POV Author
Pak Yudistira adalah seorang PNS disebuah kecamatan. Istrinya bernama Bu Tita. Pak Yudis biasa orang menyapanya. Penampilan pak Yudis yang seperti priyayi membuat tetangga merasa segan. Begitu pun dengan bu Tita,,wanita lemah lembut yang sangat ramah,,membuat semua orang hormat pada keduanya. Apalagi mereka sangat menghargai orang lain. Tidak pernah terdengar mereka menjelekkan orang lain.
Pak Yudis adalah anak bungsu dari 4 bersaudara. Ayah pak yudis bernama kakek Atmojo. Keempat saudara pak Yudis laki-laki,, tetapi yang berhasil menjadi PNS hanya pak Yudis saja. Ketiga kakaknya berprofesi sebagai pedangan dan petani. Kakek Atmojo sendiri juga berprofesi sebagai Petani dan sebagian besar sawah di kampung itu adalah milik keluarga kakek Atmojo.
Walaupun ayah dan saudara nya petani,,pak Yudis sama sekali tidak pernah bertani apa lagi turun ke sawah. Karena dari kecil pak Yudis tidak suka bermain ke sawah. Lahan milik pak Yudis pun digarap pakde Karno,,kakak ketiga pak Yudis.
Pak Yudis mempunyai 3 putri. Yang pertama bernama Andita, kedua Ardiba, dan yang ketiga Aldilla. Kalau dilihat nama - nama ketiga putrinya kalau dipanggil dari depan seperti nama laki - laki yaitu andi, ardi dan aldi. Mungki dulu pak Yudis hanya menyiapkan nama untuk anak laki-laki saja. Ternyata yang lahir adalah anak perempuan semua.
Putri pertama pak Yudis,,yaitu Andita yang biasa dipanggil mbak Dita bekerja sebagai Teller disebuah bank,, putri kedua Ardiba atau mbak Diba bekerja sebagai PNS di kantor Kecamatan bareng dengan pak Yudis. Sedangkan yang ketiga Aldilla masih kuliah di Jogjakarta.
Dari kecil putri pak Yudis memang sudah terbiasa hidup mandiri. Karena gaji seorang PNS pada waktu itu tidak sebanyak sekarang,, membuat bu Tita ikut mencari uang dengan membuka warung kelontong di depan rumah.
Walaupun gaji tidak seberapa,,ketiga putri pak Yudis mengenyam bangku perkuliahan,,karena pak Yudis tidak mau nasib nya dan sang istri dialami anak-anak nya yaitu tidak bisa kuliah dan sekolah tinggi karena terhambat biaya.
Pak Yudis terlahir dari keluarga yang Kurang agamis,,karena kakek Atmojo adalah penganut kejawen yang kental. Jadi di rumah pak Yudis masih terdapat sesajen di dalam rumah di malam - malam tertentu. Pada saat mengadakan hajatan pun tidak lupa ada sajen di tiap sudut rumah. Itu semua tidak boleh sampai terlupa. Kalau sampai terlupa,,bisa - bisa mendatang kan bala untuk keluarga pak Yudis. Mungkin bagi orang lain apalagi yang paham agama itu tidak masuk akal. Tapi untuk keluarga kakek Atmojo itu hal yang penting.
Bu Tita,,,istri pak Yudis sebenarnya terlahir dari keluarga yang sangat agamis. Sang ayah yang bernama kakek Raharja adalah seorang yang terpandang dan sangat menjunjung agamanya. Mungkin karena bu Tita sangat menghargai dan menghormati suaminya sehingga beliau terbawa dengan kebiasaan keluarga sang suami.
Bagi keluarga pak Yudis,,,dunia mistis adalah suatu hal yang biasa. Bahkan dulu bu Tita sempat sakit keras karena terkena santet. Persaingan dalam dunia perdagangan juga sangat mengerikan. Selain karena saingan dagang,,banyak juga yang iri dengan kehidupan keluarga pak Yudis.
Tidak hanya bu Tita,,si bungsu Aldilla juga pernah sakit sewaktu kecil dulu. Dokter anak saja tidak bisa menemukan penyakitnya. sampai di opname di rumah sakit pun dokter tak menemukan penyakit apa-apa. Ternyata ada sesosok jin yang menganggu. Kata mbah Krama yang membantu mengobati Dilla,,ada sesosok jin yang menginginkan Dilla untuk menjadi anaknya. Banyak tak mempercayai ini semua. Tapi untuk keluarga pak Yudis hal seperti itu sudah lumrah dan sering dialami.
Lain halnya dengan Diba kakak kedua Dilla. Ia bisa melihat makhluk halus disekitarnya. Bahkan ia juga punya teman yang tak terlihat. Diba kecil sering berbicara dan bermain sendiri. Seperti ada yang mengajaknya bicara dan bermain,,hanya Diba yang bisa melihat mereka. Tetapi seiring berjalannya waktu Diba sudah jarang berbicara sendiri dan tak pernah bermain sendiri lagi. Mungkin karena sudah beranjak dewasa jadi Diba sudah tidak lagi berteman dengan makhluk - makhluk itu.
Dari ketiga putri pak Yudis,,hanya Dita putri sulung pak Yudis yang tidak terpengaruh dengan hal mistis. Hidup Dita seperti orang normal lainnya. mungkin ini karena sejak kecil Dita lebih banyak menghabiskan waktu di tempat Kakek Raharja. Disana Dita kecil diajarkan ilmu agama dengan baik oleh sang kakek. Dita juga pintar mengaji,,bahkan dari SD sudah khatam Al-Qur'an. Jika sedang pulang kerumah sang ayah,,Dita tak segan menasehati orang tuanya untuk solat tepat waktu dan mengaji. Dita juga yang mengajarkan adik - adiknya mengaji.
Dita paling tidak suka dengan hal-hal yang berbau mistis. Buatnya makhluk halus itu memang ada dan cukup percaya saja. Tidak perlu terlalu dipusing kan. Karena mereka punya dunia sendiri. Bagi Dita keluarga dari ayahnya itu terlalu menjunjung tinggi hal - hal yang berbau mitos. Tidak begitu yakin dengan Alloh Yang maha kuasa. Karena mereka masih percaya saja dengan sesajen,,hari baik,,dan hal - hal yang berbau mistis lainnya. Buat Dita,,dia hanya percaya dengan Tuhan dan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan tidak setuju apabila semuanya di sangkut pautkan dengan hal-hal mistis.
" Kenapa ya mbak Dita kok jarang sekali pulang pak?" tanya Dilla pada sang ayah sore itu ketika mereka sedang bersantai sambil minum teh.
" Iya tuh mbak Dita jarang banget pulang,,padahal rumah suaminya kan dekat dari sini cuma beda gang." Diba juga mempertanyakan kakak nya yang jarang sekali berkunjung ke rumah sang ayah.
" Mungkin mbak mu itu sibuk,,jadi jarang pulang kesini." pak Yudis pun menjawab pertanyaan kedua putrinya itu.
" Sibuk apa to pak,,kok sampai jarang sekali menengok orang tua? apa yo gak kangen sama kita?" bu Tita tiba - tiba sudah datang sambil membawa gorengan sambil menimpali suaminya.
" Yo bisa jadi kan sibuk sama kerjaan bu,,kita doain aja semoga mereka sehat dan tidak ada apa-apa." Pak Yudis menjawab pertanyaan istrinya dengan mencomot pisang goreng yang masih hangat itu
" Mungkin dilarang suaminya kesini kali pak." jawab bu Tita sedikit sewot
" Hush ...ibu ndak boleh bilang gitu,,apa lagi di depan adik - adik Dita. Kita berpikir yang positif saja bu. Mungkin Dita sekeluarga memang lagi belum sempat kesini saja." dengan bijak pak Yudis menjawab perkataan istriny yang terkesan kurang senang dengan suami Dita.
" Halah,,gak sempat kenapa coba pak? kerjaan Suami Dita kan cuma penjual pakaian di pasar. Sesibuk apa sih sampai jarang sekali kesini?" Bu Tita masih tak mau kalah dengan pendapatnya.
" Wes lah bu,,gak usah dibahas. Pasti ujung-ujungnya bakal mojokin si Pras. Kasian tuh anak gak pernah di nilai positif sama ibu
Bu Tita langsung masuk kedalam tanpa mengucapkan kata apapun. Sepertinya ia tak sependapat dengan suaminya. Pras sebenarnya tidak pernah melarang Dita untuk mengunjungi orang tuanya. Tetapi justru Dita yang tidak mau. Karena Dita malas kalau harus melihat suaminya selalu di judesi sama ibunya. Dita memilih jarang pulang kerumah karena dia merasa kasian dengan sang suami. Karena sebenarnya bu Tita kurang setuju apabila Dita menikah dengan Pras yang hanya lulus SMP.
Alasan tu tentu hanya disimpan Dita sendiri. Dita tidak mau kalau suaminya sampai tau kenapa dia jarang pulang kerumah. Padahal apabila dita meminta untuk diantar pulang,, pasti Pras sangat semangat pulang. Dengan alasan banyak kerjaan dan capek,,Dita enggan berkunjung kerumah orang tuanya. Itu Dita lakukan hanya untuk menjaga perasan sang suami agr tidak tersakiti dengan ucapan ibunya.
BERSAMBUNG