Gazain terbangun oleh panggilan Gia, tidak ditolak, tapi ia biarkan senyap deringnya. Hujan guntur membuat beku, ditambah pula sapuan angin dari pendingin udara yang masih menyala. Gazain menoleh pada istrinya, Medina masih lelap, selimutnya sedikit tersingkap. Gazain sigap menyelimuti lagi. Ia juga mematikan AC. Ponselnya sekali lagi menyala. Ternyata perempuan itu menghubungi dua kali. Namun, respons Gazain tak berbeda dari sebelumnya. Ia abaikan meski muncul pesan beruntun juga dari Gia. Bantulah aku. Kontraksiku seperti akan melahirkan. Tolong, datanglah. Ada lebih banyak kalimat daripada tiga baris itu, tapi Gazain pilih memejamkan mata, menutup hati dari kesulitan Gia. Perempuan itu berani tak menghargainya, tak perlu lagi Gazain ulurkan tangan kepadanya. Lagi pun Gia tidak

