POV : Aldilla
Sebenarnya aku tahu apa alasan mbak Dita jarang pulang kerumah. Pasti mbak Dita merasa kurang sreg dengan perkataan ibu yang selalu memojokkan mas Pras. Aku juga merasa kasihan apabila mas Pras datang kerumah selalu saja ibu berkata ketus padanya. Berbeda sekali apabila mas Adi yang pulang. Ibu menyambut dengan suka cita. Masakan enak pun selalu disuguhkan pada mas Adi
Mungkin karena pernikahan mbak Dita dulu tidak direstui oleh orang tua,,terutama ibu. Sedangkan pernikahan mbak Diba disetujui. Aku jadi berpikir apabila nanti menikah harus bisa direstui kedua orang tua. Aku tidak mau seperti mbak Dita yang harus melihat suaminya selalu diperlakukan tidak adil oleh ibu mertuanya.
Di keluarga ku ibu yang lebih dominan. Bapak hanya mengikut ibu saja. Apabila ibu setuju,,bapak sudah pasti setuju. Aku jadi teringat dengan pacar ku,.mas Eka. Sampai sekarang pun ibu belum menyukainya. Padahal kalau dilihat dari kemapanannya,,mas Eka sudah mapan. Karena dia seorang manager di sebuah swalayan yang terkenal di kota ku. Mungkin yang ibu ingin kan adalah menantu seorang PNS seperti mas Adi,,jadi bisa dibanggakan di keluarganya. Padahal tidak harus PNS yang penting mau bertanggung jawab,,setia dan pengertian. Tapi sepertinya itu belum berlaku buat ibu ku. Ibu hanya ingin anak-anaknya mendapatkan suami yang sama seperti bapak.
Saat aku sedang duduk melamun di kamar,, tiba-tiba pintu kamar ku ada yang mengetuk.
tok...tok....tok ...
" Dek itu ada tamu nyariin kamu. "
Ternyata mbak Diba yang datang ke kamar ku.
" Siapa mbak?" jawab ku sambil membuka pintu.
" Si Eka kaya nya deh,,udah sana temuin aja dulu. "
'Haah...mas Eka,,baru aja aku pikirin. Udah nongol aja'. batin ku
" Eeh....malah bengong,,ayok temuin sana. Kasian tuh dari tadi dah diintrogasi ma bapak. he he he..." mbak Diba berlalu sambil terkekeh.
Mbak Diba emang suka iseng kalau menyangkut masalah percintaan ku. Bapak juga,,dengan pasang muka seram dan interogasi seperti kriminal selalu tanya - tanya hal yang sulit. Banyak teman-teman ku waktu sekolah dulu yang tidak berani bermain kerumah ku. Tapi mas Eka beda,,di bisa menjawab pertanyaan bapak dengan sopan dan santai. Hanya ibu yang sepertinya belum bisa menerima kalau mas Eka itu adalah pilihan ku
Ketika aku akan menemui kekasih ku itu aku mendengar suara ibu sedang berbicara dengan mas Eka
" Kalau bisa kalian jadi teman saja ya! Dilla masih kuliah dan ibu pengen dia menjadi guru."
" Mungkin kalau sekarang tidak apa-apa bu,, karena saya juga ingin Dilla lulus dan menggapai semua cita-cita nya dulu. Tapi nanti kalau Dilla sudah lulus dan menjadi guru,,saya akan segera mengajak kedua orang tua saya kemari untuk melamar Dilla."
Astaga...ternyata mas Eka benar - benar dengan ucapannya kemarin sewaktu menemui ku di Jogja.
" Boleh saja kalau mau melamar Dilla,,tapi syaratnya kamu harus jadi PNS dulu. apa kamu sanggup?"
Aku sudah tidak tahan .mendengar ibu yang terlalu menuntut mas Eka,,masa bisa semudah itu jadi PNS?
" Bu,,jadi PNS itu gak mudah,,masa harus jadi PNS dulu? lagian mas Eka kan dah jadi manager?" tanya ku
" Ya harus bisa lah,,itu si Adi sama Diba saja bisa jadi PNS,,kenapa dia tidak?"
