Chapter 7

2721 Words
Chapter 7 (Mata) ** Pagi bersorak ria, menyambut kedatangan embun sembari menatap semesta yang mulai bolak – balik bercerita tentang kegaduhan seluruh penghuni di dalamnya, angin berhembus lirih beralih waktu dengan guntur gemuruh disertai rerintik hujan yang dengan santainya datang tanpa permisi sengaja mengulur waktu dan menghambat laju manusia memulai aktifitasnya. Pagi yang cerah ini menjadi saksi bisu kehangatan yang tidak lagi bisa dirasakan, namun adanya rasa panik dari jutaan manusia yang terbiasa bangun di pagi hariuntuk mencari nafkah tapi kini masih terdiam, beberapa diantaranya mereka adalah orag – orang yang sederhana. Mereka lah yang merasa amat kesulitan kala hujan dan mendung di pagi hari mendadak lebih awet dan deras, mereka lah yag kesulitan memikirkan cara kala transportasi umum tidak bergerak memandu semua orang untuk pergi ke kota, dan mereka lah yang deresi kecil kala memikirkan bagaimana nasib pekerjaan dan keluarganya di masa mendatang. Sementara si sudut lain, orang – orang kaya yang picik dan tamak malah kesenangan sebab pundi rupiah tak lagi di keluarkan lebih banyak sebab ia bisa membayar kurang dari harga yang dikontrakan. Begitulah semesta memparodikan kehidupan pagi para penghuninya kepada sag surya yang malah terkikik penuh puas, si surya tak cukup terkejut dengan apa yang di beritakan oleh semesta, justru sang surya menyanyangkan satu hal terhadap penghuni semesta, ia adalah ketamakan akan harta dan kelupaannya pada Tuhan. Padahal Tuhan menciptakan manusia untuk beribadah, dengan hal itu tak tanggung – tanggung hal – hal baik yang akan Tuhan berikan, tapi tetap saja manusia – manusia yang fana ini malah beribadah kala memohon hal yang diinginkann, bukan malah beribadah atas dasar kecintaan dan rasa terima kasih. Wallahu’allam... ‘’Enghhh!’’ suara desahan dari seorang wanita kala pertama kali membuka matanya dan menemukan sesuatu yang berbeda terdengar begitu tak alus, ia agak bingung. ‘’Ha? Ini dimana?’’ ujarnya tak sadar. ‘’Aaa ya ampun aku lupa, aku ada di villanya Daniel.’’ Sahutnya cepat pada dirinya sendiri. Nasya belum bangun dari tempat tidurnya, ia masih memilih berbaring sembari bolak balik mengerjapkan mata dan sesekali merenggangka tubuhnya atau yang lebih dikenal dengan ngulet dalam bahasa jawanya. Ia bolak balik mengerjakan mata membuang rasa kantuk di pagi hari yang mendung diiringi suara hujan yang memabukan dan menghipnotis tubuhnya untuk tidur. ‘’No! Bangun! Ada kerja Nasyaa! Ini baru hari ke dua ...’’ semangat nya pada diri sendiri lalu denga berat hati ia bagun dari awal mula berbaring, duduk di tepi ranjang sebentar, ia langsung mandi setelah melihat pakaian baru telah disiapkan. ‘’Ck, malu ...’’ Nasya tersipu saat setelan pakaian lengkap itu terjejer rapih hingga ke pakaian dalamnnya. Dengan cepat dan tanpa pikir panjang, ia segera masuk ke dalam kamar mandi luas, membersihkan dirinya sesekali merintih sakit sebab luka di pipinya bersentuhan langsung denganbahan kimia. Setelah selesai mandi, Nasya berdiri di depan cermin besar lebih besar dari ukuran tubuhnya, bahkan gadis itu bisa melihat seluruh isi kamar yang benar – benar mewah ini, semua property di dalamnya hampir semuanya canggih dari closet yang bisa membuka tutupnya sendiri hingga bisa menyesuaikan suhu baik dingin maupun hangat, gorden yang bisa dibuka hanya denga menekan tombolnya, lalu lampu yang bisa dimatikan hanya dengan menepuk dua kali tangannya. ‘’Wahh ....’’ Takjub Nasya kala pertama kali masuk ke dalam ruangan ini malam tadi. Kini gadis itu berdiri di depan cermin, memandag tubuhnya yang semakin hari semakin kurus, lalu tangan kana dan kirinya yang sebelumnya menempel pada paha kini bergerak naik menyentuh pipinya yang masih memerah tergores luka. Dengan terpaksa tanpa adanya alat make up dan semua yang ia punya di kos – kosan, ia keluar dengan tampilan bare face yang sejujurnya ia malu terlebih hari ini ia harus ke kantor. ‘’Huh... ‘’ ‘’Kenapa sih harus kayak gini,’’ batin Nasya berbalik berjalan ke arah pintu sambil memikirkan nasib hidupnya yang semakin hari semakin mengejutkan saja. ** ‘’Belum bangun ...’’ Nasya yang sudah siap dengan kemeja kerja di sertai blazer feminim pilihan Daniel saat tengah malam kini duduk si sebelah Daniel yang masih meringkuk di atas sofa empuk, separuh badannya di tutpi selimut tipis, wajahnya tampak nyenyak sampai – sampai Nasya sedikit merasa tak enak jika harus membangunkan bosnya dalam keadaan seperti itu. Ia melirik jarum jam. ‘Jam setengah tujuh ...’’ ujar Nasya mencoba memikirka cara bagaimana membangunkan Daniel di kala ia nampak tertidur begitu pulas. Wajahnya cerah tapi tentu saja tak saggup mengalahkan milik semesta Hatiku bergetar Seolah sesuatu berada di sana tengah membagun sebuah desa untuk lelak ini Wajahnya nampak damai sesekali nampak dingin tak memiliki hati Tapi siapa sangka Seseorag yang kini memejam di hadapanku dengan syahdunya adalah kiriman Tuhan Hatiku seolah terbakar kala memandagnya dengan waktu yang lama Seolah api – api kerinduan akan datangnya cinta mulai mengepulkan asapnya Sengaja membuat nafasku sesak hanya dengan menatap wajahnya Wahai ... Apakah hanya dengan wajah nya yang nampak gagah dan indah ini mampu membuatku jatuh hati? Atau kah ini hanya sekelebat rasa kagum dan syukur untuk apa yang baru saja aku jalani ... ‘’Sir ...’’ Nasya menggoyagkan bahu Daniel pelan menunggu respon dengan sabar. Aneh, ini cuaca dingin tapi kenapa badannya Daniel Hangat ... ‘’Sir ...’’ panggil Nasya lagi kepada Daniel tapi belum ada jwaban. ‘’Sir ... sudah siang ...’’ ujarnya lagi di jawab lenguhan pelan tak niat dan orang yang kini ia coba sadarkan diri malah tetap memejamkan mata. Dengan berani, Nasya menyentuh kening mulus lelaki di depannya. Ia meraasaka hawa panas sebagaimana ia duga. ‘’Sir ....’’ ujar Nasya memanggil dengan agak keras dan jauh lebih keras lagi guncagan tangannya. ‘’Sir, anda sakit ...’’ kata Nasya mencoba membagunkan danie yang bolak balik hanya memberikan respon lenguhan kecil. ‘’Oh god ... badanmu panas sekali ...’’ Gadis itu dengan sergap dan cepat menarik selimut Daniel dari tubuhnya, ia memakaikan kaus kaki dan memasag kompres di kening lelaki itu lalu memaksa Daniel untuk bangun guna meneguk obat yang sudah ia bawa. ‘’Minumlah ...’’ ujar Nasya kepada Daniel yang sudah duduk bersandar di sofa kulit mahal itu Pria ini meneguk satu butir obat yang ada yang selama Nasya mencari obat lain yang mungkin juga lebih efektif, tapi ia hanya menemukan paracetamol dan ya itu cukup membatu juga hanya saja kurag efektif untuk demam jika tidak di dukung dengan obat lainnya. Wait ... Daniel tiba – tiba kaku, ia menatap Nasya denga tatapan tajam dan agak kebingungan. ‘’Obat apa ini??’’ tanya Daniel. ‘’Paracetamol,’’ jawab Nasya menatap mata Daniel dengan yakin lalu mengangguk seolah ia tak punya kesalahan lain. ‘’Nasy a...’’ ‘’Yes Sir ...’’ ‘’Saya bahkan belum makan apapun dari malam,’’ tukas Daniel yang langsung di terima oleh Nasya, sontak gadis itu langsung menepuk jidatnya. ‘’Tapi saya ngga menemukan makanan apapun,’’ bela Nasya pada dirinya sendiri sebab ya memang seperti itu adanya.. ‘’Kemarilah ...’’ Daniel meminta Nasya duduk tepat di sebelahnya kemudian menyentuh dagu nasya pelan dan mengarahkan kepada tujuan yang diinginka Daniel. ‘’Lihatlah ... pintu itu,’’ kata Daniel menunjuk sekaligus menggerakan Dagu Nasya. ‘’Sudah lihat?” tanya Daniel memastikan. ‘’Iya sudah ....’’ jawab Nasya singkat. ‘’Lihat ada tulisa apa??’’ ‘’KITCHEN.’’ ‘’Nah itu, kenapa tidak masuk ke sana.’’ ‘’Umm... terkunci,’’ jawab Nasya. Daniel yang penasaran sontok menggandeng tangan Nasya lalu menarik gadis itu da berjalan depan belakang mendekati pintu dapur seperti yang ia maksudkan. ‘’Buka lah ...’’ kata Daniel menyuruh gadis di belakangnya lalu dengan cepat gadis itu menarik knop pintunya ke bawah dan ya sulit tapi Daniel masih tidak percaya. Ia yang masih dengan setelan pakaian semalam menatikan gadis itu bisa membuka pintunya al hasil tidak bisa dan dengan terpaksa Daniel juga memegag knop pintu lalu mendorongnya ke belakang dan secara tidak sadar Daniel telah membuat wanita dalam dekapan yang tidak erat itu kaku. Sial, deket banget sih!!!’’ Tahan Nasya, tahan ... Jangan sampai tergoda plis. Tapi dia gak mandi aja masih harum banget .... Nasya membalikan tubuhnya menghadap ke d**a bidang Daniel lalu secara reflek ia menahan nafasnya sekaligus sebab jantung yang tak bisa di kontrol degupannya. Daniel menunduk, menatap wajah Nasya yang terlampau cantik hingga tak sadar ia mendekatkan wajahnya pada Nasya yang malah sudah memejam seolah siap untuk hal yang akan terjadi dan siapa sangka hal lain malah menanti. ‘’Kamu pakai lotion saya?’’ tanya Daniel sembari menjauhka tuubuhnya dari tubuh gadis di depannya sementara Nasya menenggak ludahnya dengan kasar seolah ada sesuatu yang baru saja mengganjel di tenggorokannya. ‘’Iya ... ‘’ jawab Nasya gugup sembari menunduk menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah. Dengan cepat untuk mengalihkan perhatian, Nasya menghubungi kantor mereka di kota untuk memberi tahu bahwa Daniel akan beragkat lebih siang dari jadwal biasanya. ‘’Tapi Mr. Daniel sudah mengkosongkan jadwalnya hari ini hingga akhir pekan ...’’ kata salah satu respsionis di depan ruangan Daniel Persis. ‘’Tapi di jadwal yang saya punya tidak demikian Mba, bisa tolong cek lagi kesamaannya.’’ Kata Nasya bingung, hari ini Daniel seharusnya melakukan kunjungan ke beberapa property yangbaru mulai di bangun. ‘’Iya, mungkin ada perubahan jadwal secara sepihak dari Mr. Daniel,’’ ‘’Oh begitu ... oke terima kasih sebelumnya, nanti coba saya cek lagi.’’ Nasya mematikan teleppon genggam jadulnya lalu menatap Daniel dan mendekatinya. ‘’Hari ini anda tidak ke kantor??’’ Tanya Nasya penuh dengan kebingungan sebab atasannya tidak memberika konfirmasi dan malah membuat segelas kopi dengan santai lalu di lanjut entah melakukan aktifitas memasak menu makanan yang sama sekali tidak Nasya pahami. ‘’Mmm ...’’ kata Daniel singkat. ‘’Tapi jadwal hari ini penting,’’ tukas Nasya meng ekor di belakag Daniel bahkan cukup bisa dibilag menghambat aktifitas pergerakan Daniel. ‘’Saya ingin libur,’’ jawab Daniel. ‘’Ngga bisa, kita harus ke kota. Ini investor yang cukuup banyak dalam memberikan Dana, kalo kita tolak dan tidak bertemu resiko kerugiannya mencapai ratusan miliar Sir ...’’ jelas Nasya menghentuka laju lagkah Daniel sembari berdiri tepat di depan Daniel lalu menatap laki – laki itu dengan serius. Tinggi badan Daniel yang cukup lumayan membuat Nasya harus mendongak ke atas terlebih jarak mereka cukup dekat karena di belakang Nasya bertengger manis kulkas besar dua pintu. ‘’Minggir ...’’ Tatapan tajam milik atasannya menelisik masuk hingga membuat bulu kuduknya berdiri takut. ‘’Sir ...’’ lirih Nasya takut da masih berdiri di belakang tubuh Daniel. ‘’Huh ...’’ Suara hembusan nafas berat terdengar hingga ke telinga Nasya, bisa ditangkap dengan mudah jika lelaki yang kini nampak membuat makanan berbahan dasar telur agak kesal lalu memilih membalik telur dadaar setengah mateng sebelum ia hangus terbakar. ** Suasana dapur sedikit menegang, ditambah suara pisau yang bertemu langsung dengan talenan kayu menambah suasana tegang seolah ada seorng pembunuh yang bisa saja mebgintai Nasya kapanpun, Daniel yang tanpa mengihraukan Nasya masih melajutkan proses masaknya mulai dari membuat telor gulung, merebus mie lalu menumisnya dengan keju dan beberapa dading cincag, membuat jus buah naga dicampur dengan sedikit stoberi dan perasan lemon, lalu ia juga menyiapkan beberapa tempat untuk menghidangkan makanan seorag diri tanpa berniat mengajak wanita yang nampak masih saja menatap punggungnya bergerak ke kanan dan kiri mengikuti prosedur memasak yang datang dari nalurinya. ‘’Nah selesai ....’’ ucap Daniel memandang hidangan hasilnya memasak yang sudah diplating secantik mungkin. Ia memandangi telor gulung yag sudah diiris kotak – kotak, tumis mie goreng dengan gading dan sosis yang ditambah bumbu pedas manis, dua gelas jus asam manis yang ia buat dengan amat senang lalu Daniel berbalik , memlepas celemek yang menempel pada tubuuhnya dan bergerak mendatangi Nasya sementara gadis itu malah menatap lelaki di depannya dengan tatapan tidak suka. Daniel memahami situasinya, ia memaklumi jika sekretaris barunya hanya tengah mencoba mengingatka pentingnya bertemu investor hari ini tapi ia sudah terlajur mengkosongkan jadwal sebab ingin berkunjung ke sebuah tempat saat badannya sudah mulai merasa enakan. ‘’Makan yuk...’’ kata Daniel agak dingin dan melepas cekalanya pada kedua bahu Nasya yang berisi. ‘’Sir ...’’ rengek Nasya mengikuti arah jalan Daniel menuju meja makan. Daniel tidak menjawab, ia kembali memegang kendali Nasya dengan memegang kedua bahunya lalu mendorongnya dengan posisi berhadapan dengannya da mendudukannya di kursi meja makan. ‘’Makan lah dulu, jernihkan pikiramu.’’ Kata Daniel meninggalkan Nasya di tempat duduknya da beralih ke tempat duduknya sendiri lalu langsung memakan semua hidangan yang ia buat. Enak banget .... Girang Nasya dalam batinnya memuji Daniel, ia masih setia memandang lelaki itu dengan dingin dan raut wajah kesal. Ia takut disalahkan jika inverstor itu tidak jadi memberikan danaya kepada proyek perusahaan yang baru apalagi ia mendengar jika mood bosnya berubah – ubah bahka bisa seketika marah menyalahkan kinerja bawahannya mengapa tidak mencegah jika mengetahi resikonya besar. Nasya berniat susai makan ia akan meminta Daniel untuk berangkat ke kantor untuk keselamatan pekerjaannya yang baru. ** Terdengar ponsel berdering, nama Ibu tertera di ponsel jadul milik Nasya yang juga sempat dilirik oleh Daniel. ‘’Iya ibu ...’’ ‘’Nasya sudah baik – baik saja, ibu bagaimana? Apa ada yang terluka?? ‘’Tidak nak, ibu dan ayah baik – baik saja, kita sedag pergi ke kota untuk mencari kos murah di sana. Ayah sudah tau apa yang beberap atahun terakhir terjadi padamu. Kami akan berusaha sebaik mungkin untuk membahagiakan putri kami ...’’ kata Zahra di seberag teleponnya. ‘’Ibu ...’’ lirih Nasya menahan tangis sembari menutup mulutnya. Daniel melirik, mencoba membaca situasinya. ‘’Baik – baiklah di sana, tidak akan lama. Ibu juga yakin atasanmu orang yang cukup baik. Ibu tutup ya sayang ...’’ ‘’Iya ...’’ Daniel yang dingin dan penuh dengan rasa tak perduli tiba – tiba secara mendadak merasakan hal aneh, ia bisa menerjemah situasi yang terjadi , membaca hal yang ada di depannya dan merasakan hal berat yang juga dipikul wanita di depannya. Ia merasa ingin bertanya bagaimana kabar setelahnya, apa yang dirasakan Nasya, ingin menanyakan semua hal terkait gadis di depannya ini tapi egonya membatasinya bergerak. Hanya saja Daniel merasa jika ia cukup terkejut sebab gadis mungil di depannya dengan usia yang sangat muda harus mendapatkan perlakuan buruk dari lelaki itu. Sungguh, ia merasa dunia sangat sempit sampai – sampai ia harus berhubungan dengan orang – orang yang juga memiliki koneksi dengan lelaki itu. ‘’Ikut?’’ Daniel mendadak bertanya kepada Nasya setelah dua puluh menitan gadis itu melamun tanpa menghabiskan makanannya tapi malah menerawang jauh entah apa yang ada dalam pikirannya. ‘’Huh? Maksudnya?’’ jawab Nasya agak enggan menatap Daniel, ia memilih menatap ke arah pasta yang sudah hancur sebab terpotong – potong oleh ujung sendoknya yang nampak tumpul. ‘’Ayo, pergi.’’ Kata Daniel. ‘’Kantor,’’ lanjutnya lalu dijawab anggukan oleh Nasya. Gadi situ berjalan amat pelan sempoyongn seolah ia baru saja bangun dari tidurnya, tapi kali ini lebih nampak seperti manusia tanpa nyawa aliaz sombil yang bergerak berkeliaran hingga masuk ke dalam mobil milik lelaki itu. Daniel setitik melirik Nasya dengan hati yang bertanya – tanya apakah gerangan hal yang membuat waita di sampingnya menjadi jauh lebih pendiam dari sebelumnya, apakah hal yag mmebuat wanita di sampingnya ini masih saja melamunkan hal yang tidak Daniel tahu. Berusaha acuh, Daniel mengemudikan kendaraannya, membelah jalanan dengan kecepatan sedang sesekali membunyikan klakson kala kendaraan roda empatnya hendak mendahului kendaraan lain baik roda dua, empat, hingga yang rodanya lebih dari sepuluh pasang. ** Nasya tak berhenti – hentinya berguman takjub dengan pemandagan pagi yag disuguhkan kepadanya, ia bolak – balik memuji Tuhan atas kuasanya karena telah menciptakan suasana seperti yang ditangkap oleh kedua bola matanya. ‘’Cantik,’’ kata Daniel di susul angguka oleh Nasya yang masih menatap ke luar kaca jendela. ‘’Um, cantik bangett!!!!’’ sahutnya. Daniel tersenyum begitu tipis saat tak henti – hentinya gadis yang sebelumnya menghabiskan waktu dengan melamun kini malah tersenyum kegirangan tiada henti hingga rasaya seluruh perjalan di penuhi oleh tawa gadis di ssampingnya. Setelah beberapa jam memulai perjalanan hingga sampai ke tempat tujuan, Daniel memberhentika mobilnya di suatu tempat yang amat sepi lalu memberikan Nasya kesempatan untuk keluar dari mobil dan meminta gadis itu mengikutinya. Tak jauh dari tempat parkir mobilnya, Daniel mengajak Nasya duduk di pinggiran pantai yang pasirnya berwarna putih bersih, ia duduk berdampingan dengan keheningan satu sama lain dan kini ada tersuguh suara debur ombak yang kencang dan beberapa nyanyian burung pantai yang sesekali terbilang tak jarang membuat reranting pohon menari. Lega ... Rasanya amat lega, melihat senyum yang tersuguh sedemikian lama di rindu Kalap ... Hampir tak sadarkan diri terbius aroma senyum yang beberapa waktu tak dapat ku nikmati Hampir saja aku tak sadarkan diri karenanya Bahkan jika ia, Entah bagaimana hatiku terpaut pada hatinya Sekalipun dari aku dan dirinya baru bertemu dalam waktu yang bergerak beberapa jam saja
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD