Kisah Adam dan Hawa

1182 Words
Pembicaraan dengan suaminya amat menyesakkan. Namun, harus diselesaikan dengan saling terbuka. Medina menunduk, sembunyi dari malu karena harus mengungkapkan fakta dalam hatinya. Apa yang diinginkannya terhadap madu bernama Gia. “Aku perempuan biasa. Pernah kudengar kisah yang bilang Hawa cemburu saat Nabi Adam terlambat pulang, padahal beliau satu-satunya perempuan di muka bumi saat itu. Aku cemburu. Baru memikirkan tidur tanpa ragamu di sisiku, aku sudah cemburu. Dan ... demi Allah, halal bagimu menikmati malam dengan Gia, Gazain.” Kalimat akhir itu sukses mendesak air mata keluar lagi dari Medina. Terluka, sudah tak bisa dipungkiri lagi sakitnya. “Aku ... tidak seburuk itu, kan? Aku tidak ingin neraka menantiku hanya karena membiarkanmu zalim kepadanya. Aku haruslah mendukung, mengingatkan kewajibanmu atasnya sama seperti untukku. Surga jauh sekali sejak datang mereka, Gazain. Tapi, jalan yang ujungnya surga, hanya ini, satu-satunya.” Gazain hanya bisa menyimpan kekalutan istrinya itu dalam memori kepalanya. Sakit yang Medina katakan sudah sampai ke batinnya juga. “Aku ... jahat sekali,” lirihnya berderai air mata. Gazain nelangsa melihat butir air mata istrinya menetes lebat laksana hujan. “Aku harus bagaimana, Nona?” Medina mengangkat tangan, tanda penolakan saat Gazain hendak memeluknya. Isak yang menyesak di daddanya tak sanggup untuk dipaksa bicara. Gazain pun mematung dengan ekspresi sengsara. Keduanya hanya melerai puncak kesal diri masing-masing tanpa satu pun kata. Medina kemudian menatap suaminya lagi, menyentuh wajahnya hati-hati, “Aku ... mencintaimu. Kuharap Allah kekalkan cinta kita terus lurus sejalan dengan fitrahnya. Tetap dalam kebaikan, Suamiku, bermuara pada kasih-Nya dan berlabuh di surga bersama.” Gazain sudah menangis dalam hatinya, tapi tak ada air mata nyata seperti milik sang istri. Ia menoleh lalu jemari lentik Medina dikecupnya khidmat. Gazain benar-benar tahu kegilaan yang sama sedang menyerang Medina juga. Sebagaimana dirinya, Medina pun tengah berkutat dengan ketidakrelaan, tapi harus memaksa diri demi kebaikan dan apa yang benar untuk dilakukan. “Kita harus terluka, Nona?” Medina mengangguk tegas dan banyak. Luruh air mata layaknya tetes hujan tak berjeda. “Sekalipun lahir bayi itu nantinya, jangan ceraikan dia. Perceraian adalah kursi kehormatan bagi syaitan. Jangan bahagiakan musuhmu,” pinta Medina selaras syariat kepercayaannya. Bagi Gazain musuhnya bukan hanya syaitan, tapi juga Gia dan kandungannya. Duka Medina dan apa-apa yang menyakiti kekasihnya itu juga adalah musuh Gazain, bahkan, ia sedang memusuhi diri sendiri juga karena telah memberi Medina luka. “Sungguh, aku ... memang berusaha ikhlas,” ujar Medina menyeka tangisnya. Seulas senyum coba digambarnya di wajah, “Tidak semua perempuan diuji sepertiku. Satu derajat surga bersama para Ummul Mukminin, harus sama juga ujiannya? Aku akan berusaha ber-syiar, poligami itu indah, yang disyariatkan semuanya baik.” Gazain menatapnya, menemukan tekad baja milik Medina. Tapi kemudian, istrinya itu menarik napas panjang lalu cepat-cepat menangkup wajah yang banjir air mata lagi. “Ampuni aku ya Allah!” Kali ini Gazain menerkam istrinya. Berontak Medina, tapi Gazain rengkuh sangat erat tubuhnya. “Maafkan aku, Nona.” Medina memukul suaminya. “Aku benci sumpahmu. Aku benci satu malam kamu dengannya itu!” Gazain pun, saat ini menyesali keputusan bodohnya. Namun, tak tahu akan begini masa depan menyiksa mereka. Gazain tak pernah menduga akan menikah dengan kebahagiaan penuh cinta. “Aku tahu. Logikaku bilang kisahmu dengannya lebih dulu, tapi aku ... menyesal untuk itu. Aku menyesali pertemuan kita yang terlambat. Aku menyesali Nabi Adam yang diturunkan ke bumi hanya karena buah! Aku tahu, Gazain. Allah lebih dulu merencanakan Nabi Adam akan turun ke bumi dan jadi khalifah, jauh sebelum kasus dengan buah itu. Tapi, aku berharap beliau diturunkan baik-baik dari surga, bukan bersama embel-embel kesalahannya. Aku ... mungkin saja namaku sudah ada di pintu surga, pemilik salah satu istana di sana, tapi karena kehadiran dia ... tiba-tiba muncul lebih jelas namaku di pintu neraka. Gia adalah buah yang sama dengan pohon di surga itu, Gazain. Aku harus patuh perintah Allah sampai kakiku menapak surga. Bukan tergelincir jatuh pada ujian-Nya lalu diturunkan ke dasar neraka. Namun, sanggupkah aku?!” Medina yang tak pernah membalas ucapan selain dengan kelembutan. Medina yang tak pernah berkata kasar, kini terus-menerus mengeluhkan takdir mereka. Sungguh, Gazain memang membenci Gia. Belum satu hari kedatangannya sudah sejauh ini efek yang dia bawa. “Aku terlihat sempurna, tapi aslinya tidak begitu. Aku ... jahat, Gazain. Aku ingin bayinya, tapi tak mau Gia ada di antara kita. Akulah si munafik itu,” rutuk Medina sesak. Gazain sama sekali tak menghakimi. Istrinya hanya sebatas itu, Gazain malah berharap Gia hilang tanpa bekas, sekaligus semua ingatan tentang mereka. “Hari ini, hari yang paling banyak kamu bicara, Nona.” Medina melepaskan diri saat dirasa pelukan suaminya tak seerat tadi. “Rasanya lebih baik setelah diungkapkan semua,” katanya lega. Gazain menyeka air mata dan rambut istrinya. Bagaimana pun juga mereka sudah sepakat akan menerima Gia dan menanggung konsekuensi bersama. “Aku harus mengeluarkan Gia dari rumah ini, secepatnya. Semoga itu bisa mencabut sebagian sesakmu, Nona.” Medina menghela napas beratnya. “Aku tidak boleh tahu tempat tinggalnya?” “Kalau itu akan menyakitimu, sebaiknya jangan. Tunggulah reda dulu dan buat persiapan semampumu.” Gazain menangkup wajah Medina, memaksakan sang istri menatapnya, “Aku mencintaimu, hanya kamu. Sebatas tanggung jawab saja hubunganku dengan Gia. Pertahankan keyakinan ini.” Medina mengalihkan mata sehingga Gazain kesal dibuatnya. Solah sang istri meragukan kalimatnya. “Inginku memegang langsung bola matamu agar kamu percaya kesungguhanku.” Medina menudingkan telunjuk ke dadda suaminya, “Ingin kubelah daddamu dan mengambil jantungmu supaya tak berdetak ketika dekat dengannya!” Gazain syok. Baru kali ini kemurkaan benar-benar tampil pada istrinya. Medina menggigit bibir, napasnya memburu. “Aku percaya padamu saat ini, tapi tidak ada jaminan hingga nanti. Rasa percayaku bisa luntur. Rasa cintamu bisa pudar.” Medina kemudian bangkit dan menyambar jilbabnya. Tegas telah mengambil alih dia setelah diluap air mata. “Aku akan menghadapi sakitku sendiri. Kuminta kamu tidak menambah lukaku. Itu saja.” Gazain gila. Ia tahu dirinya pantas menyandang kata itu. Pada saat Medina di puncak murkanya, benda di antara dua paha Gazain malah mengacungkan semangat yang sama. Bukan amarah diri sendiri, Gazain hanya ... b*******h, ingin menaklukkan emosi sang istri detik ini juga. “Lepas pakaianmu, Medina.” Perempuan yang semula mematut wajah di cermin itu berbalik heran, “Aku salah dengar?” Gazain melepas bajunya, menampilkan tubuh polos yang menawan untuk mata sang istri, merayunya tanpa embel apa-apa. “Turuti mauku, Nona.” Satu alis Medina menanjak. Tak bermaksud menolak secara langsung, tapi Medina punya alasan untuk menunda kebutuhan suaminya. “Dia di kamar sebelah. Dia sedang menunggu kabar darimu.” Gazain turun dari tempat tidur lalu membopong istrinya itu hingga kembali ke ranjang. Dikurungnya Medina yang terbaring dengan kedua lengan, “Ada singa dalam dirimu, Nona. Singa betina yang sanggup berburu dan ditakuti pejantannya. Aku suka kucingku, tapi aku penasaran, apakah singa ini mau melumatku juga? Belum pernah kulihat dirimu yang tidak menarik, kamu punya sisi itu?” Medina menggulung bibirnya. Niatnya ingin menjaga perasaan Gia, tapi apa daya dirinya ikut tergoda. “Aku bersalah,” ujar Gazain lagi. “Hukum aku, Nona.” Medina kemudian menarik leher suaminya. Ketika Gazain mulai merayu, sang istri berbisik, “Minta maaflah seratus kali selama kita menuntaskan ini!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD