Bab 7 Godaan Damian

1253 Words
Suara tubrukan lemah dari dua tubuh terdengar di udara. “Aduh!” rintih Claris ketika dia baru saja berbelok di sebuah lorong. Kepalanya terbentur sebuah punggung pria berjas hitam. Hawa dingin dengan cepat menusuk Claris sekali lagi. Ponsel yang digenggamnya dicengkeram kuat. Rohnya sudah seperti lari meninggalkannya duluan dari tempat itu. Gawat! Baju pria itu sekarang kotor gara-gara terkena wajahnya yang belepotan parah! “Ma-maaafkan saya, Tuan!” Pria berjas hitam yang berdiri kokoh dan tinggi di depannya itu, perlahan berbalik setelah menyadari ada yang menyeruduk punggungnya. Wajah dingin dan tampannya tampak begitu mengintimidasi, tapi dewasa dan sangat memesona di saat yang sama. Mampus! Bukankah dia tadi adalah pria yang bersama nona kaya jahat bernama Nirmala itu? Damian Abizard Sky menatap Claris dengan penampilan konyolnya yang sangat kacau, kening pria ini berkerut dalam. “Ma-ma-ma-maafkan saya, Tuan. Ja-ja-jas Anda jadi kotor,” gagap Claris dengan tubuh kaku bagaikan batang pohon, bermuka kelam dan pucat karena tidak tahu orang kaya macam apalagi yang dihadapinya kali ini. Kenapa dia sangat sial sekali hari ini, sih?! Claris ingin sekali rasanya lari dan mengubur dirinya di dalam tanah karena malu! Ini seperti sedang bermain game dan harus melewati beberapa bos besar di setiap levelnya! Sangat bikin jantung olahraga marathon! Damian meraih punggungnya dengan tangan kiri, memeriksa noda krim yang menempal dari wajah sang pelayan. “Krim?” ucapnya pelan, tapi dingin dan datar. Dalam hati, Claris tiba-tiba merasa ngeri! Pria ini sepertinya bukan pria yang murah hati seperti wanita dewasa di dalam ruangan sebelumnya! Suaranya saja sedingin itu! Tapi, sialan, kenapa begitu seksi?! Gawat! Claris menggigit bibir gugup, menggeleng cepat menyingkirkan pikian aneh yang menghampirinya. Dia pun takut-takut menatapnya sambil berkata, “ka-kalau boleh, bisa saya bersihkan jasnya? Sa-saya tidak punya uang untuk menggantinya, Tuan!” Damian menatap sang pelayan dengan tatapan menarik. Pria ini segera memperbaiki posisi berdirinya untuk berhadapan dengan sang wanita. Jika dilihat dari krim yang sudah berkurang banyak di wajahnya, sepertinya wanita di depannya ini memiliki wajah yang sangat cantik? Wangi tubuhnya pun sedikit unik, manis dan sedikit gurih. Apakah karena tubuhnya belepotan makanan enak? Damian maju ke depan dengan tangan terjulur, membuat Claris kaget hingga tanpa sadar mundur selangkah. “A-anda mau apa, Tuan? To-tolong jangan tampar saya! Kepala saya sudah cukup pusing ditampar 4 kali di dalam ruangan itu! Mohon maaf sebesar-besarnya karena sudah mengotori jas Anda! Saya sungguh tidak sengaja, Tuan!” teriak Claris cepat dalam mode panik, memejamkan mata takut sambil menciutkan tubuh. Kepala menunduk takut-takut dengan tangan yang berada di udara itu. Berpikir mungkin akan kena tampar lagi. Tangan sang pria belum sempat menyentuhnya, dia pun kembali mundur selangkah dengan jantung berdentang super kencang, masih mengoceh kalut sambil tetap menundukkan kepala dan mata terpejam kuat. “To-tolong maafkan saya, Tuan! Apa saja ganti ruginya asal jangan masukkan saya ke penjara dan memukuli saya sampai babak belur! Saya hanyalah orang miskin yang tidak punya hal berharga sama sekali!” Pria di depannya memang sangat tampan, dan memesona bak seorang model internasional. Tapi, tidak sangka dia adalah pria yang ringan tangan! Sudut bibir Damian tertarik kecil melihat tingkah Claris yang menurutnya sedikit menggemaskan. Pria dingin ini tersenyum lembut, lalu tanpa disadari oleh sang wanita, tangan besar dan hangatnya mengusap beberapa sisa krim yang menumpuk di kedua pipinya. Claris terbengong hingga tanpa sadar menatapnya sambil masih saja kedua pipinya dibersihkan oleh sang pria di depannya. “Apa kau sungguh tidak punya hal berharga? Bagaimana dengan keperawananmu?” Claris tertegun syok. Matanya membola dengan sempurna. Kepalanya bagaikan ditimpa batu besar dari atas. Membuatnya langsung pusing dan linglung seketika. Apa katanya tadinya? Tidak salah dengar, kan? “Kalau ingin ganti rugi jas mahal yang sudah kau kotori ini, maka berikan aku keperawananmu yang berharga. Bagaimana? Harga pakaian ini adalah 900 juta rupiah. Sanggup menggantinya?” Apa? Gila! Harga satu stel jas mahal yang dipakainya itu 900 juta rupiah? Jangan-jangan, telinganya hari ini sedang bermasalah, ya? Dunia Claris seketika bagaikan jungkir balik tidak karuan. “Se-sembilan ratus juta rupiah?” gagap Claris memucat tak percaya. Damian Abizard Sky tersenyum dengan wajah tampan liciknya, matanya memancarkan denyar aneh misterius, menjawab sang wanita dengan nada suara yang magnetis. “Benar. 