Amanah di Balik Badai.

998 Words
​​"Ric, aku sedang menuju Bandara Soekarno-Hatta. Ada panggilan mendesak dari Zurich. Konsorsium di sana mendadak menarik diri dari kesepakatan awal, aku harus berada di sana besok pagi untuk menyelamatkan kontrak kita," suara Bramantyo terdengar dibayangi deru mesin mobil yang melaju kencang, suaranya sedikit terengah seolah ia sedang terburu-buru merapikan berkas di kursinya. ​Alaric mengernyitkan dahi. "Zurich? Cuaca sedang sangat buruk, Bram. Laporan cuaca menyebutkan badai besar akan melanda Jakarta dalam beberapa jam ke depan. Apakah penerbanganmu tidak tertunda?" ​"Penerbangan internasional masih dijadwalkan tepat waktu, Ric. Aku tidak punya pilihan. Jika aku tidak berangkat malam ini, kerugian kita bisa mencapai angka triliunan. Tapi ... jujur saja, pikiranku tidak tenang," Bramantyo menghela napas panjang, sebuah desahan yang sangat jarang ia tunjukkan kepada siapa pun kecuali Alaric. ​"Tentang Sera?" Alaric menebak dengan tepat. Ia mengenal Bramantyo luar dan dalam; bagi pria itu, bisnis adalah prioritas, tapi Seraphina adalah segalanya. ​"Tepat sekali. Dia baru seminggu ini pindah ke apartemen barunya. Kamu tahu bagaimana sifatnya, dia ingin membuktikan bahwa dia bisa mandiri tanpa bantuan pelayan rumah tangga atau supir pribadi. Masalahnya, dia sedang sangat keras kepala. Dia mematikan ponselnya setelah kami berdebat pagi tadi tentang asisten rumah tangga yang kukirimkan." ​Alaric menyesap whiskey-nya, merasakan sensasi panas yang membakar tenggorokannya. Bayangan wajah Seraphina Azkadina Dirgantara melintas di benaknya. Terakhir kali ia melihat gadis itu adalah saat pesta ulang tahunnya yang ke-20. Gadis itu sudah bukan lagi anak kecil yang sering merengek meminta permen. Sera telah tumbuh menjadi wanita muda dengan mata yang terlalu berani saat menatap Alaric—sebuah tatapan yang seringkali membuat Alaric memilih untuk membuang muka. ​"Dia sudah dewasa, Bram. Dia mahasiswa tingkat tiga sekarang, bukan? Aku yakin dia bisa menjaga diri di apartemen mewah yang sistem keamanannya lebih ketat daripada bank pusat," Alaric mencoba bersikap rasional, meskipun ada perasaan aneh yang mulai menyusup di dadanya. ​"Bagi dunia dia mungkin dewasa, tapi bagiku dia masih putri kecilku yang ceroboh. Apalagi dengan badai yang kamu katakan tadi ... aku merasa tidak enak hati, Ric. Perasaanku sangat gelisah." Bramantyo terdiam sejenak, lalu suaranya merendah, penuh permohonan yang tulus. "Ric, aku tidak pernah meminta ini pada siapa pun. Selama aku di Zurich, bisakah kau memantau Sera?" ​Alaric terdiam. Ia memutar-mutar gelas di tangannya. Menjaga seorang gadis berusia dua puluh tahun yang sedang merajuk bukanlah sesuatu yang ada dalam daftar tugasnya sebagai CEO Valerius Group. Ia punya ribuan karyawan untuk dikelola, bukan seorang mahasiswi yang sedang puber kedua. ​"Bram, aku yakin kamu bisa menyuruh supirmu atau salah satu orang kepercayaanmu untuk mengeceknya setiap sore," sahut Alaric tenang. ​"Tidak bisa. Sera hanya akan membuka pintu jika itu kamu atau aku. Kamu tahu sendiri dia menganggapmu sebagai keluarga terdekat kita. Dia menghormatimu, Ric. Jika supirku yang datang, dia pasti akan mengusirnya lewat interkom." Bramantyo menghela napas lagi. "Tolonglah, Ric. Anggap ini sebagai bantuan pribadi dariku. Jaga dia seperti adikmu sendiri ... atau anggap dia seperti anakmu sendiri jika itu memudahkanmu. Aku hanya butuh seseorang yang bisa menjamin dia tidak melewatkan makan dan tidak jatuh sakit sendirian di sana." ​Kata-kata 'Jaga dia seperti anakmu sendiri' menghantam Alaric dengan cara yang aneh. Di usianya yang menginjak empat puluh tahun, Alaric memang cukup tua untuk menjadi figur ayah bagi Sera, namun secara mental, ia tidak pernah memandang dirinya memiliki kapasitas tersebut. Ia pria yang dingin, kaku, dan tidak memiliki insting kebapakan sama sekali. ​"Baiklah," Alaric akhirnya mengalah. Ia tidak bisa menolak permintaan pria yang telah menyelamatkan karirnya berkali-kali. "Aku akan mengeceknya sesekali. Kamu fokus saja pada urusanmu di Zurich." ​"Terima kasih, Alaric. Aku benar-benar berutang padamu. Alamat apartemennya sudah kukirimkan lewat pesan singkat. Kunci cadangannya ada di lobi, aku sudah memasukkan namamu ke dalam daftar akses darurat. Tolong, jangan biarkan dia keluyuran di tengah badai." ​"Aku mengerti, Bram. Hati-hati di jalan." ​Alaric memutuskan sambungan telepon dan menatap layar ponselnya yang menampilkan sebuah alamat di kawasan Jakarta Selatan. Ia meletakkan gelas whiskey-nya yang sudah kosong ke atas meja dengan dentuman kecil. Ada rasa tanggung jawab yang tiba-tiba terasa sangat berat di pundaknya. ​Ia berjalan menuju jendela besar, menatap awan hitam yang kini mulai menurunkan rintik hujan pertama. Kilatan petir di kejauhan menyambar, menerangi wajah Alaric yang tampak seperti pahatan batu granit—keras dan tidak terbaca. ​Anggap seperti anak sendiri? Alaric mendengus sinis. Ia membayangkan Sera yang dulu sering duduk di pangkuannya saat ia berkunjung ke rumah Bramantyo, mendengarkan cerita-cerita bisnis yang sebenarnya tidak gadis itu mengerti. Namun, ingatan itu segera tertutup oleh citra Sera yang sekarang: bibir yang dipulas lipstik merah tipis, gaun yang semakin pendek, dan cara gadis itu menatapnya dengan binar yang tidak seharusnya ditujukan kepada seorang "Paman". ​Alaric merapikan jasnya, mengambil kunci mobil SUV hitamnya, dan melangkah keluar dari ruangan. Pikirannya dipenuhi dengan rencana jadwal esok hari yang kini harus ia selipkan satu agenda tambahan: mengunjungi apartemen keponakan tidak sedarahnya yang manja. ​Ia tidak tahu bahwa malam ini adalah batas terakhir bagi kewarasannya. Bahwa amanah yang diberikan Bramantyo akan menjadi awal dari sebuah pengkhianatan yang paling manis sekaligus paling menghancurkan dalam hidupnya. Alaric melangkah masuk ke dalam lift, sementara di luar sana, badai besar yang sesungguhnya mulai menggulung kota Jakarta, bersiap untuk mengunci dirinya dan Sera dalam satu pusaran takdir yang sama. ​ ​Alaric tidak menyukai perasaan tidak nyaman ini. Biasanya, setiap masalah memiliki solusi yang logis. Namun, Seraphina adalah variabel yang tidak bisa ia hitung dengan rumus bisnis manapun. Ia menyalakan mesin mobilnya, membiarkan deru mesin rendah mengisi keheningan kabin. Ia menatap tetesan hujan di kaca depan, merenungkan bagaimana ia akan menghadapi gadis itu nanti tanpa harus terlihat terlalu peduli, namun tetap menjalankan amanah Bramantyo. ​"Hanya seorang anak," gumam Alaric pada dirinya sendiri, mencoba meyakinkan hati nuraninya yang mulai terusik. "Dia hanya seorang anak yang butuh diawasi." ​Namun, jauh di lubuk hatinya, Alaric tahu bahwa Sera bukan lagi sekadar anak kecil. Dan malam ini, ia telah berjanji untuk menjadi penjaganya—sebuah peran yang akan membawanya ke gerbang dosa yang tak terbayangkan. ​
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD