Malam telah berlalu, pagi ini sinar matahari mulai menerobos celah tirai jendela rumah yang tenang. Aditya sudah berangkat pukul tujuh pagi bersama Hasto, berbicara riang tentang proyek baru di kantor sambil mengambil kopi panas di mobilnya.
Sedangkan Sintya telah siap berangkat lebih awal, mengenakan gaun elegan dengan tas tangan yang mencolok, menuju pertemuan dengan teman-teman sosialitanya di sebuah pusat perbelanjaan di kota.
Adelia keluar dari kamar utama sekitar pukul sembilan. Rambutnya masih sedikit kusut, mengenakan baju tidur panjang warna biru muda yang membuatnya terlihat lebih muda dari usianya.
Ia berniat pergi ke dapur untuk membuat teh hangat. Namun, saat ia melangkah ke ruang tengah, pintu kamar sebelah tepat terbuka dan Prasetyo muncul dengan jas hitamnya yang sudah terpasang rapi.
Keduanya langsung terhenti, mata mereka saling bertemu. Udara sekitar menjadi begitu sunyi hingga hanya terdengar bunyi jam dinding yang berdetak pelan.
Rasa canggung terasa begitu jelas di antara keduanya. Adelia mengerutkan alis sedikit, tangan kanannya secara tidak sengaja menggenggam ujung baju tidurnya, sementara Prasetyo hanya berdiri dengan wajah yang tetap dingin seperti biasa.
“Kak Pras… pagi,” ucap Adelia dengan suara yang hampir tak terdengar, mencoba memberikan senyum lembut yang terasa dipaksakan.
“Pagi ... Adel,” jawab Prasetyo dengan nada datar. Ia mulai melangkah perlahan menuju arah pintu depan, seolah ingin segera menghindari pertemuan ini.
Namun Adelia tidak bisa menahannya. Ia mengambil napas dalam lalu menghentikannya dengan lembut. “Tunggu, Kak Pras.”
Prasetyo berhenti dan menoleh perlahan. “Iya, ada apa?”
“Aku… ingin bertanya tentang apa yang kamu katakan kemarin malam,” kata Adel gugup. “Tentang wanita itu dan kata-katamu yang tidak ingin ada yang terluka. Itu maksudnya apa, ya?” lanjutnya penasaran.
“Itu bukan apa-apa, Adel,” ucap Prasetyo dengan suara yang tenang namun tegas. “Hanya pemikiran semata. Kamu tidak perlu memikirkannya terlalu dalam.”
“Tapi sepertinya kamu tahu sesuatu yang aku tidak tahu,” kata Adelia mendesak.
Matanya tetap netral, tak menunjukkan emosi apa pun. Ia berdiri beberapa langkah dari Prasetyo, jarak yang membuat mereka tetap dalam zona yang aman namun juga membuat komunikasi terasa jauh.
Namun, dengan sedikit keberanian, Adel melangkah satu langkah mendekat. “Apa ada yang salah, Kak Pras? Apakah Aditya menyembunyikan sesuatu dariku?”
Prasetyo terdiam sesaat, seolah sedang mempertimbangkan apa yang harus dikatakannya.
Namun akhirnya ia hanya menggeleng perlahan. “Aditya adalah adikku. Aku tahu dia cukup baik hati, mungkin saja ada beberapa hal kecil yang belum ia ceritakan, tapi itu bukan sesuatu yang perlu kamu khawatirkan.” Ia mengambil tasnya yang sudah diletakkan di kursi, lalu menatap Adelia sebentar lagi. “Yang penting, kamu bahagia, bukan? Itulah yang paling penting.”
Tanpa menunggu jawaban, Prasetyo melangkah pergi meninggalkan Adelia sendirian di ruang tamu.
Wanita itu menatap ke arah pintu yang baru saja ditutup, rasa kebingungan dan kekhawatiran mulai menyelimuti dirinya.
Meskipun Prasetyo mengatakan bahwa tidak ada apa-apa, ia tahu bahwa ada sesuatu yang tersembunyi di balik kata-kata dan tatapan dingin pria itu.
Adelia masih berdiri diam di ruang tamu, matanya masih terpaku pada pintu depan yang sudah tertutup rapat.
Pikirannya terus bergelut dengan setiap kata yang keluar dari mulut Prasetyo tadi. “Bukan apa-apa ... Hanya pemikiran semata, kamu tidak perlu memikirkannya...”
Namun, semakin ia mencoba untuk melupakannya, semakin kuat rasa penasaran yang muncul di dalam hatinya.
Adelia meninggalkan ruang tamu dan melangkah menuju dapur. Setelah itu dia kembali ke kamar untuk membereskan barang-barangnya yang masih berada di dalam koper.
Saat sedang sibuk berbenah, tiba-tiba dering ponsel di meja rias yang berdekatan membuatnya tersentak.
Ia pun mendekat dan mengambilnya, melihat nama “Ibu” muncul di layar. Dengan napas dalam, ia menjawab panggilan.
“Halo, Bu...”
“Adel sayang, bagaimana kabarmu? Sudah sarapan belum?” Suara Sukma terdengar hangat dan penuh perhatian dari seberang telepon.
“Sudah, Bu. Aku baik-baik saja,” jawab Adelia.
Entah kenapa dia merasakan rasa hangat menyelimuti dirinya, juga kekacauan pada pikirannya sedikit menghilang setelah mendengar suara dari Sukma.
“Ada apa, Bu?” tanya Adel lagi saat terdiam beberapa detik.
“Ibu hanya ingin menelpon. Dan juga ingin tahu bagaimana kondisimu setelah hari pertama sebagai istri Adit,” jawab Sukma terkekeh. “Oh, ya. Apakah kamu merasa nyaman di rumah itu? Tidak ada yang membuatmu tidak nyaman ‘kan?”
Adelia terdiam sejenak sebelum mulai bercerita. “Hmm ... Semua sangat baik padaku, Bu. Aditya juga sangat perhatian, bahkan kemarin malam saat makan bersama keluarga, dia selalu ada di sisiku. Mama Sintya dan Papa Hasto juga sangat ramah, mereka selalu menanyakan apa yang aku butuhkan. Dan Kak Pras...” Adelia menggantungkan kalimatnya. “Dia ... juga baik padaku, meskipun orangnya memang sedikit pendiam.”
Adelia sengaja tidak menyebutkan tentang percakapan dengan Prasetyo tadi, tidak ingin membuat Sukma khawatir.
Adelia memilih bercerita tentang bagaimana keluarga Aditya menerima dirinya dengan tangan terbuka, tentang hidangan lezat yang disajikan kemarin malam, hingga tentang bagaimana teman-teman Aditya juga datang mengucapkan selamat.
Sukma terdengar bersyukur di seberang telepon. “Syukurlah, Sayang. Ibu sangat lega mendengarnya. Ibu selalu khawatir kamu tidak akan merasa nyaman, tapi ternyata keluarga mereka benar-benar menyambutmu dengan baik.”
“Ya, Bu. Aku merasa sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari keluarga mereka,” jawab Adelia dengan suara lembut.
“Jaga dirimu ya, Adel. Dan jangan lupa untuk selalu komunikasi dengan Adit jika ada sesuatu yang membuatmu khawatir. Pernikahan itu butuh kerja sama dari kedua pihak,” kata Sukma memberi nasihat dengan penuh cinta.
Setelah mengakhiri panggilan dengan Sukma, Adelia mulai membersihkan dan menyusun barang-barang pribadinya yang masih belum teratur di kamar. Ponselnya kembali berdering, namun kali ini bukan Sukma, melainkan teman kantornya.
“Halo, iya, Rin?” ucapnya dengan tergesa-gesa.
“Del, ada sesuatu yang harus kuberi tahu... Tiara mengalami kecelakaan tadi pagi. Dia sekarang berada di rumah sakit,” suara Rina terdengar cemas dari seberang.
Adelia terkejut hingga beberapa barang yang digenggamnya hampir terjatuh. “Kecelakaan? Bagaimana bisa? Apakah kondisinya parah?”
“Kabarnya tidak terlalu parah, tapi dia perlu ada orang yang menemani dia di sana. Keluarganya masih dalam perjalanan dari luar kota,” jelas Rina.
“Baik, aku akan segera datang ke sana!”
Tanpa berpikir panjang, Adelia segera mengambil dompet dan memesan taxy online, lalu bergegas keluar rumah.
Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, ia sudah sampai di rumah sakit dan langsung mencari lokasi ruang rawat inap Tiara.
Namun, saat ia memasuki area administrasi rumah sakit untuk menanyakan kamar Tiara, matanya langsung terpaku pada sosok pria yang sedang duduk di depan meja petugas.
Pria dengan jas hitamnya yang kini sedikit kusut di bagian lengan. Pria itu sedang melihat dokumen dengan serius, sementara petugas di depannya menjelaskan sesuatu tentang biaya perawatan.
“Kak Prasetyo?!”