900 juta rupiah.” Claris menelan saliva gugup, dan syok detik berikutnya ketika tubuhnya langsung ditarik ke arah dinding hingga punggungnya menghantam tembok. Sang pria memajukan tubuhnya seolah memberikan gerakan ingin menghimpit tubuh sang wanita di depannya. Kepala pria ini dimajukan, lalu menutupi penuh wajah sang wanita. Detik berikutnya, Damian memiringkan kepalanya seiring salah satu tangan Claris yang entah sejak kapan sudah mencengkeram erat sebelah bahu sang pria. Suara kecupan terdengar keras di udara, membuat siapa pun pasti akan malu-malu dan salah tingkah mendengarnya. Untuk beberapa saat, suasana di tempat ini agak aneh. Ketika kesadaran Claris kembali, dia sudah berkeringat dingin, pupilnya menyusut dan gemetar menahan panik. Pria ini sungguh gila dan tidak masuk akal! makinya dalam hati, sangat syok dengan apa yang baru saja terjadi. Pergerakan bibir Damian berhenti. Mata saling kunci. Hening. Tidak. Damian tidak menciumnya di bibir, melainkan di punggung tangannya. Pria tampan berjas mewah itu gagal mencuri ciuman pertama sang pelayan. Dalam sepersekian detik sebelum bibir mereka bertemu, tangan kiri Claris langsung menutupi mulutnya sendiri, mencengah pertemuan tidak bermoral itu. Ketika desakan aneh untuk melumat bibir Claris datang kepadanya, dan hampir saja melepas kesucian bibirnya, Damian cukup kaget ketika dirinya ditolak terang-terangan di saat-saat terakhir. Tapi, dia masih saja melanjutkannya dengan perasaan menarik muncul di dadanya saat menyentuh kulitnya, membuat aliran darahnya seolah mengalir kencang sangat lancar! Alih-alih mencium bibir sang pelayan, dia mencium punggung tangannya! Bagaimana bisa ciuman pertamanya seperti ini?! Tapi, Damian malah diam-diam menyukainya. Merasa itu sangat unik dan lucu. Begitu berkesan. Terlebih lagi, walaupun ciuman pertamanya adalah punggung tangan seorang wanita, dia sangat puas. Merasa jika itu adalah wanita lucu di depannya, dia tidak keberatan sama sekali. Tidak malu, malah bangga. Lambat laun, bau karat samar-samar terendus di hidung sang pria, membuatnya yang kini sedang menatap mata Claris yang gugup, seketika mengeryitkan kening detik berikutnya. Meskipun sudah mencium bau darah, tapi bibir Damian masih menempel tepat di punggung tangan kiri Claris, keduanya dalam posisi seperti ini untuk sesaat dalam mode saling pandang dalam diam. Suara cecapan liar terdengar meresahkan di tempat ini. Dengan wajah jahil seksinya yang dingin, Damian mengecup keras dan dalam pada punggung tangan itu sekali lagi tanpa mengedipkan mata menatap wanita di depannya. Sudut bibirnya tertarik licik. Mata berkilat misterius. “Apa kau sedang bermain susah didapat?” ledek Damian geli, memberi jarak di antara wajah mereka, lalu dengan telunjuk kanan menoel krim kecil di pipi kiri sang wanita. Secara sengaja, pria tampan ini menjilati jarinya itu dengan mata dipejamkan anggun menikmati momen itu sambil memamerkannya di depan Claris. Damian belum pernah merasakan sensasi menarik ini seumur hidupnya. Apakah dia tengah jatuh cinta? Ataukah panggilan alami pria sejatinya mulai bangkit karena kecantikan sang pelayan? Pikiran ini disimpannya dulu untuk sesaat. “Manis..." lanjutnya berbisik serak, mata perlahan terbuka seksi menggoda menatap lawan bicaranya yang syok dengan pemandangan nakal itu. Jantung Claris berdetak gila. Wajahnya memerah hebat. Dia tidak pernah sedekat ini dengan seorang pria, meski ada yang sering menggodanya dengan sangat tidak sopan. Tatapan Damian benar-benar sangat memikat dan tampak misterius diselingi sebuah senyuman miring yang nakal. Wajah dingin dan tampan itu tampak dewasa dengan pesona pria berbahaya bersamanya. Astaga! Kenapa dia sungguh sial hari ini? Baru saja lolos dari ruangan pembantaian, sekarang dia malah bertemu dengan pria berotak kotor?! Claris segera mendorongnya dengan wajah meringis kelam, langsung menamparnya meski tidak begitu bertenaga. “Tolong jaga sikap dan mulut Anda, Tuan! Ini pelecehan namanya!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD