Aurora berdiri tegak menghadap pintu menuju masuk area kelab malam. Mulai malam ini dia bekerja di tempat itu. Beruntung Aurora mengenal pimpinannya meskipun awalnya tidak percaya dengan permintaannya agar memperkerjakannya.
Setelah Aurora menceritakan kondisi ekonominya yang krisis. Aurora pun diperbolehkan bekerja sebagai gadis pengantar minuman.
"Kamu pasti bisa Aurora!" ucapnya menyemangati sendiri.
Aurora meniupkan udara dari mulutnya kemudian masuk menghampiri bartender.
"Nona Aurora?" panggil William yang bekerja sebagai salah satu bartender di kelab malam itu.
Pria tampan itu mengenal Aurora sebagai pelanggan. Bahkan tak hanya William tapi bartender lainnya pun mengenalnya. Tapi, kali ini dia kaget karena seragam yang dikenakannya biasa dia pakai gadis pengantar minuman.
"Sekarang kita rekan kerja panggil saja Aurora!" balas Aurora sambil tersenyum cantik dan menggemaskan.
"Nona suka bercanda," tepisnya.
"Apa mengenakan seragam ini kamu anggap bercanda?" balas Aurora sambil berdiri tegak memamerkan seragam kerja barunya. Kemeja putih dengan rok mini berwarna hitam.
"Kok bisa?"
"Selama kita bernapas di dunia ini tidak ada yang tidak bisa," balasnya. "Untuk mempersingkat waktu beritahu yang harus aku lakukan dengan tulus! aku memintamu membimbingku agar kinerjaku sesuai dengan keinginan Bos Ricko!"
"Meskipun serasa bermimpi. Aku akan membantu mu," balasnya.
"Senang memiliki senior sepertimu," jawab Aurora masih memamerkan senyuman cantik.
William pun memberitahu apa saja yang harus dilakukan gadis mengantar minuman. Aurora pun dengan cekatan membersihkan meja-meja di area lantai satu. Dia bahkan menyapa rekan sesama gadis pengantar minuman dengan ramah.
Di hari pertamanya bekerja, Aurora masih kaget dengan perilaku pengunjung. Banyak yang memintanya melayani plus-plus di luar kelab malam, ada pula yang menggerayangi pinggang juga pinggulnya.
Aurora berusaha dengan keras mengatasi mereka dengan penolakan lembut meskipun berbuah menyebalkan. Tapi, dia harus menahan diri. Dia bisa dipecat di hari pertama bekerja jika melakukan keributan dengan pengunjung.
Aurora hanya meniupkan udara dari mulutnya setelah terhindar dari perlakukan tak senonoh mereka. Tanpa dia sadari, Crystal yang sedang menjamu tamu partner bisnis Matthew melihatnya. Dia memiliki ide untuk menjahilinya.
Beberapa menit kemudian,
Hana yang merupakan seniornya menghampiri Aurora.
"Kamu diminta mengantar minuman ke ruangan VVIP 1 di lantai 3!" ucapnya.
"Bukannya Aurora baru hari ini bekerja? kok bisa langsung ditugaskan mengantar minuman ke lantai 3?" tanya Vanessa dengan kening mengerut.
Biasanya yang mengantar minuman ke ruang VVIP, pelayan yang sudah lama karena terlatih. Tak hanya itu saja, gadis pengantar minuman harus sudah mengetahui semua merk minuman karena pengunjung di lantai 3 bukan orang biasa.
Mereka para pengunjung berkantong tebal bahkan satu-satunya kesempatan bagi gadis pengantar minuman mendapatkan tips bernominal besar.
"Jangan protes! Bos Ricko yang memintanya," balas Hana.
Vanness melirik sinis Aurora, dia merasa diperlakukan tidak adil oleh bosnya. Saat dia masih junior tidak mendapatkan peluang yang sama dengan Aurora.
Aurora terlihat kebingungan beruntung Hana memberinya pengarahan terlebih dahulu tugas yang harus dia lakukan pada tamu VVIP.
Lima belas menit kemudian,
Aurora mendorong meja penghantar yang di atasnya terdapat minuman juga camilan sesuai pesanan tamu di ruang VVIP 1. Aurora yang sering ke sana tentu tahu minuman-minuman yang dipesannya.
"Lakukan dengan benar tanpa kesalahan!" ucapnya setelah berada di depan pintu ruangan itu. Aurora mengetuk pintu, seorang lelaki membukanya.
"deg!"
Jantungnya berdetak sangat kencang saat beradu pandang dengan lelaki yang sangat familiar dengannya. Matthew duduk di kursi panjang yang berada di ruangan itu.
Aurora melirik Crystal yang duduk di sampingnya, satu hal yang membuatnya harus menahan sesak. Tangan Matthew berada di atas pahanya memperjelas hubungan mereka.
"Nona Aurora?" panggil Exel yang membuka pintu. Lelaki itu tentu saja mengenalnya karena di perusahaan dia sebagai kepala bagian keuangan.
"Tidak perlu memanggilku Nona cukup Aurora saja!" jawabnya sambil tersenyum yang dipaksakan.
"Kenapa malah berdiri saja di sana? bukankah kamu ditugaskan mengantar minuman. Lamban sekali," ucap Crystal dengan ketus. Gadis itu mulai mengeluarkan taringnya setelah Aurora berhasil dijatuhkan bahkan seolah tidak mengenalnya padahal sejak kecil mereka tinggal dalam satu rumah bahkan hidupnya menempel pada Aurora .
"Sial!" umpat Aurora sambil meniup helaian rambutnya yang yang bertengger di depan wajahnya.
Aurora mendorong meja hantaran ke dalam kemudian menaruh botol-botol minuman yang dipesan juga seluruh camilannya. Setelah tugasnya selesai dia mendorong mejanya hendak ke luar.
"Mau kemana?" tanya Crystal dengan terburu.
"Karena tugas saya sudah selesai tentu saja saya akan keluar dari ruangan ini," jawab Aurora sambil tersenyum yang dipaksakan. Dia berusaha merendahkan suaranya karena lagi-lagi harus menahan diri agar tidak melakukan keributan yang membuatnya dipecat.
Padahal ingin sekali dia menampar keras pipi dan menjambak rambutnya.
"Apa hanya sebatas itu pekerjaanmu? kami membayar mahal ruangan ini masa tidak mendapatkan pelayanan yang baik. Apa kamu tidak tahu tugasmu?" bantah Crystal.
Aurora memahami ucapan Crystal, dia tidak awam dengan pekerjaan gadis pengantar minuman. Aurora pun baru menyadari alasan ditugaskan di lantai 3.
Crystal biang keroknya, dia berniat mempermainkannya. Tepatnya melakukan sesuatu untuk mempermalukannya.
"Apa yang dikatakan Nona Crystal benar, layani kami. Aku akan memberimu tips besar," ucap seorang lelaki muda yang sejak tadi memperhatikannya, tepatnya tertarik.
Wajah Aurora yang cantik mampu mengikat lelaki manapun. Hanya Matthew lelaki bodoh yang buta karena takut jatuh miskin hingga memilih membuangnya karena foto yang belum tentu kebenarannya.
Lelaki itu menaruh segepok uang di meja, "aku hanya ingin kamu menemaniku minum dan hadiahnya uang 10 juta ini."
Aurora yang sedang membutuhkan uang langsung menatap uang itu, dia mengepalkan kedua tangannya.
Hatinya berperang, menerima tawarannya dengan jaminan mendapatkan uang atau menolaknya. Dia baru sehari bekerja tidak mungkin langsung menerima gajih, sedangkan besok harus menebus obat ayahnya. Stok dompetnya sudah sangat menipis.
"Bagaimana? apa kamu mau menerima tawaranku?" tanyanya sambil menatap Aurora dengan tatapan buayanya.
Aurora melirik k arah Matthew yang dari tadi diam saja padahal Crystal bersikap menyebalkan sejak muncul di hadapan mereka.
Matthew malah membuang wajahnya ke lain arah. Aurora menilai sikapnya itu sebagai pengabaiannya. Padahal mereka sudah lama memadu kasih dalam waktu sekejap Matthew memperlakukannya seperti orang asing.
"Baiklah, aku akan menerima tawarannya. Bukankah di matamu aku sudah terlanjur menjadi gadis murahan."
Aurora pun tersenyum manis ke arah lelaki itu yang langsung menepuk-nepuk kursi di sampingnya agar duduk di sana.
Aurora duduk di sampingnya, ini kali pertamanya duduk bersama lelaki asing dengan jarak yang sangat dekat.
"Aku senang kamu menerima tawaranku," bisiknya tepat dilubang telinganya. Bahkan tangannya melingkar ke pinggang Aurora. Sontak Aurora terperanjat kaget dengan perlakuan tak senonohnya itu.
"Aku akan menuangkan minuman untukmu," balasnya dengan terburu sambil berdiri kemudian mengambil botol minuman, membukanya dan menuangkannya. "Silahkan Tuan," ucap Aurora sambil menyodorkan gelas yang sudah diisi minuman.
Lelaki itu tersenyum senang saat menerima gelas yang diberikan Aurora, "malam ini merupakan malam keberuntunganku karena ditemani gadis secantik kamu."
"Anda terlalu berlebihan," balas Aurora dengan wajah tersipu.
Matthew berdecih kesal mendengar pujian yang terlontar dari mulut lelaki yang merupakan partner bisnis barunya itu. Tentu saja dia masih memiliki perasaan cemburu mengingat hubungannya baru putus beberapa hari yang lalu.
"Panggil aku Javier! Javier Reynold dan Nona?"
"Cukup anda memanggil saya Aurora," balasnya sambil tersenyum cantik membuat lelaki tampan tapi bermata buaya itu gemas.
"Aurora, nama yang cantik seperti wajahnya," pujinya lagi. Lelaki itu benar-benar berniat merayu Aurora.
"Kenapa kamu tidak menuangkan minuman untuk kami juga?" tanya Crystal.
"Aku sudah membayarnya hanya untuk menemaniku. Bukankah Nona sekertaris Tuan Matthew? lakukan dengan benar tugasmu sebagai sekertarisnya!" balas Javier sambil menatapnya tajam.
Crystal tidak menyangka rencananya meminta dilayani Aurora ingin mempermalukannya malah jadi boomerang. Matthew memberi isyarat mata agar Crystal menuangkan minuman untuknya.
Satu jam kemudian,
Javier membiarkan Aurora meninggalkan ruangan itu dengan imbalan yang dijanjikannya.
"Terima kasih atas kebaikan yang anda berikan pada saya," ucap Aurora sambil memberinya senyuman tercantiknya.
Selama menemaninya, Javier tidak seperti yang dibayangkan Aurora yang biasa dilakukan pengunjung hidung belang, predator wanita. Javier memperlakukannya dengan baik, dia meminta Aurora sesuai permintaannya hanya meneminya minum.
"Aku akan sering-sering datang ke sini untuk menemuimu," balas Javier.
"Dengan senang hati saya akan menunggu Anda," balas Aurora dengan sangat ramah.
Ucapan mereka manambah kesal Matthew, sikap Aurora semakin meyakinkannya. Aurora yang terkesan murahan benar-benar selingkuh. Matthew tidak menyangka Aurora berani merayu lelaki di depannya.
Sebelum keluar dari ruangan, Aurora melirik Matthew. Lirikkan penuh kebencian dan muak. Aurora pun keluar dari ruangan itu.
