13

1127 Words
Setelah menjemput putra putrinya, Azura akan mengajak bicara Angelo dan Angela agar kedua anak - anaknya mengerti tentang keadaan mereka. “Ela, Elo sini,” panggil Azura lembut pada anak-anaknya. Tanpa banyak bicara Angela dan Angelo menuruti Azura. Mereka berbicara di meja makan tempat biasa saling bertukar cerita. “Ada apa Ma?” tanya Angela. “Begini tadi mama ke rumah papa kalian.” “Buat apa mama ke rumah papa. Apa papa menyakiti mama lagi? Atau malah nenek yang menyakiti mama,” ucap Angelo dengan ketus. “Elo tidak boleh berbicara begitu tentang papa dan nenekmu.” “Mama… jangan mama mengira kalau aku ga tau apapun perbuatan papa ke mama. Aku melihat di depan mata kepala ku mama dipukul papa dan nenek selalu mengatakan kalau aku dan Kak Elo anak haram. Cucu sial yang membuat hancur masa depan papa. Seharusnya kalian mati saja.” Angela mengatakan semua dengan rasa dendam dalam hatinya. Azura sangat terkejut mendengar perkataan Angela dan Angelo. Ia tidak pernah menyangka kalau anak - anaknya mendengar kata - kata yang tidak sepantasnya diucapkan oleh seorang nenek pada cucunya kandungnya sendiri. Azura sangat kecewa betapa teganya Winarti seperti itu. “Kapan nenek bilang begitu? Kenapa Elo ga pernah ngomong ke mama?” tanya Azura. “Sering ma. Apa lagi kalau aku dan kak Elo ke rumah nenek. Kami sering dimarahi, tapi kalau ada papa dan mama, nenek jadi beda. Apa lagi kalau ada kakek duuuh jadi baik banget." Dengan menghela napas berat Azura menatap sedih putra putrinya. Betapa terluka nya Angela dan Angelo mendengar ucapan Winarti. “Maafkan mama, Nak.” Air mata Azura menetes di pipinya. Hatinya terasa sangat sakit. “Mama jangan menangis. Kalau mama nangis terus aku dan kak Elo juga jadi sedih.” Angela memeluk Azura. “Kenapa kalian ga bilang sama mama tentang kata - kata nenek kalian?” “Karena mama,” jawab Angelo. “Maafkan mama. Mama bukan ibu yang baik untuk kalian berdua.” “Mama! Mama seharusnya tau inilah alasan aku dan Ela ga mau bilang tentang perkataan nenek. Kalau kami mengatakannya mama pasti sedih, mama pasti menangis. Aku ga mau mama menangis lagi.” Azura tidak percaya kalau anak - anaknya sangat memikirkan perasaannya yang terluka. “Maafkan mama… maafkan mama, Nak.” Azura memeluk secara bersamaan Angela dan Angelo. Angela ikut menangis saat dipeluk Azura. Ia sangat sedih jika mamanya menyalahkan diri sendiri. Sedangkan Angelo hanya diam dengan tatapan dingin. Tidak ada yang tahu perasaannya. Ia lah yang paling terluka disaat mamanya menahan semua rasa sakit. “Sudahlah cukup kita menangisnya. Kita harus selalu kuat bersama. Angela, Angelo harus menjadi anak yang kuat. Bersama - sama kita harus bahagia,” ucap Azura mencoba memberi semangat anak kembarnya. Secara bersamaan Angela dan Angelo menganggukan kepala mereka lalu tersenyum. “Mama janji ga boleh lagi sedih kalau dimarah - marahi nenek ya,” ujar Angela sambil memberikan jari kelingkingnya. Azura pun mengaitkan jari kelingking pada kelingking Angela. Ia berjanji dalam hatinya kalau tidak akan ada lagi air mata yang penuh dengan luka. Sudah cukup semua penderitaannya, walau sekarang ia mengalami kesulitan dalam financial, tapi yakin bisa menghadapi semuanya. “Ooh iya tadi ngapain mama ke rumah nenek?” tanya Angelo. “Tuh kan mama jadi lupa deh. Begini Nak, tadi mama ke sana untuk membicarakan tentang sekolah kalian. Kan Ela dan Elo mau pindah sekolah,” ujar Azura dengan suara lembut. “Lalu apa kata pria yang terpaksa menjadi papaku itu?” “Elo ga boleh mengatakan perkataan yang tidak sopan seperti itu tentang papamu. Walau bagaimanapun kelakuannya, papamu itu tetaplah papamu. Selama 5 tahun papa selalu bertanggung jawab pada kalian.” “Mama walau papa Ben memang papa aku, tapi kelakuan papa tidak menunjukan seorang papa. Kalau mama salah sedikit ditampar, kalau mama bilang apa malah dibentak - bentak. Aku rasa wajar kalau aku mengatakan itu tentang papa.” Angelo berkata dengan dendam. “Elo… jangan pernah menyimpan dendam pada orang tua nanti Tuhan murka. Mama ga pernah mengajarkan Elo seperti itu. Maafkan orang - orang yang menyakitimu. Jangan membalasnya biarlah hukum Tuhan yang membalas setiap perbuatan. Baik itu perbuatan terpuji atau malah sebaliknya." Azura memberi pengertian pada Angela dan Angelo. Angelo memilih diam. Ia tidak ingin lagi berdebat dengan mamanya. Ia tahu maksud dan tujuan mamanya baik dan tak ingin ia terjebak dalam rasa marah juga dendam, tapi rasa dendam di hatinya begitu dalam. Bagaimana ia tak sakit dulu di depan matanya, Azura mamanya sampai berdarah - darah bibirnya akibat dapat pukulan. Keinginan Angelo sekarang membahagiakan Azura, mamanya. Sudah cukup mamanya hanya diam mengalah saat dihina, direndahkan, diperlakukan bagaikan manusia yang tak berguna oleh papa dan neneknya. “Mama lanjutkan pembicaraan papa dan mama,” ucap Angelo dingin. Azura menghela napasnya. “Mama tadi hanya bicara sebentar sama papamu, tapi lebih banyak bicara sama kakek kalian.” Mendengar nama Sugito membuat Angela tersenyum. Di keluarga mereka hanya kakeknya lah yang paling baik dan tidak pernah sekalipun menghina mereka. Bahkan kakeknya sering membelikan mereka mainan dan bersenda gurau. “Bagaimana kabar kakek, ma?” tanya Angela antusias. “Kakek kalian menyetujui tentang keinginan kalian pindah sekolah. Kakek juga mengatakan akan membayar uang gedung sekolah kalian yang baru,” ucap Azura. “Asyiiik… kakek Sugito memang yang terbaik.” “Begitu dong anak mama. Ga semua manusia itu jahat. Ada juga sisi baiknya.” “Iya ma.” “Ma ingat jangan lagi bertemu papa kalau ga ada yang menemani. Aku akan menjaga mama karena aku anak laki - laki. Aku yang nanti akan menjaga, melindungi Ela dan Mama agar ga akan ada orang lagi yang menyakiti mama,” ucap Angelo dengan raut wajah serius. Air mata terjatuh lagi di pipi Azura. Kali ini bukan air mata kesedihan namun kebahagiaan. Tidak ada yang lebih membuatnya bahagia selain anak-anaknya. Segala macam cara akan ia lakukan demi Angelo dan Angela. “Mama, aku lapar,” keluh Angela. “Astaga mama tadi lupa masak,” ucap Azura panik sendiri. “Tapi tenang aja kita bisa makan di luar.” “Horee makan di luar… aku mau makan ayam crispy.” Angela berteriak kegirangan. “Iya. Ayo ganti baju dulu abis itu kita makan bareng-bareng.” Tawa riang Angela dan Angelo menyelimuti hati Azura. Baginya kebahagiaan anak kembarnya merupakan hal utama dalam hidupnya. Ia tidak ingin mengajarkan anak - anaknya membenci ayahnya sendiri ataupun mantan mertuanya. Baginya anak - anaknya sangat berharga dibandingkan apapun dan tak ingin ternodai dengan rasa dendam. Bagi Azura biarlah dulu ia mengalah, selalu di hina, di rendahkan, diinjak - injak seperti tak memiliki harga diri, tapi itu semua demi anak - anaknya. Walau terlihat mudah dan penuh rasa sakit, tapi biarlah ia yang mengalaminya jangan anak - anaknya. Angelo dan Angela merupakan aset masa depan untuk kehidupannya kelak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD