Pagi itu, langit Jakarta masih menyisakan sisa-sisa mendung dari badai semalam, namun aktivitas di gedung fakultas hukum tetap berjalan seperti biasa. Seraphina Azkadina Dirgantara duduk di pojok kantin, menatap layar ponselnya yang masih menampilkan deretan pesan tak terjawab dari ayahnya. Bramantyo, yang kini sudah berada di Zurich, tampaknya tidak berhenti mengirimkan instruksi melalui asistennya.
Sera menghela napas panjang. Ia merasa seperti burung dalam sangkar emas yang setiap kepakan sayapnya dihitung oleh radar. Seminggu setelah kepindahannya ke apartemen mandiri, pengawasan ayahnya justru terasa semakin menyesakkan. Namun, ada satu hal yang mengganjal di pikirannya sejak tadi malam. Ayahnya sempat mengatakan akan meminta "seseorang" untuk mengeceknya karena ia sempat sulit dihubungi.
Sera tahu siapa orang itu. Alaric Valerius.
Sepanjang malam tadi, Sera sebenarnya menunggu. Ia sengaja membiarkan lampu ruang tamunya menyala hingga larut, berharap mendengar suara ketukan di pintu atau deru mesin mobil SUV hitam yang sangat ia kenal. Namun, hingga fajar menyingsing, Alaric tidak datang. Ada rasa kecewa yang menyelusup di balik dadanya, namun ia juga sadar—Alaric adalah pria yang sangat menjunjung tinggi etika dan reputasi. Pria itu tidak akan sudi mendatangi apartemen seorang gadis lajang di tengah malam buta hanya untuk sekadar "mengecek", karena Alaric paling benci menjadi bahan gosip.
"Kamu melamun lagi, Sera," Tiara menyenggol bahunya, membuyarkan lamunan Sera. "Dosen hukum perdata sudah masuk, kamu tidak mau ikut kelas?"
Sera menutup tabletnya dengan gerakan malas. "Aku menyusul, Tiara. Kepalaku sedikit berdenyut."
"Benarkah? Wajahmu memang sedikit pucat. Mungkin karena cuaca lembap ini," Tiara menatapnya khawatir. "Apa kamu perlu kutemani ke ruang kesehatan?"
Sera menggeleng kecil. "Tidak perlu. Aku hanya butuh udara segar."
Setelah Tiara pergi, Sera menyandarkan punggungnya pada kursi kayu kantin yang dingin. Ia meraba keningnya sendiri; suhu tubuhnya memang terasa sedikit naik. Mungkin efek dari stres karena perdebatan dengan ayahnya, atau mungkin karena ia sengaja tidak makan malam untuk memicu perhatian yang ternyata tidak kunjung datang.
Di balik wajahnya yang tampak tenang dan patuh, Sera sedang menyusun rencana yang lebih halus. Ia tidak ingin terlihat seperti penggoda murahan. Ia ingin Alaric yang datang padanya karena sebuah kebutuhan, karena sebuah tanggung jawab yang tidak bisa pria itu tolak. Ia tahu Alaric sangat menghormati ayahnya, dan ia akan menggunakan rasa hormat itu sebagai jerat.
Sera membuka kembali ponselnya, mengetik pesan singkat untuk ayahnya. Ia tahu pesan ini akan diteruskan atau diceritakan kepada Alaric.
“Pa, badai semalam membuatku menggigil. Pagi ini aku tetap masuk kampus meski kepalaku sangat berat. Jangan khawatir, aku akan pulang lebih awal jika tidak kuat lagi.”
Ia tahu persis bagaimana cara kerja pikiran Alaric. Jika ayahnya panik dan menghubungi Alaric lagi, kali ini Alaric tidak akan punya alasan untuk menghindar. Hari masih terang, dan jika Sera "sakit" di apartemennya sendirian, insting pelindung pria dewasa itu pasti akan mengalahkan ego etikanya.
Sera bangkit berdiri, namun ia merasa dunianya sedikit berputar. Pandangannya kabur selama beberapa detik. Ia memegang pinggiran meja untuk menyeimbangkan tubuhnya. Rasa tidak enak badan yang tadinya hanya ia jadikan alasan, kini mulai terasa nyata. Tubuhnya yang ringkih mulai menyerah pada tekanan emosional dan cuaca Jakarta yang ekstrem.
Ia melangkah keluar dari kantin dengan langkah yang sedikit tidak stabil. Di luar, rintik hujan mulai turun kembali, membasahi kemeja putih yang ia kenakan. Sera tidak segera mencari tempat berteduh; ia justru membiarkan butiran air hujan itu menyentuh kulitnya. Ia ingin membiarkan demam ini menjadi nyata. Ia ingin saat Alaric menemukannya nanti, ia tidak sedang bersandiwara.
"Datanglah, Om," bisiknya pelan, suaranya hampir hilang tertelan suara petir yang menggelegar di kejauhan. "Lihatlah seberapa kuat kamu bisa bertahan untuk tidak menyentuhku saat aku tidak berdaya."
Di mata orang lain, Sera adalah putri konglomerat yang sempurna. Namun di dalam dirinya, ada obsesi yang sudah tumbuh sejak ia berusia enam belas tahun. Alaric adalah satu-satunya pria yang tidak pernah memujinya dengan kata-kata manis, satu-satunya pria yang menatapnya seolah-olah dia adalah gangguan yang harus diselesaikan. Dan bagi Sera, pengabaian Alaric adalah tantangan yang paling menggairahkan.
Ia berjalan menuju tempat parkir, mengabaikan beberapa teman yang memanggilnya. Setiap langkah terasa semakin berat. Rasa dingin mulai merambat dari kaki hingga ke punggungnya. Sesampainya di mobil, Sera segera menyalakan mesin dan mengatur pendingin ruangan. Ia merasa tubuhnya mulai bergetar.
Ia tidak langsung melajukan mobilnya. Ia terdiam sebentar, menatap butiran hujan yang mengalir di kaca depan. Ia memikirkan Alaric yang mungkin saat ini sedang berada di tengah rapat direksi, tanpa tahu bahwa "amanah" yang diberikan sahabatnya sedang berjuang menahan kesadaran di balik kemudi mobil.
"Aku akan menunggumu di rumah, Om. Jangan kecewakan Papa dengan membiarkanku sendirian," gumamnya dengan senyum tipis yang tampak menyedihkan di wajahnya yang mulai memerah karena panas.
Sera mulai menjalankan mobilnya keluar dari area kampus. Jalanan Jakarta mulai macet karena genangan air yang muncul di beberapa titik. Rasa pening di kepalanya semakin menjadi-jadi. Setiap kali ia menginjak rem, ia merasa ingin muntah. Namun, ia memaksakan diri. Ia harus sampai di apartemen sebelum kesadarannya benar-benar hilang. Ia ingin Alaric menemukannya di tempat yang paling pribadi, di tempat di mana tidak ada mata lain yang bisa melihat keruntuhan moral sang penguasa bisnis tersebut.
Obsesi ini sudah melampaui logika. Sera tahu dia sedang merusak dirinya sendiri, tapi baginya, memiliki Alaric adalah satu-satunya cara untuk merasa bebas dari bayang-bayang ayahnya. Ia ingin menjadi wanita yang membuat Alaric Valerius merasa berdosa setiap kali pria itu memejamkan mata.
Hujan semakin deras, mengguyur mobilnya dengan kekuatan yang mengerikan. Sera terus melaju, meski pandangannya kini hanya terbatas pada lampu belakang mobil di depannya. Di dalam kabin yang dingin, napasnya mulai memburu, senada dengan ritme badai yang kembali mengguncang kota.
Ia tidak tahu bahwa di saat yang sama, di lantai empat puluh lima Valerius Group, Alaric baru saja menerima telepon panik dari Bramantyo di Zurich, yang mengatakan bahwa Sera tidak menjawab pesan balasan ayahnya. Dan kali ini, Alaric tidak lagi memedulikan etika atau gosip. Pria itu menyambar kunci mobilnya dengan gerakan kasar, sebuah kepanikan yang tidak biasa mulai membakar ketenangan sang CEO.
Sera tersenyum lemah di tengah kabut demamnya. Permainan sudah dimulai, dan dia adalah pion yang rela hancur demi menjatuhkan sang Raja.
Sera merasa sangat haus, namun tangannya terlalu lemas untuk sekadar membuka keran air. Ia bersandar di pintu kamar mandi yang dingin, mencoba mendinginkan pipinya yang membara. Ia memejamkan mata, membiarkan kegelapan mulai menariknya. Pikiran terakhirnya sebelum benar-benar kehilangan kesadaran adalah aroma kayu cendana milik Alaric—aroma yang ia harap akan segera menyelimutinya saat ia terbangun nanti.
Badai di luar semakin mengamuk, memukul-mukul jendela apartemen mewah itu seolah ingin mendobrak masuk. Namun bagi Sera, badai yang sesungguhnya adalah kehadiran Alaric yang kini sedang melaju menembus kemacetan, dipenuhi rasa bersalah dan dorongan protektif yang akan segera ia salah artikan sebagai cinta.
Tidak ada lagi kata mundur. Benih demam dan dosa telah ditanam, dan malam ini, di bawah pengawasan kilatan petir, mereka akan tumbuh menjadi sesuatu yang menghancurkan segalanya.