Nafkah?

1167 Words
Gazain diam dari tanya istrinya. Memang ada tetes darah yang sama mengalir padanya, warisan sifat gila, sembrono, dan licik sang ayah. Sering Gazain tutupi buas dirinya dengan ilmu agama dan bermacam ibadah, tapi pada situasi tertentu, alam bawah sadarnya akan kembali kepada yang asli, seperti saat ini. Pelik yang Gia bawa menelurkan ide yang jahatnya lebih-lebih dari bujukan syaitan. Gazain tahu, fitnah lebih kejam dari pembunuhan. Gazain juga tahu, lepas dari tanggung jawab adalah apa yang diperbuat Abifata kepada mereka dulunya. Gazain bahkan mengakui, ia akan menyusuri jejak sang ayah durjana jika abai terhadap Gia. Lebih-lebih lagi, Gazain tahu bahwa dirinya tak mungkin bisa bahagia bersama Medina dengan jalan khianat itu. Medina yang saleha itu, haruskah dibawanya ke neraka hanya karena cinta mereka?! “Kamu serius?!” tanya Medina berikut gerakan mengamit lengan suaminya. Gazain menunduk. Serius, inginnya memang hanya berdua, menua dengan Medina saja. Namun, mustahil mereguk bahagia mereka setelah kedatangan Gia. “Maafkan aku, Nona. Aku ingin, tapi ... Allah sebaik-baiknya pembuat tipu daya. Kita akan kalah juga akhirnya.” Medina tersenyum lembut. Ekspresi bimbang Gazain benar-benar memberinya keyakinan berbeda. Sekuat itu cinta mereka, sampai iman taruhannya. “Tugas kita hanya beribadah kepada-Nya, Suamiku. Dalam setiap ujiannya kita disuruh sabar. Dalam setiap keadaannya kita dianjurkan bertawakal. Kita menyerah, tapi bukan berarti kita pasrah." Medina mengusap lengan suaminya, "Wahai manusia, hendaklah kalian tenang, karena kebaikan itu tidak dengan buru-buru. Gia dan calon bayi itu bukan musuh kita. Mereka hanya ujian untuk meraih ridonya. Aku mempercayaimu dan aku mencintaimu, lebih dari cintaku sebelum hari ini.” Gazain mengangkat wajah, menatap sang istri dengan sarat pengharapan, memohon agar Medina mau menjelaskan lebih jauh dengan suara merdu nan menenangkan itu. Medina mengangguk yakin, “Kamu menikahinya, sudah menghamilinya. Bertanggungjawablah. Sediakan rumah bagi mereka juga.” Gazain terenyuh. Benar-benar terpatri di benaknya bahwa ia harus membahagiakan Medina, apa pun caranya. Medina mengusap pipi suaminya, “Kuharap kami bisa berteman. Dia sepertinya perempuan baik-baik.” “Terima kasih banyak, Nona.” “Anakmu, anakku juga. Mungkin aku diperbolehkan mengasuhnya juga,” ujarnya tersenyum senang. “Nasi sudah jadi bubur? Mari racik topping yang sesuai dengannya.” Gazain balas tersenyum lalu mengangguk. Tak perlu dibahas lagi betapa sukanya Medina dengan manusia-manusia kecil dan polos. Hampir tiap pekan Gazain dipaksanya datang ke sebuah panti asuhan hanya untuk bercengkrama dengan anak-anak kecil di sana. Rutin Madina kunjungi bahkan sebelum mereka menikah. Istrinya bahagia dikelilingi mereka dan mereka juga selalu menyambut Medina dengan senyum bahagia. Sayang sekali, Gazain belum berani mengenalkan Medina dengan keponakan kembarnya, Tara dan Tada. Harus ditunda lagi mengenalkan Medina dengan Reda dan Ta karena kedatangan Gia yang tiba-tiba. Perempuan di sofa menoleh ketika terdengar suara pergerakan di belakangnya. Setelah beberapa saat ia dibiarkan gugup sendiri bersama teh dan kue kering, kini penyelesaian masalah mereka akan dimulai juga. Gia coba menampilkan senyuman lebar, berisi tegar, dan sikap tubuh santai. “Sudah?” Gazain menarik napas panjang sambil mendekati ruang tamu sederhana itu. Didahulukannya Medina duduk, barulah Gazain ikut mendaratkan diri. “Aku pasti akan menjawab semua pertanyaanmu. Silakan,” ujar Gia tenang kepada Medina. “Apa alasanmu datang? Mengapa baru sekarang?” Gia melihat bekas tangis, hanya memerahkan wajah dan hidung putih Medina. “Seperti yang tadi kuceritakan, aku memulai usaha warung. Tapi karena kondisiku yang mual, muntah, mencurigakan, dan tanpa suami, jadi, aku diusir.” Gia menoleh ke Gazain, “Mereka merusak warungku sehingga semua barang pecah belah terberai dan bangunan kayunya ambruk. Jangankan untung, modal saja tak kembali.” “Lalu, apa yang kamu harapkan dengan datang ke sini?” tanya Medina lagi. “Dia berjanji akan bertanggung jawab. Aku memenuhi permintaanmu, tidak menghabiskan malam dengan lelaki mana pun sama sekali sejak malam itu. Tidak mungkin janin ini milik orang lain, tapi jika kamu butuh bukti, aku siap diperiksa.” Kini Gia sungguh-sungguh menatap Medina, “Aku bukan ingin merebut suamimu, tapi aku pun butuh suamiku.” Aura asing menyapa tubuh Medina. Rasanya tak nyaman, entah marah atau cemburu. Bisa juga perpaduan keduanya. “Kamu mencintainya?!” Gia tertawa hambar, “Dia tidak bilang kalau kami bersinggungan hanya sejak asar sampai sebelum subuh saja? Bagaimana aku bisa jatuh cinta padanya?” Medina diam. Tawa Gia mungkin saja akan lebih panjang jika ia mengakui bahwa dirinya jatuh cinta pada pandangan pertama kepada suaminya. Gia mengangguk, “Sepertinya tidak detail, ya. Aku bahkan tidak tahu posisi kita bagaimana. Apakah aku merebut suamimu? Karena seingatku dia harus menikah hari itu juga dan rela membayarku. Hubungan kami bukan tentang hati, kalau kamu khawatir bagian itu.” “Ada yang ingin kamu tanyakan lagi, Nona?” tanya Gazain menyela. Ia tak suka keberadaan Gia, dan cukup sebal dengan tingkah polanya. Arogansi Gia belum berubah. Dia butuh, tapi seolah orang lain yang butuh kepadanya. “Silakan, keputusan ada di tanganmu, kamu kepala keluarga, Suamiku,” sahut Medina lembut. Gia berdecak lidah, “Aku benar-benar minta maaf. Bukan inginku juga dia tumbuh. Rumah bahagia kalian belumlah hancur, tapi milikku sudah jelas porak-poranda. Itulah bedanya perempuan dan lelaki. Aku harus mengalami banyak rentetan siklus ini, sementara suamiku mesra dan bahagia tanpa beban apa-apa.” “Tahan ucapanmu!” sentak Gazain tajam. “Kalau sejak awal aku hanya mengambil keuntungan darimu, kamu tidak akan sampai di sini.” Gia mencebik sambil mengangguk setuju. Makanya ia masih yakin untuk lanjut meraih Gazain meski sudah tahu lelaki itu beristri lain. Dari status pernikahan mereka, dari peringatan jika Gia hamil, sampai memberikan tebusan ratusan juta dan siap bertanggung jawab, Gia mempercayai lelaki itu sebagai salah satu orang yang baik sebagai penolongnya. Itu alasan masuk akal untuk menjadikan Gazain sebagai tempat pulang. “Jadi, bagaimana? Aku diterima di rumah ini?” Gazain melempar pandangan kepada dua istrinya bergantian. “Aku akan menetapkan peraturan. Kalau keberatan, silakan katakan.” Medina mengangguk. Gia juga mengangguk saat Gazain meminta pendapatnya. Kemudian Gazain mengambil keputusan penting bagi mereka berempat. “Sampai dia lahir, aku belum akan mendaftarkan pernikahan kita.” Gia menahan sesak dadanya. Entah bisikan dari mana, yang jelas Gia berpikir lelaki itu mungkin saja masih tidak mempercayai Gia bahwa janinnya adalah milik Gazain juga. “Sekarang sudah modern. Bukankah bisa tes DNA bahkan sebelum dia lahir?” “Aku tidak meragukan asal usulnya,” kata Gazain. “Lalu?” Gazain tak mau menjawab kebingungan Gia. Dalam diamnya Gazain berharap Gia tidak akan sampai melahirkan bayi itu, entah keguguran atau bagaimana pun rencana Tuhan untuk tidak mengikat mereka dalam waktu yang lama. Sungguh gila isi kepalanya, tapi Gazain berharap keajaiban keji itu yang terjadi sebelum kurun waktu Gia melahirkan. “Kamu akan tinggal di sekitar sini, tapi bukan di rumah ini. Medina tanggal genap, Gia tanggal ganjil.” Tiba-tiba Medina mengacungkan tangan ke udara, “Kalender ada 31, lalu tanggal 1. Itu ganjil. Kamu akan bersama dia lebih banyak kalau begitu.” Gazain tersenyum senang, “Kamu keberatan, Nona?” Medina menarik diri, mulutnya berkedut, meski diam. Mendadak saja Gazain bergerak lalu mengusap kepalanya penuh sayang, “Hari apa yang kamu mau kalau begitu?” Gia hanya bisa berkernyit lalu membuang wajah dari adegan mesra mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD