Azura, Angelo, dan Angela kembali ke rumah. Wajah Azura terlihat begitu kesal membuat anak-anaknya takut untuk mengatakan satu kata pun.
“Kalian mandi dulu yaa,” ucap Azura.
“Iya Ma.” Angela dan Angelo menjawab dengan serempak.
Untuk sesaat Azura merasa tenang. Ia memang sangat kesal dan masih dikuasai amarahnya, tapi tak bisa melampiaskannya pada siapapun.
“Astaga aku belum masak buat nanti malam,” ucap Azura menepuk dahinya.
Azura segera ke dapur dan membuka kulkas untuk melihat ada bahan makanan apa saja di sana.
“Hmm, lumayan nih ada sosis. Apa aku masak sosis saus asam manis aja yaa.” Azura berpikir sejenak. “Yaa udah deh masak itu aja.”
Dengan cepat Azura mengambil sosis yang ada 4 buah di dalam kulkas dan segala bahan-bahan untuk menumis. Setelah dirasakannya cukup segala cita rasa di lidahnya segera melihat putra-putrinya.
“Ela sudah selesai mandinya?” tanya Azura.
“Sudah Ma. Itu tinggal kakak.” Tunjuk Angela ke arah kamar mandi.
“Tunggu kakakmu lalu kita makan bareng-bareng.”
“Iya Ma.”
Setelah memastikan anak-anaknya sudah beres semua. Ia pun segera membersihkan dirinya, rasanya lelah setelah hari ini banyak masalah yang dihadapinya. Dari Rieka hingga Sugito. Air di dalam bak mandi yang dingin mampu membuatnya terasa segar. Walau di rumah milik peninggalan orang tuanya tidak memiliki shower, tapi itu lebih baik dari pada menumpang di rumah orang.
Kulit segar dan cerah terpancar di wajah Azura. Segala rasa penat seakan menghilang, ia hanya ingin ketenangan dalam hidupnya bukan masalah yang silih berganti datang menghantuinya. Seandainya ia memiliki cukup uang atau pegangan tentu akan memilih untuk meninggalkan kota tempatnya dilahirkan.
Di saat Azura asyik menyisir rambut lurus sebahu miliknya terdengar suara tawa Angela. Ia mengernyitkan dahinya dan berpikir dengan siapa putrinya tertawa. Jika hanya berdua dengan Angelo malah sering bertengkar. Ia jadi penasaran.
Betapa terkejutnya Azura dengan sosok pria yang mengenakan kaos biru langit dan celana jeans memangku putrinya. Sedangkan Angelo hanya diam dengan wajah tak suka atas kehadiran Ben.
Buat apa laki-laki yang menyakiti hati dan menghancurkan hidupnya berada di dalam rumahnya. Siapa yang mengijinkan ia masuk ke dalam rumah tanpa diketahuinya. Azura berkata dalam hatinya.
Ben yang mengerti tatapan Azura yang tak suka langsung menyapanya, “halo Ra, apa kabarmu? Sehat?” ucapnya berbasi-basi.
“Ga usah kamu tanya tentang kabarku. Aku masih ada di depanmu berarti sehat.” Azura curiga Ben terlihat baik padanya. “Ngapain kamu di sini?” tanya Azura tak suka.
“Aku ke sini mengunjungi anak-anakku. Apa tidak boleh?”
Azura melirik tajam ke arah Ben. Ia tak suka laki-laki tak bertanggung jawab itu datang ke rumahnya. Bisa-bisa rumah peninggalan ibunya akan diklaim olehnya sebagai miliknya.
“Apa ga bisa kamu menghubungi ku kalau mau bertemu anak-anak? Aku ga suka kamu main masuk ke dalam rumahku. Di mana etika kamu?” Azura menyindir kelakuan Ben.
“Ini yang ingin aku pertanyakan sama kamu tentang etika.”
“Buat apa? Aku rasa tak perlu kamu mengatur aku di tempatku sendiri.”
Angelo yang melihat sebentar lagi akan ada peperangan antara ayah dan ibunya memberikan kode pada adik kembarnya. Ia sangat tahu kalau Angela paling tidak bisa mendengar pertengkaran kedua orang tua mereka yang sudah bercerai.
Azura menatap raut wajah Angelo dan Angela. Anak-anaknya tidak nyaman dan ketakutan. Ia sangat mengerti kalau mereka berdua mungkin masih trauma pertengkarannya dulu dengan Ben.
“Kita bicara di luar,” ajak Azura.
“Kenapa ga di sini aja?” Ben tak suka berbicara di luar rumah.
“Di sini ada Ela dan Elo. Aku ga mau mereka nanti mendengar hal-hal yang ga seharusnya di dengar.”
“Baiklah.”
Setelah berbicara sebentar dengan Angela dan Angelo. Ben mengekori Azura ke luar rumah.
“Apa yang ingin kamu katakan?” tanya Azura menatap curiga.
“Ini masalah tentang etika.”
“Apa maksudmu? Jangan berbicara muter-muter ga jelas.”
“Inilah kalau aku menikah dengan wanita tidak berpendidikan dan miskin. Jadi tidak mengerti tentang etika.”
Azura sangat tersinggung atas perkataan mantan suaminya. Ingin rasanya ia membalas setiap ucapan Ben, tapi mengingat ada Angela dan Angelo membuatnya mengurungkan niatnya tersebut.
Dengan menghela napasnya, Azura pun berkata, “sekarang. langsung saja pada intinya. Apa mau kamu?”
“Kamu bertanya apa mau ku? Tentu saja aku ke gubuk derita mu ini tanpa ada yang aku mau.”
“Lebih baik tinggal gubuk, tapi nyaman. Dari pada harus tinggal menderita di rumah mewah yang sama sekali tidak ada kenyamanan.”
“Terserah padamu, Ra. Aku juga ga peduli, mau kamu tinggal di gubuk ataupun kolong jembatan aku sama sekali tidak peduli dan mau tau.”
“Yaa sudah kalau begitu ngomong yang jelas. Kasian mulutmu yang selalu digunakan untuk menghina orang lain. Sudah kayak makan cabai aja tuh mulutmu.”
Ben hanya mendenguskan meremehkan Azura. Ia berpikir kenapa dulu mau meniduri wanita kasar dan urakan seperti Azura. Gara -gara wanita ini karirnya terhambat.
“Ayo ngomong! Dari tadi cuman diam aja. Kalau ga ada yang mau mulutmu itu katakan mending kamu pulang aja sana. Nanti dicariin istrimu tercinta,” ejek Azura.
“Oke. Aku mau nanya sesuatu ke kamu.” Ben menatap Azura. “Kenapa kamu menampar Rieka? Apa salahnya sampai niat baiknya yang hanya ingin bertemu calon anak-anak tirinya malah kamu kasari.”
Azura langsung tersenyum mengejek sambil membalas tatapan Ben. Ia sama sekali sudah tidak takut lagi pada pria kurang ajar tersebut.
“Aku menampar Rieka karena perempuan itu memang layak diberikan tamparan. Apa dia bilang kalau aku menamparnya dua kali?”
“Iya. Kamu menamparnya dan mendorong sampai terjatuh di lantai. Yang bikin aku ga habis pikir kenapa kamu mengajari Angela dan Angelo hal yang ga baik. Ibu macam apa kamu ini!” Ben mendorong kening Azura dengan telunjuknya.
Kepala Azura terdorong ke belakang. Dulu ia sering diperlakukan seperti itu, tapi sekarang ia akan melawan perbuatan pria yang mengaku sebagai orang terhormat tersebut.
“Aku seorang ibu yang memperjuangkan anaknya saat dihina oleh manusia sialan seperti Rieka. Bukan seperti seorang pria yang hanya diam kayak sayur layu saat anak-anak kandungnya diperlakukan ga baik.” Azura membalas mendorong kening Ben dengan telunjuknya.
Ben tersulut emosinya. Ia mengangkat telapak tangannya ingin memukul pipi mantan istrinya, Azura.
Azura yang sudah tahu tabiat Ben langsung berkata, “pukul! Aku akan teriak maling dan bisa dipastikan kamu akan babak belur dihakimi massa.” Ia menatap menantang Ben.
Ben terkejut dengan perlawanan Azura dan saat mendengar perkataan Azura yang akan meneriakinya maling membuat nyali Ben ciut. Jika ia memukul Azura yang bukan berstatus istrinya lagi, akan membuat masalah semakin runyam. Ia pun mengurungkan niatnya untuk memberikan pelajaran untuk Azura.
Meski sangat kesal dan marah dengan perkataan Azura, niatnya Ben ingin membicarakan tentang kehidupan Angela dan Angelo. Ia hanya ingin terbebas dari beban sebagai seorang ayah dan memulai kehidupan baru dengan wanita yang dicintainya, Rieka.