10

2027 Words
Azura melajukan motornya. Ia harus segera menjemput putra putrinya di sekolah. Jika hari ini ia gagal bertemu Ben, tapi tidak dengan esok hari. Ia berencana besok akan datang menemui Ben di rumah orang tuanya. Angelo dan Angela menghampiri Azura saat melihat kendaraan roda dua milik Mamanya tiba di depan gerbang sekolah. Mereka sudah menunggu Azura dan tak ingin mamanya jadi bahan gunjingan ibu - ibu yang lain. Banyak anak di sekolah Mulia Bangsa naik mobil atau naik mobil antar - jemput yang memang tersedia untuk para murid bersekolah di sana. Azura heran saat Angela dan Angelo menghampirinya. Biasanya harus ia yang mencari mereka, tapi sekarang berbeda. Ia melihat 3 mobil avanza keluar dari gerbang yang berisikan anak - anak Tk. Seandainya ia memiliki uang lebih mau saja memakai jasa antar - jemput murid sehingga Angela Angelo tidak akan kepanasan, kena debu, ataupun kehujanan, tapi sayangnya mahal. Untuk dua anak saja bisa menghabiskan 1 juta rupiah untuk sebulan. Sedangkan biaya bulanan yang diberikan Ben hanya tinggal 1,9 juta, setelah dipotong biaya sekolah, les, tak mungkin 900 ribu untuk biaya makan. Memang hidup penuh dengan perjuangan dan ia harus kuat menjalani semuanya demi anak - anaknya. Setelah memastikan putra putri kembarnya duduk dengan aman di motornya, Azura melajukan kendaraannya. Kali ini ia bingung. Kenapa Angela tidak bernyanyi seperti biasanya? Wajah Angela juga tidak seceria seperti sebelum - sebelumnya. Pasti ada sesuatu terjadi pada putrinya. Ia juga merasa heran kenapa wajah Angelo tampak berbeda, tapi semua pertanyaannya akan ia tanyakan begitu sampai di rumah. Sesampainya di rumah Angela langsung masuk ke dalam kamar tanpa banyak bicara biasanya Angelo yang seperti itu, tapi kali ini berbeda. Angelo malah menunggu Azura. Ia semakin penasaran apa yang telah terjadi pada anak kembarnya. “Elo ada yang ingin kamu katakan ke Mama?” tanya Azura dengan tatapan menyelidik. “Ada Ma,” jawab Angelo. “Yaa udah ganti baju dulu baru kita bicara.” “Iya Ma.” Setelah menunggu beberapa saat Angelo sudah mengganti pakaiannya. Ia menghampiri Azura yang sudah menunggunya di meja makan. Di meja makan berfungsi bukan hanya sebagai tempat makan saja, tapi juga untuk berbicara. “Katakan apa yang terjadi Nak.” Azura bertanya tanpa basa-basi terlebih dahulu. “Tadi Ela bertengkar dengan salah satu murid di sekolah,” ucap Angelo dengan raut wajah serius. “Kenapa bisa bertengkar?” “Mama tidak perlu tau apa alasannya yang jelas aku dan Ela mau pindah sekolah.” Azura sangat terkejut mendengar perkataan Angelo yang meminta pindah sekolah. Ada apa sebenarnya ini? "Mama harus tau dong apa alasannya. Masa main pindah sekolah aja, itu ga baik kalau seperti itu. Sekolah merupakan hal penting demi masa depan kalian," ucap Azura. "Mama, sudah aku katakan mama tidak perlu tau apapun alasannya. Pokoknya aku dan Ela harus pindah sekolah." Angelo kembali berkata dengan tegas. Azura menghela napasnya. Sepertinya sekarang bukan saat yang tepat untuk menanyakan apa alasan yang sebenarnya. Ia sangat mengenal sifat putranya kalau sudah mengambil dan memutuskan sesuatu hal itu dengan tegas. Ia pun menatap wajah Angelo yang merah seperti habis di pukul atau terlibat pertengkaran. “Lalu kenapa wajah Elo merah seperti itu?” tanya Azura. “Mama tidak usah memikirkan kenapa wajahku bisa merah. Aku dan Ela sudah bersepakat agar pindah dari sekolah Mulia Bangsa.” “Kenapa?” “Sekolah tersebut tidak pantas untuk aku dan Ela.” Lagi - lagi Azura terkejut mendengar ucapan Angelo. Ia sama sekali tidak menyangka kalau kata - kata seperti itu bisa keluar dari anak usia 5 tahun. Semua perkataan Angelo semakin membuat Azura penasaran. “Dan mulai hari ini aku dan Ela mau berhenti les musik. Tidak ada lagi les biola, tidam ada lagi les piano," ucap Angelo dengan tegas. Makin terkejut Azura mendengar perkataan Angelo. Sudah tadi meminta untuk pindah sekolah sekarang mau berhenti les musik. Tentu saja hal ini tidak bisa dibiarkan begitu saja, pasti ada kejadian serius yang menimpa Angelo dan Angela sehingga putranya berani dengan tegas mengambil keputusan tersebut. “Mama belum bisa menyanggupi semua permintaan kamu kalau tidak mau mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.” Azura menatap Angelo tajam. Memang putranya sangat pintar, tapi ia tidak mungkin bisa kalah pada anaknya. Ia harus bersikap tegas agar tidak dikontrol oleh anaknya sendiri. Jika ia terlalu mengikuti semua keinginan anaknya akan berdampak yang tidak baik dengam tumbuh kembang anak. “Angelo katakan pada Mama, apa yang sebenarnya terjadi. Kalau kamu tidak bisa diajak kerjasama dengan baik, maka mama tidak akan mau memindahkan kamu dan Ela sekolah dan juga tidak boleh berhenti les biola juga les piano.” Azura berkata dengan tegas. Angelo terdiam. Ia bukannya tidak mau mengatakan apa yang telah terjadi di sekolah, tapi tidak ingin membuat Mamanya sedih. Ia hanya ingin Mamanya bahagia setelah selama ini tertekan dengan Papanya sendiri. Ia selama ini mengetahui semua perbuatan papanya yang berselingkuh, menghina, kasar, suka memukul mamanya dan sangat ingin membahagiakan mamanya sendiri. “Angelo!” panggil Azura pada putranya. Bukannya menjawab malah Angelo pergi ke dalam kamarnya. Kelakuan Angelo membuat Azura tak percaya. Belum pernah Angelo berkelakuan tidak sopan seperti itu, di saat orang tua masih berbicara tentu saja meninggalkannya tanpa berpamitan itu bukan perbuatan yang baik. Azura menghembuskan napasnya. Kepalanya terasa sangat pusing. Kenapa anak-anaknya malah bersikap seperti itu padanya? Apa yang telah dilakukannya sehingga seperti memiliki musuh. Tanpa terasa bulir - bulir air mata terjatuh di pipinya. Ia merasa sangat kecewa pada kelakuan Angelo. Angelo berada di dalam kamar melihat Angela menangis sendirian. Ia tidak tega pada adik kembarnya tersebut. Ia pun menghampiri Angela. “Ela jangan nangis. Kamu ga salah,” ucap Angelo. “Kakak, aku hanya ingin berteman dengan Martin, Grey, Sheina, dan Carol, tapi kenapa mereka malah menghina aku,” ujar Angela sedih. “Mereka tidak pantas berteman dengan kamu, Ela.” “Sheina dan Grey dulu teman baik ku, tapi kenapa sekarang mereka ga mau berteman sama aku.” “Mereka bukan teman baikmu. Kalau mereka teman baikmu tidak akan mungkin menghina kamu, Ela.” Angela menangis sambil menutup wajahnya. Angelo sangat mengerti perasaan adik kembarnya. Ia jadi teringat kejadian tadi di sekolah yang menyebabkan ia terlibat pertengkaran. Saat itu Angela sedang bermain bersama Sheina. Tiba-tiba Carol datang bersama Marcelin menghampiri mereka. “Hei Ela, orang tuamu sudah bercerai ya?” tanya Carol. Angela terkejut mendengar perkataan Carol. “Iya. Papa dan Mama memang sudah bercerai. Ada apa yaa Carol?” “Berarti kamu sekarang jadi miskin dong. Mama mu aja naiknya motor, yaa ampun kasihan banget,” ejek Marcelin. Angela tidak bisa berkata - kata lagi. Ia hanya diam. Semua yanh dikatakan Carol memang benar adanya. “Sheina jangan bermain dan berteman dengan anak miskin nanti kamu bisa ketularan miskin juga loh. Apa kamu mau jadi ikutan miskin kayak Ela,” ucap Carol. Sheina menatap Angela. Untuk sejenak ia ragu namun secara perlahan, tapi pasti ia beranjak pergi dari Angela. Angela melihat Sheina pergi dengan tak percaya. Kenapa Sheina ga mau bermain dengannya hanya karena keuangan keluarganya sekarang tidak seperti dulu lagi? “Kalau aku jadi kamu yaa Ela ga mau sekolah di sini lagi. Di sini itu sekolahnya anak - anak orang kaya kalau kamu kan bukan lagi anak orang kaya,” ucap Carol mencibir Angela. “Mau kaya atau miskin tidak ada masalah kalau memang bisa bayar uang sekolah. Mama ku ga minta mama mu untuk membayar uang sekolah,” balas Angela tak mau kalah. “Nah itu namanya ga tau diri.” “Kamu itu masih TK kok omongannya kayak udah besar aja sih. Kenapa kamu jahat banget sih Carol?” “Aku ga peduli. Katanya mama ku orang kayak kamu itu ga pantas sekolah di Mulia Bangsa.” Perkataan Carol membuat anak-anak lain menyoraki Angela. Angela sangat sedih saat teman - temannya malah mempermalukan dirinya, ia tak tahan akhirnya berlari menjauhi teman - temannya. Saat ia berlari tidak sengaja bertabrakan dengan Grey. Grey yang juga teman Angela menatap iba. Ia tahu kalau Angela habis dipermalukan oleh Carol. “Jangan sedih Ela,” ucap Grey. “Apa kamu juga ga mau berteman sama aku, Grey?” tanya Angela sedih. “Sebenarnya aku mau berteman dengan kamu. Aku, kamu, dan Sheina selalu bermain bertiga, tapi mami ku melarang berteman denganmu lagi. Katanya mami ga boleh berteman dengan orang miskin. Padahal kamu baik sama aku. Maafkan aku yaa Ela,” ucap Grey sedih. Mendengar perkataan Grey semakin membuat Angela sedih ia pun menangis dengan kencang. Di saat Angela menangis Angelo yang tadi mengejar Angela melihat hal tersebut. Angelo mengira kalau Grey ikut juga membully adik kembarnya. Angelo yang sudah tersulut emosi memukul wajah Grey. Grey terkejut mendapat pukulan dari Angelo membalas memukul Angelo juga. Grey dan Angelo bertengkar sampai dipisahkan oleh Miss Rini. Angelo memegang pipinya yang merah dipukul Grey. Kejadian tadi membuatnya sangat marah dan dendam dengan anak - anak orang kaya yang tidak memiliki kesopanan. Memang tidak bisa sepenuhnya menyalahkan anak - anak, tapi orang tua juga ikut andil dalam berperan serta mendidik anak. “Sudah jangan menangis lagi Ela. Aku sudah bilang mama kalau aku dan kamu akan pindah sekolah,” ucap Angelo menenangkan Angela. “Apa mama setuju Kak? Mama kan lagi ga punya uang. Uang dari mana untuk biaya pindah sekolah yang baru.” Angelo tidak bisa menjawab perkataan Angela. Seharusnya ia memikirkan hal tersebut. Ia jadi merasa bersalah pada mamanya, tadi ia sudah bersikap tidak sopan pada mamanya sendiri. “Ayo kita bicara sama mama, kak. Pasti mama lagi sedih,” ucap Angela. “Iya.” Angelo dan Angela keluar kamar. Benar dugaan mereka kalau sekarang Azura dengan menangis sedih di meja makan. “Mama,” panggil Angela dengan suara lembut. Saat tahu ada anak - anaknya, Azura langsung menghapus air matanya. Ia tidak ingin si kembar melihat keadaannya yang sekarang begitu rapuh. “Iya Ela,” jawab Azura sambil memaksakan bibirnya untuk tersenyum. “Mama maafkan Elo yaa,” ucap Angelo menatap Azura. “Maafkan Ela juga yaa ma,” sahut Angela. Azura memeluk anak kembarnya. Ia yakin pasti ada suatu alasan yang membuat anak - anaknya jadi berubah. “Jadi sekarang mau mengatakan apa alasan Ela dan Elo mau pindah sekolah?” tanya Azura. Angela melirik Angelo begitupun Angelo juga melirik Angela. Tatapan mereka berdua seakan memberikan kode siapa yang harus bicara terlebih dahulu. “Karena aku sebagai kakak, aku yang akan mengatakannya ke mama,” ucap Angelo dengan lantang. Azura tersenyum. Ia sudah menduga kalau Angelo merupakan sosok kakak yang berani berbuat, berani bertanggung jawab. Ia berharap kalau Angelo tidak mengikuti dan meniru sifat jelek dari Ben. “Ayo katakan semuanya Elo. Mama akan mendengarkannya,” ucap Azura. Angelo menceritakan semuanya yang terjadi pada Azura. Tentu saja hal tersebut membuat Azura terkejut. Ia sampai heran kenapa anak - anak yang masih kecil dan berusia 5 tahun bisa membully temannya sendiri. Namun, mau bagaimana lagi peran keluarga dan lingkungan sangat berpengaruh sekali dalam tumbuh kembang seorang anak. “Baiklah.” Azura menghembuskan napasnya. “Mama sangat menghargai keputusan Elo dan Ela, tapi mama akan berbicara juga sama papamu. Semua keputusan akan mama beritahukan pada kalian, tapi untuk sementara ini kalian sekolah dulu seperti biasa.” “Tapi ma,” protes Angela. “Tenang Ela. Mama tau kamu sudah ga nyaman lagi bersekolah di sana. Kamu yakin lah nak, mama akan melakukan semua yang terbaik untuk Ela dan Elo.” “Iya ma.” Azura, Angelo, dan Angela saling berpelukan. Mereka bertiga saling menguatkan satu dengan yang lainnya. Tanggung jawab besar berada di pundak orang tua yang mempunyai anak. Setiap orang tua senantiasa memiliki kewajiban terhadap anak. Mulai baru lahir hingga beranjak dewasa. Sepanjang kurun waktu tersebut, orang tua harus merawat dan memperhatikan kebutuhan anak, mulai kebutuhan primer, sekunder, bahkan tersier. Para orang tua juga perlu memberikan nilai - nilai kebaikan pada diri sang anak. Tapi apalah jadinya jika anak sudah diberikan nilai-nilai dan pemahaman yang salah, akan berdampak seperti sekarang. Anak usia dini sudah bisa membully temannya sendiri, mempengaruhi orang lain untuk membenci, menjauhi anak - anak lainnya. Terlebih lagi ucapan orang tua sangat berpengaruh besar terhadap tumbuh kembang anak. Ibarat kata, seorang anak lahir seperti sebuah kertas putih, tanpa noda, tanpa cacat sehingga bisa dihiasi dengan coretan. Baik buruknya tulisan yang tertuang di dalam kertas tersebut tergantung dari peran orang tua yang menulisnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD