"Yumna menyeringai puas. Kekesalan selama dua hari ini terlampiaskan."
_______________oo0ooo_________________
Yumna menatap kosong jalanan dari jendela mobil yang dikemudikan sopir. Nampaknya, bangunan berjajar dan banyaknya kendaraan berlalu lalang di luar sana sama sekali tak terlihat bagi wanita berkulit putih itu. Berpikir sepicik ini kah pernikahan? Apa pernikahan orang lain yang normal juga demikian? Sedang di sampingnya, Alina nampak sibuk dengan pekerjaan, seperti biasanya.
Perjalanan berlangsung tanpa ada suara di antara mereka. Mobil sedan hitam itu terus meluncur di jalanan, menciut dan mendesir.
"Huft." Perempuan yang mengenakan gamis berwarna dongker itu meniup berat. Alina menoleh sesaat karenanya, tapi urung mengatakan sesuatu. Memilih diam dan bersikap seperti biasa layaknya seorang bawahan. Dengan begitu, apa yang tersimpan di dalam hatinya tidak terendus.
'Maaf Nyonya, aku bahkan lebih dulu kenal Tuan Devian daripada anda dan Nyonya Bianca.'
Sampai di universitas Hasanudin, mobil yang membawa wanita itu pergi meninggalkannya untuk melakukan aktivitas pendidikan. Setelah mengetahui Yumna sudah terminal selama setahun karena harus bekerja, Devian meminta perempuan itu melanjutkan kuliah.
"Hubungi saya, saat Nyonya sudah selesai," ucap Alina sebelum bergegas.
"Terima kasih." Yumna mengangguk.
***
Sedang di tempat lain, Devian duduk santai di kursi tunggu Bandara. Menanti kedatangan Ibu dan Ayah sambungnya yang memaksa datang ke Jakarta untuk melihat seperti apa wanita yang anak mereka nikahi. Ini akan menjadi masalah untuk pewaris tunggal 'Angkasa Group' milik keluarga Adiwijaya, jika dua orang sepuh itu memutuskan untuk tinggal lama di rumahnya.
Tidak masalah jika Yumna adalah wanita penurut dan pandai berpura-pura, bahkan untuk hari ini Devian tidak bicara sepatah kata pun dengannya. Harga dirinya akan semakin terluka kalau dia mendahului perempuan itu untuk berbaikan.
Dua puluh menit menunggu, pria itu mulai gelisah. Kedudukannya sebagai orang nomor satu di perusahaan tidak memberinya ruang untuk berleha-leha, atau membuang waktu. Sederet kegiatan sudah menunggu untuk dipenuhi di daftar skedulnya.
Tak lama seorang wanita dengan pakaian cassual melambai, di sampingnya seorang pria gembul menemani. Keduanya berjalan cepat beriringan menghampiri Devian.
"Lho, kok sendiri? Mana istrimu, Dev?" Nyonya Adiwijaya celingukan mencari sosok wanita yang ia pikir akan bersama sang anak menyambut kedatangannya.
Devian menggaruk kepala yang tak gatal, sambil berpikir hal masuk akal agar alasannya diterima sang ibu. Kalau saja ia tengah berdamai dengan Yumna, pasti bukan masalah besar untuk bicara dan mengajak perempuan itu pergi bersamanya.
"Kenapa tidak menjemput mertuanya? Apa dia sedang shoping atau kongkow dengan teman-temannya?" celetuk sang mama selagi Devian berpikir. Wanita paruh baya itu berpikir menantunya pasti seperti wanita kaya kebanyakan. Menghabiskan waktu bersenang-senang menjadi wanita 'sosialita' yang sedang tren di kalangan masyarakat.
"Em, itu Ma. Istri Dev sedang kuliah."
"Kuliah?"
"Iyya, dia kan ... usianya masih 21 tahun. Dan masih semester tiga."
"Lho. Bukannya kamu bilang waktu itu usianya 25 tahun?" Wanita berpakaian motif kotak-kotak itu mengerutkan kening. Merasa ada yang aneh.
"Masa? Mungkin Dev salah ucap." Devian menjawab cepat. Ia tidak mengatakan sang ibu salah dengar, karena hal tersebut sulit terjadi lantaran wanita itu memiliki ingatan yang kuat. "Dev sepertinya salah melihat tanggal lahirnya."
"His. Bisa-bisanya itu terjadi." Sang ibu memukul lengan Devian yang terbalut kemeja berwarna mocca.
"Sudah, ayo kita pergi. Kita bisa melanjutkan obrolan ini di rumah." Tuan Adiwijaya akhirnya menengahi pembicaraan ibu dan anak itu. Tidak ingin berlama-lama berdiri di padang orang banyak.
***
Langkah wanita bernama Yumna menyusuri taman fakultas dengan mantap. Tidak ada yang istimewa dari bangunan universitas Islam itu dibanding universitas pada umumnya. Meski Devian menawarkannya kuliah di tempat lain, yang lebih megah dan mahal, Yumna menolak dengan tegas. Tidak ada alasan baginya berpindah universitas atau pun mengambil jurusan lain.
Tidak seperti kebanyakan mahasiswa yang mati-matian belajar dan mengejar skripsi guna mendapatkan kerja yang layak, Yumna melanjutkan pendidikan dengan niat memperoleh ilmu Islam lebih mendalam. Menunaikan kewajiban seorang muslim, menuntut ilmu yang berguna untuk dirinya dan ummat.
Seharusnya ada tiga mata kuliah yang harus ia ambil hari ini. Namun, setelah selesai studi pertama, ada kabar dua dosen lain tidak bisa berhadir. Ia pun memilih pulang, tanpa berani singgah lebih dulu ke rumah sakit melihat ibunya. Jika saja tidak sedang 'saling-diam' dengan Devian, ia pasti akan dengan mudah meminta izin untuk berkunjung. Hanya saja, ia merasa jika lebih dulu menyapa, pria menyebalkan itu tidak akan menganggap perilakunya sebagai kesalahan. Yumna khawatir, Devian akan melakukannya lagi.
Sampai di rumah dan akan memasuki kamarnya, seorang kepala pelayan menghentikannya.
"Ada apa, Bi?"
"Maaf Non, kamar itu sudah kami kosongkan atas perintah Tuan Devian."
"Dikosongkan?" Mata Yumna melebar. Tak percaya jika Devian semarah itu dan mengusirnya karena kejadian kemarin.
"Saya diusir?" tanyanya lagi menegaskan.
"Diusir?" Kepala pelayan itu tidak mengerti dengan pertanyaan wanita yang selalu nampak anggun di hadapannya.
"Apa yang Tuan katakan?"
"Karena Nyonya besar akan datang, jadi semua barang Non dipindahkan ke kamar Tuan."
"Apa?!" Mata Yumna membulat sempurna. Tiba-tiba saja ia gugup dan menggigit bibir bawahnya.
"Permisi." Kepala pelayan itu akhirnya pergi meninggalkannya dalam kebingungan.
Bukan hanya akan tidur sekamar dengan Devian yang jelas-jelas bersikap semaunya sendiri, dia juga harus menghadapi mertuanya yang katanya memiliki sifat ekstrofert. Ibu Mertuanya akan menuntut orang lain bersikap hangat padanya, karena memiliki pribadi yang suka bersosialisasi dan menyepi sendiri. Konon ia juga memiliki selera tinggi.
Suara bel membuat Yumna terlonjak kaget, hal itu sontak membuat dua pelayan yang sedang membersihkan perabot lantai atas cekikikan.
"Ehem." Perempuan itu berdehem meredam kegelisahannya dan menguasai diri. Ia berjalan dengan menarik napas dalam berkali-kali.
"Hallo. Lama tak melihat kalian!" Sapa Nyonya pada dua pelayan yang terlihat di bawah.
Perlahan tapi pasti, Yumna menuruni anak-anak tangga bermaksud menyambut mereka. 'Ayo Yumna, kamu bisa!'
"Hai, Sayang. Kemari lah! Ini orang tuaku!" seru Devian ketika melihat seseorang turun dari tangga. Dua orang yang asing bagi Yumna itu segera menoleh ke arah datangnya mantu mereka.
Yumna tersenyum sangat lebar, meski dadanya bergemuruh karena gugup. Bisa saja Nyonya besar itu tidak menerimanya sebagai menantu dan menendangnya dalam sekejap. Devian yang menangkap kecemasan di wajahnya, bergerak merangkul bahu Yumna. Perempuan berwajah manis itu dadanya berdesir, tapi juga kaget. Ia khawatir Devian akan menciumnya seperti kemarin.
Saat kepala Tuan muda itu mendekat, Yumna melotot, membuat Devian urung dan menjauhkan kepalanya. Tidak sampai di situ kaki Yumna yang masih kesal pada pria itu juga refleks menginjak Devian hingga ia mengaduh.
"Ah, Sayang. Maaf, aku gak sengaja, kamu nggak papa?" Yumna berpura-pura, dengan seringai tawa. Sedang pria itu meringis kesakitan.
Untung saja Yumna tidak menuruti Alina mengambil higtheels untuk di pasang di kedua kakinya. 'Jika tidak kakimu pasti bolong sekarang!'
Perempuan itu akhirnya puas, kekesalannya selama dua hari terlampiaskan.
Bersambung