" Ya beda lah bu,,mas Adi kan dulu jadi pegawai honorer juga lumayan lama,,mbak Diba juga.Lagian sayang juga kalau mas Eka mesti ninggalin kerjaan yang sekarang cuma buat jadi tenaga honorer saja." jawabku tak mau kalah
" Makanya yang cerdas dong,,bagaimana caranya supaya bisa lolos tes ndak mesti jadi tenaga honorer dulu. Katanya kuliah,,masa ndak bisa mikir cerdas?"
" Astaghfirullah,,ibu kenapa berkata seperti itu?"
" Halah...sudah lah,,kalau tidak sanggup menjalankan syarat itu,,jangan harap kamu bisa nikah sama anak saya."
Ibu berlalu kedalam meninggalkan kami semua dengan wajah kesal.
Aku sangat sedih,,mataku sudah terasa panas. cairan bening itu sudah menumpuk di kelopak mata ku dan sudah tak sabar untuk tumpah. Aku tak ingin menangis di depan mas Eka. Ku lihat wajah mas Eka jiga sangat murung. Dia pasti sakit hati dengan perkataan ibu. Ini juga yang sering terlontar untuk mas Pras,,pantas saja mbak Dita malas membawa suaminya kesini. Karena ucapan ibu sangat pedas. Aku saja yang anaknya sakit mendengar semua ucapan ibu. Ibu memang kalau sudah tidak suka dengan orang,,tidak segan-segan untuk mengucapkan ketidak sukaannya.
" Dilla,,aku pamit pulang ya. Sepertinya ibu mu tidak suka aku ada disini."
Mas Eka berpamitan dengan muka yang murung. Aku tau dia pasti sangat sakit hati. Aku pun tidak bisa mencegahnya untuk pulang.
" Maafkan ibu ku ya mas,,ibu emang suka begitu."
" Iya dill,,aku sudah maafin ibu kok. Aku juga maklum kalau ibu mu tidak setuju dengan ku. Siapa aku yang hanya karyawan toko."
" Kok mas eka bilang gitu? Aku tau bagaimana perjuangan mas Eka bisa sampai sekarang ini seperti apa."
" Tapi ibumu juga ada benarnya Dill,,dia hanya ingin anak-anaknya punya suami yang kaya bapak."
Bapak yang sedari tadi hanya diam pun akhirnya ikut mengeluarkan pendapatnya. Dan tentu saja sependapat dengan ibu. Perkataan bapak membuat mas Eka semakin murung.
" Pak saya pamit pulang." Pamit mas Eka sambil salim pada bapak.
" Ya sudah sana hati - hati."
Aku mengantar mas Eka sampai ke pintu gerbang. Mas eka berpesan agar aku tidak marah dan menyalahkan orang tua ku. Dia juga meminta maaf karena tidak bisa mengantarkan ku ke terminal besok siang. Karena dia juga mesti kerja. Sebelum pulang mas Eka seperti biasa mengusap rambutku dengan lembut. Aku merasa sangat sedih karena harus meninggalkan dia ke Jogja dengan Masalah seperti ini .
Aku melangkah ke dalam rumah dengan gontai. Saat tiba diruang keluarga. Aku melihat ibu dan bapak sedang menonton TV. Mbak Diba sepertinya sudah tidur karena tadi dia masuk ke kamar bersama Kiko setelah memberi tahu ada mas Eka.
"Dilla duduk sini sebentar nduk." Bapak memanggil ku untuk duduk di sofa dekat ibu.
" Dilla ibu mau ngomong sama kamu." Tanpa basa-basi ibu langsung mengajakku berbicara,,padahal aku baru saja meletakkan b***ngku di atas sofa.
" Ada apa bu? masalah tadi?" kok ibu gitu sih sama semua temanku?"
Tidak tahan aku pun langsung bertanya pada ibu
" Nduk,,ibu begini juga untuk kebaikan mu." Jawab ibu tegas
" Tapi gak harus gitu kan bu bicaranya? kasian mas Eka dipojokkan seperti itu."
" Ibu tidak memojokkan dia,,kalau dia merasa terpojok berarti dia laki - laki yang baperan."
" Tidak memojokkan gimana? ini terang-terangan gak setuju gitu."
" Lho ...emang ibu ndak setuju kamu sama dia. Masa depan mu masih panjang nduk. Cari yang lain."
"Gak semudah itu bu. Udah ah aku mau masuk kamar siap-siap besok mau berangkat ke Jogja."
Aku berlalu masuk ke dalam kamar. Sudah tidak tahan untuk menangis. Aku tidak berani menangis di depan ibu karena ada bapak. Apalagi menangisi seorang lelaki,,bapak pasti akan sangat marah padaku.
"Eeh...ibu belum selesai bicaranya. Huuh...susah emang bilangin anak kalau lagi di mabok cinta. Ini lagi bapak malah diem aja." Ibu melirik tajam pada bapak yang dari tadi hanya diam
" Lah ..bapak mesti bilang apa? semua udah dibilang sama ibu." Jawaban bapak santai sambil menonton berita di layar TV
" Haah....tau lah ibu pusing."
Braaaakk.....
pintu kamar ibu tutup dengan keras. Mungkin ibu kesal padaku ditambah bapak yang sepertinya tidak begitu mendukung ibu karen hanya diam.
Sesampainya di kamar aku menangis,,air mata tumpah seperti anak sungai yang tidak mau berhenti. Aku hanya bisa berdoa kepada Tuhan agar ibu ku bisa merestui hubungan ku dengan mas Eka. Lelah rasanya setiap punya kekasih tidak ada yang cocok dengan ibu. Makanya aku malas berpacaran. Hanya mas Eka yang bisa membuat aku tenang,,dia juga selalu sabar menghibur ku dikala aku pusing dengan sikap ibu yang sangat kolot.
Ibu masih berpikiran kolot,,sama persis dengan nenek Ndari,ibunya bapak. Heran kenapa ibu tidak seperti nenek Hasri yang lemah lembut? Malah seperti ibu mertuanya yang sangat kolot dan sangat tegas
**********
Siang ini aku akan berangkat ke Jogja,,mbak Diba dan bapak masih di kantor. Aku pun berangkat ke terminal dengan ojek online. Aku segera pamit pada ibu yang sedang menemani Kiko bermain di halaman. Seperti biasa ibu berpesan agar jaga diri,,jangan banyak bergadang dan rajin belajar.
Sesampai di Jogja,,aku langsung membersihkan kamar kos ku. Karena aku memang menyewa kamar sendiri,,tidak bareng dengan teman. Sebenarnya aku baru 2 bulan menepati kamar kos ini. Sebelumnya aku ngontrak bersama teman-teman ku yang lainnya. Berhubung aku harus mendekati SD Tempatku praktek,,aku memutuskan untuk pindah ke kost yang lebih dekat. Sebenarnya lebih enak di kontrakan,,karena fasilitas lumayan bagus. Di kost ku yang baru tidak ada dapur,,anak kost membawa peralatan memasak sendiri dan diletakkan di depan kamar masing-masing.
Aku sangat malas kalau harus beli kompor dan lain-lainnya,,jadi aku memutuskan untuk membeli saja makanan di warung,,sedangkan untuk nasi aku memasak sendiri karena dibekali rice cooker mini oleh ibu. Apalagi aku disini hanya 3 bulan saja,,jadi aku memilih cara yang praktis saja.
Hampir 3 bulan aku menempati kamar kost ini tidak ada kejadian apa-apa. Tetapi entak kenapa malam ini aku merasa ada yang aneh. Aku merasa sangat sulit untuk tidur. Mataku sudah ku pejamkan tapi telinga masih sangat jelas mendengarkan suara-suara.
Aku mendengar ada yang membisiki telinga ku
" Toloong....toloong ...."
Degh....
jantungku berdetak amat kencang. Suara itu terdengar sangat sedih dan menyayat hati. Dingin....dan terdengar dia sangat kesakitan.
Suara siapa itu? kenapa terdengar sangat jelas? tapi siapa yang meminta tolong?? dan kenapa dia??
BERSAMBUNG