Chapter 8

1033 Words
Chapter 8 (Debur Hangat Pantai) ** Hangat angin ditambah suara debur ombak yang tiap kali menepi ke bibir pantai di kala pukul sepuluh pagi merembes hampir ke dalam lapisan kulit milik wanita dan lelaki yang tengah memandang deburan ombak dan samudera yang tak punya ujung dengan tatapan sendu namun menikmati suasana yang ada. Ia menikmati kehangatan itu dengan melupakan fakta jika angin yang diam – diam dingin dan hangat dari sang surya bisa membakar kulit keduanya hingga matang, membuat kulit wajah Nasya yang putih bening menjadi sedikit kumal, dan membuat bekas diantara bahu hingga pergelangan tangan untuk lelaki yang menggunak setelan kemeja putih dan celana pendek cream selutut. Keduanya duduk berdampingan tanpa mendekatkan jaraknya, menikmati suasana dengan pikiran yang menjelajah jauh kepada memori – memori silam sekaligus memikirkan bagaiman acara melepaskan penat dari berbagai problema kehidupan yang ada. Mereka yang diam malahan mengendap – endap memikirkan jalan keluar dari permasalahan yang ada terutama bagi Nasya, sementara Daniel... ia hanya sengaja membawa gadis itu ke pantai agar bisa memberikan suasana lain, memberikan kesempatan untuk gadis di sebelahnya berdamai dengan bebannya atau jika memungkinkan malah melepaskannya dengan santai dan membiarkan beban hidupnya terbawa ombak di laut yang kini tengah ia pandangi. Lelaki ini berdiri, berjalan memeberikan jarak lalu memilih mendekati mobil pribadinya dan bersandar pada kap mobil yang tertutup rapat. Lelaki dengan setelah putih dan celana cream menatap gadis itu sendirian, menatap dengan tatapan aneh antara memelas dan juga dipenuhi rasa dendam yang belum bisa ia definisikan, entah karena lelaki b******k yang pernah membuat dunianya runtuh, atau karena ia trauma berhubungan dnegan wanita yang dalam tubuhnya memiliki DNA lelaki b******k itu. Daniel memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana, melihat sisi kanan dan kiri lalu memilih masuk ke mobil dan tidur di dalamnya, berusaha memposisikan diri senyaman mungkin utnuk menetralisir suhu hangat yang masih nyaman ada di tubuhnya. Kala Daniel memilih tidur dan memposisikan dirinya,seorang gadis justru bolak balik menghembuskan nafasnya kasar, bolak balik melirik ke arah kanan dan kiri memastikan jika tidak ada orang selain dia. Memfokuskan dirinya yang kalap dengan berita tadi pagi, Nasya menatap hamparan air yang jauhnya bermil – mil, ia menatap genangan air yang mungkin kedalamannya jauh lebih dalam dibandingan dengan beban yang kini ia pikul, dan Nasya menatap pasir putih dibarengi hewan – hewan laut kecil speerti kepiting kecil dan kelomang yang diam – diam merunduk – runduk mendekatinya, setitik menyentuh ujung jari kakinya lalu meninggalkan sedikit luka yang membuatnya tersenyum. ‘’Lega?’’ ujarnya dalam hati saat sekelebat masalah tiba – tiba saja mampir. ‘’Definisi lega nampaknya seperti apa? Apakah benar – benar ada manusia dengan rasa lega sementara dunia semakin hari semakin kolot saja??” ‘’Tiap hari rasanya hatiku tiada henti membara, dibakar oleh rasa takut untuk pulang sedangkan hanya itu tempatku berlindung dari dunia yang makin hari makin mengerikan,’’ ‘’Sekarang bagaimana Tuhan ...’’ ‘’Redupnya cahaya di wajahku bahkan sudah bisa dinampak oleh ribuan pasang mata, derita hidupku yang aku pikul di kedua bahku enggan untuk turun atau sekedar hanyut agar aku bisa tersenyum tanpa sungkan di depan mu atau di depan hamba mu ...’’ ‘’Entah sepanjang apa beban ini akan ada dalam pundaku, entah ia membuat peta petualangannya sendiri hingga aku depresi, atau ia sekedar benar – benar merindukan ku dan ingin mengujiku ...’’ ‘’Tuha, rasa tak enak hati benar – benar membuatku tak bisa berpikir jernih, aku hanya mampu berpikir bagaimana lantas beban ini bisa luruh tanpa waktu yang cukup lama sebab aku tidak yakin jika ragaku sanggup menerima hal – hal yang kerji itu...’’ ‘’Laiknya deburan ombak yang kini aku lihat dan nikmati, ia begitu senang senantiasa membawa semua hal yang ia lewati, seolah ia benar – benar membawa beban milik pasir putih agar ia bisa memberikan kehidupan baru untuknya. Aku hanya berharap demikian, tak lebih dari itu ...’’ ‘’Melihat kedua orang tuaku menderita, melihat semua tindakan k**i yang tidak memanusiakan manusia. Aku benar – benar akan berusaha keras mencari semua hal yang bisa membawa orang tuaku pergi dari kondisi ini, berilah aku waktu tercepat untuk menghadapinya.’’ Gadis itu menyeka air matanya diam – diam, mengapus jejak air melangir di sekitar pipinya, membuat lengkungan senyum tipis yang palsu di depan cahaya yang meredup, mungkin akan turun hujan ujarnya tapi si gadis masih enggan meninggalkan meskipun ia tahu lelaki yang membawanya kemari sudah menanti di depan mobil. ‘’Huh ...’’ nafasnya tersenggal, sesak, beban di hatinya terasa sangat penuh hingga rasanya sangat pengap, ia memukul dadanya berkali – kali yang ujarnya bisa mengeluarkan beban yang ada di hatinya tapi nyatanya sama saja, justru memperparah. Ia tak menyerah, masih mencoba memukul dadanya sebab hanya itu yang bisa ia lakukan untuk bisa melegakan rasa yang kini mampir, ia terrus memukul kali ini lebih pelan sampai akhirnya sebuah tangan menahannya. Gadis itu melirik, melihat siapa biang yang menghentikan laju tangannya untuk membuat bebannya segera luruh, jika tidak bisa menangis maka hanya ini yang bisa ia lakukan kata Nasya diam – diam. Daniel menatap Nasya dengan tatapan entah mengartikan apa, yang jelas kini ia masih mencekal kuat tangan gadis itu, membuatnya menatap matanya juga namun dengan bola mata yang sudah mengkristal tinggal menanti kristal beningnya luruh merembes ke pori – pori wajah gadis itu. Nasya menangis, tapi tidak dengan suara yang nyaring. Hanya saja secara tidak sengaja air matanya turun melihat ada sosok yang mengetahui jika ia tengah lemah. Gadis itu teringat jika dahulu sebelum semuanya di mulai ia sama sekali tidak pernah menangis, justru ia lebih banyak mengeluarkan gelegak tawa yang bisa membangunkan semua orang di rumah besar Ayahnya pada kala itu, tapi semua ini sudah berbanding terbalik. Dunia dalam hidupnya sudah berputar tiga ratus enam puluh derajat, kepribadiannya juga sudah berubah sedemikian cepatnya mengikuti kondisi yang ada. Sampai pad akahirnya ia mulai terbiasa hidup dengan keterbatasan, hidup dengan kesederhanaan, hidup dengan penuh tekanan, dan hidup dengan dambaan Tuhan segera mengubah nasibnya. Daniel menarik Nasya ke dalam pelukannya, mengelus pelan puncak kepala gadis itu. Ia memberikan kehangatan di tengah panas teriknya udara dan cuaca pantai, ia memberikan bahu untuk gadis itu bersandar, memberikan ketenangan yang sudah lama nasya tidak temukan selian pada sata berbicara pada Tuhannya. Dengan Daniel, Nasya merasa tuhan berbaik hati mengirimkan sosok tuas hatinya yang sudah lama menghilang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD