dasar! Mana no si Reno? Gue telepon aja biar jemput lo,” ucapnya sambil merebut ponsel Risa. “Ngga… ngga mau!” Risa panik, langsung merebut kembali ponselnya dengan mata sembab. “Yaudah diem! Mewek terus berisik, sumpah!” Tari menatapnya sinis tapi dalam hati juga iba. “Anter balik yuk… baju gue di rumah ibu gue,” ucap Risa lirih, mengusap air matanya yang masih menetes. “Ayok… sekalian kita makan di luar,” ucap Tari akhirnya, sambil meraih jaket dan memasangnya cepat. Malam itu, mereka pun berangkat. Mobil Tari melaju di jalanan kota yang dipenuhi lampu jalan, membawa dua hati yang sama-sama lelah tapi tetap saling menopang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD