Bidadari

1136 Words
Flashback. “Kamukah ... Medina?” tanya Gazain dengan penuh debaran dalam dadanya. Dari interkom terdengar jawaban, “Hm? Ya. Aku Medina. Kamu siapa? Ingin bertemu denganku?” “Bukan, aku ingin bertemu ayahmu.” “Oh. Siapa namamu?” “Gazain.” “Baiklah, Gazain. Tunggu sebentar.” Kunci pagar itu otomatis terbuka di depan Gazain. “Nah, masuklah. Aku beritahu ayah dulu,” imbuh Medina lagi. Gazain pun masuk dan menunggu di depan pintu yang bergeming. Medina. Pertama mendengar nama itu yang terlintas di benak Gazain adalah kenangan akan Madinah, kota suci kedua bagi umat Islam setelah Mekah. Namun, pertama kali mendengar suara Medina ... khayalnya melayang jauh. Terbayang akan secantik apa dia terlihat. Mungkin hidungnya kecil dan mancung. Bibirnya tipis dan merah muda. Mungkin tubuhnya biasa saja dan Gazain berharap sekali dia bermata bening dan tenang sikapnya. Gazain berharap dia jauh berbeda dari sosok Gia ataupun saudari kembarnya. Gazain berbalik saat pintu di belakangnya berayun membuka. Seorang lelaki berkumis tipis mengernyit kepadanya, “Kamu ... Gazain?” “Ya.” “Ada keperluan apa? Rasanya aku belum pernah bertemu denganmu sebelumnya.” “Bolehkah saya masuk dulu?” Lelaki itu memperhatikan Gazain dari bawah hingga atas. Bukan tatapan menghakimi, tapi jelas isinya sedang menilai Gazain. “Apa keperluanmu, Nak?” “Menikah. Saya dengar Anda punya putri bernama Medina,” jawab Gazain tenang, tetap sopan. Lelaki itu menoleh ke dalam rumahnya sebentar. “Kamu ...?!” “Saya benar-benar berminat menikahinya.” Mencebik ayah Medina sesaat kemudian mempersilakan Gazain masuk. Ruang tamu hangat dan lenggang menyambut. Tak menyangka Gazain jika benar-benar Medina itu sangat istimewa, putri yang dibesarkan dalam istana. “Aku tak tahu apa yang membuatmu datang. Putriku biasanya tak mengenal sembarangan lelaki, kecuali kamu teman ... kuliahnya dulu?” tanyanya ragu. Gazain menggeleng. Ada peringatan di kepalanya agar tidak menyebutkan nama Rahman sama sekali. Gazain tahu bahwa ia akan ditolak jika menyentil nama itu meski sedikit saja. “Lalu? Apa alasanmu ingin menikahi putriku? Harta? Kecantikannya?” Gazain meringis. Mungkin ia akan diusir jika beliau tahu bahwa baru sekitar satu jam yang lalu Gazain pertama kali mendengar nama putrinya. “Bolehkah saya bertemu beliau juga?” “Kalau kamu ingin menikahinya, akulah yang perlu kamu temui,” tolaknya tegas. Gazain tak suka panjangnya percakapan mereka. Yang ia butuh hanyalah Medina jadi istrinya lalu mereka berbuat sesuatu bersama di atas ranjang. Gazain tak peduli ranjang itu di mana, asal mereka bisa menikmati kegiatan intim dengan berkah dan tanpa dosa. “Sejujurnya, Tuan. Saya dengar beliau tidak bisa mengandung?” Air wajah ayah Medina berubah. “Ya.” “Dan saya ingin menikahi beliau karena hal itu.” Ayah Medina tersentak. Matanya langsung awas memperhatikan lelaki lancang di depannya. “Sungguh, saya memang ingin menikahi beliau karena ... saya bukan membutuhkan keturunan, tetapi teman hidup,” jelas Gazain hati-hati. “Kamu akan menjadikannya istri kedua?!” tanya beliau meninggi. Gazain lekas menggeleng. Memang ada Gia yang pertama, tapi perempuan itu telah menghilang tak tahu rimbanya. Anggap saja sudah tak ada kisah di antara mereka. Sekarang, Medina adalah calon pasangan sejatinya. “Malah saya ingin hidup menua berdua saja dengannya.” Raut heran ayah Medina terlihat apa adanya, “Aneh sekali.” “Tidak aneh sebenarnya. Jika Anda memiliki trauma masa kecil, Anda tidak akan berani mendekati anak-anak, apalagi untuk memiliki anak dari darah daging sendiri.” Secara sederhana itu adalah alasan Gazain menjauhi pernikahan. Ia tak mau berlanjut keturunan sang ayah dari dirinya. Melembut wajah tegang ayah Medina, “Jadi kamu dari keluarga berantakan?” “Bisa dibilang begitu. Saya ... tidak punya ayah. Ibu meninggal sudah sejak saya masih kecil. Tinggal di panti asuhan dan hidup sendiri sampai hari ini,” jelas Gazain tanpa membawa perasaan sedikit pun. Dan banyak sekali rentet pertanyaan pribadi yang muncul. Namun, Gazain menyembunyikan fakta keberadaan saudari kembarnya. Gazain hanya menjawab seusai fakta yang diketahui dunia tentang dirinya, tanpa membawa nama Ratu Abida atau Reda sedikit pun. “Kamu pikir aku akan langsung menikahkanmu dengan putriku hanya karena kondisinya yang tidak bisa mengandung?!” Beliau menggeleng ngeri. “Aku akan menilaimu lebih dulu, jika kusetujui kamu dengannya baru kalian bisa bertemu.” Gazain tak keberatan. “Baiklah. Berapa lama saya akan mendapatkan jawabannya?” Sekali lagi tatapan ayah Medina lebih lamat menelisik Gazain. Sekian detik kemudian beliau menghela napas, “Paling lama sepekan.” “Baiklah. Saya pamit kalau begitu. Mohon maaf mengganggu waktu Anda. Terima kasih atas sambutannya,” ucap Gazain formal. Setelah meninggalkan nomor ponsel Gazain angkat kaki dari sana dan benar-benar berharap semoga saja ayah Medina mau menerimanya sebagai menantu. *** Aktivitas harian Gazain kembali normal. Mimpi erotisnya kini berubah lebih manis. Gia dan gerakannya masih menghantui malam-malam Gazain, tapi selalu ada suara merdu Medina datang menghentikan sebelum adegan mimpi bersama Gia merajalela mengucurkan keringatnya. Baru tiga hari sejak pembicaraan itu, mendadak Gazain sudah diminta datang kembali oleh Tuan Guid, ayah Medina. Belum jelas jawaban beliau, tapi Gazain sangat gugup. Dan, di saku dalam jaketnya sudah ada persiapan, seperangkat perhiasan mewah, amunisi jika mendadak ia akan langsung dinikahkan dengan Medina hari ini juga. Namun, saat tiba di sana ia dibuat sulit memalingkan wajah oleh paras rupawan Medina. Sangat cantik dia. Sampai rasanya air liur akan menetes dari celah bibir Gazain karena begitu terpesona. “Kamu sungguh-sungguh ingin menikahiku?” Suaranya membuat pikiran Gazain otomatis korselet. Perbendaharaan kata mendadak lenyap dari kepalanya. Betapa mesra jika perempuan itu mau menyebut nama Gazain dengan nada lembut begitu. “Ekhm!” Gazain tersentak. Di depannya Medina menampilkan ekspresi masam setelah melirik ayahnya sebentar, tapi di mata Gazain, perempuan itu malah terlihat menggemaskan, sampai-sampai Gazain ingin menyimpannya dalam saku lalu membawa kabur dia. “Ayah bilang, kamu ---“ “Ya! Mari menikah. Jadilah istriku, Medina,” lamar Gazain apa adanya. Otaknya sulit berfungsi dengan baik di depan perempuan tersebut, hanya apa yang naluri beri, itu yang diterima tubuhnya sebagai perintah. Dia tersenyum geli, menertawakan Gazain hati-hati. “Aku serius,” ucapnya kecil sambil mencondongkan dirinya kepada Medina. Untunglah ada meja di tengah mereka, ada ayah Medina juga di dekat sana. Jika tidak, bisa-bisa Gazain berakhir jadi tersangka kasus pelecehan. “Bujuk ayahmu agar mau menerimaku.” “Jadi, kamu pikir aku sudah setuju begitu?” Gazain mencebik. Demi Tuhan, ia harus menjadikan Medina istrinya. Tanya manis menggemaskan begitu, Gazain siap jika sepanjang usia hanya bersama dirinya. Ia sama sekali bukan perayu ulung, tapi perempuan di depannya menarik naluri Gazain seperti apa adanya ia dicipta, hanya seorang lelaki dewasa yang takjub akan keindahan lawan jenisnya. “Jujurlah, Nona. Sulit untuk tidak tertarik kepadaku. Bukan begitu?” Nada percaya diri Gazain yang telak membuat perempuan itu terdiam. Tuan Guid akhirnya buka suara, “Jadi, apakah kamu mau menerimanya sebagai suamimu, Medina?” *** Kini dua perempuan itu di depan Gazain. Satu istrinya tercinta, Medina. Satunya lagi surga semalam Gazain, Gia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD