SUASANA BARU

1161 Words
*SUASANA BARU* Pagi yang cerah, matahari telah menghangatkan seluruh isi bumi dengan sinarnya. Menyimbolkan suasana hati yang bahagia. Namun berbeda dengan Savierra. Menyambut mentari pagi pun dengan raut wajah penuh dilema. Hari ini adalah hari keberangkatan Savierra ke pondok pesantren. Ia mencoba menerima semuanya. Ia berusaha menampakkan senyumnya kembali hari ini. Lalu ia mengeluarkan ponsel nya. Dan memasuki ruang obrolan grup w******p nya yang berisi ia, Syila, Sisi, dan Rara. *GURLS* SAVIERRA.S : Assalamualaikum, guys. Hari ini aku berangkat ke pondok. Kalian jaga diri baik-baik disini ya. Aku minta maaf kalo pernah ada salah. Minta doanya dari kalian ya. Dan ya, aku bakal kangen kalian semua. See u later. ASYILA.AMBAR: Waalaikumussalam. Iya hati-hati, Sav, jaga diri ya. TIARA.R A : Waalaikumussalam. Hati-hati, semoga betah sama suasana baru nya ya. D.SYASI.M : Waalaikumussalam iya, Sav. Hati-hati. Kalo liburan main bareng lagi okee. SAVIERRA.S : Iya, makasih banyak ya. Aku pamit, Assalamualaikum. ASYILA.AMBAR : Waalaikumussalam. TIARA.R.A : Waalaikumussalam. D.SYASI.M : Waalaikumussalam. Lalu obrolan mereka terhenti. Tak lama setelah itu, terdengar suara Angga dari luar. " Kak, cepetan udah ditunggu ayah sama bunda." "Iya, Dek, ini mau turun." Sahut Savierra. Mereka berangkat dua hari sebelum hari pendaftaran. Karena perjalanan antara Jawa Timur ke Jawa Barat sangat jauh. Beberapa kali berhenti di tempat peristirahatan, hingga pada akhirnya mereka sampai di Pondok Pesantren Alfithrah Indramayu. "Masyaallah, besar sekali pesantrennya." Savierra ternganga melihat betapa indahnya suasana pondok pesantren. "Savierra, ayo ke ruang Kyai, kita lakukan pendaftaran." Kata ayah sambil berjalan mendahului Savierra, bunda, Angga, dan Zahira. "Iya, Yah." Sahut Savierra. Cukup lama, ayah Savierra mendaftarkan Savierra diruang pak kyai. Lalu setelah itu, pak kyai menyampaikan pernyataan. "Nak Savierra, sekarang kamu sudah menjadi santri disini. Saya harap kamu bisa beradaptasi dan betah ya." Kata Kyai Umar. "Terima kasih, Kyai." Jawab Savierra sopan. "Jaga diri ya, sayang, belajar. Banggain ayah dan bunda. Bunda harap kamu betah ya." Kata bunda penuh haru. "Jangan nakal ya, Sav, nurut sama Kyai. Jadi santriwati yang baik. Ayah percaya kamu pasti bisa." Sambung ayah. "Iya, Yah, Bun. Savierra janji bakal banggain kalian nantinya. Habis gini mau langsung balik?" "Rencananya mau nginep ke rumah Tante Shofy dulu. Kan deket sini." Jawab ayah. "Oh gitu, ya udah deh." Sambung Savierra. "Savierra, nanti Ustadzah Amira akan mengantar kamu ke kamarmu ya, satu kamar ada 5 anak. Kebetulan ada satu ranjang yang kosong. Dan itu yang akan kamu tempati." Kata Kyai Umar. "Iya, Kyai, terima kasih." Jawab Savierra sopan. "Ya Udah, Kyai, saya pamit dulu. Titip anak saya ya, bimbing dia biar jadi lebih baik. Savierra, ayah pamit ya." Kata ayah pada Kyai dan pada Savierra. "Pasti." Sahut Kyai Umar. "Iya, Yah. Ayah sama bunda hati-hati pulangnya. Angga sama Zahira juga.” "Iya, Kak. Kakak baik-baik disini ya.” Kata Zahira. "Iya, Kak, jaga diri ya, kalo libur jangan lupa pulang. Bakal kangen nih." Kata Angga. "Iya lah kalo libur pasti pulang." Sahut Savierra. " Ya sudah kami pamit ya. Assalamualaikum." Kata bunda. "Waalaikumussalam." Jawab Savierra dan Pak Kyai bersamaan. Lalu keluarga Savierra beranjak meninggalkan ruang kyai dan memasuki mobil. Savierra hanya melihatnya sendu. Lalu tak beberapa lama seorang wanita datang. "Assalamualaikum." Kata wanita itu. "Kamu Savierra ya?" Lanjutnya. "Waalaikumussalam, iya, Ustadzah. Ini Ustadzah Amira kan?" Tanya Savierra memastikan. "Iya, mari, Ustadzah antar ke kamarmu." Ustadzah amira sangat ramah kepada santri baru. "Mari, Kyai, Assalamualaikum." Pamit Savierra pada Kyai Umar. "Waalaikumussalam." Jawab pak Kyai. Ustadzah Amira hanya mengangguk sopan pada pak Kyai. Aku berjalan bersama ustadzah melewati koridor kamar santriwati. Lalu ustadzah menyuruhku masuk ke salah satu kamar. "Assalamualaikum." "Waalaikumussalam, Ustadzah." Tampak 4 orang santri menyambut dengan ramah. "Ini satriwati baru yang akan satu kamar dengan kalian. Ustadzah harap kalian berteman baik ya." Kata Ustadzah. "Ya sudah, Sav, Ustadzah tinggal ya. Anak-anak, Ustadzah pamit ya. Assalamualaikum." Ustadzah Amira beranjak pergi diiringi jawaban salam dari santriwati disana termasuk Savierra. "Waalaikumussalam." Jawab semua orang disana. Lalu 4 santri ini memperkenalkan namanya pada Savierra. "Hai. Perkenalkan, namaku Nayla Ayu Nur Aisyah. Pangil aja Nayla. Nama kamu siapa?" "Oh, iya, namaku Keisya Savierra Assalafiyah. Biasa dipanggil Savierra." "Wah, Savierra. Kenalin, aku Syaqila Ainiyatun Nasyitah. Panggil aja Qila ya." "Iya, Qila." Kata Savierra. "Dan aku, Dinda Putri Ashierra. Boleh panggil Dinda boleh juga Shierra." "Satu lagi. Namaku Tasya Auliya Firmadhani. Panggil aja Tasya." "Wah, senang bertemu dengan kalian." "Iya, Sav, oh iya, ranjang kamu yang itu, masih kosong tuh." Kata Qila yang menunjukkan salah satu dari kelima ranjang. "Ya iyah wong orang nya masih ada disini. Yo jelas kosong toh." Sahut tasya yang berlogat jawa. "Makasih, teman-teman." Kata Savierra. Lantas Savierra mendekati tempat tidurnya. Dan membereskan barang-barangnya ke dalam lemari. Ia merasa sangat lelah. "Eh, temen-temen sini deh, kita kumpul cerita-cerita." Dinda mengajak keempat temannya bercerita. Lantas mereka berlima pun asyik bercerita. "Kamu asal mana, Sav?" Tanya Nayla. "Aku asal Surabaya." Jawab Savierra. "Oh, sama kayak aku. Aku juga asal Surabaya." Sahut Qila. "Jadi cuman aku toh yang asalnya dari Jawa Tengah? Yowes lah." Kata Tasya. Mereka terkekeh dengan logat tasya. "Memangnya kamu asal mana, Din?" Tanya Savierra pada Dinda. "Aku mah dari Bandung.” Jawab Dinda yang berlogat sunda. "Kalo Nayla dari mana?" Tanya Savierra lagi. "Kalo aku teh dari Tasikmalaya. " Kata Nayla yang juga memakai logat sunda. "Eh, udah mau dzuhur nih. Ke masjid yuk. Keburu adzan nanti." Kata Qila memberitahukan kepada lima bersahabat ini. "Iya yuk siap-siap." Sahut Nayla. "Yuk." Sahut yang lainnya. Kelima bersahabat ini beranjak dari kamar dan pergi ke masjid. Sebelum lama sampai di masjid, Savierra melihat seorang ikhwan yang bisa dibilang cukup tampan. "Masyaallah, ganteng banget dia." Gumam lirih Savierra. Namun masih bisa didengar oleh sahabat-sahabatnya. "Astaghfirullah, Sav, jangan gitu ah. Nggak baik loh." Sahut Qila. "Eh, Astaghfirullah, hehe maaf." Savierra menyadarkan dirinya sendiri. Dinda, Tasya, dan Nayla hanya terkekeh melihat tingkah Savierra dan Qila. Lalu mereka sampai di masjid. Dan masing-masing dari mereka mengambil air wudhu. Tak lama kemudian terdengar adzan dzuhur. Mereka mendengarkan dan menjawab adzan dengan penuh penghayatan. "Masyaallah, enak banget suaranya." Kata Savierra. "Kamu tau gak ini suara siapa?" Qila melontarkan pertanyaan pada Savierra secara tiba-tiba. "Enggak tau tuh. Suara siapa emang?" "Ini tuh suaranya Azzam. Kamu tau, Sav, santriwati disini banyak yang suka sama Azzam. Parasnya sih tampan, prestasinya apalagi." Kata Qila. "Wah, jadi suara Azzam. Kelas berapa emang?" Tanya Savierra. "Kalo Azzam kelas 1 Aliyah. Bukannya sama kaya kamu ya, Sav." Kata Qila. "Hmm, iya sama. Kamu juga sama kan?" Timpal Savierra. "Iya sih. Tapi aku nggak tertarik sih. Nggak mau pacaran dulu. Kan nyantri." Sahut Qila. "Hahaha iya, Qil, ya iya lah kita kan santri, nggak boleh pacaran, dosa. Tapi jangan-jangan kamu suka ya sama Azzam? Jujur aja deh." Savierra meledek sahabat baru nya itu. "Enggak lah. Aku nggak ada rasa sama sekali sama Azzam." Kata Qila. "Iya udah iya percaya." Sahut Savierra. Lalu seisi masjid melakukan sholat dzuhur berjamaah. Proses pelaksanaan sholat dzuhur terlaksana dengan sangat baik dan hening. Dan pada akhirnya, sholat dzuhur pun telah usai. Para santriwati sibuk merapikan mukenahnya. Sedangkan Savierra dan Qila melipat mukenah sambil mengobrol. "Oh iya. Temennya Azzam ada juga yang ganteng. Namanya Zahy." Kata Qila. "Lah kan, kamu sukanya sama Zahy ya? Ngaku deh. Udah ketauan sama aku loh." "Hah? E---enggak kok. Enggak suka. Bener deh, Sav." Seketika wajah Qila memerah seperti kepiting rebus. "Ya udah deh terserah. Yang penting aku udah tau yang sebenernya. Hehe." Kata Savierra. "Ih, apaan sih. Udah ah yuk ke kamar aja." Kata Qila menahan malu. "Iya udah yuk." Seusai sholat dzuhur, Savierra, Qila, Nayla, Tasya dan Dinda kembali ke kamar mereka. Dikamar, kelima bersahabat ini beristirahat. Melepas lelah diatas ranjang yang terpisah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD