8

1561 Words
Mata Azura membelalak, jantungnya berhenti berdetak, dan seakan mau keluar dari dadanya saat mendengar perkataan Miss Luisa yang meminta Angelo untuk pindah sekolah. Ibu mana yang tidak terkejut jika anaknya disuruh pindah sekolah lain sedangkan anaknya sendiri masih TK. “Maksudnya bagaimana Miss Luisa? Angelo masih anak TK.” Azura tidak percaya. Miss Luisa tersenyum. “Bukan seperti itu maksudnya Bunda.” “Lalu bagaimana maksudnya? Bisa dijelaskan pada saya.” Wajah Azura berubah menjadi serius. “Begini Bunda, Angelo merupakan anak didik yang sangat luar biasa. Memiliki kepintaran di atas rata - rata bahkan sudah sangat lancar membaca di usia 5 tahun. Angelo juga di matematika Angelo berhitungnya bukan hanya tentang penambahan, pengurangan, perkalian, pembagian, bahkan sudah pecahan. Angelo memang anak yang sangat pintar,” puji Miss Luisa. Saat mendengar perkataan Miss Luisa, Azura sudah tidak heran lagi. Memang putranya sangat pintar, tapi apakah harus pindah sekolah. Suatu hal yang tidak masuk akal baginya. “Ya memang Angelo memiliki kepintaran di atas anak - anak yang lain, tapi apakah itu alasan untuk sekolah ini mengeluarkan putra saya,” ucap Azura yang mulai kesal. “Begini Bunda. Ini saya tidak bermaksud mengeluarkan Angelo akan tetapi akan membuat Angelo masuk sekolah dasar terlebih dahulu. Nanti rencana saya jika Bunda menyetujuinya Angelo akan ikut lulusan tahun ini di kelas A sehingga bisa masuk sekolah dasar lebih awal,” ujar Miss Luisa menjelaskan maksudnya pada Azura. “Kalau Angelo masuk sekolah di usianya 5 tahun akan sulit untuk sekolah dasar menerimanya. Patokan usia anak masuk untuk sekolah itu usia minimal sekitar 6 tahun 10 bulan sedangkan Angelo usianya baru 5 tahun 3 bulan.” “Nah, begini Bunda dengan mempertimbangkan usia Angelo yang masih 5 tahun dan yayasan sangat mendukung anak-anak yang memiliki kepintaran di atas rata - rata usianya, saya selaku perwakilan dari Yayasan Mulia memberikan perlakuan khusus untuk Angelo.” Lagi-lagi Azura terkejut mendengar perkataan Miss Luisa. Seharusnya Angelo masih dalam waktu bermain bukan belajar. Ia tak rela jika putranya terlalu dini dalam mengikuti pelajaran. Selain itu ia juga tidak memiliki uang untuk anaknya sekolah swasta. “Saya akan mempertimbangkan hal tersebut,” ucap Azura. “Wah, sayang sekali loh Bunda kalau kesempatan ini dilewatkan. Anak kalau memiliki talenta harus didukung dan diusahakan dengan maksimal.” Miss Luisa masih berusaha membujuk Azura. “Kalau Angelo bisa melanjutkan sekolahnya di SD dengan cepat dan saya yakin bisa saja mendapatkan beasiswa berprestasi. Apa lagi Pak Ben merupakan dosen termuda di salah satu universitas negeri.” “Iya.” Azura kesal mendengar nama mantan suaminya “Pak Ben yang masih muda, berpendidikan, berprestasi, pintar tentu akan sangat bangga kalau mengetahui putranya tak kalah pintarnya dengan beliau.” “Iya.” “Pendidikan yang bagus dan berkualitas itu sangat penting untuk tumbuh kembang anak, Bunda. Selain itu sekolah yang mendukung pendidikan anak dengan semua fasilitas lengkap akan sangat bagus untuk pelajaran anak. Kalau anak terlalu banyak bermain dan tidak mementingkan pendidikan malah akan membuat masa depannya menjadi tidak menentu. Jadi sebaiknya Angelo mengikuti semua program - program dari sekolah Mulia Bangsa yang merupakan sekolah terbaik demi masa depan Angelo.” Miss Luisa menatap Azura dengan lekat. Tatapan Miss Luisa bukan malah membuat Azura merasa yakin, tapi malah ragu. Ingin sekali ia memarahi kepala sekolah Mulia Bangsa yang hanya mementingkan pelajaran tanpa memperdulikan kalau bukan hanya pelajaran saja. Ada hal - hal lain yang tak kalah pentingnya untuk tumbuh kembang seorang anak. “Bagaimana Bunda pasti sangat setuju dengan pemikiran saya,” ujar Miss Luisa. “Nanti akan saya bicarakan dengan Papanya Angelo,” ucap Azura. “Terima kasih sekali atas pengertiannya dan saya menunggu kabar baiknya dari Bunda dan Ayahnya Ananda Angelo Putra Azen.” “Iya Miss.” Azura menarik napasnya, sepertinya sudah saatnya ia menyudahinya. “Jika sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, kalau begitu saya permisi dulu.” Azura beranjak dari sofa. Ia pun bersalaman silih berganti dengan Miss Luisa dan Miss Rini. Saat berjalan menuju parkiran mobil ia melihat para orang tua duduk menonton pentas seni anak kelas A. Ada perasaan sedih saat melihat hal tersebut. Bagaimanapun ia ingin kalau Angelo dan Angela merasakan hal yang sama. Dalam hatinya sakit. Tak pernah ada dalam pikirannya kalau akan bercerai dengan Ben. Baginya dulu menikah hanya sekali, menikah sampai tua, bersama sampai maut memisahkan, tapi sekarang berbeda. Ia sudah mati - matian mempertahankan biduk rumah tangganya walau berakhir meja pengadilan. Sepanjang perjalanan ia memikirkan semua perkataan Miss Luisa tentang Angelo. Walau ada benarnya, tapi ia juga ragu. Sekolah di Mulia Bangsa bukanlah sekolah murah. Sedangkan Ben belum tentu mau membiayai pendidikan anaknya. Walau pengadilan sudah memutuskan biaya untuk anak kembarnya sebanyak 8 juta per bulan, tapi tidak menutup kemungkinan bisa terjadi hal yang berbeda. Banyak kejadian yang tidak bisa diprediksi. Untuk biaya sekolah per bulan saja 3 juta karena sekolah Mulia Bangsa berbasis international school, biaya uang katering untuk 2 anak 700 ribu. Uang les musik biola untuk Angelo per bulan 1 juta 200 ribu, les piano untuk Angela 1 juta 200 ribu. Jadilah sisa 1 juta 900 ribu untuk biaya makan dan keperluan sehari - hari. Jika Azura hanya berharap uang bulanan dari Ben tentu saja sangat pas - pasan. Jika terus bersekolah di Mulia Bangsa tentu saja ia akan semakin mengalami masalah keuangan. Bukan hal yang mudah untuk Azura bisa melewati hal tersebut. Setibanya di rumah Azura malah jadi bingung sendiri. Entah mengapa tiba - tiba saja ia tidak memiliki semangat. Kesulitan keuangan yang biasa dialami wanita yang telah bercerai sekarang sedang dihadapinya. Ia banyak memiliki rencana, namun sayangnya tidak semudah itu untuk merealisasikan semuanya. “Aku harus mencari uang bukan hanya dari menulis,” ucap Azura yang meratapi nasibnya sendiri. “Yaa Tuhan, aku harus bagaimana. Kenapa ada aja masalah dalam hidupku? Aku lelah yaa Tuhan.” Air mata menetes di pipinya. Memikirkan semua permasalahan semakin membuat Azura terus mengalirkan air mata di pipinya. Ingin rasanya melepaskan semuanya, ingin rasanya merelakan segalanya. Namun, jika ia menyerah apa yang akan terjadi pada anak - anaknya. Siapa yang akan melindungi anak-anaknya, siapa yang akan mendidik anaknya, siapa yang akan menjaga anak - anaknya. Jika berharap dari Ben tentu saja tidak bisa, jika dengan mantan mertuanya juga sama saja. Di dunia ini Azura hanya tinggal sendirian. Walau memiliki keluarga baik dari pihak bapak ataupun pihak ibu, tapi semuanya seakan menghilang. Ibunya sudah meninggal 3 tahun yang lalu karena sakit kanker p******a, dan ayahnya sudah meninggal saat usianya 10 tahun. Ibunya lah yang membiayai semua kebutuhannya, ibunya bekerja demi membayar biaya kuliahnya dan ia malah mengecewakan Ibunya. Saat dulu ia masih kuliah sudah hamil membuat hati ibunya hancur. Anak satu - satunya dan harapannya malah membuat kecewa. Azura juga merasa sangat sedih dan malu pada dirinya sendiri. Ibunya dulu sudah berharap banyak padanya malah ia merusak segalanya. Menghancurkan impian ibunya agar ia bisa lulus kuliah. Azura teringat percakapannya dulu dengan Ninis, Ibunya saat ia mengatakan kalau hamil. “Ibu, kulo nyuwun pangapunten sampun nguciwani panjenengan,” ucap Azura bersimpuh di hadapan Ninis. - Ibu, maafkan aku telah mengecewakanmu - “Kok kowe nglakoni sing nglarani atine Ibu to, Nduk. Ibu kuciwa banget karo kelakuanmu.” Ninis menangis sedih sambil mengusap-usap dadanya. - Kenapa kamu tega melakukan perbuatan yang membuat hatinya ibu sakit sih, Nak. Ibu kecewa banget sama kelakuanmu - “Ibu, iki salah kulo. Nyuwun pangapunten ibu.” - Ibu ini memang kesalahanku. Aku minta maaf Ibu - “Iki kabeh salah Ibu. Ibu mboten saget ngajari kowe Nduk. Nganti gawe doso. Ibu macam opo aku iki.” - Ini semua salah Ibu. Ibu tidak bisa mendidik anak kamu nak sampai berbuat dosa. Ibu macam apa aku ini - “Kulo nyuwun ngapuro, Ibu. Nyuwun pangapunten Ibu. Ibu, kulo sing salah. Iki dudu salah Ibu. Kulo nyuwun Ibu niki ampun salah Ibu. Kulo nyuwun panjenengan ampun mboten rumangsa luput niki kabeh kulo sing salah.” Azura menangis tersedu - sedu saat Ibunya menyalahkan dirinya sendiri. - Ampuni aku, Ibu. Maafkan aku, Ibu. Ibu, aku yang salah. Ini bukan kesalahan Ibu. Aku mohon jangan merasa bersalah ini semua kesalahan aku - “Dudu Nduk. Niki kesalahan Ibu.” - Bukan Nak. Ini memang kesalahan Ibu - Sambil menangis Azura menggelengkan kepalanya. Ini semua bukan kesalahan Ibunya, tapi semuanya merupakan kesalahannya sendiri. Kesalahannya yang berpacaran terlalu bebas hingga melakukan hubungan intim diluar nikah. Hal tersebut tentu saja membuat hancur hatinya Ninis, Ibunya. Walau Ninis sangat merasa sedih atas perbuatan anaknya Azura, tapi ia sadar tidak bisa terus larut dalam kesedihan. Semua sudah terjadi dan tidak perlu lagi ada penyesalan. Ninis berharap apa yang menimpa putrinya tidak terjadi dalam keluarga yang lain. Tidak mudah bagi Ninis membesarkan seorang anak sendirian. Ia bekerja siang dan malam untuk mencukupi semua kebutuhan Azura walau harus menerima kekecewaan. Azura pun merasa demikian. Ia sangat tahu perjuangan sang Ibu dalam membesarkannya. Banyak orang yang menghinanya apa lagi dari keluarganya sendiri. Tapi semua sudah terjadi dan semua masalah yang ada harus dihadapinya. Walau banyak cercaan dan hinaannya harus ia tagung sendiri sebagai konsekuensi dari perbuatannya. Azura tersadar dalam lamunannya, ia menangis sendiri teringat masa lalunya. Semua kenangan yang dulu pernah terjadi membuatnya merasa sakit. Ibunya yang telah berjuang untuknya malah harus menanggung semua rasa malu dan kesakitan sendiri. Keluarganya dulu memandangnya rendah semakin merendahkannya dan tidak memperdulikannya. Di saat ia sudah bercerai dengan Ben juga sama saja. Bagi keluarganya baik itu dari pihak bapak dan ibu nya seakan tidak pernah menganggapnya ada.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD