Keesokan harinya
Setelah mengantarkan Angela dan Angelo ke sekolah Azura bergegas menuju rumah orang tua Ben. Ia sengaja datang pagi agar bisa menghemat waktu. Jarak sekolah dan rumah mantan mertuanya menempuh waktu 1 jam kalau dalam keadaan tidak macet, tapi kalau terjebak menjadi dua kali lipat.
Setelah perjalanan hampir 2 jam akhirnya ia tiba di rumah mewah berlantai dua yang bergaya classic tersebut. Rumah tempat tinggalnya dulu setelah menikah dengan Ben walau hanya tinggal 6 bulan. Tinggal di rumah mertua itu sangat tidak mengenakan, ada saja kesalahan yang diperbuatnya. Jangan bicara, diam saja ia salah.
Hal tersebut membuatnya teringat pada masa lalu. Di saat ia hamil 6 bulan.
Setelah Azura menikah dengan Ben untuk sementara waktu ia tinggal di rumah orang tua Ben. Awalnya ia senang bisa tinggal di rumah mewah yang selama ini tak pernah ia rasakan. Namun, ada keanehan saat ia baru tiga hari tinggal di sana tiba - tiba asisten rumah tangga yang dulunya ada 2 sekarang sudah tidak ada lagi.
Merasa ada yang aneh Azura bertanya pada Ben ke mana semua asisten rumah tangga lalu Ben menjawab kalau mamanya sudah memecat semua para pekerja di sana. Ben juga mengatakan kalau Mamanya memang sering mengangganti asisten rumah tangga, ada saja alasan para asiten tersebut untuk berhenti bekerja. Menurut Ben, mamanya sangat baik dan selalu memanjakannya.
Mendengar perkataan Ben membuat Azura percaya kalau ibu mertuanya merupakan mertua idaman. Bahkan saat ada Ben, ibu mertua selalu bersikap baik. Ia merasakan sangat bahagia dan beruntung bisa menikah dengan pria yang tepat. Akan terapi semua kebahagiaan Azura itu hanya sesaat. Ben yang kembali kuliah jadi jarang berada di rumah. Di situ lah semua kebaikan dari ibu mertuanya ternyata hanya sebuah drama dan kepura - puraan semata.
"Azura, Azura, kamu di mana?" Winarti berteriak memanggil nama menantunya.
"Iya Ma." Azura berjalan sambil setengah berlari tergesa - gesa menghampiri ibu mertuanya.
“Heh! Kamu itu kalau lagi hamil seharusnya banyak gerak bukan cuma santai dan diam aja. Kerjaan masih banyak malah kamu ga peduli. Di mana otak dan pikiranmu,” ujar Winarti, nama ibu mertua Azura.
“Maaf Ma. Tadi saya hanya istirahat dan berbaring sebentar saja Ma."
"Wah, enak sekali kamu bisa istirahat dan berbaring. Apa kamu sudah masak?"
"Sudah Ma, saya baru saja selesai masak. Tadi itu saya berbaring sebentar karena perut saya terasa agak nyeri,” ucap Azura sambil meringis saat merasakan anaknya menendang dinding rahimnya.
“Alah banyak alasan kamu. Sok pakai alasan perut kamu nyeri, padahal kamu nya aja itu yang pemalas, udah tau dari orang miskin bukannya bekerja malah santai - santai saja di rumah ku! Kamu pikir apa yang kamu makan itu gratis! Itu cucian cepat kamu cuci. Di sini sudah ga ada pembantu lagi.”
“Maaf Ma. Baik saya akan kerja lagi. Maaf yaa Ma.”
“Alah muak aku dengar kata - kata maaf dari mulut iblismu! Kamu yaa sudah miskin, anak yatim, ga sekolah, menjebak anak saya dengan kehamilan, membuat masa depan anak saya itu jadi hancur hanya gara - gara perempuan miskin rendahan yang tak bermoral kayak kamu.” Winarti mendorong - dorong kepala Azura dengan telunjuknya secara kasar.
