Negosiasi

1445 Words
“Siapa kamu?” tanya Gazain setelah melepaskan penutup mulut gadis itu. “Tolonglah, lepas juga ikatan yang lain,” pintanya memohon. Suara seraknya benar-benar memperhatikan. Gazain jadi ingat ada air mineral di mobilnya, tapi rasa enggan menghinggapi untuk berbaik hati. Dicegahnya diri dari menyajikan barang mulia itu untuk si perempuan malang. “Tolonglah! Aku mohon,” pintanya lagi, dengan air mata mengalir deras. Gazain perhatikan pakaian gadis itu. Jilbab putihnya, wajah pucatnya, dan gaun ala pengantin yang sedang dia kenakan. “Kamu sedang cosplay jadi hantu perawan? Pakaian putihmu seperti ... akan menikah.” Gazain mendudukkan diri di depannya. Dengan tangan melingkari kedua lutut ia berkata, “Biar kutebak. Kamu ... dijadikan tumbal untuk menikah dengan makhluk halus di sini?” Perempuan itu menatap kosong Gazain. “Aku salah? Kukira masih ada orang-orang bodoh begitu.” Perempuan di depannya memelas, “Aku ... hanya minta kamu melepaskanku, itu saja. Tolonglah aku sebagai sesama manusia.” Gazain mengangguk santai tanpa niat buru-buru untuk membuka ikatan perempuan itu. “Katakan padaku apa yang terjadi padamu?” Dia menggeleng. “Aku bisa mati kelelahan kalau kamu memaksaku sekarang.” Wajah pucatnya memang antara hidup dan mati. “Baiklah. Kamu sudah menikah atau akan menikah?” “Gagal menikah.” Gazain menimbang masih sangat bagusnya kondisi gaun perempuan itu dan juga jilbabnya. “Kapan seharusnya kamu menikah?” “Hari ini, tadi pagi. Mereka malah mengikatku di sini dari sejak subuh tadi lalu memberiku obat bius.” Perempuan itu meratap penuh harap, “Kurasa ada ... pemakaman baru, sayangnya tak satu pun dari mereka yang mendeteksi keberadaanku. Jadi, kumohon, tolonglah aku. Sebelum malam atau hal buruk lain menimpaku, berbaik hatilah kepadaku.” “Akan kutolong jika kamu bersedia menikah denganku,” balas Gazain serius. Dia mengerjap. “Aku serius,” Gazain menegaskan. “Aku ingin bertemu ayahmu.” Perempuan itu murung, melirik ke sebelahnya, “Beliau dimakamkan kemarin. Sebab beliau meninggal, itulah mengapa nasibku berubah.” Gazain tersentak. Rasa ngeri mengerubunginya, “Kamu serius?” “Kamu pikir aku sukarela diikat begini, di tinggalkan sendirian di sini?!” pekiknya murka. Gazain pun berpikir ulang. Mana mungkin tak ada yang mencarinya jika dia masih punya keluarga, terlebih dengan kasus pernikahan gagal yang dia katakan. “Kalau begitu siapa walimu kalau kita menikah?” Perempuan itu menengadahkan kepala, putus asa, “Ya Tuhan! Aku antara hidup dan mati, kamu hanya memikirkan pernikahan?!” “Bagiku, pernikahan juga hidup dan mati!” sentak Gazain tajam. Gurat takut dan terkejut perempuan itu menenangkan Gazain lagi. Selalu begitu darah sang ayah mengalir padanya. Jangan sampai perempuan putus asa seperti dia juga menolak jadi tumbal sumpahnya. “Siapa yang akan menjadi wali nikahmu?” “Paman Gorgi. Dia adik ayahku.” Gazain mengubah posisi, berjongkok di depan perempuan itu, “Berapa usiamu?” “Dua puluh lima tahun.” Gazain mengangguk. Selisih mereka sepuluh tahun dan itu bukan masalah sama sekali. “Begini. Aku akan menikahimu secara sah dalam agama. Aku ... akan menidurimu.” Gazain perhatikan mata perempuan itu mendadak liar dan gugup. Bagian depan tubuhnya juga naik turun, entah marah atau sangat takut. “Kubilang aku menikahimu secara sah, halal bagiku me ... melakukannya,” Gazain menekankan. “Akan kusiapkan mahar untukmu dan kamar hotel untuk kita. Kita tidak saling menganal atau punya urusan lagi ketika esok paginya. Paham?” “Pengantin semalam?” “Ya.” “Mengapa harus repot menikah?” tanyanya sinis. Gazain menatap lekat maniknya, “Kamu lebih suka dizinai?” Perempuan itu memalingkan wajah. “Pamanku yang mengikatku di sini. Dia dan calon suamiku.” Gazain tersentak lagi. Dalam sekejap tawarannya berubah jadi begitu mengerikan dari sisi perempuan itu. “Aku hendak bersimpati atas kejadian yang menimpamu, tapi aku tidak bisa. Akan kulepaskan jika kamu setuju menikah denganku dan jadi pengantin sehari bersamaku.” “Jika tidak?” tantangnya tenang. Gazain mendapati kesan familier. Terkenang akan sifat handal saudarinya yang begitu lekat dengan keangkuhan. Saudari kembar Gazain selalu menggunakan angkuhnya untuk menutupi takut. “Kubiarkan saja kamu di sini. Aku harus mencari perempuan yang bisa jadi pengantin sehariku.” “Mengapa hal itu sulit?” tanyanya heran. “Penawaranmu cukup bagus.” “Lalu mengapa kamu menolak penawaran bagus ini, hm?!” “A---aku tidak mau berurusan dengan pamanku lagi!” Gazain berkerut kening. Menurutnya perempuan itu harus bangkit dan menjadi momok bagi kehidupan