Untuk mempertahankan harga diri, akhirnya Yumna menarik kain penutup yang terbalut rapi pada kepalanya di depan Devian.
***
Di luar ekspektasi, ia bisa merasa sesenang sekarang setelah mengerjai Devian. Selanjutnya, tugas Yumna menaklukkan si mama yang sedari tadi fokus melihat wanita berpakaian syari yang berbicara dengan putranya.
Detak jantung Yumna kembali tak beraturan, menatap sang mertua. Perlahan ia mendekat.
"Assalamualaikum, Ma," ucapnya sembari meraih tangan Nyonya besar yang ekspresinya terlihat dingin untuk mencium punggungnya disusul sang papa yang berdiri di sampingnya.
"Waalaikumsalam." Bibir yang nampak sedikit berkerut itu menjawab pelan. "Kamu tidak pernah bilang kalau istrimu kerudungan, Dev!" serunya lagi, seolah Yumna tidak sedang di hadapannya.
'Deg.' Mahasiswi jurusan pendidikan Islam itu terhentak. Kepalanya urung mendongak saking gugupnya. Kali ini ritme dari debaran di d**a tidak bisa lagi didefinisikan.
"Em, iya Ma. Dev lupa." Devian menjawab enteng.
"Kamu selalu melupakan hal sepenting itu! Padahal kamu harus perhatian pada wanita yang kamu cintai!" Wanita itu mengomel. Hal yang biasa dilakukan pada Devian. "Atau jangan-jangan kamu juga dipaksa menikah olehnya." Kini tatapan Nyonya Adiwijaya kembali pada Yumna.
"Ya?!" Yumna menatap heran. Mulut mungilnya seketika nyengir saat memahami maksud wanita di hadapannya.
"Iya, itu kan karena Mama yang gak sabar!" Suara Devian menekan sambil senyum-senyum.
"Ah, baguslah. Kamu memang harus dapat yang baik untuk kehidupan yang baik, Dev." Kali ini Nyonya besar itu memegang pundak Yumna. "Kamu lebih manis dari yang kubayangkan."
Yumna kembali menatap tak percaya apa yang baru saja wanita itu katakan. Ia terkejut, tapi juga lega. Benar kata orang, seburuk apa pun gaya hidup seseorang, mereka ingin memiliki keluarga baru yang sholeh.
"Tolong bersabar ya, Devian memang terkadang kekanak-kanakan. Itu karena dia anak tunggal."
Yumna mengangguk, tapi di belakangnya Devian protes. Lagi-lagi dia harus merasa ada di bawah Yumna. "Aku lebih tua sembilan tahun darinya, Ma. Jadi tidak mungkin bersikap seperti anak kecil."
Sang mama tertawa diikuti tawa kecil menantu barunya di keluarga Adiwijaya.
"Sudah, Dev. Sebaiknya kita minum teh, berikan waktu untuk mereka bicara. Papa juga akan membahas beberapa pekerjaan untukmu." Tuan Adiwijaya mengajak Devian pergi ke tempat lain. Tidak banyak waktu orang tua itu ada di Indonesia. Semakin cepat dimulai maka akan semakin cepat selesai dan mereka bisa segera kembali ke Inggris.
***
Memasuki kamar yang tak kalah megah dari sebelumnya, Yumna enggan melangkah hingga tubuhnya didorong pria di belakangnya.
"Apa memang harus begini?" Ada sesuatu yang terasa berat untuknya, lagi-lagi pikiran buruk tentang Devian terus bermunculan.
"Yah. Karena mereka menginginkan penerus dengan segera."
"Jadi mereka pikir kita akan ... dan saya hanya mesin pembuat anak? Lalu Nyonya Bianca? Apa dia tidak mau memberi Tuan keturunan."
"Sudahlah, jangan membahas itu. Apa kamu tidak capek?" Devian melepas dasi dan menggulung kemeja, bersiap membersihkan diri sebelum tidur.
"Oh benar. Tuan menikahi saya hanya untuk mengganti status Tuan di depan mereka. Sedang seorang anak hanya akan Tuan tanam di rahim Nyonya Bianca. Betul pasti begitu, makanya Tuan bilang tidak akan menyentuh saya. Tapi walau begitu tetap saja harusnya Tuan tidak mencium saya seperti kemarin." Yumna bicara panjang lebar tanpa ada tanggapan dari Devian.