Azura menundukan wajahnya. Ia sangat takut mendengar perkataan Winarti.
“Apa yang dilihat anakku dari kamu? Udah pendek, jelek, miskin, ga sekolah, apa coba yang bisa dibanggakan dari kamu??” Winarti memandang Azura rendah.
“Ooh aku tau kamu pasti pakai peletkan supaya anakku suka sama kamu.” Tuduh Winarti dengan kejam.
“Saya tidak pernah melakukan itu Ma.” Azura menggelengkan kepalanya perlahan.
“Ga pernah, tapi buktinya anakku mau mengawini perempuan miskin kayak kamu. Dasar miskin!”
Mendengar perkataan Winarti membuat hatinya terasa begitu sakit. Ia memang dari orang yang tidak punya bukan berarti ibu mertuanya bisa menghinanya begitu saja, tapi ia sendiri tidak berani membantah ataupun melawan Winarti.
“Ooh aku tau pasti ibumu yang janda miskin buruh pabrik itu yaa yang menyuruhmu untuk mencari mangsa pria - pria kaya raya. Pasti anakku dapat kamu itu barang bekas bukan perawan!” perkataan Winarti semakin tajam pada Azura.
Betapa sakitnya hati Azura mendengar perkataan kejam dari ibu mertuanya. Bulir - bulir air mata terjatuh di pipinya. Jika hanya ia yang dihina, ia hanya bisa bersabar, tapi tak sanggup mendengar semua penghinaan pada ibunya. Ibunya tidak salah dan tak pantas jika mertuanya menghina ibu kandungnya.
“Ma tolong jangan hina Ibu saya. Ibu saya tidak memiliki kesalahan apapun.” Azura berkata sambil air mata yang sudah mengalir deras di pipinya.
“Ga usah pura - pura menangis. Air mata mu itu air mata buaya.”
“Saya tidak bermaksud seperti itu, Ma.”
“Aku yakin ibu mu yang janda miskin itu menyesal punya anak pembawa aib sepertimu.”
Azura tak dapat menahan semua perkataan kejam ibu mertuanya. Ia pun berlari masuk ke dalam kamarnya dan segera mengunci. Di dalam kamar ia menangis sekencang - kencangnya. Begitu sakit hatinya saat mendapatkan semua penghinaan yang begitu kejam padanya.
Tanpa terasa air mata Azura menetes di pipinya saat teringat kejadian 5 tahun yang lalu. Kejadian yang begitu menyesakkan hatinya, kejadian yang begitu membuatnya rendah serendahnya. Ia tak pernah menyangka bisa melewati semua itu dengan tegar hingga kembali bangkit seperti sekarang.
Dengan langkah berani Azura memasuki pagar rumah keluarga Ben. Ia tak boleh gentar walau apapun yang terjadi. Ia hanya ingin bertemu dengan Ben untuk membicarakan tentang apa yang telah dialami Angelo dan Angela dengan topik yang berbeda. Jika tadinya ingin membicarakan tentang Angelo lompat kelas dari TK ke SD, sekarang jadi berbeda.
Terdengar suara tertawa di rumah Ibu, Ben. Azura mengenal suara tersebut. Yaa itu suara mantan Ibu mertuanya, Winarti dan Rieka, kekasih Ben. Hubungannya dengan Winarti dari dulu tidak pernah akur, apapun yang dilakukan Azura selalu salah di mata mantan mertuanya.
“Aduh, malah ada tuh nenek lampir dan nyai pelet lagi,” ucap Azura pelan. Ia merasa ragu, “masuk ga ya.”
Untuk sejenak Azura ragu, tapi ia perlu bicara dengan Ben. Mantan suaminya dihubungi melalui ponselnya tidak mau mengangkat, kirim pesan melalui aplikasi W hanya centang biru dan tidak dibalas. Disamperin ke rumah Ben, tapi tidak ada orang. Jadi ia tidak memiliki pilihan lain selain datang ke rumah mantan mertuanya.
