Dengan wajah tak rela Winarti terpaksa mau diajak masuk ke dalam rumah oleh Ben. Sedangkan Sugito berbicara dengan Azura.
“Ada apa sebenarnya Azura? Saya mengenal kamu dan seperti tidak mungkin kalau kamu melakukan hal tersebut,” ujar Sugito.
“Terima kasih atas kepercayaan Pak Sugito kepada saya. Saya hanya membela diri saja saat menantu Pak Sugito berusaha menampar saya lalu saya memelintir tangannya dan tanpa sengaja mendorong Rieka hingga terjatuh di lantai. Itu semua tidak di sengaja seperti ucapan Rieka,” ucap Azura menceritakan kejadian yang sebenarnya.
“Sepertinya kamu salah pengertian tentang si Rieka dan Ben. Rieka belum menjadi istri Ben dan saya sih mengerti kalau kamu seandainya sengaja mendorong Rieka. Terkadang ada orang yang suka membuat drama dan kejadian lebih di dramasitir agar terlihat terluka dan teraniaya. Memang si Rieka memiliki temperamen yang berbeda denganmu.”
Azura hanya diam saja. Ia tidak ingin memperkeruh suasana yang ada baginya tidak penting mau Rieka dan Ben menikah atau tidak bukan urusannya. Baginya untuk datang ke rumah terkutuk yang meninggalkan banyak rasa sakit selama 6 bulan sudah bagus.
“Lalu kenapa kamu datang ke sini?” tanya Sugito menatap Azura lalu berkata, “jangan katakan kamu mau kembali ke Ben. Saya memang ayahnya Ben, tapi kalau boleh saya memberikan saran sebaiknya kamu pikirkan matang - matang.” Raut wajah Sugito serius dalam menyatakan setiap kalimat yang keluar dari mulutnya.
Ingin sekali Azura tertawa mendengar perkataan mantan ayah mertuanya tersebut. Tak terbesit sedikitpun niat untuk kembali pada laki - laki yang membuat hidupnya hancur. Kalau bisa pun malah ia ingin membuat laki - laki sialan tersebut dibuang ke antartika.
“Azura, kamu dengar perkataan saya? Sebaiknya kamu jangan mengulangi kesalahan yang sama,” ucap Sugito menyakinkan Azura.
Sugito menatap mantan menantunya, ia merasa kasihan pada Azura. Menantunya merupakan wanita yang sangat baik, walaupun Ben menyia - nyiakannya hanya demi wanita lain. Ia sangat mengetahui bagaimana Ben selalu berkata kasar, memukul Azura, menyakitinya secara verbal, tapi Azura seakan tak pernah gentar masih terus memperjuangkan rumah tangganya.
“Apa kamu masih mencintai Ben?” Sugito kembali bertanya pada Azura.
Azura tersenyum. Ia menggelengkan kepalanya perlahan. “Saya sudah tidak mencintai Ben lagi, Pak,” ucap Azura.
Nyaris terdengar suara helaan napas Sugito. Ia merasa sangat lega kalau mantan menantunya tidak mencintai Ben lagi. Jika masih cinta malah akan membuat hidup Azura semakin hancur lagi.
Terlihat guratan lelah di wajah Sugito. Azura mengerti kalau mantan mertuanya tersebut mengkhawatirkannya. Di rumah ini hanya Sugito lah yang memahaminya dan hanya pria tersebutlah yang tidak pernah menyalahkannya. Bahkan terkadang Sugito yang menjadi penengah saat ia dan Ben dulu bertengkar.
Setelah merasa cukup untuk berbasa - basi sejenak dengan mantan mertuanya Azura akan mengutarakan apa yang harus dikatakannya. Ia tidak bisa harus berlama - lama berada di sini masih banyak kegiatan yang harus diselesaikannya. Ia harus segera mengatakan maksud dan tujuannya ke rumah ini walau tidak secara langsung dengan Ben.
“Pak Sugito, saya mohon maaf sudah membuat kegaduhan di rumah ini, tapi tujuan saya ke sini untuk membicarakan tentang keadaan cucu anda, Angelo dan Angela,” ucap Azura.
“Cucu kembarku yang cantik dan ganteng. Aku sangat merindukan mereka. Ela yang cerewet, ceria selalu bisa menghidupkan suasana dan bisa membuat orang lain bahagia berada di dekatnya. Elo yang selalu dingin, datar, irit bicara, tak tersentuh selalu bisa membuat suasana menjadi hening dan bisa membuat orang lain yang ada di dekatnya merasakan atmosfer - atmosfer tegang,” ujar Sugito tersenyum dengan sifat si kembar yang sangat berbeda.
“Iya Pak. Ela dan Elo sedang mengalami masalah di sekolah.”
“Masalah? Masalah apa? Kenapa si kembar?" tanya Sugito dengan khawatir keadaan cucunya .
“Begini Pak. Si kembar mendapatkan perlakuan yang kurang menyenangkan di sekolah.”
“Kurang menyenangkan? Maksudnya dipukul sama gurunya gitu di sekolah.”
“Bukan seperti itu Pak. Jadi begini…”
Azura menceritakan apa yang terjadi pada Angelo dan Angela tanpa ada yang dikurangi atau ditambahkan. Semua ia katakan sesuai apa yang telah terjadi. Hal tersebut membuat Sugito terkejut. Tak pernah diduganya kalau anak kecil jaman sekarang bisa melakukan perundungan sejak dini.
“Bagaimana itu orang tua mengajari anaknya?! Itu anak - anak masih berusia 5 tahun kenapa sudah membully sesama temannya sendiri. Orang tuanya tidak becus mendidik anak,” ucap Sugito dengan emosi.
“Saya belum membicarakan semua yang terjadi pada gurunya Pak. Kepala sekolahnya Miss Luisa malah ingin Angelo akselerasi ke sekolah dasar karena kepintaran Angelo yang seperti anak SD.”
“Angelo di usianya 5 tahun mau masuk SD? Apa ga salah tuh? Usia segitu bukan waktunya dipaksa untuk terus menerus belajar, tapi juga bermain. Lain lagi kalau Angelo sudah SMP atau SMA bisa ikut kelas akselerasi. Wah, ga beres nih kepala sekolahnya.”
Azura sebenarnya sangat menyetujui perkataan Sugito, tapi baginya sekarang bukan hal itu yang jadi pokok persoalan yang sebenarnya. Ia malah ingin fokus tentang kasus perundungan atau pembullyan yang dialami Angela.
“Pak alangkah baiknya jika untuk sementara mengesampingkan hal tersebut. Kita fokus dulu dalam perbaikan mental Ela dan Elo yang mengalami pembullyan. Terlebih lagi pada mental Ela, Pak.”
“Ben sudah tau apa yang terjadi dengan anak - anak kembarnya?”
Tanpa semangat Azura menggelengkan kepalanya. “Ben tidak bisa dihubungi, Pak.”
“Kamu serius si Ben ga bisa dihubungi?” tanya Sugito tak percaya.
Azura menganggukan kepalanya pertanda semua itu benar. Ia sekarang sudah tidak mau menutupi semua masalah yang ada, lebih baik terbuka dan berterus terang dari pada terjadi kesalahpahaman.
“Padahal dia main ponsel terus malah ponsel bagaikan celana dalam buat si Ben.”
“Nomor saya juga diblokir sama Ben makanya saya datang ke sini untuk mencarinya.”
“Dasar kurang ajar! Dia seharusnya mengetahui tentang perkembangan anak - anaknya bukannya malah lepas tangan seperti ini.”
“Iya Pak.”
“Saya sangat kesal pada Ben. Saya selalu mengajarkan pada dia dan adiknya agar selalu bertanggung jawab pada anak dan istri atau suaminya.”
Azura hanya menganggukan kepalanya saja. Ia terlalu malas untuk berkata - kata lagi. Ingin rasanya ia pergi dari rumah terkutuk ini, tapi demi anak - anak kembarnya ia harus ke sini.
“Jadi menurut saya solusinya memang si kembar harus pindah. Lingkungan pertemanan yang tidak baik akan berdampak pada mentalnya si kembar,” ucap Sugito.
“Saya ingin memindahkannya, tapi bagaimana kalau Ben tidak setuju dan pindah sekolah juga membutuhkan biaya,” ujar Azura tanpa lagi berbasi - basi tentang uang.
“Kamu pindahkan saja si kembar. Cucu - cucu saya sangat berharga.”
“Tapi biayanya Pak.”
“Nanti saya yang akan kirimkan ke rekening kamu. Kamu jangan khawatirkan masalah biaya. Ini semua saya lakukan demi Ela dan Elo.”
Mata Azura berkaca - kaca. Ia merasa terharu dengan yang diucapkan Sugito. Memang bapak mantan mertuanya ini yang paling mengerti tentang masalah uang dan perkembangan kesehatan mental anak.
“Kamu pulang saja urus anak - anakmu dengan baik yaa… untuk si Ben tidak usah lagi kamu pikirkan, kamu masih ada nomor ponsel saya ‘kan?” tanya Sugito.
“Masih Pak,” jawab Azura.
“Kalau kamu membutuhkan bantuan saya dan masalah biaya semua sekarang saya yang pegang. Jangan kamu harapkan si Ben yang sudah ga memiliki pikiran normal lagi.”
“Iya Pak. Kalau begitu saya pamit dulu yaa Pak. Saya harus menjemput si kembar.”
“Iya Azura. Kamu jaga kesehatan, kamu harus kuat, kamu ibu yang hebat, dan luar biasa. Saya yakin kamu pasti bisa melewati semuanya.”
“Terima kasih banyak Pak.”
“Tidak usah terlalu berterima kasih seperti itu, sudah sewajarnya saya membantu cucu saya. Mereka merupakan penerus keluarga ini.”
“Iya Pak.”
“Kamu hati - hati di jalan, nanti saya akan berkunjung menemui si kembar.”
“Sekali lagi saya mengucapkan banyak terima kasih atas segala perhatian dan kasih sayangnya pada Ela dan Elo.”
Azura berpamitan dengan mencium tangan Sugito. Akhirnya satu masalah sudah terselesaikan dan berharap semuanya bisa berjalan dengan lancar.