Aditya tertawa kecil mendengar pertanyaan kakaknya itu. “Jangan percaya sama dia, Adel. Kak Pras ini memang suka menggoda orang. Dia itu playboy tingkat dewa,” ucapnya mencoba mencairkan suasana.
Sukma ikut tertawa canggung. “Oh begitu ya? Pantas saja auranya… berbeda.”
Sintya menepuk lengan anak sulungnya pelan. “Pras, bisa nggak kamu berhenti menakut-nakuti orang? Ini calon adik iparmu, bukan calon korbanmu.”
Pras hanya tersenyum samar, tatapannya masih tak lepas dari Adelia. “Aku nggak menakut-nakuti siapa pun, Ma. Aku hanya bertanya.”
Aditya kembali tertawa, namun Adelia bisa merasakan ketegangan halus di antara tawa itu. Ia menatap Pras sejenak dan lagi-lagi, pria itu menatap balik dengan sorot mata yang sulit diterjemahkan.
“Maaf ya, Adel. Kakakku ini memang begitu. Tapi sebenarnya dia orangnya baik… hanya terlalu serius,” ucap Aditya tampak cemas.
Adelia memaksakan senyum. “Nggak apa-apa. Aku… mengerti.”
Pras akhirnya mengalihkan pandangan, menatap adiknya singkat. “Kalau begitu, selamat ya. Semoga semuanya berjalan lancar,” ucapnya lalu melangkah pergi, meninggalkan mereka semua dalam keheningan yang aneh.
Namun, sebelum benar-benar pergi ia berhenti dan menoleh sejenak. Menatap Adelia dengan tatapan yang membuat Adelia merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan. Apa itu ... sebuah peringatan? Atau sebuah ancaman? Entah kenapa tatapan mata itu membuat Adelia merasakan sesak. Adelia mengalihkan pandangannya hingga Prasetyo pun pergi dari sana.
***
Hari yang dinanti akhirnya tiba. Langit pagi itu cerah, seolah turut memberkati momen sakral yang akan mengubah hidup Adelia untuk selamanya. Dari balik pintu besar gereja yang megah, denting lembut piano mengalun, menggema memenuhi ruangan yang dipenuhi tamu undangan. Semua mata tertuju ke arah pintu saat dua daun pintu terbuka perlahan dan di sanalah, Adelia berdiri anggun dalam balutan gaun putih yang menjuntai panjang menyapu lantai.
Gaunnya berkilau lembut, bertabur renda halus dan manik-manik kecil yang memantulkan cahaya. Wajahnya tertutup veil tipis, tapi senyum lembut di bibirnya cukup untuk membuat semua orang terpaku. Di sampingnya, sang ayah menggamit tangannya erat.
Adelia berusaha menenangkan napasnya. Di ujung altar, Aditya berdiri tegak mengenakan setelan jas abu muda yang membuatnya tampak semakin gagah. Senyum gugup namun tulus tersungging di wajahnya. Sesekali ia menelan ludah, seolah masih sulit percaya bahwa sebentar lagi, wanita yang kini berjalan mendekatinya akan resmi menjadi istrinya.
Saat langkah Adelia makin dekat, Aditya merasakan dadanya bergetar. Begitu pula Adelia, yang matanya berkaca-kaca melihat pria itu menatapnya dengan begitu hangat, tatapan yang penuh cinta dan harapan.
Sampai akhirnya, mereka tiba di depan altar. Sang ayah melepaskan genggamannya perlahan, lalu menatap Aditya sambil berkata dengan suara bergetar, “Jaga dia… dengan sepenuh hatimu.”
Aditya menunduk hormat, lalu menjawab lembut, “Saya berjanji.”
Pendeta tersenyum ramah sebelum mulai membacakan doa pembuka. Lalu menatap keduanya bergantian.
“Saudara Aditya Laksmana, bersediakah engkau menerima Adelia Putri sebagai istrimu, dalam suka maupun duka, sehat maupun sakit, kaya maupun miskin, dan berjanji untuk tetap setia kepadanya sampai maut memisahkan?”
“Saya bersedia,” jawab Aditya tanpa ragu.
Kemudian pendeta beralih pada Adelia
“Saudari Adelia Putri, bersediakah engkau menerima Aditya Laksmana sebagai suamimu, dalam suka maupun duka, sehat maupun sakit, kaya maupun miskin, dan berjanji untuk tetap setia kepadanya sampai maut memisahkan?”
Adelia sempat teridiam sesaat, sebelum akhirnya ia menarik napas panjang. “Ya saya bersedia.”
Beberapa tamu terlihat mengusap air mata, termasuk Dani, Sukma dan Hasto, Sintya yang duduk di barisan depan. Pendeta mengangguk, lalu mempersilakan mereka bertukar cincin.
Aditya mengambil cincin perak kecil dari kotak beludru, lalu mengenakannya di jari manis Adelia dengan tangan yang sedikit gemetar.
“Dengan cincin ini, aku berjanji untuk mencintaimu seumur hidupku,” katanya lembut.
Adelia menatapnya, senyum lembut menghiasi wajahnya. Ia lalu mengambil cincin serupa dan mengenakannya di jari Aditya.
“Dan dengan cincin ini, aku berjanji untuk tetap bersamamu… apa pun yang terjadi.”
Semua hadirin terdiam, larut dalam momen sakral itu.
Pendeta menatap mereka dengan senyum bahagia. “Demi kasih dan anugerah Tuhan, aku nyatakan kalian resmi menjadi suami dan istri. Apa yang telah dipersatukan oleh Tuhan, nggak dapat dipisahkan oleh manusia.”
Aditya menarik napas panjang, lalu perlahan mengangkat veil yang menutupi wajah Adelia. Saat wajah cantik itu terlihat jelas, ia tak kuasa menahan senyum yang begitu tulus.
Aditya mendekat, dan dengan lembut mencium bibir Adelia. Tepuk tangan bergema di seluruh ruangan, diiringi musik merdu yang kembali mengalun.
Adelia memejamkan mata sejenak, merasakan damai yang menyelimuti dirinya.
Di antara kerumunan tamu yang bertepuk tangan bahagia, berdiri seorang pria berjas hitam yang menatap ke arah pelaminan dengan pandangan sulit diterjemahkan. Prasetyo tidak tersenyum, bahkan saat semua orang bersorak dan mengucap selamat untuk Aditya dan Adelia. Ia hanya berdiri diam di sudut ruangan, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, sementara matanya memandangi adiknya yang kini tengah menggenggam tangan pengantinnya dengan senyum penuh cinta.
Pandangannya lalu teralih ketika matanya menangkap sosok wanita bergaun merah marun di antara para tamu. Wanita itu berdiri agak jauh di belakang, tapi ekspresinya jelas terlihat. Tatapan matanya menusuk, penuh kemarahan, menatap lurus ke arah Aditya dan Adelia yang kini tengah menerima ucapan selamat. Prasetyo mengerutkan keningnya, dadanya berdesir aneh.
Ia melangkah mendekat, melawan keramaian, hingga akhirnya berdiri tepat di belakang wanita itu.
“Kenapa kamu ada di sini?” tanyanya tajam.
Laura menoleh perlahan. Bibirnya terangkat membentuk senyum miring, tapi matanya berkilat dingin.
“Kenapa?” tanyanya dengan sinis. “Apa aku nggak boleh menghadiri pernikahan pacarku sendiri?”
Prasetyo tertegun. “Pacarmu? Laura, jangan bercanda. Itu tidak masuk akal. Adit sudah menikahi wanita lain. Sebaiknya kamu melupakannya.”
Laura tertawa pendek, getir dan dingin. “Melupakannya? Apa seorang suami nggak boleh punya pacar?”
Prasetyo tertegun pada ucapan Laura. Wanita itu tersenyum penuh kemenangan lalu berbalik meninggalkan pesta pernikahan itu, seolah tidak menghentikannya untuk terus mencintai Aditya.
Sementara itu, dari kejauhan, Aditya sempat melirik ke arah Laura yang tengah melangkah menjauh meninggalkan aula resepsi. Sekilas, senyum di wajahnya lenyap tertelan oleh bayangan panik yang melintas di matanya. Napasnya tercekat sesaat, namun hanya butuh satu tarikan napas untuk kembali menampilkan topeng sempurnanya, sebuah senyum hangat seorang pengantin pria yang tampak bahagia di hari pernikahannya.
Tak lama ponselnya bergetar, ia merogoh saku jasnya dan terkejut saat nama Laura muncul dari layar ponselnya.
Aditya menatap sekeliling memastikan tak ada yang memperhatikan, lalu melangkah menjauh dari keramaian menuju taman belakang gedung pernikahan.
“Laura...” jawabnya berbisik “Kenapa kamu menelponku?”
Di seberang sana terdengar helaan napas lembut, disusul suara manja yang familiar.
“Aku merindukanmu, Adit. Datanglah. Aku menunggumu,” ucap Laura terdengar manja.
Aditya mematung bingung, ia mencoba menenangkan hatinya lalu menjawab. “Tunggulah, aku akan datang setelah pesta selesai,” ucapnya.
“Adit? Kamu sedang apa?” suara Adelia terdengar dari belakang mengejutkan Aditya.
Perlahan Aditya menoleh dan mematikan sambungan teleponnya. Ia merasa gugup seolah baru saja ketahuan.