*SENYUM YANG HILANG*
Hari berlalu semakin cepat. Tak terasa, besok Savierra sudah akan masuk ke pondok pesantren. Hari ini Savierra tak seperti biasanya. Ia tampak murung. Keluar dari kamar hanya untuk mengambil keperluan saja. Selebihnya ia habiskan di dalam kamarnya.
Seketika itu, ia teringat pada Syila.
"Jadi kangen Syila. w******p aja kali ya di grup."
Lantas Savierra mengeluarkan handphone nya dan menekan ikon w******p. Lalu ia masuk ke ruang obrolan grup nya yang berisi 4 orang yaitu Savierra, Syila, Rara, dan Sisi.
*GURLS*
SAVIERRA.S :
Assalamualaikum, guys, kangen nih. Lagi pada ngapain?
ASYILA.AMBAR :
Waalaikumussalam. Baru kemaren ketemu udah kangen aja. Biasalah, lagi nyantai aja di rumah.
D.SYASI.M :
Waalaikumussalam, heii, Sav! Kangen banget. Eh, iya kemaren aku nggak ke sekolah. Lagi ada urusan soalnya.
TIARA.R.A :
Waalaikumussalam. Kangen juga nih. Oh iya, kemaren aku juga nggak dateng. Lagi di rumah nenek sih soalnya.
SAVIERRA.S :
Ciee pada kangen aku nih, hahaha.
ASYILA.AMBAR :
Aku nggak bilang ya. Nggak ikutan deh.
SAVIERRA.S :
Ya allah sahabat sendiri juga.
TIARA.R.A :
Udah ah, nggak di grup, nggak ketemu langsung geger mulu kalian @savierra.s @asyila.ambar
D.SYASI.M :
Tau nih berdua. Kayanya nggak ada hari tanpa ributnya Savierra sama Syila. Tapi kalo kelewat akur aja, akurnya kebangetan.
SAVIERRA.S :
Hahaha, bisa aja. Eh, guys, besok aku udah mulai mondok. Bakal nggak ketemu kalian lama.
ASYILA.AMBAR :
Bohong ah, nggak seru. Nggak percaya kalo Savierra mondok. Kan nilai UN nya gede.
SAVIERRA.S :
Enggak bohong, Syil, di Ponpes Alfithrah Indramayu. Jauh banget lagi.
TIARA.R.A :
Hah? Yang bener aja. Bercanda kali, Sav. Masa iya Savierra mondok? Nggak bener ah.
D.SYASI.M :
“What?! Indramayu?! Jauh banget, Sav. Terus ketemunya gimana kita?
ASYILA.AMBAR :
Yakin nih beneran? Masa iya sih ini? Sav, jangan bercanda ah.
SAVIERRA.S :
Iya, jadi gini, aku ceritain. Ayah sama bunda aku yang nyuruh. Katanya biar aku nggak terpengaruh sama pergaulan yang nggak bener. Awalnya aku nolak, namanya orang tua kalo gak diturutin gimana ya kan, aku sendiri juga nggak berani nolak terus-terusan. Jadi ya, ya udah aku nurut aja sama mereka.
TIARA.R.A :
Yaelah kita nggak bisa fullteam dong kalo main bareng lagi.
D.SYASI.M :
Lah iya, bakal nggak ketemu lama sama Savierra.
ASYILA.AMBAR :
Berat sih emang. Tapi ya mau gimana, doain yang terbaik aja buat Savierra.
SAVIERRA.S :
Pulangnya waktu liburan doang, atau kalo lagi sakit gitu. Ah, Syila, makasih banyak.
TIARA.R.A :
Gimana ya? Ah ya udah lah mau gimana lagi. Semangat deh, Sav. Mungkin itu yaang terbaik.
D.SYASI.M :
Yang terbaik buat Savierra. Ya udah lah nggak apa-apa. Udah jalannya kali. Semoga betah ya. Semangat.
SAVIERRA.S :
Makasih banyak ya, guys. Berat banget sebenernya bakalan jauh sama semua orang yang ada disini. Tapi ya mau gimana, bismillah aja dulu deh.
ASYILA.AMBAR :
Jalanin aja dulu, Sav. Udah jalannya kaya gini mungkin. Udah beres-beres sana, ntar ada yang ketinggalan loh.
D.SYASI.M :
Iya, Sav, sana beres-beres.
TIARA.R.A :
Beres-beres, jangan sampe ada yang ketinggalan. Oh iya, besok kalo mau berangkat kasih kabar dulu ya.
SAVIERRA.S :
Iya. Ini juga mau beres-beres. Oke deh, besok aku kabarin kalo mau berangkat.
Dan akhirnya obrolan mereka terhenti. Tapi Savierra tidak langsung beres-beres. Ia kembali murung. Berat rasanya meninggalkan sahabat yang sudah ia anggap saudaranya sendiri.
Lagi-lagi ia meratapi sisi dinding kamarnya. Tak sadar ia pun menangis.
“Hari ini hari terakhir aku tidur disini. Menghabiskan waktuku di depan cermin, menghirup udara pagi di jendela. Lemari, cermin, jendela, aku akan sangat merindukan kalian. Memang kalian adalah benda mati. Tapi setidaknya kalian lah yang selalu menyambutku setiap aku membuka mata di pagi hari. Entah bagaimana kamar ini setelah aku mondok nanti. Aku akan sangat rindu.”
