BAB 7-SEBUAH PERMINTAAN MEMUAKKAN

1087 Words
Jayden turun dari mobil dengan gayanya yang super cool. Kedatangannya tak hanya di sambut barisan bodyguard yang merupakan anak buahnya tapi juga pelayan-pelayannya. Tak terkecuali istri cantiknya, Revalina Ofelia. Mereka menikah 5 tahun yang lalu. Usianya terpaut 3 tahun dari Jayden, Revalina berusia 28 tahun dan 31 tahun. Revalina sangat overprotektif dalam masalah merawat kulit wajah juga tubuhnya. Dia memiliki tubuh yang seksi dan montok di bagian d**a dan pinggulnya. Dia juga sangat menjaga bentuk tubuhnya agar berat badan selalu ideal. Baginya seluruh tubuhnya merupakan aset berharganya. Tak hanya tubuhnya yang seksi tapi wajahnya pun cantik. Itulah alasannya Jayden tergila-gila padanya. "Selamat datang baby," sambutnya sambil memeluk kekasih hatinya itu kemudian mengangkat wajahnya. Jayden langsung menciumnya penuh gairah. Seluruh pelayan yang berada di sekitarnya juga anak buah yang mengikutinya menundukkan kepala. "Aku sangat merindukanmu baby," ucap Revalina sambil melingkarkan tangannya di leher Jayden. Tangannya pun meremas gemas rambut Jayden. Suasana semakin memanas, kerinduan yang begitu dalam di hati keduanya. Setelah terpisah selama seminggu membuat gairah keduanya berkobar-kobar bak api yang menyala-nyala. Revalina melingkarkan kedua kakinya di pinggangnya Jayden seperti anak koala. Jayden pun berjalan ke arah kamarnya dengan menghujani ciuman di sepanjang langkahnya. Sesampainya di dalam kamar Jayden menurunkan Revalina yang langsung membuka satu demi satu kancing kemejanya dengan tergesa. Hasratnya yang membara seolah menjadikannya singa betina lapar setelah menemukan hidangan pembuka di depannya. Jayden mengernyitkan dahinya saat Revalina menarik ujung kemejanya setelah semua kancing-kancing kemejanya terbuka. Kain perban yang menutupi luka tembakan baru dijahit setengah jam lalu di rumah sakit ikut tertarik. "Kau terluka baby?" tanya Revalina sambil menatap sedih kain putih penutup lukanya. "Lukaku akan sembuh setelah bercinta denganmu sayang," jawab Jayden sambil mengecup leher Revalina. "Aku akan memuaskan mu baby agar kau cepat sembuh," balas Revalina sambil mengapit kedua pipi Jayden. Jayden pun duduk di tepi kasur, Revalina duduk di pangkuannya. "Bagian tubuhmu merupakan area kesukaanku, sayang. Aku sangat menyukainya," puji Revalina sambil meraba-raba d**a Jayden yang bergelombang kemudian menekan dadanya hingga Jayden menahan tubuhnya dengan tangan kirinya agar punggungnya tidak merapat ke kasur. Tawa kecil terhempas dari mulut Revalina saat punggung Jayden merapat di dasar kasur karena obat bius yang tadi disuntikkan cukup membuat sedikit lemas. "Siapkan staminamu untuk bercinta sepanjang malam ini sayang!" ucap Jayden dengan tatapan menggelap meskipun dia merasakan tubuhnya kurang bertenaga. Revalina yang pandai bermain di atas ranjang mulai menggoyangkan pinggulnya memberikan sensasi luar biasa ke tubuh Jayden yang tak tersentuh selama dari seminggu yang lalu. Mereka larut dalam api gairah yang membara di kamar itu. Terdengar erangan dan lolongan kenikmatan memecahkan kesunyian mansion mewah dan luas itu. Mereka berdua larut dalam gelombang kenikmatan dunia tanpa memperdulikan banyaknya jiwa-jiwa malang yang harus menutup telinga mereka dengan suara-suara meresahkan. Satu jam kemudian, Revalina dan Jayden terlelap karena kelelahan dengan selimut yang menutupi tubuh polos mereka. Revalina terlihat memutar-mutar tangannya di area perut sixpack Jayden dengan lengan kiri Jayden menjadi bantal kepalanya. Jayden terusik dia membuka matanya kemudian memeluk tubuh istrinya dan mengecup ubun-ubun kepalanya dengan lembut. "Mamih Shiren tadi pagi datang?" adunya dengan tangan masih memutar-mutar di d**a bergelombang suaminya. Tapi, tangannya berhenti berputar setelah dia membuang napasnya membuat Jayden mengerti. Istrinya itu pasti bertengkar dengan ibunya. "Abaikan semua ucapannya sayang!" balas Jayden sambil mengecup lagi kepalanya. "Tapi, yang diucapkan Mamih benar. Kamu harus memiliki keturunan sebagai generasi penerusmu," balas Revalina. "Kita sudah membahasnya berulang-ulang. Aku lebih memilih tidak memiliki keturunan asalkan kau di sampingku," jawab Jayden dengan tegas. Revalina naik ke atas tubuh polos Jayden, posisi telungkup dengan kepala terangkat karena wajahnya Jayden di tepat di bawahnya sangat dekat, tepatnya menempel jika Revalina tidak mengangkat wajahnya. "Aku punya ide," ucapnya dengan bibir tersenyum membuat Jayden menyipitkan kedua matanya curiga. "Aku tidak suka mendengarnya," bantah Jayden sambil memasang wajah malas. "Kali ini kamu harus mendengarnya!" pinta Revalina sambil mengapit kedua pipi Jayden. "Segera katakan sayang!" pintanya dengan nada berat. "Aku akan menyewa rahim seorang gadis yang sudah ku pilih untuk melahirkan putramu!" ucapnya tanpa ragu. "Apa?! jangan bercanda sayang!" balas Jayden dengan ekpresi terkejut, dia tidak senang dengan ucapan istrinya. Jayden bahkan menurunkan tubuh Revalina hingga tertidur miring di sampingnya. "Kamu harus meniduri wanita itu agar memiliki keturunan!" ucap Revalina tidak menyerah. Jayden memilih turun dari kasur menuju ruang walk in closed, menghindari Revalina dari topik pembicaraan yang baginya tidak menyenangkan. "Aku sudah memilih gadis yang cocok untuk melahirkan putra kita baby. Kali ini, menurutlah!" ucap Revalina lagi mencoba membujuknya. "Itu keputusan gila sayang! aku tidak akan pernah meniduri wanita manapun selain kamu. Apa kau mengert!?" balas Jayden dengan nada tinggi sambil meneruskan langkahnya hingga tubuhnya yang teramat sempurna itu lenyap dari pandangan Revalina. "Aku jauh lebih gila lagi jika kau meniduri gadis pilihan ibumu. Gadis itu akan digunakan ibumu untuk memisahkan kita," gumamnya. "Kamu tidak akan bisa menyingkirkan ku sebagai istri Jayden Reynolds karena aku akan melakukan segala cara mewujudkan tuntutan mu." Revalina pun berjalan ke arah ruang walk in closed, dia tidak melihat kekasih hatinya. Revalina pun berjalan santai dengan bibir tersenyum. Dia membuka pintu kamar mandi terlihat punggung lebar yang terguyur air hangat dari shower. Jayden mahluk Tuhan yang diciptakan teramat sempurna. Hanya melihat punggungnya saja dia mampu membuat wanita manapun menjadi kucing liar melompat ke arahnya. Revalina pun mendekatinya kemudian memeluknya dari belakang. Jayden yang sedang berdiri mematung karena kesal oleh ucapan istrinya enggan memutar tubuhnya. "Aku mencintaimu baby," ucapnya sambil menempelkan pipi mulusnya di punggung basah Jayden. "Aku tidak ingin kehilanganmu sementara tak hanya Mamih Shiren saja yang menuntut mu untuk memiliki keturunan tapi anggota klan pun mengharapkan kelahirannya," ucapnya lagi. "Kita bisa adopsi anak tanpa harus membiarkan ku menyentuh tubuh wanita lain," balas Jayden dengan nada dingin. Revalina pun memutar hingga berhadapan dengan Jayden. "Siapapun tidak akan rela memberikan posisimu pada anak yang bukan darah dagingmu, baby. Sekali ini saja, tolong ikuti permintaanku," balas Revalina sambil menatapnya penuh harap. Jayden mengumpat sambil membuang wajahnya ke lain arah tapi Revalina menempelkan perutnya hingga d**a mereka merapat dan mengapit kedua pipi Jayden agar pandangannya mengarah ke arahnya. "Aku janji hanya sampai dia hamil kamu menyentuhnya. Setelah dia hamil aku akan mengurusnya hingga dia melahirkan dan menyuruhnya pergi dengan caraku," ucapnya. "Apa tidak ada cara lain untuk..." tanya Jayden dengan wajah prustasi dibalas gelengan kepala. Revalina menjinjitkan kedua kakinya mencium bibir Jayden yang terlihat malas. Topik pembicaraan yang kurang menyenangkan membuat hasratnya lenyap. "Sentuh tubuhku semau mu untuk membuang rasa kesal mu. Aku akan menerimanya asalkan kau menyetujui permintaanku," ucapnya dengan nada pelan. Jayden pun menarik leher Revalina kemudian melahap bibir dengan rakus. Suara erangan kesakitan dalam gemericik air terdengar eksotis. Revalina tahu cara meluluhkan lelaki itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD