Medina bangkit menyambut kedatangan suaminya dengan suka cita, “Selamat datang, Suamiku. Maaf karena harus memaksamu pulang ---“
“Nona,” pungkas Gazain lebih dulu. Nyawa belum terkumpul utuh di dadanya. Nama Gia yang muncul saat Medina menghubunginya telah memberi Gazain ketakutan sejak tadi, khawatir sekali jika Gia buka rahasia tentang mereka. Lebih baik Medina tahu dari mulut Gazain sendiri daripada banyak bumbu lain yang akan ditambahkan Gia mengenai hubungan mereka.
Gazain tak pernah mengira situasi ini akan ia hadapi. Dua perempuan di depannya. Satu istri tercinta, satu surga semalam yang kemungkinan besar akan membawa perubahan signifikan hidup mereka bertiga, berempat tepatnya.
“A---ada apa, Gazain?”
Gazain makin takut, melihat gugup yang tampil di mata indah istrinya, Gazain tak siap mengecewakan dia. Namun, Gazain tahu, Medina sepertinya punya dugaan yang mengarah kepada kenyataan saat ini. “Bolehkah Nona tunggu di kamar sebentar? Sesaat saja, Sayang.”
“Y---ya, tapi ....”
Gazain mengusap pipi putihnya, tak mau Medina menunda. “Terima kasih banyak, Nona.”
Lembut permintaan Gazain sehingga Medina pun patuh menjauh. Belum duduk Gazain, masih berdiri di atas kakinya yang serasa akan tumbang sewaktu-waktu. Sementara Gia memerhatikan kemesraan mereka dengan perasaan yang bergulat tak nyaman. Namun, hanya ekspresi biasa dia tampilkan sebisanya. Dua pasang mata yang pernah saling terbakar gairah itu kini saling pandang tanpa suara.
Gazain yakin Gia tak akan datang mengganggunya tanpa sebab setelah menghilang tanpa jejak. Telah dirampas hak waris darinya saja Gia pilih melarikan diri, bagaimana mungkin dia datang kepada lelaki yang tak dikenalnya sama sekali. Perempuan angkuh seperti dia akan memilih berdiri di atas kakinya sendiri, kecuali sangat berat untuk menghadapi kenyataan hidup sendirian. “Aku tak siap menerima kabar darimu, tapi ... apakah sungguh ada ‘dia’?” tanyanya pelan.
Gia mengusap perutnya sebagai jawaban. Dia juga balas menyindir keberadaan Medina, “Dan kamu punya dia?”
Gazain menghela napas. Jelas, hidupnya sekali lagi akan berantakan. Ia mendekati Gia, langkahnya sangatlah berat, hingga niat duduk pun seolah terhempas tubuhnya. Berseberangan meja, pucat pasi wajah Gazain. Tak bisa menghindar sama sekali dari situasi pelik ini.
Gia melihat guncangnya dunia Gazain. Namun, semua sudah terjadi, tidak bisa lagi waktu diputar kembali. “Dia, atau malam bersamaku yang lebih dulu?”
Gazain mengusap kepalanya yang mungkin akan pecah sesaat lagi. Hidupnya telah sempurna, tapi Gia ... bukan Gia, tapi kandungan itu akan menghancurkan semuanya.
Tak mendapat jawaban, Gia tak tahan disiksa diamnya Gazain. “Aku harus bagaimana?”
Gazain menelisik lagi perempuan itu. Gia tahu situasi mereka, tapi tampak baik-baik saja.
“Kamu bilang akan bertanggung jawab penuh.” Gia menoleh ke bagian dalam rumah, takut didengar Medina. “Istrimu terlihat sangat baik. Bagaimana kamu akan menjelaskan semuanya ini?”
Gazain menggeram, “Aku sungguh tidak berpikir kamu akan kembali.”
“Nyatanya aku di sini.” Gia kemudian meringis, “Haruskah dirahasiakan darinya?”
Gazain menggeleng. Apa yang ia tabur, harus dituai. Merahasiakan Gia dan janinnya hanya akan menunda kekecewaan Medina, Gazain lebih suka mencurahkan segalanya kepada sang istri secepatnya, sedetail-detailnya. Ia dan Medina saling mencintai, dan saling memiliki satu sama lain. Gia ataupun kandungannya tak boleh memisahkan Gazain dari cinta sejatinya itu. Faktanya, Gia dan surga semalam mereka memang lebih dulu terjadi daripada hubungan atau cintanya untuk Medina. Bahkan, karena Gia pula Gazain sampai harus menikah serampangan pada kali kedua.
“Mengapa kamu menikahiku kalau ternyata sudah ada dia yang sesempurna itu sebagai istrimu?” Gia mengeluarkan rasa herannya. “Sungguh, lelaki memang tak pernah puas!” Gia mengumpati mendiang ayahnya juga. Padahal usaha warung mereka dulu sudah lebih dari cukup untuk hidup bahagia, tapi keserakahan dan rasa terzalimi malah membuatnya melewati batas.
Alis Gazain menajak sebelah. Ia sejak awal sungguh tidak menyukai Gia, sekarang timbul risi dan kebencian juga padanya. “Sepertinya kamu pandai bicara. Aku akan menjelaskan apa adanya kepada Medina. Dia juga mungkin akan meminta penjelasan tambahan darimu. Tunggu di sini sebentar!”
Gia menarik cangkir tehnya dan minum. Syukurlah Gazain sudah berlalu dengan semua aura marahnya, tertinggal Gia sendiri dengan tangan yang ternyata gemetar bergemeletuk memegang cangkir tehnya.
Gazain mengetuk pintu kamarnya perlahan, “Nona.”
Yang Gazain temukan kemudian adalah senyum terukir istrinya. Saling pandang mereka. Mengalir takjub kekaguman Gazain akan istrinya sekali lagi. “Kapan pun aku melihatmu hatiku terasa ringan.”
Namun, topeng tegarnya sang istri mulai terkoyak. “Siapa Gia?”
Gazain diam.
Medina mendadak berubah ekspresi. “A---aku pikir dia calon pembantu. Sepertinya aku salah sangka.”
Gazain membawa sang istri masuk dan menutup pintu perlahan. Didudukkannya Medina di atas tempat tidur mereka. “Aku minta maaf, Nona.”
Awalan itu sudah menandakan sesuatu. Medina menyeka matanya, tapi bulir bening itu malah makin banyak turun.
“Nona, aku tidak merencanakan ini. Aku mencintaimu, hanya kamu!”
“Aku ingin tahu siapa dia,” pungkas Medina. “Temanmu? Mengapa dia datang seolah akan tinggal di sini?!”
“Dia akan tinggal di sekitar sini, tapi bukan rumah yang sama dengan kita.”
Medina mengerjap, raut tak mengerti tergambar jelas di wajahnya.
“Gia ... istriku.”
“I---istri?!” Medina tercengang. “Tapi ... saat menikahiku kamu bilang ...”
“Ya.” Gazain menunduk. “Aku ...”
Mata Medina membola karena terkejutnya. “Kamu menikahinya lagi di belakangku?!”
“Bukan begitu. Nona...!”
Medina meletup di kepala. Inginnya segera memahami, tapi Gazain mengabarinya sangat hati-hati. “Sungguh, Gazain. Katakan.”
Gazain menampilkan sesal secara utuh, “Aku menikahinya lebih dulu.”
“Lalu aku ... pelakor?! Bukankah kamu bilang belum pernah menikah saat ---“ Medina tampak berkaca-kaca penglihatannya. Sekat tenggorokan oleh bungkalan sesak yang sulit ia uraikan.
Gazain menggeleng keras. Dipegangnya tepi wajah Medina yang kalut, “Nona, aku menikahinya, bukan berarti mencintainya. Aku mencintaimu. Kamu seorang.”
Medina ingin menepis jemari suaminya. Rasa kecewa yang menyerbu datang amat sangat mengejutkan. Sampai-sampai ia ingin jauh dari sentuhan yang biasanya selalu dinantikan. Bukan jijik, tapi ia tak sudi saat ini. Mata Medina mengisyaratkan rasa risinya, “Tolong, jangan sentuh aku.”
Gazain menolak, keras gelengan kepalanya, lebih erat ditangkupnya wajah istri tercinta. “Nona, aku tidak seburuk yang singgah di pikiranmu saat ini.”
“Lalu apa?” tanya Medina serak, air mata turun lagi akhirnya. Bukti Kecewanya yang tak bisa didefinisikan kata-kata.
Tanya itu seperti godam yang menghantam. Tangan Gazain lemas terkulai. Jatuhnya sama seperti benda berat yang amblas oleh gravitasi. Ia telah melukai Medina. Perempuan terkasihnya telah tersayat nestapa dan Gazain lah pelakunya.
“Untuk apa menikahiku dengan kebohongan, Gazain? Aku tidak membenci syariat, tapi caramu sangat ... tidak pantas.”
“Maafkan aku, Medina!”
“Mau bagaimana lagi? Ini bukan surga yang di dalamnya tujuh puluh bidadari seatap denganmu aku tetap baik-baik saja. Kita masih hidup di dunia. Aku pun perempuan biasa, Gazain. Tetap ada rasa sakit bagiku selama kamu mendua.”
“Dia sedang hamil.”
Medina menyekap mulut sendiri. Bukan yang kedua, dirinya akan turun di urutan ketiga!