"Hais! aku sudah terlambat," gumam Aurora sambil berlari kecil memasuki area lantai dasar rumah sakit.
Waktu sudah menunjukan pukul 19.00 malam. Operasi ayahnya sudah dimulai satu jam yang lalu. Aurora datang terlambat karena naik bus umum menuju rumah sakit ditambah lagi macet. Dia tidak naik taksi karena jarak dari kantor jasa pinjaman ke rumah sakit jauh. Naik taksi bukan pilihan terbaik karena akan menguras banyak isi dompetnya.
Tak jauh di depannya terlihat seorang lelaki mengenakan kemeja hitam, berparas tampan dengan alis tebal, hidung mancung, bibir seksi, tubuhnya terlihat kekar dibalik kemejanya.
Lelaki itu berjalan cepat dengan tangan kirinya memegang lengan kanannya. Beberapa lelaki berbaju serba hitam dengan perawakan kekar mengikutinya.
Aurora berlari kencang di sisa tenaganya dengan pakaian di bagian depannya basah karena cipratan di jalan. Dia tidak fokus yang ada dalam pikirannya hanya kondisi ayahnya tanpa sengaja menabrak lelaki itu.
"bugh!"
"Aaa!" Aurora mengaduh sekaligus kaget. Konsentrasinya yang tadi buyar kembali normal.
"Shitt!" umpat lelaki itu karena Aurora menabrak lengannya yang terluka.
"Ma-maafkan aku!" ucap Aurora dengan terburu sambil menyentuh lengan lelaki itu.
Aurora merasakan cairan menempel di tangannya kemudian melihatnya. Darah segar membasahi tangannya membuat matanya melotot.
Aurora melihat wajah lelaki itu dengan mulut terbuka, dia merasa familiar dengan wajah itu tapi tidak . Lelaki yang bertemu di toilet saat mabuk juga bertabrakan setelah keluar dari lift hotel.
Lelaki itu tak lain Jayden Reynold, seorang pimpinan mafia yang terkenal tegas, bengis dan berhati dingin dibalik wajahnya yang tampan. Dia juga dikenal sebagai pengusaha sukses, memiliki beberapa kelub malam, casino, hotel berbintang yang menguras waktu jika disebutkan satu-satu.
Profesi sebagai pengusaha merupakan topeng untuk menutupi organisasi mafianya yang memiliki wilayah kekuasaan luas juga sangat ditakuti mafia-mafia lainnya.
Kita kembali ke Aurora yang malah bengong melihat luka di lengan lelaki itu.
"Menyingkir gadis bodoh!" hardik seorang lelaki yang berdiri di belakang Jayden sambil mendorong Aurora dengan kasar.
Aurora yang tak siap terpelanting ke belakang beruntung Jayden dengan cepat menarik tangannya. Tubuh ramping namun berisi Aurora tertarik ke arahnya hingga wajahnya membentur bagian dadanya.
"bugh!"
Jayden meringis dengan cepat mengangkat tangan satunya lagi memberi isyarat pada anak buahnya yang mendorong Aurora agar diam.
Aurora mencium aroma wangi yang memberinya terapy saat suasana hatinya semrawut. Tapi, dia merasa familiar dengan wangi parfum lagi-lagi dia tidak mengingat mencium baunya di mana karena kondisinya malam itu sedang mabuk berat.
Bodohnya lagi Aurora malah menyusup lebih lama lagi di d**a bidang dan berotot lelaki asing itu. Aurora seolah mendapatkan kembali kehangatan dari seorang lelaki setelah kehilangan kekasihnya.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" suara baritone membangunkan kesadarannya. Sontak kedua matanya terbuka lebar, Aurora pun langsung mundur menjauhi lelaki itu.
"Ma-maafkan...!" ucapnya dengan nada pelan. Mereka saling beradu pandang, Jayden mengingat Aurora karena kali ini merupakan pertemuan mereka untuk ketiga kalinya.
"Sedang apa gadis ini di rumah sakit? setelah di toilet kelab malam, dia muncul di lobi hotel, sekarang di sini. Apa yang sedang dia lakukan di sini?"
"Ma-maafkan aku...!" ucapnya lagi.
"Luka Tuan harus segera diobati!" bisik lelaki yang tadi mendorong Aurora.
Jayden pun pergi begitu saja mengabaikan Aurora bersama pasukannya. Saat lelaki yang mendorong Aurora berpapasan, lelaki itu meliriknya dengan sinis.
"Astaga, wajahnya bahkan lebih jelek dari lelaki tampan di depannya. Tapi, juteknya minta ampun," gerutunya sambil meneruskan perjalanannya ke ruang tindakan operasi.
"Dari mana saja gadis nakal?" sambut ibunya. "Sebelum masuk ruangan ayahmu mencari mu."
Miami dengan lantang menanyakannya meskipun dia sudah diberitahu Aurora mengenai rumah mereka dan ulah putrinya. Miami istri kedua ayahnya yang kurang respek jika mendapatkan masalah. Dia tahunya semua sudah selesai tanpa tahu susahnya Aurora ataupun suaminya menyelesaikan masalah.
"Ada hal penting yang harus aku lakukan," balas Aurora.
"Apa hal penting itu berhubungan dengan lelaki yang bersamamu di foto? lelaki itu harus bertanggung jawab dengan semua kekacauan ini!" jawab wanita paruh baya itu dengan nada sinis.
Miami ternyata tidak mempercayai yang dikatakan Aurora sebelum meninggalkan rumah sakit.
"Aku tidak mengenal lelaki itu, aku di fitnah, bukannya tadi aku sudah memberitahu ibu..." bela Aurora.
"Aku tidak akan mempercayainya sebelum ada buktinya," tepisnya sambil memalingkan wajahnya ke lain arah.
Aurora membuang napasnya, apa yang di katakan ibu tirinya benar. Tuduhannya tidak memiliki bukti.
"Sejak dulu ibu tidak suka kamu pergi ke kelab malam. Gadis macam apa yang pulang dalam kondisi mabuk? pergaulanmu tidak sehat, Aurora!" ucapnya malah menyalahkannya. "Pada akhirnya siapa yang menanggung malu? ayah dan ibumu juga. Apa kamu tidak kasihan pada kami?"
Aurora tidak menjawabnya karena yang dikatakannya benar. Tapi, justru ibu tirinya dan Crystal yang membuatnya frustasi hingga pelariannya pergi ke kelab malam untuk sekedar minum-minum.
Satu jam kemudian,
Operasi pemasangan ring di jantung ayahnya berjalan dengan lancar. Aurora merasa lega, satu persatu masalahnya teratasi.
Aurora pun tidak memberitahu Miami rumahnya di sita. Miami akan menyalahkannya lagi karena ayahnya meminjam uang untuk memberinya modal. Masalahnya akan semakin melebar setelah mengetahui uang tersebut dikuasai Matthew atas kebodohannya.
Aurora duduk di kursi tunggu pasien dengan rambut acak-acakan, bajunyapun masih basah. Aurora tidak memperdulikan penampilannya. Seorang perawat menghampirinya.
"Maaf Nona! silahkan nona menyelesaikan pembayaran untuk obat yang harus diberikan hari ini pada Tuan Jordan!" ucap perawat tersebut sambil memberinya selembar kertas.
"Bukannya semua biaya rumah sakit sudah ditanggung atas nama Matthew Holand?"
"Saya kurang tahu perihal pembayaran. Silahkan Nona tanyakan pada petugas di bagian administrasi!" jawabnya.
Aurora langsung mengambil ponselnya menghubungi Matthew dan lagi-lagi lelaki itu tidak menerima panggilannya. Aurora melihat nominal yang tertera di kertas tersebut, dia menghembuskan napasnya.
"Baru sehari saja aku harus membayar 8 juta sedangkan uangku tersisa 20 juta. Aku tidak tahu berapa uang yang harus aku keluarkan sampai ayah pulang, sedangkan uang ku sedikit. Matthew mengingkari janjinya membiayai seluruh pengobatan ayahku, dasar br*ngs*k!"
Aurora pun berjalan lemas menuju ruang pembayaran, dia tidak berpikir keras mendapatkan uang untuk membiayai pengobatan ayahnya. Aurora melihat Matthew berjalan ke arahnya.
"Matthew!" panggilnya sambil berlari ke arahnya.
Matthew mengabaikannya malah putar balik ke luar rumah sakit.
"Dasar br*ngs*k! aku tahu kau merasa bersalah hingga menghindariku," umpatnya sambil mempercepat larinya.
"Tunggu br*ngs*k!" panggil Aurora sambil menarik tangan Matthew setelah mereka berada di luar rumah sakit. "Kenapa kamu menghindari? apa kamu merasa bersalah sudah mengingkari perjanjian mu?"
Aurora menghujani cacian pada lelaki yang sempat dia cintai itu. Tapi, semua itu tinggal kenangan. Aurora bahkan menyesal karena sudah melewati harinya dengan mencintai lelaki sepertinya.
"Apa maksudmu?" tanya balik Matthew.
"Apa kamu melihatnya?" sambil memperlihatkan kertas resep tertuliskan jumlah nominal yang harus dia bayar. "Bukannya dalam perjanjian kita kamu akan membiayai pengobatan ayahku sampai sembuh?"
Matthew tertawa lepas membuat Aurora mengeratkan kedua rahangnya. Lelaki yang selama ini selalu dia puja-puja, ternyata seorang pencuri.
"Apa kamu melihat nominal yang tertera di surat perjanjian?" tanyanya dengan senyum mencurigakan, ucapannya sebuah pertanda buruk yang akan merugikannya.
"Tidak!"
"Sampai hari ini ayahmu sudah menghabiskan uangku 200 juta. Jadi, aku memutuskan untuk menghentikan biayanya dan sisanya aku serahkan padamu. Sudah cukup bagiku membiayai pengobatan ayahmu," terangnya.
"Tapi, dalam surat perjanjian kamu akan membiayai pengobatan ayahku sampai sembuh. Minimal sampai keluar dari rumah sakit," tepis Aurora.
"Astaga Aurora sayangku. Aku sudah menepati semua yang tertulis dalam surat perjanjian. Ayahmu sudah sembuh dari rasa sakitnya setelah dioperasi bukan? kenapa aku harus menanggung lagi biaya pengobatannya setelah operasinya?"
"Dasar b*jing*n! kamu sudah mencuri semua uangku. 200 juta hanya sekian persen dari jumlah seluruh uangku yang kamu curi," balas Aurora dengan bibir gemas.
"Apa yang barusan kamu bilang? aku mencuri? apa kamu tidak ingat uangmu sudah habis untuk memenuhi kebutuhanmu juga keluargamu? uang yang ada di tangan ku sekarang merupakan hasil kerja kerasku. Apa kamu pantas mengatakan aku mencuri uangmu?" bantah Matthew.
"Dasar br*ngs*k!" balas Aurora sambil mengangkat tangannya hendak menamparnya.
"Jika kamu berani menamparku banyak bukti menjebloskan mu lagi penjara," ancam Matthew sambil berdiri tegak. "Apa kamu berminat menginap lagi di balik jeruji besi? sayangnya aku tidak berniat membantumu lagi untuk kedua kalinya ketika kamu masuk lagi penjara."
Aurora mengepalkan kedua tangannya sebagai cara meredam amarahnya kemudian menurunkannya.
"Untuk ke depannya, kamu harus lebih sopan lagi jika bertemu denganku!" ucap dengan angkuh. "Kamu harus tahu diri posisimu saat ini di hadapanku! kamu hanya gadis miskin," bisiknya membuat Aurora semakin mengeratkan kedua kepalan tangannya dengan kedua rahang mengeras.
Sebuah mobil mewah berhenti di depan mereka, supirnya turn dengan cepat membukakan pintu. Mata Aurora melotot saat melihat Crystal duduk di kursi paling belakang samping Matthew sambil tersenyum.
"K-kau...!" panggilnya setengah berteriak tapi langsung mengatupkan bibirnya lagi karena beberapa orang disekitarnya melihat ke arahnya.
Matthew masuk ke dalam mobil tanpa menoleh sedikitpun. Mobilpun melaju meninggalkan Aurora yang terlihat murka.
"Dasar b*jing*n!" umpatnya dengan kedua mata memerah.
Sebuah mobil hitam melintasinya diikuti mobil mewah di belakangnya. Jayden yang berada di dalam mobil kedua yang melintasinya menatap Aurora yang masih berdiri mematung dengan tatapan penuh kebencian.
"Kenapa akhir-akhir ini aku sering melihat gadis itu?" gumamnya.
Jayden menatap Aurora dari spion, gadis itu terlihat masuk ke dalam area rumah sakit.