Bahagia Khumaira. Memang itu nama yang disematkan padanya sejak akikah hari ketujuh kelahirannya dulu. Meski sulit dinikmati, mana bahagia dalam hidupnya, tapi Gia berusaha tetap bertahan. Sekalipun ditawari sebagai pengantin semalam, Gia masih memikirkan itu sebagai bentuk kemurahan Tuhan. Lebih baik begini daripada ia terikat di kuburan, yang entah akan sampai kapan. Belum tentu pula Gia akan diselamatkan dengan cara lebih manusiawi dari pada tawaran Gazain ini.
Gia berbusana pengantin yang baru, langkahnya anggun turun ke lobby hotel untuk menjumpai calon suaminya. Tanpa banyak bicara lagi lelaki tampan bermata bening dan tajam itu membawa Gia menaiki mobilnya. Rencana mereka sudah tersusun rapi. Gia akan terlihat ... kuat, malam ini. Syukurnya Gazain benar-benar lebih unggul daripada Aslaf, sang pengkhianat itu.
“Kira-kira apa yang akan kita hadapi? Mereka pasti masih berharap kamu terikat di pohon sampai malam ini,” kata Gazain sambil menyetir.
Gia mendengus lalu melipat tangan di d**a. “Aku tak tahu. Paman mengatakan Aslaf akan menikah dengan Nana, putrinya. Mereka membuatku seolah-olah kabur di hari pernikahan kami.”
“Perempuan malang,” komentar Gazain tanpa perasaan.
Gia tak menyahut, tak mengambil hati. Andai Gazain tahu apa yang telah diperbuat ayahnya kepada mereka, tentu Gazain tak akan berkata begitu. Gia sadar dirinya bukan perempuan baik hati dan pemurah sekali, tetapi kejahatan ayahnya telah membuat orang-orang beranggapan Gia sama seperti sang ayah pula.
Pukul delapan malam mereka tiba di rumah megah, warisan ayah Gia. Ada pesta yang masih berlangsung di aula utamanya.
“Kamu tak bilang kalau kita akan disambut meriah begini,” pungkas Gazain tak suka.
“Aku juga tak tahu. Rencana pernikahanku hingga sampai siang dan tak ada acara malam harinya,” Gia menghela napas, “Tapi ini bukan pernikahanku lagi.”
Gazain tersenyum manis, “Yah, pernikahanmu yang sebenarnya adalah denganku.”
Gia tak menanggapi lagi. Dibawanya langkah masuk dan jadi sorotan mata mereka.
“Untuk apa kamu kembali lagi, hah?! Setelah membuatku jadi pengantin pengganti untukmu ---“
Gia melibas udara untuk menghentikan drama sepupunya. Antara sadar dan tak sadar Gia ketika subuh tadi Nana, Paman Gorgi, dan Aslaf menyerbu kamarnya. Mereka mengatakan dengan jelas semua rancangan busuk mereka untuk Gia dan ... itulah semua yang telah terjadi. Penuh percaya diri Gia berkata, “Aku memang tidak pernah mencintainya. Aku juga tidak peduli warisan apa pun yang kalian perebutkan dariku. Aku hanya datang untuk pernikahanku sendiri. Mana ayahmu?”
“Si---siapa dia?” tanya Nana menyadari sosok lelaki yang dibawa Gia.
“Bukan urusanmu!” Gia menarik Gazain untuk ikut dengannya. “Mungkin paman Gorgi di lantai atas.”
Nana ditinggalkan bersama bisik-bisik kelompok kecil pestanya. Sementara Gia dan Gazain harus bertatap muka dengan musuh lainnya. “G---gia?! Bagaimana kamu bisa ... ada di sini?!”
Senyum Gia miring terukir, “Kamu seperti melihat hantu, Aslaf. Terima kasih karena melepaskanku tepat waktu. Aku pasti akan sengsara jika hidup menjadi istrimu. Bukan saja mengkhianati kepercayaan ayahku, kamu juga menjual darah keluargamu, dan jadi penjilat demi ... hanya demi semua ini,” kata Gia mengedarkan pandangan ke sekitar mereka dengan remehnya.
“Ba---bagaimana ...!”
Gia melewati saja lelaki gagap dan dungu itu. Sengaja ditabraknya bahu Aslaf hingga si lelaki kurus dan mengerikan itu tersingkir dari jalannya. “Urusan kita selesai, Aslaf. Nikmati saja pernikahanmu dan harta yang kalian menangkan.”
Gazain tak mengucapkan apa-apa dan tak menanggapi dengan syok juga. Sikap Gia dan kejadian tak terduga yang mengelilinginya, Gazain maklumi. Sampai mereka tiba di lantai dua dan bertemu dengan Paman Gorgi yang Gia maksud.
“Keberuntungan masih memihakmu, Gia. Bagaimana bisa kamu bebas?” Lelaki itu memainkan gelas di jemarinya. “Ah, kudengar ada yang dimakamkan hari ini.”
“Aku tidak ingin terlibat masalah apa pun dengan Paman dan keluarga Paman lagi. Aku datang karena hubungan darah kita. Aku butuh Paman sebagai wali nikahku,” jelas Gia tak membuang waktu.
“Nikah?” Paman Gorgi melihat penampilan Gazain dan Gia dengan tatapan mencemooh. “Kamu benar-benar mendukung rencana kami, Gia. Coba kita bisa kerja sama, tak perlu kami mengikatmu di sana.”
Gia membuang wajah. “Kalau aku menjadi bagian dari kalian itu berarti mengkhianati ayahku.”
Paman Gorgi memamerkan seringainya. “Kami tak tahu kalau kamu punya kekasih, bahkan ayahmu ... kurasa dia juga tak tahu.”
Gia pun tak tahu jika satu hari ini tertulis dalam takdirnya.
“Terserah saja. Asal kamu benar-benar menjauh dari hidup kami.”
“Aku janji!” Gia pun muak harus diseret dosa yang dilakukan ayahnya. Ia ingin menata ulang hidupnya yang baru, jauh dari masa lalu dan kemunafikan.
Paman Gorgi meletakkan gelasnya. “Pelayan! Panggilkan penghulu pagi tadi. Suruh dia datang sekarang juga.”
“Tidak perlu. Kami bawa penghulu lainnya,” tolak Gia angkuh. “Maskawin. Calon pengantin. Wali. Apa lagi yang kurang?”
Tatapan sinis Paman Gorgi mencemooh Gia dan Gazain. “Dengan apa kamu membayarnya, Gia?”
“Oh, itu bukan sama sekali urusanmu, Paman.”
“Aku sama sekali tidak paham jalan pikiranmu,” decak Paman Gorgi heran.
“Syukurlah. Teruslah sakit kepala saat Paman mencoba menerkanya,” sengit Gia. “Nikahkan kami, aku akan angkat kaki dari rumah ini. Pelayan! Siapkan semua ... semua barang-barangku. Jangan ada satu pun tertinggal!”
Tak ada pelayan yang mematuhinya. Senyum culas Paman Gorgi mengembang, “Kamu bukan lagi putri kastil ini, Nona.”
“Bagiku ini bukan kastil, tapi neraka. Bahagia memang tidak mungkin ada di neraka,” pungkas Gia tenang.
Memerah telinga Paman Gorgi lalu dia memerintahkan pelayannya untuk melakukan titah Gia. Dalam sekejap Gazain dan Gia sah secara agama sebagai suami istri. Urusan Gia dan pamannya berakhir di malam itu.
“Karena kita tak akan saling mengenal setelah malam ini, anggap saja kamu tak tahu apa-apa yang terjadi tadi,” ujar Gia dingin kepada suaminya.
Segaris senyum melebar di sudut bibir Gazain, “Tidak, aku tidak peduli sama sekali.”
Mendadak saja Gazain menghentikan kendaraan di depan sebuah apotek. “Ada yang ingin dibeli di sini?” tanya Gia tak mengerti.
“Ya. Turunlah, beli obat pencegah kehamilan.”
Gia mengerjap. Masih menerka apa inti kalimat lelaki itu sampai ia diingatkan oleh gaun dan ikatan pernikahan mereka yang baru saja terjalin. “Benar. Kita akan berakhir malam ini. Jangan sampai ada bayi.” Perempuan itu menengadah tangan, “Aku tak tahu harganya berapa, kurasa uang 100 ribu pasti ada kembaliannya.”
Gazain merogoh dompet dan meletakkan selembar yang diminta Gia. Tak tunggu waktu perempuan itu turun dan berbicara dengan petugas apotek. Singkat, sekitar dua menit saja Gia sudah kembali lagi ke sisinya dan mereka pun lekas balik ke hotel sebagai tujuan satu-satunya.
Baru sekarang Gazain benar-benar masuk ke dalam kamar sewa itu, setelah sah mereka berdua sebagai pasangan halal. “Minumlah obatnya.”
Gia khawatir. Semua ketakutan dalam benaknya akan terjadi, bagaimana pun juga ia masih perawan dan terlihat Gazain mungkin saja tak akan bersikap lembut. Semua kisah mengatakan betapa sakit kali pertama itu bagi perempuan, tapi Gia juga penasaran akan seperti apa sensasi nikmat yang katanya disukai semua orang.
“A---aku akan ke kamar mandi sebentar,” pamit Gazain malu-malu. Berdebar ia, berada di depan gerbang kenikmatan bagi mereka berdua. “Bersiaplah.”
Gia mengangguk, bertekad pula. Sudah disediakan gaun malam atraktif oleh Gazain, wangi bersih selepas dari binatu. Gia lepas gaun pengantin dan jilbabnya lalu memakaikan kain tipis itu dan mematut diri di cermin. Harusnya ia tak akan menyesali apa pun. Gia sempat sedih karena harus hanya semalam saja status sebagai istri dan kehidupannya benar-benar berubah esok pagi. Namun, ketika ingat yang terjadi sejak kemarin, Gia ingin meluapkan semua emosinya malam ini, sebelum memulai segalanya dari awal lagi esok hari.