Benar dugaan Azura kalau Ben ada di rumah Ibunya. Mobil Fortuner warna hitam terparkir di garasi rumah berwarna coklat tersebut. Dengan menghembuskan napasnya akhirnya Azura memutuskan untuk memberanikan dirinya untuk mengetuk pintu rumah yang terbuka lebar.
“Selamat siang,” ucap Azura sambil mengetuk pintu.
Apa yang dikhawatirkan Azura pun terjadi. Dua mata elang menatapnya dengan tatapan ingin menerkam targetnya, tatapan tajam yang seakan ingin membunuh, dan mengulitnya hidup-hidup sampai ajal menjemputnya. Huft, memang berat sekali rasanya, tapi ia harus memiliki keberanian untuk menangkal pandangan yang menusuk.
“Ma, lihat deh ada parasit di sini,” ejek Rieka.
“Eh, mana parasit? Mama malah melihat ada iblis betina loh,” ucap Winarti tak kalah pedasnya.
“Ooh iya Mama memang benar, hahaha.” Rieka tertawa mengejek begitu juga dengan Winarti.
Hati Azura merasa begitu sakit mendengar perkataan Winarti dan Rieka. Ia sama tidak menduga akan mendapatkan serangan untaian kata - kata mutiara yang begitu kejam.
Malaikat pencabut nyawa jika kekurangan list untuk dicabut nyawanya, ini ada dua orang manusia yang bermulut kejam untuk dibawa ke akhirat. Azura berkata dalam hatinya.
“Selamat siang Bu Winarti dan Rieka,” ucap Azura menahan gemuruh di dalam hatinya.
“Ma denger deh ada suara iblis lagi. Kenapa siang-siang sudah ada setan sih,” ucap Rieka yang berpura - pura tidak ada orang di sana.
Budek beneran baru tau rasa. Dasar pelakor!. Azura kembali berkata dalam hatinya.
“Iya ya Rieka. Kenapa siang - siang ada setan ya? Kayaknya harus di kasih garam deh biar setannya pergi,” sahut Winarti.
Astaga emangnya aku ular apa pakai di kasih garam segala. Mending tuh garam buat masak deh. Azura berkata dalam hatinya.
Azura mencoba untuk bersabar. Ia ingin sekali mengutuk nenek lampir dan nyai pelet tersebut dengan sumpah serapah, tapi diurungkannya niat jeleknya tersebut. Cukup mereka saja yang berkata kurang baik padanya.
“Bisa saya bertemu dengan Ben?” tanya Azura tanpa memperdulikan cibiran mereka.
Lirikan tajam dari Rieka tak membuat Azura gentar. Ia tak perlu takut dengan apapun sekarang baginya mereka semua hanya sejumlah semut - semut ompong bermulut racun.
“Mama masuk aja ke dalam aku mau memberikan pelajaran dulu ke iblis betina itu,” ujar Rieka pada Winarti.
“Iya kamu usir aja tuh perempuan ga berguna itu. Mama mau makan dulu,” ucap Winarti.
“Iya Ma.”
Winarti hanya menatap Azura sekilas. Tak sudi bagi Winarti melihat lama - lama mantan menantunya. Gara - gara Azura hidup anaknya Ben jadi berantakan. Setelah Winarti masuk ke dalam rumah, Rieka mendekati Azura.
“Mau ngapain kamu ketemu dengan suami saya,” ucap Rieka kesal.
“Ooh jadi kamu sekarang sudah jadi istrinya, baguslah. Cepetan panggil suami kamu ke sini, saya mau bicara,” balas Azura.
“Kalau mau bicara dengan Mas Ben harus melalui saya dan kamu cukup bicara sama saya saja.”
“Apakah Ben sekarang sudah bisu sampai perwakilannya lah yang harus bicara? Kasian yaa.”
“Hei jangan kurang ajar kamu, Azura. Janda sepertimu tak layak bicara dengan suami saya.”
“Saya memang janda, tapi saya juga ibu dari anak-anaknya Ben Yulius.”
“Kamu ga boleh bicara dengan suami saya!”
“Kenapa? Kamu takut yaa kalau suami kamu itu nanti tertarik ke saya? Apa kamu khawatir kalau suami kamu bermain dengan mantan istrinya? Kasian banget kamu.” Tatapan mata Azura memandang remeh Rieka.
Mendengar perkataan Azura membuat Rieka berang. Mana mungkin ia bisa dikalahkan oleh wanita bekas pakai seperti Azura. Rieka pun mendelikkan matanya.
“Kenapa? Biasa aja kaliii matanya kalau melihat saya. Takut kalah saing dengan wanita yang lebih muda ya.” Azura semakin mengejek Rieka.
“Hei! Tuh mulut memang setan yaa.”
“Maaf saya bukan seperti kamu yang suka makan racun. Kamu itu tau diri dong, mana mungkin saya mau kembali dengan laki-laki yang telah saya buang. Ben itu bekas saya dan kamu mau aja mengambil sisa - sisa saya.”
Rieka mengepalkan tangannya. Ia sudah tak tahan lagi dengan perkataan Azura. Ia pun mengangkat tangannya ingin menampar pipi Azura, tapi dengan cepat Azura menahan tangan Rieka memelintirnya dan mendorongnya hingga terjatuh di lantai.
“Aduuh sakit. Mama, si iblis betina kasar sama aku.” Rieka berteriak kencang.
Mendengar teriakan Rieka membuat Winarti terkejut, ia terpongoh - pongoh menghampiri calon menantunya. Teriakan Rieka bukan hanya membuat terkejut Winarti, tapi juga Ben serta Sugito, bapak Ben. Mereka semua keluar untuk melihat apa yang terjadi.
Ben, Winarti, dan Sugito sangat terkejut dengan apa yang terjadi. Rieka berpura - pura seperti orang yang terluka, teraniaya. Ia memang tangannya mengeluh kesakitan.
“Ayang, itu si Azura kasar banget. Aku hanya mengajaknya bicara malah dia mendorong aku,” keluh Rieka berpura-pura menangis.
Ben menghampiri Rieka membantunya untuk berdiri tidak lagi tersungkur di lantai.
“Ayang tolong aku, dia jahat banget. Dia tega banget mendorong aku.” Rieka kembali berpura-pura seperti orang yang paling tersakiti.
Plak!
Terdengar suara tamparan yang membuat Rieka dan Ben terkejut. Begitu juga dengan Sugito.
Azura hanya terdiam sambil memegang pipinya yang memerah. Ia sudah terbiasa diperlakukan kasar oleh mantan ibu mertuanya.
“Heh, Azura, kamu dasar ga tau diri. Sudah membuat hidup anakku berantakan sekarang malah menyakiti wanita yang dicintai anakku!” bentak Winarti dan kembali akan melayangkan tangannya ke pipi Azura, tapi kali ini Sugito menahan tangan istrinya.
“Mama cukup! Kamu tidak boleh menampar Azura!” bentak Sugito menatap marah istrinya.
“Ooh jadi Papa lebih membela perempuan iblis ini! Ingat Pa, dia itu ular betina. Dia sangat jahat sama anak kita.”
“Masuk ke dalam rumah!” Sugito menyuruh Winarti masuk ke dalam rumah.
“Aku ga mau! Ini rumahku yang seharusnya pergi itu perempuan iblis itu bukan aku.”
“Ben bawa Rieka dan Mama mu ke dalam, Papa mau bicara dengan Azura.” Sugito menatap Ben.
“Iya Pa.”
Raut wajah Winarti dan Rieka terlihat tak rela jika harus mengalah masuk ke dalam rumah. Bagi mereka yang seharusnya pergi adalah Azura.