paman dan calon suami pengkhianatnya. Namun, aneh sekali, dia malah seperti ingin lari dari mereka. “Aku berikan 100 juta untukmu jika kamu bersedia.” Perempuan itu langsung mengangkat wajah dengan tatapan terkejut. “Kamu punya uang sebanyak itu?” Gazain mengangguk. “Pernikahan semalam ini penting untukku. Itu janji yang harus kutepati hari ini juga. Jadi, jika kamu mau membantuku, aku pun akan membantumu.” “Perlihatkan dulu padaku uang seratus juta itu. Entah di rekeningmu atau apa pun caranya.” Sebenarnya Gazain tak suka dia. Benar-benar gaya minta tolongnya begitu tak tahu diri. Sudah jelas Gazain di sini sebagai satu-satunya bantuan yang ada, tapi dia malah bersikap layaknya Gazain yang butuh pertolongannya. Namun, Gazain tak mau lebih lama negosiasi mereka. Jadi ia mengeluarkan ponsel dan memamerkan saldonya. Mata perempuan itu langsung seperti akan keluar dari kelopaknya. “Bersedia?” “Jujur saja, saldomu memang banyak, tapi jika menyerahkan 100 juta kepadaku sisanya akan sedikit sekali.” Nada remeh itu membuat Gazain geli. “Kamu pikir aku hanya menyimpan uang di satu bank?” Dia meneguk saliva dengan canggung. “Baiklah. Lepaskan aku dulu.” Gazain mulai dari ikatan di tangannya. “Siapa namamu?” “Gia.” “Jangan berharap kabur dariku, Gia!” ucap Gazain penuh peringatan. Perempuan itu memutar bola matanya, “Tolonglah, mengapa kamu takut begitu padahal aku perempuan tak berdaya yang sudah kehabisan tenaga begini?” Gazain mencebik. Benar-benar tajam mulut perempuan yang sedang ditolongnya. Kalau bukan terpaksa, Gazain tak akan mau menjadikan dia sebagai teman pelepas perjakanya. “Kamu masih cukup bertenaga untuk mengomentariku.” Perempuan itu tak menanggapi. Dia hanya menutup mulutnya dan fokus membantu diri melepaskan ikatan di tubuhnya sementara Gazain beralih melepas ikatan di kakinya. “Baiklah, Gia. Aku akan membawamu ke hotel dulu ---“ “Kamu bilang tak mau berzina!” pungkas Gia panik. Gazain berdecak lidah. Tatapan tajam Gia seperti siap membelahnya. “Dengarkan! Aku akan membawamu ke hotel dulu. Di sana kamu mandi, makan, dan istirahat sebentar. Biar kubantu kamu untuk tidak terlihat menyedihkan saat kita mendatangi pamanmu nanti. Sementara itu, aku akan menyiapkan maskawin dan gaun pengantinmu yang baru. Kita datangi walimu dengan gaun pernikahan langsung, malam ini juga.” Gia menahan napas selagi mendengarkan. Tak ada respons juga setelah kalimat Gazain utuh diucapkan. “Atau kamu punya rencana lain?” tanyanya curiga. Gazain memang perlu waspada. Hari beranjak semakin petang, belum tentu ia bisa menemukan perempuan malang lainnya yang bersedia dinikahi serampangan begini. “Terima kasih,” ucap Gia menggigit bibir pucatnya. “Karena menawarkan pernikahan, bukan zina.” “Hanya semalam,” Gazain menekankan. “Esok hari kita tidak akan saling mengenal lagi.” “Ya. Aku mengerti.” Gazain mengembuskan napas leganya. “Aku juga berterima kasih.” Akhirnya lepas semua ikatan Gia dari pohon rindang itu. Setitik senyum lega mencuat di wajahnya. Namun, tak berlangsung lama, dia buka suara tentang kekhawatirannya. “Tapi, tolong pisahkan maskawin dari uang 100 juta itu. Jika kita tidak akan saling mengenal esok paginya, aku juga ingin memulai hidup baru tanpa diusik paman dan masa laluku. Aku tak mau keserakahan mereka mengambil juga uang itu dariku.” “Baiklah.” Gazain membantu Gia berdiri. “Kakiku kram sekali,” rengutnya sambil meringis. “Sudah jam berapa sekarang?” “Mungkin asar sebentar lagi atau ... sudah lewat?” Gazain mengangkat bahu singkat. “Syukurlah aku tidak melewatkan malam di sini,” ucapnya lega lalu bergidik ngeri. “Ngomong-ngomong siapa namamu?” “Gazain.” Perempuan itu berkernyit dahi, “Hanya itu?” Gazain mengangguk mantap, “Hanya itu.” Dia mencebik, “Simpel sekali.” “Kamu sendiri?” “Aku ...,” Tawa getir keluar dari bibirnya. Dia menyingsing gaun pernikahannya hati-hati sambil melewati pusara di sepanjang langkah mereka. “Bahagia Khumaira. Sayangnya sama sekali tidak ada bahagia dalam hidupku.” “Khumaira?” gumam Gazain teringat sosok pewaris istimewa trah Abinaya. “Ya,” Gia mengangguk polos. Gazain terbang angan kepada satu-satunya perempuan yang pernah ia dambakan, Khumaira Abinaya. Kisah cinta terpendamnya yang mustahil terwujud. “Jadi, kamu juga datang karena makam baru itu?” Suara Gia memecah lamunan Gazain. “Abifata? Siapa dia?” tanyanya lepas membaca tulisan di nisan. “Musuhku!” jawab Gazain kasar. Perempuan bergaun pengantin kotor itu mengusap lengannya yang merinding, “Itukah alasan kamu perlu pengantin semalam?” “Ya.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD