Di saat pikirannya gundah Azura ingin bertemu Ben. Walau bagaimanapun Ben adalah ayah dari Angelo dan Angela. Mantan suaminya harus tahu tentang perkembangan anak - anaknya sendiri.
“Kalau aku bertemu Ben pasti ujung - ujungnya bertengkar,” ucap Azura.
Azura bimbang sendiri. Ia sangat tidak ingin bertemu Ben. “Aku kirim pesan aja deh.”
Azura mengambil ponselnya.
Azura : Selamat siang Ben. Maaf jika pesan saya mengganggu kesibukannya. Saya ingin membicarakan hal penting tentang Angelo.
Setelah mengirimkan pesan Azura menarik napasnya. Ia berharap Ben segera menjawab pesan darinya. Sambil menunggu Ben membalas pesan ia pun segera ke kamar mandi. Sudah ada 1 ember tumpukan baju yang harus segera di cucinya. Jika ia terlalu berlama - lama akan semakin menumpuk pula cucian - cuciannya dan akan membuatnya jadi lebih lelah.
Sambil mengucek - ngucek cuciannya secara manual dengan tangannya sendiri, ia memikirkan banyak hal. Apa kerjaan lain lagi yang harus dilakukannya. Ingin sekali ia berjualan online, tapi apa yang harus dijualnya. Otaknya berpikir keras apa saja yang harus dibuatnya.
“Apa jualan daster ya,” ucap Azura bersemangat. “Eh, tapi ga punya modal.” Wajah Azura jadi sedih sendiri.
Setelah hampir satu jam Azura berkutat dengan cuciannya setelah selesai menjemur pakaian. Ia pun mengambil ponselnya melihat apakah ada balasan dari Ben. Apa yang diharapkannya tidak sesuai kenyataan, pesan yang dikirimnya melalui aplikasi pesan W memang terkirim dan sudah centang biru, tapi tidak dibalas oleh mantan suaminya.
“Dasar laki - laki laknat! Sudah dibaca pesannya malah ga di balas,” ucap Azura kesal sendiri.
Dengan tatapan horor Azura melihat ponselnya. Jika saja ponsel tersebut bisa berbicara dan melihat tentu akan ketakutan dengan bola mata Azura yang melotot melihat layar ponsel.
“Aku telepon aja lah nih laki - laki kurang asem, kurang gula, pahit," ujar Azura sambil menekan tanda panggilan.
Terdengar suara dering telepon, tapi hasilnya tetap sama tidak ada jawaban juga. Mau ia kirim pesan atau telepon hasilnya tetap sama.
“Telepon lagi. Aku akan telepon terus tanpa mengenal lelah wahai Ben Yulius bin setan,” ucap Azura marah.
Dengan semangat perjuangan kemerdekaan Azura berkali - kali bahkan sudah berpuluh - puluh kali menghubungi Ben, namun hasilnya tetap sama tidak ada jawaban dari pria tersebut.
“Wah… wah… ini manusia sialan malah sengaja ga mau angkat telepon.” Azura geram sekali dengan kelakuan mantan suaminya. “Aku kirim pesan aja lagi.”
Azura : Selamat siang Ben Yulius. Tolong telepon saya diangkat, saya ingin bicara sama kamu.
Pesan sudah terkirim dengan tanda centang biru, tapi tetap sama tidak dibalas. Tidak mau menyerah Azura kembali menghubungi ponsel Ben, tapi hasil tetap sama tidak ada jawaban.
“Mati kali yak nih orang! Masa aku telepon sudah 50 kali, tapi ga diangkat - angkat sih!” emosi Azura semakin bertambah 10 kali lipat dan seakan ingin meledak.
“Aku kirim pesan lagi aja.” Azura kembali mengirimkan pesan.
Azura : Ben tolong hubungi saya. Saya telepon kamu sampai 50 kali, tapi ga kamu angkat - angkat juga. Saya hanya ingin membicarakan tentang pendidikan Angelo. Penting!
Namun, sudah seperti yang diperkirakan Azura kalau hanya akan ada centang biru tanpa balasan.
“Aku akan telepon lagi sampai si cunguk sialan itu angkat teleponnya.” Tanpa menyerah Azura kembali telepon Ben.
Dan kali ini hanya tertera memanggil dalam keterangan aplikasi pesan W bukan lagi berdering. Namun, hal tersebut tidak membuatnya menyerah. Ia kembali menghubungi Ben sampai 20 kali, tapi hasil tetap sama tanpa ada jawaban sama sekali. Malah yang tadinya berdering menjadi memanggil.
“Ooh kutu kupret! Memang dasar orang ga waras. Apa nomor ku di blokir ya.” Azura melihat profil Ben, tapi tidak ada tampilan di foto profil mantan suaminya tersebut.
“Aku coba kirim pesan lagi deh."
Azura : Bro yang benar aja kamu masa saya diblokir sih! Keterlaluan kamu bro. Saya itu ga menghubungi kamu karena minta duit, tapi membicarakan si Angelo di suruh masuk SD. Anak laki - lakimu itu keterlaluan pintarnya sampai sekolah TK minta langsung SD.
Pesan tidak terkirim hanya ada 1 tanda centang. Sesuai dengan prediksi Azura nomornya memang diblokir oleh Ben.
“Ooh, aku ada cara.” Azura menghubungi Ben melalui telepon bisa, tapi lagi - lagi gagal. Nomornya sudah diblokir oleh Ben, mantan suaminya.
“Gila nih laki - laki semua nomorku diblokir. Memang enaknya si Ben dibuang di gunung merapi deh.” Azura semakin marah.
“Kayaknya aku harus ke rumahnya si Ben deh ini. Kalau kayak begini terus bisa - bisa si Ben makin ga mau tanggung jawab.”
“Dasar laki - laki kardus, katanya orang berpendidikan, dosen termuda di universitas negeri terkenal di Semarang, tapi kelakuan kayak ga ada pendidikannya. Kasih orang kuliah paling bener, tapi perbuatannya durjana. Ingin aku berkata kasar, yaitu asuuuuuu!” Azura berteriak marah-marah sendiri di dalam rumahnya.
- Anjing -
“Kotoke uteke si Ben wis njumpalitan iki. Jarene utek dosen ki pinter, ora kejem, ora jahat, tapi memang ora kabeh dosen koyo ngono sih. Iku utek dosenne si Ben memang pinter, pinter tenan, pinter ngapusi! a*u, jaran, ketek, tai, bajirut!” Azura mengeluarkan kata - kata sumpah serapah dengan menggunakan bahasa jawa.
- kayaknya otaknya si Ben ini sudah jungkir balik deh. Katanya otak dosen itu pinter, ga kejam, ga jahat, tapi memang ga semua dosen kayak begitu sih. Ini otak dosennya si Ben memang pintar, pintar banget, pintar berbohong! Anjing, kuda, monyet, tai, b******n! -
“Wis tak ning omahe Ben ae lah.” Azura melihat jam yang ada dinding.
- Ya udah deh aku ke rumahnya Ben ajalah -
Jarum jam sudah menunjukan pukul 9 pagi. Sedangkan Angela dan Angelo akan pulang jam 12 masih ada waktu 2 jam sebelum anak - anaknya pulang dan itu merupakan kesempatan untuknya agar bisa ke rumah Ben. Biasanya si kembar pulang jam 11, tapi karena ada acara pentas seni kelas A jadinya pulang terlambat.
Tanpa membuang-buang waktu Azura bergegas mengganti pakaiannya. Baju dinas kebanggaannya yang merupakan pakaian ternyaman nya, yaitu daster harus ia tanggalkan. Tak mungkin ia mengenakan daster saat naik motor bisa-bisa melayang ke mana - mana terbawa hembusan angin.
Dengan semangat perjuangan Azura langsung tancap gas, tak memperdulikan sinar matahari yang seakan membakar kulitnya. Ia sudah mengenakan jaket anti uv salah satu merk pakaian Uniqko yang dibelinya setelah menabung berbulan - bulan lamanya, namun ia bersyukur tidak sampai setahun bisa membeli jaket incarannya.
