14

1629 Words
Hidup tak selalu baik-baik saja. Ada kalanya berada di dalam kesulitan dan ada kalanya dalam kebahagiaan. Selalu ada rasa kecewa, ketakutan, sedih, menangis, marah, kecewa. Akan tetapi setiap masalah ada jalan keluarnya tinggal bagaimana caranya kita menghadapinya. Percayalah Sang Maha Pencipta akan selalu menjadi penolong umatnya. Setelah makan malam bersama anak - anaknya, Azura menidurkan mereka. Ia tak ingin kebahagiaan Angela dan Angelo terusik oleh keluarga mantan suaminya. Biarlah Tuhan yang membalas mereka karena hanya Tuhan lah yang mampu membolak - balikan hati manusia. Perkara mudah bagi Tuhan yang dalam sekejap untuk membalas semua perbuatan manusia. Malam terasa begitu senyap. Tak ada lagi canda tawa dari Angela dan Angelo. Azura menatap anak - anaknya yang tertidur lelap. Ingin sekali ia memberikan kebahagiaan pada mereka, tapi saat keadaan keuangannya belum stabil. Memang menulis di salah satu aplikasi online dan sudah menjadi penulis tetap di sana bisa memberikan uang yang bisa memenuhi kebutuhannya, tapi ia juga tidak bisa mengharapkan sepenuhnya dari hasil menulis. Ia risau dengan masa depannya sendiri. Dengan menghela napas. Ia membuka f*******: untuk promosi mengenai ceritanya dan melihat ada tanda pesan di Messenger. Senyuman terbit di wajahnya, teman baiknya semasa sekolah menang atas dan kuliah dulu mengirimkan pesan. Nura : Selamat malam. Saya Nura, apakah ini Azura Karisma yang dulu sekolah di SMAN 100 Semarang dan kuliah di Universitas Negeri Semarang? Membaca pesan tersebut membuat pikiran Azura melayang di masa lalu. Ia teringat masa-masa putih abu - abu yang begitu menyenangkan dan membahagiakan. Tidak memikirkan tentang masalah hidup, bagaimana susahnya cari uang, bagaimana arti perjuangan hidup. Pokoknya di dalam pikirannya hanya senang - senang bersama teman - temannya. “Ra, bolos yuk,” ajak Nura dengan semangat. “Jangan sekarang deh Nur. Ini jam-nya Bu Sita. Asyik tau pelajaran Bahasa Indonesia itu,” tolak Azura. “Hadeeh pelajaran Bu Bogel itu paling menjengkelkan. Bikin ngantuk.” “Yaa ampun Bu Sita dipanggil bogel. Parah akh.” “Lah memangnya salah. Bu Sita kan pendek, gendut. Jadinya pas dong.” “Kalau ketahuan manggilnya Bu Bogel bisa dihukum loh.” “Sudahlah Ra ga usah sok alim begitu, tuh Pak Karimo guru matematika malah kamu panggil Pak Kumis. Sama aja kan kamu dan aku." “Loh… loh… kan memang Pak Karimo memiliki kumis tebal bak hutan belantara jadi ga salah dong. Pelajarannya juga bikin pusing 7 turunan 8 tanjakan." “Benar bagimu belum tentu benar menurut orang lain. Beda kepala beda pula pemikirannya.” “Katanya ga suka pelajaran bahasa indonesia, nah itu kata - kata mu sungguh bijaksana bijaksini. Sungguh luar bianasa wahai engkau, Nura Saraswati.” “Diamlah engkau wahai kisanak. Urusan kerajaan kita bukan lagi urusan gerando dan mak lampir.” Nura dan Azura tertawa bersama dengan segala bercandaan mereka. Tak bisa Azura pungkiri kenangannya bersama sahabatnya tersebut selalu menjadi penghibur hatinya yang sedih. Ia memang bukan anak orang kaya malah bisa dibilang sangat sederhana. Nura sering membayar jajannya, walau tetap ada imbalannya. Sudah biasa ia mengerjakan tugas - tugas sekolah Nura. “Aku jadi kangen Nura deh,” ucapnya lalu membalas pesan Nura. Azura : Nura… i miss you so much, Beb. Sumpah aku kangen banget sama kamu. Apa kabar? Kamu sekarang di mana Beb? Setelah membalas pesan Nura. Azura berharap sahabatnya segera membalas pesannya. Ia sudah tak sabar lagi. Sambil menunggu balasan pesan dari Nura, ia mempromosikan ceritanya ke grup-grup kepenulisan di f*******:. “Hai Kakak… baca yaa cerita ku di Innovel. Seru, menarik banget, bikin geregetan, dan tentunya masih free coin. So cepetan dibaca yaa dari pada kalian penasaran.” Azura mengetik kata - kata tersebut di kolom komentar. “Aku nulis promosi apa lagi yaa?” Azura menepuk bibirnya dengan tali telunjuk. “Aku tau. Mending aku tambahi blurb ceritanya, Only You biar pembaca semakin penasaran.” “Aku tulis… - Alexander Williams, merupakan CEO muda yang sukses dan tampan. Di usianya yang sudah matang belum juga menikah. Ibunya, Lena William menginginkan agar segera menikah dan menjodohkannya dengan Sabrina Veronica, tapi pada kenyataannya tidak seperti yang diinginkannya- udah cukup belum yaa. Masa cuma si Alex aja,” ujar Azura yang merasa aneh hanya blurb versi prianya saja. “Aku tambahin tentang si Alana deh. - Alana Amanda, seorang gadis yang mulai melanjutkan ke perguruan tinggi, terpaksa harus merelakan masa - masa mudanya menikah dengan pria yang usia terpaut jauh darinya. Sementara itu, Rey Bastian yang merupakan cinta pertama Alana hadir kembali membawa cinta. Membalas perasaan cintanya yang dulu hanya sepihak. Namun, keadaan sekarang sudah berbeda tidak lagi sama seperti dulu.” Azura membaca lagi tulisannya. “Hmm, kayaknya perlu ditambah lagi pertanyaan yang bikin orang penasaran aja deh. Begini kali yak, Akankah Alana bisa bersama dengan cinta pertamanya? Atau malah menjadi terluka dengan rasa cintanya? Aku rasa ini sudah cukup deh. Semoga aja sukses nih promosi dan aku bisa panen koin." Azura tersenyum bahagia. Ia sangat berharap bisa masuk dalam tampilan terdepan atau best seller. Saat Azura sibuk copy paste ceritanya, Only You di berbagai kolom komentar pembaca di grup kepenulisan. Tanpa disadarinya ada balasan pesan dari Nura di messenger. Setelah 15 menit berlalu baru ia menyadari kalau ada pesan masuk. “Eh, ada pesan lagi nih. Semoga aja balasan dari Nura.” Azura melihat messenger. Benar dugaan Azura kalau ada balasan pesan dari Nura. Nura : Asura, eeh Azura. Maapkeun daku malah jadi kebiasaan manggil kamu, Asura. Nura : I miss you too, bestie. Kabar aku baik-baik saja Ra. Aku sekarang tinggal di Jakarta loh. Kamu masih di Semarang yaa. Gimana kabar kamu, anak kembar mu, dan suamimu? Dengan semangat Azura membalas pesan Nura, sahabatnya. Azura : Syukurlah kabar kamu baik - baik saja. Wah, jadi anak ibu tiri, eeh ibu kota nih sekarang. Keren - keren deh. Azura : Kabar aku dan si kembar juga baik - baik aja dan kabar Ben itu sudah dibuang ke laut. Nura : Dibuang ke laut maksudmu sudah meninggoy, metong? Azura : Ga meninggoy ataupun meteng Beb. Manusia lucknut kayak Ben itu masih awet umurnya. Biar makin banyak dosanya. Aku dan Ben lucknut sudah bercerai, pisah, pegatan, the end, ending, tamat, selesai. Nura : Ooh tidak, tidak ooh. Si Ben lucknut itu sudah bercerai sama kamu. Wah, parah ini Ben lucknut menceraikan berlian. Memangnya cerainya kenapa?” Azura : Awalnya dulu si lucknut selingkuh beb dan maunya poligami, tapi aku ga mau di madu karena aku bukan lebah. Nura : Wkwkwk… bener banget jangan mau di madu karena kamu bukan lebah, tapi cicak. Nura : Tapi keadaan kamu gimana? Si kembar gimana? Azura : Yaa ikut aku semua. Mana mau si pelakor mengasuh anak - anakku. Nura : Ooh dasar kutu kupret si pelakor. Azura : Yaa begitulah Beb. Yang penting sekarang aku sudah lepas dari si lucknut itu. Hidup berumah tangga sama si lucknut kayak berasa di medan perang. Ada aja salahnya belum lagi itu tuh ibu mertua suka ikut campur . Udah tau anaknya salah, tukang pukul, kasar makin memperburuk rumah tangga ku dan mulutnya itu tajam setajam silit. Nura : Wkwkwk memang mertua kejam dan bermulut tajam itu sebaiknya itu cocoknya sama silit. Nura : Sabar yaa Ra. Nura : By the way kok manggil aku Beb… beb… mulu. Jangan body swimming dong, eeh body shaming. Mentang-mentang body ku melar kesamping aku dipanggil Beb. Padahal aslinya Beban makanan ‘kan. Azura : Astaga Nura. Kamu ini loh yaa Beb itu panggilan sayang ku ke kamu. Sensi amat sih Bu. Nura : Ga lah Ra. Aku tau kok maksud kamu, aku cuma jadi penghibur hatimu yang sedang terluka. Azura : Makasih banget Nura. Makasih banget kamu dari dulu selalu bisa menghibur aku. Mata Azura berkaca - kaca membaca pesan Nura. Setelah sekian lama akhirnya ia merasa ada yang memperhatikannya. Nura : Dari pada cuma chat - chat aja bikin jempolku jadi makin gendut, mending aku telepon deh. Berapa nomor kamu? Azura : Hehehe, Iya Nura. Ini nomorku 081213xxxx. Call me yaa Nura. Nura : Siap. Tak lama mereka saling berbalas pesan. Nura menghubungi Azura. “Halo Ra,” sapa Nura dengan semangat. “Yaa Nura,” balas Azura tak kalah semangatnya. “Maaf yaa Ra semenjak kamu menikah kita ga saling memberi kabar. Aku itu mencari - cari kamu walau ga ketemu juga.” “Aku yang seharusnya minta maaf sama kamu, Nura. Aku malah menghilang dari muka bumi.” “Ga apa - apa Ra kalau cuman hilang dari bumi masih bisa dicari. Coba kamu hilang dari planet bumi lebih susah lagi loh. Ga ada jejak ataupun tanda - tanda kehidupan dari kamu. Bisa - bisa jadi alien lagi." “Hahaha, dasar kamu memang dari dulu agak kurang waras.” “Gimana kabar tante Ninis, mamamu, Ra?” Terdengar suara helaan napas Azura dari ujung telepon. Rasanya begitu berat mengatakan tentang mamanya sendiri. “Ra, are you okay?” tanya Nura cemas. “Aku okay kok Nura cuma teringat saja sama mama.” Azura berkata pelan. “Kenapa tante Ninis? Apa jangan-jangan…” “Mama sudah meninggal tiga tahun yang lalu Nura.” “Yaa Tuhan. Maafkan aku yaa Ra, aku ga tau. Maaf banget Ra. Meninggalnya kenapa?” “Iya ga apa - apa. Kamu kan ga tau. Mama meninggal sakit kanker payudara.” “Yaa Tuhan, tante Ninis. Aku ikut sedih juga yaa Ra. Tante orangnya baik banget.” “Terima kasih Nura.” “Iya Ra. Hmm, dari pada ini semua jadi melankolis begini. Aku mau mengatakan sesuatu.” “Apa itu? Aku jadi penasaran.” “Jadi sekarang kamu jadi jendes dong. Jadi Jajaba, hahaha.” “Jajaba? Apa itu Jajaba?” “Jajaba itu artinya Janda - Janda Bahagia. Suara tawa Azura pecah saat mendengar perkataan Nura. Azura dan Nura saling bercanda dan bersenda gurau. Ia benar - benar merasa sangat beruntung bisa berhubungan lagi dengan Nura.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD