Dengan payung yang terombang-ambing oleh angin, ia menerjang hujan. Tetesnya begitu besar. Dahsyat dingin dan basah air menembus hingga kulit di balik bajunya. Cukup mempersulit usaha, tetapi Gia tetap berjalan penuh debaran menuju rumah pak RT. Tugas beliau sebagai orang pilihan masyarakat setempat salah satunya sebagai tempat rujukan bantuan. Dan, Gia saat ini membutuhkannya. Baru setengah jalan, Gia hampir saja ditabrak seseorang pengendara motor. Lampunya menyorot silau. Meski refleks menutup mata, secepatnya Gia pikir itulah penyelamat yang Tuhan kirimkan. "Ibu Gia?!" Suara samar teredam hujan itu membuat Gia berani membuka mata kembali. Netranya nyalang, "Bibi!" Seruan Gia teredam, tapi syukurnya melambung karena mereka saling mengenal. Di antara deras hujan kalimatnya terdengar