"Tunggu sebentar! Kita harus bicara," sambungnya sembari meninggalkannya ke kamar mandi yang ada di kamar itu. Ia mengabaikan ucapan perempuan itu.
"Aku 'kan sedang bicara, kenapa malah ditinggal pergi?" lirihnya kesal. Wanita itu memanyunkan bibirnya. Tak lama gemericik air terdengar. 'Dia pasti tengah mandi.'
Yumna memandangi setiap sudut kamar pria itu. Berbeda dengan kamar sebelumnya yang ia tempati. Tidak ada foto pernikahannya dengan Bianca. Pertanyaan di benak wanita itu semakin bermunculan karenanya. Ia pun memikirkan siasat, Devian harus memiliki jawaban untuk semua pertanyaanya jika ingin semua baik-baik saja di hadapan Tuan dan Nyonya Adiwijaya.
Wanita itu risih tatkala melihat laci-laci besar. Pakaian dalamnya disusun rapi berdampingan dengan pakain dalam milik Devian.
"Ya Allah, kenapa begini?" Cepat Yumna mengambil benda-benda kecil berbentuk kacamata dan segitiga, lalu menyimpannya asal di dalam lemari besar belakang tumpukan pakaian miliknya.
Wangi sabun menguar, menusuk penciuman perempuan yang tengah duduk gelisah di sofa, memandang ranjang king size di hadapannya. Seketika ia menoleh ke arah bau itu berasal.
"Ada apa? Apa kamu memikirkan hal aneh?" tanya Devian yang mendekat dengan handuk kecil digesek di rambutnya yang bergelombang.
Yumna menggeleng cepat.
"Jangan khawatir, aku sudah bilang tidak akan menyentuhmu. Lagi pula, kamu bukan tipeku." Devian mengucap enteng, mata elangnya menjelajahi penampilan Yumna dari kepala hingga ujung kaki. Menatap heran sebentar, wanita itu juga melihat pada pakaiannya.
"Oyah?" Yumna bersilang kaki. Menunjukkan bahwa ucapan pria tampan itu tidak akan mengintimidasinya.
"Huft. Tiba-tiba gerah." Kedua tapak tangannya mengibas, lalu menarik kerudung yang ia kenakan. Mata Devian membesar melihat kelakuan Yumna.
Wanita itu merasa terhina mendengar ucapan Devian yang mengatakan ia bukan tipenya. Menurutnya, pria itu hanya tidak tahu bagaimana wanita berhijab bisa lebih mempesona dibanding wanita di luar sana yang terbiasa mengumbar auratnya. Lagi pula sekarang mereka adalah pasangan halal, bukan masalah jika ia membuka penutup kepala atau bahkan penutup tubuhnya.
"Ada apa denganmu? Akhirnya kamu melepas jilbabmu."
"Ini bukan jilbab, ini kerudung." Ucapan Yumna itu membuat kening Devian sedikit mengerut. "Ah, sudahlah. Lupakan itu Tuan. Bukankah Tuan bilang kita perlu bicara."
"Ah, benar. Bisa jadi mama dan papa akan ada di sini selama seminggu. Selain kunjungan, ada bisnis yang papa harus urus di beberapa kota."
Yumna memperhatikan pria itu bicara. Jakunnya naik turun, suara berat dengan intonasi teratur, membuat siapa saja nyaman mendengar kata-katanya. Devian sungguh pria terpelajar yang memilki banyak pesona.
"Lalu?" tanya Yumna dengan mata sedikit menggoda. Ia sengaja melakukan itu. Namun, Devian terlihat tidak tertarik sedikitpun.
"Tentu saja ada banyak dialog yang harus kamu hapal."
"Oh, ayolah. Kenapa kita tidak membuatnya berjalan alami saja?"
"Jadi kamu mau yang alami?" tanya Devian sedikit mendekatkan kepala. Yumna terkesiap. Ia ingat bagaimana Devian berdalih semalam, bahwa semua yang pria itu lakukan di kantor hanya agar terlihat alami.
"Oh, tidak Tuan." Wanita bermata bulat dengan irish hitam pekat itu menggeleng cepat. Ia meraih kerudungnya kembali dan menyangkutkannya asal di atas kepal.
Devian tersenyum geli. Yang menggoda pun takut digoda.
***
"Bisa kah matikan AC-nya, Tuan? Saya tidak terbiasa. Musim ini terlampau dingin, bahkan lebih buruk dari pada kutub utara." Sejak kejadian kemarin, kekesalan yang bertumpuk dan keinginan memberi pelajaran pada Devian hingga berakhir pada kejadian di depan mertuanya tadi, membuat Yumna semakin berani bicara blak-blakan.
"Kamu pernah ke kutub utara?" tanya Devian mengejek wanita yang menurutnya kelewat cerewet itu.
"Ya, tentu saja belum. Lagi pula dari mana saya dapatkan uang yang cukup untuk pergi ke sana. Tapi tubuh saya sensitif terhadap dingin."
Devian tersenyum masam. "Itu bukan karena sensitif dingin. Tapi kamu menginginkan sentuhan dari pria."
"Apa??"
"Sentuhan pria." Devian mengulang kata-katanya, ia menggoyang tubuh dan tangan menggoda sekaligus mengejek untuk ke sekian kalinya. Yumna baru sadar Tuannya itu bisa bertingkah aneh. Coba saja orang-orang melihat ini.
Yumna mengangkat sebelah bibir. Dengan terpaksa pria itu berdiri mengatur temperatur ruangannya.
"Apa kita perlu menyalakan penghangat?"
"Tidak perlu." Yumna menarik selimutnya. Menutupi hingga ke leher. Ia sudah menyiapkan untuk hari ini, di mana akan sekamar berdua dengan Devian. Jika tiba-tiba pria itu menginginkan sesuatu, Yumna sudah pasrah. Walau bagaimana tubuhnya adalah milik sang suami.
Setelah beradu argument, akhirnya wanita itu tertidur di bawah tidak jauh dari kasur besar tempat Devian terlelap. Selain punggung Devian sensitif terhadap alas tipis, pria itu harua menjaga stamina. Pasalnya ia pernah tidur di lantai yang membuat beberapa saraf di punggungnya terjepit. Bagi Yumna tidak masalah tidur di mana pun, ia sudah terbiasa. Bahkan tidur dalam posisi duduk pun pernah wanita itu lakukan, saat menjaga sang ibu di rumah sakit.
***
Devian menggeliat dengan malas. Alarm berbunyi seperti biasa. Hanya saja ada yang tak biasa dari pagi yang menyambutnya sekarang. Seorang Yumna ada di kamarnya.
"Sejak kapan ada yang memberiku minuman di kamar?" Pria itu menatap heran. Tidak ada budaya di rumahnya pelayan membawa makanan ke kamar, kecuali jika ia sedang sakit.
"Sejak anda punya istri yang tetap baik, meski diperlakukan semena-mena oleh suaminya."
Devian tersenyum kecut. Bibirnya mencebik tatkala melihat hanya segelas air putih hangat yang diberikan Yumna untuknya.
"Apa ini? Bukah teh? Coffe atau s**u?"
"Jangan memasang wajah seperti itu. Mulai sekarang anda harus belajar menyayangi tubuh sendiri. Air hangat setelah bangun tidur akan memperbaiki lambung anda."
"Yah, baiklah. Asal tidak ada racun di minuman ini."
Wanita itu tersenyum dingin. Sekarang waktu yang tepat bertanya dan mengubah topik secara alami.
"Jujur saja, apa Tuan pernah melakukan itu pada Nyonya Bianca?" Setiap kali rasa penasaran itu datang, Yumna sulit mengendalikan diri untuk tidak mencari tahu. Bagaimana lelaki sepertinya bisa bertahan tanpa berhubungan fisik dengan wanita, dia bahkan seolah tak tertarik padanya, meski perempuan itu sengaja menggoda semalam.
Devian yang tengah minum tersedak karena pertanyaan wanita yang sudah bangun lebih dulu itu. Bahkan sedikit tersembur pada Yumna yang duduk di sisi ranjang. Hampir saja ia memuntahkannya.
Yumna menyilangkan tangan di d**a sambil geleng-geleng.
"Apa maksudmu?"
"Saya hanya ingin tahu, apakah seorang Devian, pria yang dipuja-puji banyak orang adalah pria normal. Jika tidak? Kenapa sampai istrinya kabur ke luar negeri?" Ia mengamati gerak Devian sampai lelah. Ada kekhawatiran pria itu akan menyentuhnya, tapi di sisi lain ia juga mempertanyakan penyebab sang istri pergi di saat seharusnya mereka menikmati kehidupan 'Pengantin Baru.'
Bersambung
Ini udah 1400 kata lebih Mak. Jangan bilang pendek ya.