Savierra menuliskan itu semua di buku diary berwarna biru miliknya. Lalu setelah itu, terdengar ketukan pintu dari luar. Savierra pun menyahutinya.
"Masuk aja, Bun." Kata Savierra menyahuti orang dari luar.
"Sav, lagi apa?" Tanya bunda yang berjalan mendekatiku.
"Gak lagi ngapa-ngapain, Bun." Wajahnya tampak murung. Terlihat hapusan air mata di pipinya.
"Habis nangis ya, sayang?" Bunda menebak Savierra, dan benar Savierra habis menangis. Feeling ibu itu kuat terhadap putri nya.
"Wajar lah, Bun, kalo aku nangis." Kata Savierra.
"Jangan murung gitu dong, bunda faham perasaan kamu. Udah ah. Yang buat besok udah disiapin belum?" Tanya bunda.
"Iya. Nanti aja." Jawab Savierra singkat.
"Ya udah bunda keluar dulu. Mau nyiapin makan malem." Kata bunda.
"Mau dibantuin, Bun?" Savierra merasa sedikit agak sungkan karena seharian didalam kamar dan tidak membantu bundanya.
"Nggak usah, nggak apa-apa. Habisin waktu kamu disini aja dulu. Besok kan udah nggak disini." Bunda memang bijak.
"Ya udah deh."
Tak terasa malam pun tiba. Savierra di panggil ke bawah untuk makan malam. Suasana selama makan pun hening. Setelah makan baru ada pembicaraan di keluarga mereka.
"Savierra, barang-barang buat besok udah disiapin?" Ayah membuka pembicaraan.
"Belum, Yah, nanti habis makan." Jawab Savierra singkat.
"Loh, kenapa nggak dari tadi siang? Nanti kalo ada yang ketinggalan gimana?"
"Nanti juga diberesin kok, Yah." Kata Savierra tanpa melihat lawan bicaranya.
"Udah dong jangan murung gitu. Bunda ngerti perasaan kamu. Ini semua juga demi kebaikan kamu." Bunda mencoba menenangkan.
"Iya, Sav, gak usah khawatir, ayah bisa jamin kehidupan kamu di pesantren. Pasti bahagia. Kamu harus belajar mandiri." Timpal ayah.
"Savierra tuh pengen jadi dokter, Yah, Bun. Pengen masuk SMA Negeri. Masih pengen kuliah juga. Kalo Savierra mondok, impian Savierra gimana coba? Savierra memang kurang mengerti tentang pesantren. Ia mengira jika ia mondok, impiannya tidak akan tercapai.
"Kok ngomongnya gitu sih, Sav? Nih ya, kalaupun kamu mondok, kamu juga bisa kuliah kok. Setelah kamu lulus pendidikan Aliyah, kamu bisa kuliah dipesantren kamu. Nggak menutup kemungkinan juga kamu bakal jadi dokter. Toh kenyataannya banyak juga dokter yang lulusan pesantren. Mondok itu bukan sarana penghambat impian, tapi sarana mewujudkan impian. Faham?" Bunda mencoba menjelaskan sedikit tentang pesantren pada Savierra.
"Iya, Sav, kamu kan juga tau kalo ayah juga lulusan pesantren. Bisa jadi pengusaha malah. Ya bukan membanggakan pesantren, tapi kami harap kamu mengerti apa yang menyebabkan ayah dan bunda memasukkan kamu ke pesantren. Ngerti ya,” Ayah pun tampak setuju dengan perkataan bunda tadi.
"Iya faham, ngerti. Ya udah mau beres-beres dulu." Savierra berdiri dari tempat duduk dan beranjak dari meja makan ke kamar nya.
"Jangan lupa senyum, KamK." Ucap Angga mencoba menyemangati kakaknya.
"Ikut aja bocah." Jawab Savierra ketus.
"Disemangatin juga, gimana sih Kak Savierra." Sahut dek Zahira.
"Iya iya ini udah senyum juga nih." Kata Savierra sambil menunjukkan senyuman melingkar pada kedua adiknya.
Ayah dan bunda hanya bisa terkekeh melihat tingkah laku ketiga anaknya.
Lalu Savierra beranjak pergi ke kamarnya.
Di kamar, gadis ini mengeluarkan koper dan membukanya. Lantas ia keluarkan beberapa baju dari lemari, dan satu persatu ia masukkan ke dalam kopernya. Sesekali ia memasukkan 2, sesekali pula ia memandangi seluruh bagian kamarnya. Lalu ia bergumam.
“Setelah aku nggak tinggal disini nanti, aku bakalan kangen sama kamar ini kayanya. Tapi bunda pasti ngerawat kamar ini dengan baik. Huh, semoga yang terbaik aja deh.”
Setelah semua barang masuk dalam koper, Savierra pergi tidur. Terasa kelam sekali hari ini. Hari terakhir Savierra menempati rumah minimalis ini. Hari terakhir ia menghabiskan waktu bersama keluarga tercintanya, sebelum akhirnya tinggal di pondok pesantren yang akan menguatkan iman dan taqwa nya terhadap Allah SWT.