Setelah di luar Aurora menghembuskan napasnya sebagai pelepas lega. Hari ini merupakan hari keberuntungannya. Dia mengantongi uang untuk digunakan besok menebus obat ayahnya.
Bibirnya tersenyum senang, akhirnya Tuhan tidak tidur. Setelah mendapatkan kesialan yang bertubi-tubi, dia diberikan kemudahan yang tak terduka dalam masalah keuangan.
Aurora pun berniat meninggalkan area itu.
"Tunggu!" panggil Matthew dengan nada yang cukup tinggi.
Aurora memutar tubuhnya ke arah Matthew yang mendekatinya dengan wajah memerah dan rahang mengeras.
"Apa kamu sudah kehilangan rasa malu?" tanya Matthew membuat Aurora membulatkan matanya.
"Apa maksud?"
"Demi mendapatkan uang kamu menjadi w************n," jawabnya dengan bibir gemas.
"Apa?! kamu sebut aku w************n?" balasnya.
"Melayani permintaan lelaki hidung belang seperti Javier demi mendapatkan tips, bukankah itu sangat murahan? jangan-jangan esok hari kamu oven BO," sanggahnya dengan tuduhan yang menyakitkan di akhir ucapannya.
Aurora pun melayangkan tangan kanannya ke arah pipi Matthew tetapi dengan cepat Matthew menangkisnya. Matthew menggenggam erat pergelangan tangan Aurora.
"Jaga sikapmu! tanganmu tidak layak menyentuhku. Di mataku kamu hanya seorang p*lac*r murahan," ucap sarkas Matthew sambil mengeratkan genggamannya membuat Aurora meringis kesakitan.
"Lepaskan tanganku b*jing*an!" balas Aurora sambil menarik tangannya meskipun hasilnya sia-sia.
Matthew malah menariknya hingga tubuhnya merapat. Tanpa diduga dia mencium bibirnya dengan rakus dan agresif. Tentu saja Aurora berontak dengan menggigitnya hingga Matthew mundur melepaskan tangannya.
Matthew mengusap darah yang merembes dari luka gigitan Aurora di bibirnya.
"Kau lebih br*ngs*k dari Javier," ucap Aurora dengan air mata yang mulai menetes di kedua pipinya. "Aku tidak akan melupakan perlakuan buruk mu ini, Matthew. Suatu saat aku akan membalasnya," ucapnya lagi.
Aurora membalikan tubuhnya hendak meninggalkan Matthew tetapi lelaki itu dengan cepat menarik tangannya hingga tubuhnya berputar lagi.
"Jangan terlalu percaya diri, Aurora! kau hanya akan menjadi w************n yang mendapatkan lemparan uang seperti ini," ucap Matthew.
Matthew mengambil uang pemberian Javier yang berada di saku rok mininya. Kemudian melemparkan uang tersebut ke wajah Aurora hingga berhamburan.
Saat Matthew merendahkan Aurora dengan melempar uang ke wajahnya, Jayden melintasi mereka bersama anak buahnya dengan mata melirik Aurora. Jayden dibuat penasaran oleh gadis yang beberapa kali ini sering bertemu dengannya.
"Jika kamu memerlukan uang tidak perlu memikat lelaki lain. Aku akan memberimu uang lebih besar dari yang mereka berikan," ucap Matthew kemudian meninggalkan Aurora yang berdiri mematung dengan kedua tangan mengepal.
Jayden menghentikan langkahnya kemudian menatap Aurora dari kejauhan, gadis itu terlihat memungut uang yang berserakan di lantai.
"Sudah aku duga, gadis itu tak jauh berbeda dengan gadis lainnya. Yang menjual tubuhnya demi uang," gumamnya.
Jayden pun melanjutkan langkahnya, kesan Aurora saat ini di mata Jayden tak lebih dari gadis murahan yang sering dia temukan.