Gazain tahu istrinya benar-benar berbeda daripada perempuan biasa. Seperti yang dibilang Rahman, Medina adalah istri saleha. Dia cerdas, cantik, dan berbudi luhur. Medina juga berkepala dingin, tak seperti Gazain yang lebih mudah terbawa suasana. Menikahinya hampir dua bulan ini sudah cukup bagi Gazain sebagai alasan mencintainya seumur hidup. Sesempurna itu sosok Medina, dan Gazain ingin sang istri balas mengasihinya pula. “Aku pernah punya sumpah dan Gia adalah tebusannya. Singkatnya, aku harus menikah hari itu, dan Gia satu-satunya kesempatanku.”
“Hanya menikah?” remeh Medina lewat senyuman pahit. “Bagaimana dia bisa hamil kemudian?”
Gazain ikhlas menerima sindiran istrinya. Tentu Medina pun pastinya tahu bahwasanya Gazain memang lelaki yang berakal sehat dan berhasrat menggebu. Namun, Medina harus tahu hal yang lebih penting dari penebusan sumpah itu. Titik balik hidupnya yang Gazain perlu sebutkan. “Aku tidak tahu bahwa akan ada pertemuan denganmu, Nona. Sebelum bertemu denganmu aku tidak sekalipun mencintai, tak pernah ingin memiliki. Tapi kamu, cintaku adalah kamu.”
Medina menggeleng. Nasi sudah menjadi bubur. Rasa mereka sudah bersambut bahagia, tapi kini dihempaskan juga. Gia muda, cantik, dan mengandung pula. “Jangan tambah rasa kecewaku. Katakan saja apa rencanamu untukku. Kamu akan menceraikan aku?” tanyanya terus-terang.
“Tidak!” tegas Gazain. Menyala seketika matanya oleh ucapan Medina. Sejak kali pertama bertatap dengan perempuan itu, sedetik pun Gazain tak mau membiarkan dia jauh dari jangkauannya. Bagaimana mungkin akan ada perpisahan di antara mereka berdua, padahal Gazain merasa Medina adalah separuh napasnya, setengah jiwanya. “Kamu istriku. Kamu milikku. Satu cinta, sampai surga denganmu, Medina!”
Medina merinding. Seolah kalimat suaminya itu adalah sumpah baru yang akan jadi pengikat mereka selamanya. Medina suka, tapi enggan jika akan ada Gia dan bayi Gazain dengan dia. Sisi lainnya, Medina sebagai istri sah di pencatatan negara, tak ada Gia. Sulit bagi dia harus berbagi Gazain dengan mereka.
“Tidak ada yang berubah meski ada mereka, Nona. Kita akan tetap sama. Saling mencinta dan memiliki satu sama lainnya,” bujuk Gazain mengusap bekas tangis istrinya. “Sudahi kecewamu. Inginku pun sama denganmu, Nona. Tapi, takdir membawa kita begini.”
“Kamu ... menginginkan bayi itu?” tanyanya hati-hati.
Gazain dengan yakin menggeleng. “Bukan bayi, melainkan tanggung jawabku. Itu saja yang memaksa kita harus menerima semua ini. Kamu pasti akan berada di surga, Nona. Tapi aku tidak akan ke sana jika melalaikan mereka. Karena sumpahku, aku pilih menikahinya bukan berzina. Janin itu sama sekali tidak berdosa, Nona. Akulah yang berdosa jika menelantarkan mereka. Jika dosa itu akan memisahkan kita selamanya, aku tidak mau. Aku ingin tetap bersamamu, sekalipun neraka tempatnya.”
Medina menarik napas panjang. Telah panjang lebar Gazain membujuknya, tapi masih ada saja yang mengganjal perasaannya. “Mengapa baru sekarang?”
“Aku pun tak tahu. Kukira pil anti hamil malam itu akan mencegah dan Gia sebatas penebus sumpah. Mengapa baru sekarang mereka datang ... hanya Gia yang punya jawabannya. Mari kita temui dia. Tanyalah apa pun yang kamu ingin ketahui, tapi berhenti berpikir buruk terhadapku setelah itu. Kamu juga akan mencintaiku lebih banyak, lebih dari sebelum fakta ini terungkap.”
Medina menyunggingkan senyum geli sungguhan. Kesan percaya diri Gazain memang selalu berhasil memikatnya. Suaminya itu akan tegas dan penuh ego saat yakin dengan ucapannya. Satu sinyal Medina tangkap dari pembicaraan ini, Gazain tidak merasa Gia dan calon bayi mereka adalah sebuah kesalahan. “Kamu menyesal?”
Alis Gazain bertaut, “Sumpahku terlaksana. Aku menyesalinya?”
Medina menaikkan bahu, apatis. “Aku bertanya, kamu yang harusnya menjawab.”
“Kalau bukan karena sumpah itu aku tidak akan menikah selamanya, Nona. Aku tak akan tahu rasanya mencintaimu. Aku tak akan tahu bahwa kamulah cinta sejatiku. Aku menyesalinya?”
Medina tersenyum, “Kamu tidak menyesal.”
Gazain wujudkan syukurnya lewat pelukan. Lebih melegakan lagi karena sang istri tak menolaknya kali ini. “Aku tidak menyesal, kecuali menyesali waktu yang terlambat mempertemukan kita. Berandai-andai tidak boleh, tapi aku tetap saja berharap, mengangankan seandainya hari itu yang kutemui adalah dirimu bukan Gia.”
Medina melerai pelukan. Ada yang janggal dari harapan suaminya, “Kalian tak saling mengenal?”
“Sampai saat ini pun, tidak,” jawabnya santai. “Aku mengenalmu, mencintaimu.”
Medina heran bagaimana bisa Gia menerima pernikahan itu hingga hamil anak suaminya jika mereka tak saling mengenal. Namun, Gazain tak membuang waktu. Dituntunnya sang istri menemui tamu mereka untuk mendengarkan kisah lengkap versi Gia.
“Aku jadi gugup,” tutur Medina pelan, sekecil langkahnya.
Gazain yang menggandeng istrinya kini memaku langkah. “Aku sudah ---“
“Bukan. Aku tidak meragukanmu,” pungkas Medina yakin. “Aku lah madunya, bukan begitu?”
Gazain menggaruk kepala, “Itu penting? Padahal kamu teratas di hatiku, prioritas utama lebih dari diriku sendiri.”
Medina tetap merengut, “Dia mengandung sementara aku ... ingin, tapi tidak akan pernah bisa.”
Gazain menghela napas. Dinaikkannya jemari Medina, lalu dikecupnya punggung tangan sang istri, “Bagiku kamu sempurna. Aku tidak akan meminta selain apa adanya dirimu, Nona. Hilangkan gugupmu karena itu tidak beralasan. Aku raja. Kamu ratuku. Ini istana kita. Siapa mereka sampai membuatmu begini?!”
Sudah dibela, tapi tetap saja Medina menggigit bibirnya, “Dia muda, cantik juga.”
Gazain memajukan bibirnya, menelisik sang istri yang tiba-tiba saja berbicara merendahkan diri. “Dia memang lebih muda. Dia juga memang lumayan cantik.”
“Tidak ada lebihnya aku dari dia,” keluhnya masam.
“Memang semua perempuan sama, kecuali satu hal. Aku hanya mencintai perempuan satu ini,” ujar Gazain menyemangati istrinya.
Medina malu. Wajah meronanya membuat Gazain sekali lagi memikirkan ulang, harus apa keputusannya. Gazain tak mau melukai Medina lebih jauh, pun ia tak mau juga kebahagiaan mereka yang semula sempurna jadi retak karena Gia dan calon bayinya. Mendadak Gazain kembali serius dengan situasi ini, “Aku akan meminta pendapatmu, Nona. Harus apa kita setelah mendengar penjelasan Gia.”
“Bukannya kamu tetap akan bertanggungjawab?” tanya Medina heran.
Gazain tak yakin kepada dirinya sendiri. “Aku cukup yakin bahwa Gia benar-benar mengandung anakku, tapi aku sungguh ingin mencari-cari alasan agar mereka pergi dan tak meninggalkan jejak di kehidupan kita. Saat ini aku bahkan berniat melakukan tes DNA lalu menukarnya. Dengan kesadaran penuh, aku ingin memfitnah Gia dan lari dari tanggung jawabku agar senantiasa bahagia bersamamu saja.”
Medina tercengang, “Lalu setelah itu kita tetap akan bahagia? Menurutmu begitu?”