Entah mengapa di siang hari ini jalanan tidak macet seperti biasanya. Padahal jika dengan macet bisa 1 jam ke rumah Ben, tapi sekarang hanya menempuh waktu 30 menit. Setelah perjalanan 30 menit, akhirnya tiba di rumah tempat tinggalnya dulu bersama Angelo dan Angela. Rumah yang memiliki banyak kenangan indah. Rumah tempat dibesarkannya anak - anak kembarnya selama 4 tahun. Tapi itu semua hanya tinggal kenangan.
Namun, rumah tersebut tampak tidak terurus. Rumah bergaya minimalis dengan cat berwarna abu - abu merah berlantai 2 terlihat seperti lama tidak berpenghuni. Halaman depan rumah pun kotor, banyak sampah berserakan di sana. Bunga-bunga yang dulu di rawatnya kering kerontang. Rumput - rumput yang dulunya hijau menjadi gersang dan kering.
Melihat semua hasil kerja kerasnya dulu dalam merawat taman menjadi seperti itu membuat Azura sedih. Dulu ia rajin menyirami bunga - bunga, rumput jenis kuping gajah di sana. Ia merawat semuanya bagaikan anak sendiri dengan penuh kasih sayang. Namun semua sekarang seakan sia - sia.
“Kenapa nih rumah jadi kayak horor begitu ya,” ucap Azura sambil celingak - celinguk di pagar berharap ada orang di rumah tersebut.
Dengan semangat tanpa batas Azura menekan bel rumah. Menekan dengan penuh emosi jiwa, berkali - kali tanpa henti sehingga membuatnya lelah sendiri.
“Kayaknya udah ga ada orangnya nih.” Azura jadi kecewa sendiri dan duduk di depan pagar dengan menundukan wajahnya. Ia benar - benar sangat kecewa.
Bagaimana Azura tidak kecewa. Ia sudah menghabiskan bensin motornya yang berharga untuk datang jauh - jauh ke rumahnya dulu malah orang yang ingin ditemuinya tidak ada. Belum lagi rugi waktu, waktunya yang berharga harus ia sempat - sempatkan ke rumah Ben dan ditambah bunga - bunga yang sudah dianggap dan dirawatnya seperti anak sendiri menjadi kering dan tak bernyawa lagi.
Tiba - tiba Azura merasa ada orang di depannya. Ia takut untuk menengadahkan kepalanya sendiri yang tadi tertunduk lesu tak bersemangat.
“Bu Azura yaa.” Terdengar suara seorang pria memanggil namanya.
“Modar aku iki eneng sing manggil aku. Tapi kayae dudu dedemit deh, dedemit kan ora ono siang-siang kayae iki manungso,” gumam Azura nyaris tak terdengar.
- Mati aku ada yang memanggil namaku. Tapi kayaknya bukan setan deh, setan kan ga ada siang-siang kayaknya ini manusia -
Azura melirik kaki pria tersebut memastikannya menginjak tanah. Setelah memastikan yang ada di hadapannya adalah manusia, ia pun melihat pria tersebut dari ujung sepatu, badan, hingga kepala. Terbitlah senyuman merekah di wajahnya.
“Astaga ternyata kamu, Arya,” ucap Azura dengan penuh kelegeaan.
“Hehehe, iya Bu Azura. Maaf yaa saya membuat Ibu jadi kaget,” ucap Arya yang jadi tidak enak sendiri pada Azura.
“Ooh ga apa - apa Arya.”
“Ibu ngapain di sini? Kok duduk di lantai."
“Ooh iya ngapain saya di sini.” untuk sejenak Azura jadi bingung sendiri lalu ia menepuk dahinya dan berkata, “aduh, maaf aku jadi blank sendiri hehehe, aku jadi lupa maksud dan tujuanku datang ke rumah ini.”
“Tenang Bu, tenang jangan jadi blank dan pusing sendiri. Tarik napas dulu lalu hembuskan secara perlahan agar lebih fokus, Bu."
Azura jadi malu sendiri dengan kelakuannya, tapi ia juga mengikuti anjuran Arya yang merupakan asisten pribadi mantan suaminya. Ia mengenal Arya yang selalu saja mengikuti Ben ke mana - mana. Kadang ia kasihan pada Arya yang selalu diperintah - perintah oleh Ben.
“Sudah agak mendingan dan tenangkan sekarang Bu,” ucap Arya yang memperhatikan Azura.
“Sudah Arya. Sudah jauh lebih baik dari pada tadi.” Azura tersenyum menatap Arya.
“Syukurlah Bu.” Arya merasa lega. “Apa kabar Bu Azura? Bagaimana keadaan si kembar yang cantik dan ganteng, Bu?”
“Keadaan saya baik - baik saja begitu juga keadaan kembar. Mereka semakin pintar.”
“Syukurlah kalau keadaan kembar dan bu Azura selalu baik. Saya kangen sama si kembar kalau ada mereka terutama si centil Ela jadi selalu rame dan dinginnya Elo yang bikin suasana jadi senyap.”
“Hahaha, memang mereka anak - anak yang menggemaskan dengan segala keunikan mereka masing - masing.”
“Iya bu. Ooh iya apa tujuan Ibu ke rumah Pak Ben? Siapa tau saya bisa membantu.”
“Maksud dan tujuan saya ke rumah Ben itu mau menemuinya. Saya ingin membicarakan tentang anak - anak terutama Angelo. Padahal ini sangat penting."
“Wah, sayang sekali Bu kalau ingin bertemu Pak Ben tidak bisa di rumah ini. Pak Ben sudah pindah ke apartemen dekat kampus jadilah rumah ini sudah kosong.”
“Apartemen mana?”
Arya diam sejenak. Ia ragu ingin memberitahukan di mana bos nya tinggal. Ia takut akan dipecat oleh Ben.
“Kalau kamu tidak mau mengatakannya ga masalah. Saya mengerti kok.” Azura mengerti hal tersebut, ia jadi kasian pada Arya. Tak mungkin Arya berani mengatakan di mana tempat tinggal bos nya, bisa - bisa Arya dipecat oleh Ben.
Arya masih diam seribu bahasa. Di wajahnya tampak ada keraguan dan kasihan pada Azura. Ia sangat tahu kalau kelakuan bos nya dulu sangat tidak baik pada Azura.
“Kalau begitu saya pulang dulu yaa. Anak-anak sudah menunggu untuk dijemput,” ucap Azura segera menaiki motornya.
“Bu tunggu dulu.” Arya memanggil Azura.
Azura menatap Arya bingung. “Kenapa Arya?”
“Saya akan mengatakan di mana Pak Ben tinggal, tapi jangan bilang dari saya yaa, Bu dan anggap saja kita tidak pernah bertemu.” Arya berkata ragu - ragu.
“Pasti dong. Saya tidak akan pernah membongkar rahasia apapun.”
“Bu Azura dulu sangat baik pada saya. Bu Azura selalu menolong saya saat dulu saya dimarahi Pak Ben jadi sekarang saya akan memberitahu di mana Pak Ben tinggal.”
“Kamu baik sekali Arya dan rahasia kita ini akan aman.”
“Baiklah Bu. Pak Ben tinggal di apartemen permata biru dekat kampus Bu dan sampai 2 hari ini ada di rumah mantan mertua Ibu.”
“Terima kasih atas informasinya Arya. Terima kasih sekali.”
“Iya Bu, tapi saya mohon jangan sampai Pak Ben tau dari saya yaa, Bu.”
“Pasti Arya dan ingat jangan sampai kamu mengatakan ke orang lain juga bisa bahaya untuk diri kamu sendiri. Kalau saya pasti aman sentosa. Saya bukan orang pengadu dan suka adu domba.”
“Iya Bu. Saya sangat percaya sama Bu Azura. Terima kasih Bu.”
“Saya yang seharusnya berterima kasih sama kamu yang sudah mau membantu saya.”
“Iya Bu.”
Azura melajukan motornya. Ia harus segera menjemput putra putrinya.