Jatah hari

1062 Words
Medina cukup menikmati disentuh suaminya walaupun mereka sedang di depan Gia. Sudah jelas suaminya dengan dia terikat karena bayi semata, bukan perasaan sensitif seperti antara Medina dengan Gazain. Adanya bayaran yang Gia sebutkan memperjelas transaksi mereka sekalipun ada akad sah pernikahan. “Senin, Kamis, dan Minggu. Hari-hari itu kamu bersamanya. Aku mungkin akan puasa sunah Senin-Kamis, Sabtu itu ---“ “Seperti biasa?” potong Gazain. Medina mengangguk pelan. Tentu Gazain tak lupa kunjungan ke panti asuhan meski biasanya dia selalu enggan bersopan santun dengan mereka. “Aku empat hari?” Gia menginterupsi. “Sebenarnya aku bisa saja hidup sendirian. Yang kuperlukan adalah nafkahnya saja, karena selama hamil ini aku mungkin tidak bisa menghasilkan uang.” Medina heran menatap Gia. “Kalian menikah, berhak bagimu untuk mendapatkan nafkah batin juga.” Gia melirik bergantian Gazain dan Medina. Di kepalanya muncul adegan panas mereka malam itu. Bukan Gia sesekali tak terganggu, tapi warasnya mencegah untuk merindu. Gia suka sentuhan Gazain, tapi tanpa ikatan rasa, kejam sekali dirinya menikmati keintiman itu. Medina canggung karena reaksi kaku mengelilingi mereka. Atmosfer pun berubah tak nyaman. “M---maksudku adalah ... perhatian, bantuan di rumah dan mungkin keperluan tentang bayi kalian. Peran ayahnya, kudengar penting juga meski calon bayi masih dalam kandungan.” Gia tak merespons apa-apa. Namun, Gazain peka. Setiap inci ekspresi berubah di wajah Medina, Gazain bisa menebak buncahan emosi sang istri. Saat membicarakan nafkah batin, Gazain tahu bahwa Medina terluka mengatakannya, hanya saja perempuan saleha itu tahu hak Gia sama dengannya. Ingin Gazain bersumpah bahwa ia tak akan menyentuh Gia lagi, tapi tak bisa ditoleransi sumpah semacam itu karena akan menyiksa dirinya sendiri dan Gia juga. Saudari Gazain pernah hamil dan keluhannya saat masa kehamilan adalah lonjakan gairah yang ingin menerkam suaminya selalu. Gazain hanya berharap Gia tak sebrutal saudarinya itu, meskipun Gazain rasa kurang lebih sama saja dua perempuan arogan itu. “Aku bersama kalian masing-masing akan tiga hari saja. Medina selasa, rabu, dan sabtu. Gia hari senin, kamis, dan minggu. Jumat biar jadi hariku. Aku bebas mendatangi kalian hari itu meski tanpa aba-aba,” putus Gazain melerai kekakuan. “Keberatan?” “Setidaknya tinggalkan pesan sebelum datang,” ujar Gia. “Kita buat saja grup bersama,” usul Medina sekaligus mengambil ponselnya. “Sebutkan nomormu, Gia.” Lepas mendiktekan deret angka, Gia menatap Medina dengan pandangan tak memahami. Di matanya, Medina tampak sangat mencintai Gazain, tapi sikapnya menunjukkan dia baik-baik saja dengan kedatangan Gia dan calon bayi mereka. “Tadinya aku bersiap akan dicaci-maki atau dijambak, mungkin juga diusir. Kamu ... menerima begini saja?” Medina yang sibuk dengan ponsel mendadak mengangkat wajah, “Kita namai apa grup ini?” Gia hanya menatapnya diam. Medina mengerjap kepada suaminya, merasa ada yang janggal dari dua manusia lain di sisinya, “Maaf, aku tidak menyimak. Aku melewatkan sesuatu?” tanyanya polos. Gazain menarik napas panjang, lalu menghelanya dengan senyuman pelan. Syukurlah tanya terlontar Gia tak menusuk perasaan istrinya sekali ini. “Aku mencintaimu. Kamu tahu fakta itu dan tidak akan berubah, Nona,” ucap Gazain murni dari lubuk hatinya. Tak peduli Gia akan berpikir dirinya b***k cinta atau lelaki gila pengagum istri sendiri, Gazain hanya ingin Medina tak lupa keberadaan perasaannya. “Ingat selalu itu, rasaku tidak akan berubah, selamanya.” Medina mengerjap tak paham. Polos ekspresinya seperti orang yang baru saja ikut bergabung dan tertinggal berita penting. Gia berdeham menyadari situasi timpang sendiri antara suami istri itu. “Aku masih penasaran. Siapa istri pertama di antara kita?” “Kamu,” jawab Medina langsung. Gia ternganga. Dua hal sebabnya. Tak menyangka jika murni malam itu memang apa adanya Gazain, menikahinya karena sumpah semata. Bukan tentang perawan atau kenikmatan. Gia juga takjub dengan tipu daya Gazain yang berhasil menikahi Medina tanpa membongkar surga semalam mereka. Medina kembali ke ponselnya, “Nanti saja kita namai grupnya. Jadi, sekarang bagaimana? Gia akan istirahat di sini sebentar sampai kontrakan yang tepat didapat?” tanya Medina kepada suaminya. “Kamu ingin ikut mencari atau tunggu di sini, Gia?” tanya Gazain datar kepada perempuan asing itu. “Aku tunggu di sini. Kamu lebih menakutkan daripada Medina,” balas Gia apa adanya. Gazain tak meladeni kalimat itu. Akan ada banyak waktu untuk membuat perhitungan kepada istrinya itu, tak harus di depan Medina. Lelaki tampan tersebut menghela napasnya kemudian bangkit, “Aku pergi dulu, Nona.” “Ya. Hati-hati di jalan, Suamiku.” Gia merinding geli. Tertutup pintu oleh Gazain, Gia angkat bicara lagi, “Selalu menyapanya begitu? Suamiku?” ulang Gia meniru dengan wajah jijiknya. “Kadang-kadang.” Medina bangkit tanpa memasukkan ke hati. “Sebentar, ya. Aku ganti sepreinya dulu.” “Aku akan istirahat di kamar kalian?!” pekiknya tertahan. “Tidak. Itu area pribadi kami. Kamu dilarang ke sana. Ada kamar kosong yang kata Gazain ....” Medina menggantung kalimat. Gazain bilang saat membangun rumah itu dia mengantisipasi jika ada yang akan menginap, tapi sampai kini belum siapa pun yang pernah tidur di sana. Pernah juga Medina tanyakan tujuannya, mungkin sebagai kamar calon anak. Tapi Gazain benar-benar menggeleng keras dan suaminya bergurau bahwa Gazain tak pernah berencana menikah sebelumnya apalagi untuk punya anak. Alasan keberadaan kamar itu hingga kini masih misteri bagi Medina. “Ada apa? Kamu tiba-tiba melamun,” tegur Gia. Sempat Medina tersentak, tapi segera senyum lembutnya mengalihkan fokus lawan bicaranya. “Kamu pastinya suka memasak, nanti ajari aku sesekali.” Gia bersedekap tangan di dadda, “Aku berpikir, kamu memang terlihat saleha, tapi sesaleha apa perempuan yang rela berbagi suaminya? Jujur saja, kamu seolah mengajakku berteman. Aku salah?” Lagi, senyum lembut Medina kerahkan. “Gazain suami yang baik. Syariat membolehkan poligami. Apa salahnya kita berusaha akrab dan membuat poligami terlihat indah sebagaimana seharusnya yang Rasulullah contohkan?” Gia menggaruk kepalanya, tak paham. Benar-benar sulit memahami sikap Medina. Naifkah? Atau ada rencana lain di balik kebaikannya? Sepanjang pengalaman Gia hidup. Tak ada yang berhasil poligami selain Rasulullah 1400 tahun yang lalu atau para sahabat dan generasi setelah mereka, sementara zaman sekarang sepertinya selingkuh lebih dimaklumi daripada poligami. Bisa jadi Medina adalah salah satu yang berjiwa lampau 1400 yang lalu? Gia mengedikkan bahunya sendiri sebagai jawaban untuk pikiran liar yang singgah itu. “Dingin? Ada selimut. Akan aku ambilkan,” pamitnya ke kamar tidurnya bersama Gazain. Gia dibuat heran dengan sikap baik Medina. “Mungkin saja dia baik-baik saja karena tahu aku tidak akan merebut hati suaminya?” Monolog Gia hanya dibalas dingin oleh udara.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD