Tatapan Berbeda

1071 Words
Aditya menutup ponselnya dengan cepat, matanya berkelip-kelip mencoba mencari kata-kata yang tepat. “Ah, Adel… kamu kok ada di sini?” Adelia mendekat perlahan, ekspresi wajahnya campuran antara kebingungan dan kekhawatiran. “Aku mencari kamu. Semua tamu sedang menunggu kita untuk foto bersama. Siapa yang kamu hubungi?” “Tidak ada… Cuma teman kerja yang menanyakan sesuatu penting,” jawab Aditya dengan suara santai agar tidak terlihat gugup. Ia mencoba mengusap bahu Adelia dengan lembut, berusaha menunjukkan kedekatan yang biasa mereka miliki. “Maaf, Adel. Ayo, kita kembali saja, pasti yang lain sudah menunggu.” Adelia menatapnya sebentar, seolah merasakan bahwa ada sesuatu yang tersembunyi di balik kata-katanya. Namun ia hanya mengangguk perlahan. “Baiklah.” Aditya mencoba tersenyum yang terasa dipaksakan. Ia menggenggam tangan Adelia erat, berharap sentuhan itu bisa menghilangkan rasa bersalah yang mulai mengganjal di dadanya. Saat mereka berjalan kembali ke aula resepsi, Aditya tidak bisa menghilangkan bayangan wajah Laura dan kata-katanya yang menyakitkan. “Aku merindukanmu, Adit. Datanglah. Aku menunggumu.” Ucapan itu terus bergema di benaknya. Ia pun berusaha memalingkan pikiran, fokus pada wajah Adelia yang cantik di sisinya, mencoba mengingat janjinya untuk menjaga wanita itu dengan sepenuh hati. Di sudut lain taman, Prasetyo yang baru saja menyaksikan kejadian itu berdiri diam. Ia melihat bagaimana adiknya tampak gelisah dan bagaimana Adelia tampak mulai curiga. Matanya menyipit, rasa kekhawatiran mulai muncul. Ia tahu Aditya bukanlah orang yang jahat, tapi ia juga tahu betapa mudahnya seseorang terjebak dalam masalah yang tak diinginkan. “Kau harus berhati-hati, Adit,” gumamnya pelan, sambil melihat ke arah aula di mana musik dan tawa tamu masih terdengar riuh. Ia merasakan bahwa pernikahan yang seharusnya menjadi awal bahagia justru mungkin akan menjadi awal dari sebuah badai yang belum terduga. *** Malam itu, keluarga besar berkumpul di rumah makan mewah yang sudah disewa khusus. Meja panjang kayu besar penuh dengan hidangan lezat, dari masakan tradisional hingga hidangan internasional yang disiapkan untuk merayakan pernikahan pasangan muda. Aditya selalu berada tepat di sisi Adelia. Ia membantu membuka kursi untuk Adel, mengambil makanan yang Adel sukai, bahkan sesekali mengelus punggungnya dengan lembut saat wanita itu tampak sedikit capek. Setiap kali mata mereka bertemu, ia memberikan senyum hangat dan tatapan penuh cinta yang membuat beberapa anggota keluarga mengangguk puas. “Kalian benar-benar cocok sekali, ya,” ucap Sintya sambil melihat keduanya dengan senyum hangat. “Adit jarang sekali begitu perhatian sama orang lain.” Aditya hanya tersenyum dan meraih tangan Adelia di atas meja. “Adel adalah istriku sekarang, Ma. Tentunya aku harus menjaganya dengan baik.” Adelia merasa wajahnya memanas sedikit. Ia mengucapkan terima kasih dengan suara lembut. Namun kedua matanya tak sengaja mengarah kepada Prasetyo yang duduk di ujung meja. Pria itu sedang memegang gelas, tatapannya tepat menyambut pandangannya. Prasetyo tidak mengeluarkan senyum sama sekali. Matanya dalam, penuh dengan sesuatu yang sulit dijelaskan, mungkin kekhawatiran, mungkin pertanyaan, atau bahkan sesuatu yang lebih dalam yang tak bisa diucapkan dengan kata-kata. Saat Adelia menyadari bahwa mereka sudah saling bertatap cukup lama, ia mencoba mengalihkan pandangan dengan tergesa-gesa, namun tangan kecilnya yang masih digenggam Aditya sedikit dingin. Tiba-tiba Aditya berbalik ke arah Prasetyo. “Kak Pras, apa kamu tidak suka makanan di sini? Kamu tidak makan banyak sepertinya?” Prasetyo mengangkat bahu perlahan, namun matanya masih tertuju pada Adelia. “Aku sudah cukup, Adit. Aku hanya sedang banyak pekerjaan sehingga selera makanku hilang.” “Jangan terlalu dipikirkan, Kak.” Aditya menimpali. “Coba kamu punya kekasih mungkin kamu tidak akan terlalu memikirkan pekerjaanmu itu.” Prasetyo hanya tertawa getir. “Mungkin, apalagi punya kekasih lebih dari satu. Akan sangat menyenangkan,” sindirnya halus. “Itu memang cocok untuk pria sepertimu, Kak,” ucap Aditya tertawa terbahak. Prasetyo tersenyum dengan ekspresi dingin lalu ia menjatuhkan pandangannya lagi ke arah adiknya, suara yang biasanya tenang kini terdengar sedikit berat. “Aku melihat seseorang yang tidak seharusnya ada di sana siang tadi. Wanita bergaun merah marun.” Aditya kaget. Jari-jarinya yang menggenggam tangan Adelia sedikit mengerut. “Kak Pras… itu hanya kenalan lama saja. Tidak ada apa-apa.” “Benarkah?” Prasetyo menatapnya tajam sebelum kembali melihat Adelia. “Aku harap benar begitu. Karena aku tidak ingin melihat seseorang yang aku anggap keluarga terluka karena kebohongan kecil yang bisa tumbuh menjadi sesuatu yang lebih besar.” Sintya memegang bahu putra sulungnya pelan. “Pras, kamu jangan berpikir yang jauh tentang adikmu.” “Kamu berlebihan, Pras. Papa yakin, Aditya tidak seperti itu, apalagi menyakiti Adelia. Benar ‘kan, Dit?” Hasto kini berbicara dan menatap ke arah Aditya yang tersenyum getir. “Iya, Benar, Pa. Aku tidak mungkin seperti itu. Memiliki istri seperti Adelia adalah sebuah keberuntungan.” Aditya menggenggam erat tangan Adelia yang tampak dingin. Akan tetapi, Adelia merasakan detak jantungnya berdebar kencang. Ia bisa merasakan bahwa ada pesan tersembunyi dalam tatapan Prasetyo untuk dirinya sendiri kali ini. Seolah pria itu ingin memberitahunya sesuatu, namun tidak bisa mengatakannya di depan semua orang. Mereka saling menatap lagi sebentar, dan dalam waktu singkat itu, seolah banyak hal telah terucapkan hanya melalui mata mereka. Adelia akhirnya mengangguk perlahan pada Prasetyo, seolah memahami apa yang ingin disampaikannya. Pria itu kemudian mengangguk kembali dan mengambil tegukan anggur terakhir sebelum berdiri. “Aku sedikit capek. Maaf kalau duluan pulang.” “Apa kau mau pulang ke rumah atau ke apartemen, Pras?” Sintya menahan lengan putra sulungnya yang sudah berdiri. “Aku ke apartemen untuk mengambil barangku yang tertinggal, setelah itu baru pulang ke rumah,” jawab Pras tersenyum. “Hati-hati, Pras.” Kali ini Hasto ikut bicara. Prasetyo mengangguk, lalu dia pamit kepada Aditya dan juga Adelia yang tersenyum mengarahnya. Setelah Prasetyo pergi, suasana di meja menjadi sedikit sunyi. Aditya mencoba menghidupkan suasana dengan cerita lucu tentang masa kecilnya. “Mama jadi teringat saat usiamu menginjak umur 6 tahun. Kamu menangis karena takut dengan badut di pusat permainan di kota. Semua orang kebingungan menenangkan kamu, Adit.” Sintya bercerita sembari mengingat masa kecil putranya yang begitu menggemaskan. “Ah, Ma. Yang itu jangan diceritain, aku malu,” kata Aditya wajahnya memerah menghadap Adelia. Adelia hanya tersenyum menanggapinya. Semua orang di sana tertawa. Meja yang tadinya sepi kini terasa hidup kembali. Namun, berbeda dengan Adelia saat ini. Ia masih bisa merasakan pandangan Prasetyo yang mengarah padanya. Pandangan itu terasa hangat di wajahnya, meski pria itu telah pergi cukup lama, tetapi Ia tahu bahwa seperti ada rahasia yang disembunyikan dan mungkin ingin disampaikan. “Apa aku harus menemui kakak ipar, untuk meminta penjelasan?” gumam Adelia bimbang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD