Jodoh kedua

1060 Words
Flashback. Satu pekan setelah surga semalam bersama Gia. Gazain hidup seperti biasa kecuali satu hal. Efek malam panas bersama Gia telah memberi mimpi manis yang membuat Gazain harus mandi tiap sebelum subuhnya, sudah berlangsung sejak malam mereka berpisah. Gazain dihantui kenikmatan semu dan ia tak tahu di mana harus menemukan sang istri sebagai penawar sakit langkanya ini. Seumur hidup Gazain belum pernah menyentuh perempuan dengan kegilaan seperti itu. Ia tak akan mau dianggap lelaki lugu, yang tak mengakui kebutuhannya, menafi keinginan alamiah darahnya yang candu akan pelepasan. Darah durjana warisan sang ayah mengalir di tubuhnya, tanpa pengalaman secuil pun, Gazain tahu ia sama, penyuka sensasi tubuh perempuan seperti manusia b******n satu itu. Tiga hari bertahan, tapi Gazain tak suka disiksa hasratnya kepada Gia. Jadi, semua jejak tentang istri satu malamnya itu Gazain telusuri. Didatanginya hotel tempat mereka mereguk madu percintaan, dijangkaunya rumah wali nikah Gia malam itu. Bahkan, secara gila Gazain datangi kuburan ayah Gia demi mencari istrinya. Tiga tempat kebersamaan mereka yang langka itu sudah didatangi, selama tiga hari berturut-turut dengan urutan acak dan hasilnya tetap nol. Gia tak ditemukan, begitupun hasrat gila Gazain belum juga padam. “Apa yang terjadi padamu?!” Gazain mengerjap saat sebuah tangan memalingkan wajahnya dari lenggok provokatif seorang perempuan. Dia bukan Gia, tapi jika ditemukannya perempuan itu Gazain pastikan ia akan membawanya ke tempat privasi untuk dieksekusi. "Aku ulang, apa yang terjadi kepadamu?" tanya teman duduknya penuh penekanan. Yang terjadi padanya adalah Gazain kehilangan istri. Dihantui mimpi provokatif dan belum ada solusi sama sekali. Kening berkerut lelaki di depan Gazain benar-benar berlipat banyak karena heran selagi menunggu jawaban, “Serius, apa yang terjadi padamu? Biasanya menundukkan pandangan, sekarang kamu seperti sedang mencumbuinya di kepalamu. Kamu perlu menikah, Gazain.” Kali ini Gazain masam ekspresi sebagai respons kalimat sahabatnya. Perlu menikah? Nah, itu solusinya. Namun, Gazain sudah menikah dengan Bahagia Khumaira, tapi secara brutal perempuan itu sungguhan menghilang seperti di telan bumi, seperti syarat pernikahan yang diajukannya. Padahal Gia tampak seperti perempuan keras kepala yang akan melakukan hal sebaliknya daripada apa yang diperintahkan. Gazain menghela napas. Pernikahan semalam yang tak diketahui siapa pun. Itulah sebabnya tak seorang pun juga yang bisa memahami siksa hasratnya saat ini, termasuk sahabatnya yang berstatus duda dua kali tersebut. “Ayahmu sudah pergi. Sekarang lanjutkan hidupmu dan menikahlah.” Mereka sedang menikmati makan siang di sebuah restoran tak jauh dari toko perhiasan Gazain. Gazain sendiri kini menggaruk keningnya yang tak gatal sama sekali. Hampir segala hal dalam dirinya dikisahkan kepada lelaki itu, dan sulit Bagi Gazain untuk menahan lidahnya dari menceritakan tentang Gia dan surga semalam mereka. Namun, harus dari mana ia kisahkan pengalaman mengenaskan itu? Rahman Kalukalima menyandarkan punggung di kursinya, “Matamu mengisyaratkan ada sesuatu.” Gazain berdeham. Mereka bersahabat sejak kecil meski pernah terpisah lama dan putus komunikasi. “Apa yang ingin kamu bicarakan?” tanya Gazain mengalihkan pembicaraan, mengingat Rahman lah yang memintanya bertemu lebih dulu. “Pertama, aku ingin melihat keadaanmu. Dan kamu cukup baik, tapi ... entahlah, tidak sebaik biasanya. Ini aneh. Kamu tampak tidak tenang meskipun dia sudah berkalang tanah.” “Aku baik-baik saja,” sahut Gazain yakin. Kecuali bagian tengah tubuhnya yang memberontak mengerikan tiap terbayang siluet gerakan Gia atau saat tak sengaja memperhatikan bagian-bagian tubuh perempuan asing yang bahkan tak dikenalinya. Darahnya seperti sedang dididihkan oleh bara api neraka, nafsu belaka isinya. “Yang ke dua. Aku menemukan seorang perempuan yang mungkin saja ingin kamu nikahi.” Gazain menggeleng dengan senyuman geli. “Berhentilah, tidak ada perempuan yang bisa jadi istriku.” Rahman berdecak lidah, “Dengar dulu! Dia berusia 33 tahun. Cantik sekali, anak tunggal, dan bisa dibilang saleha.” “Aku tidak tertarik. Untukmu saja," tolaknya santai. Sudah cukup satu Gia. Jangan sampai ada perempuan lain yang Gazain paksa jadi istrinya. Ia jelas tak menikah untuk cinta atau romansa, hanya penyaluran kebutuhan biologis semata. “Ibuku memang mengenalkannya untukku. Hampir saja dia jadi istriku yang ketiga,” tutur Rahman bergidik bahunya. “Namanya bukan Khumaira?” tanya Gazain geli. Tahunya bahwa Rahman Kalukalima tidak akan menikah dengan sembarangan perempuan. Harus nama istrinya dengan embel-embel Khumaira. Sejauh ini ada Khumaira Nurhayati dan Aluna Dina Khumaira. Dua nama istri Rahman sebelumnya dan mereka meninggalkan Rahman sendirian di dunia untuk bertemu Khumaira yang ketiga. “Bukan. Dia malah satu-satunya perempuan bukan Khumaira yang ibuku paksakan,” keluh Rahman lelah. Gazain berkerut kening karena heran, “Dan kamu lolos karena namanya bukan Khumaira?” “Dia hampir lolos meski bukan namanya Khumaira,” balas lelaki itu penuh penekanan. Secara serius Rahman merapatkan diri ke meja, memelankan suaranya, “Ibuku membatalkan niat pinangan karena ternyata Medina tak bisa mengandung.” Jantung Gazain berhenti sesaat. Tak bisa mengandung. Itu satu kriteria wajib bagi Gazain jika ingin menikah. Sekaligus, itu kriteria haram bagi Rahman jika ingin menikah. “Aku sungguh-sungguh ingin kamu melihat perempuan ini dulu,” ucapnya serius. “Dia terlalu ‘berharga’ jika dinikahi lelaki yang salah. Menurutku kalian cocok ---” Gazain dengan warisan darah gila sang ayah di nadinya bangkit dari duduk. “Ada apa?!” “Namanya Medina? Di mana rumahnya?” Alis Rahman bangkit tak direncana, “Kamu akan melamarnya?” “Ya! Detik ini juga.” Rahman terdiam. Menemukan kesungguhan tekad sang sahabat, seulas senyum tergambar sebelum dia menyebutkan alamat rumah yang didatanginya sepekan yang lalu. Makan siang mereka belum selesai, tapi gebrakan besar ini tak bisa ditunda. “Perlu kutemani?” Gazain menahan gerakan Rahman yang akan ikut berdiri, “Tidak. Tunggu saja undanganku.” “Baiklah. Semoga Allah mudahkan urusanmu," doanya serius sekaligus geli. “Aamiin.” Gazain melesat pergi mendatangi alamat yang disebutkan. Di sakunya tak ada apa-apa meskipun Gazain berniat melamar. Jika Medina seistimewa yang Rahman katakan, maka tak akan mudah mendapatkannya. Gazain pasti perlu ... minimal dua kali datang sebelum sungguhan diterima sebagai menantu. Didorong tekad dan hasrat yang menggebu Gazain akhirnya menemukan alamat yang dimaksud Rahman. Sesaat lelaki tampan itu merapikan penampilan sebelum beranjak turun dari mobilnya. Pekarangan luas rumah yang ia datangi sudah mengirim sinyal bahwa yang diusahakannya tidak akan mudah. Namun, Gazain perlu secepatnya menikah dan memuaskan hasratnya pada yang halal mendapatkan. Sudah jelas darah liar sang ayah memang benar-benar besar pengaruhnya. Tak heran lagi mengapa dulu saudarinya bisa segila itu dengan kenikmatan sebelum berhasil menemukan pawangnya. Bel Gazain tekan dan dari interkom yang menjawab adalah suara perempuan. “Siapa?” Gazain tertegun sekejap. “Kamukah ... Medina?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD