20

1553 Words
Sugito menatap Azura. Ingin mengutarakan permintaannya walau ia sendiri ragu, tapi ini keputusan yang bisa membuat kehidupan ibu dari cucu - cucunya menjadi lebih baik. Ia hanya bisa menghela napasnya. Sekarang saatnya ia berbicara serius dengan Azura dan ini semua menyangkut masa depan mantan menantu dan cucunya. “Azura sebelumnya saya ingin meminta maaf atas semua kesalahan keluarga saya yang telah membuatmu menderita. Kamu wanita dan seorang ibu yang baik," ucap Sugito. “Iya Pak. Walau sudah mengalami banyak masalah yang membuat hidup saya makin menderita, tapi tidak ada niat untuk saya membalas semuanya. Biarlah Tuhan yang membalas setiap perbuatan baik dan buruk,” ucap Azura tersenyum. “Ya dan balasan dari Tuhan itu akan memiliki dampak yang berbeda dibandingkan balasan dari manusia." "Saya tidak berharap ada kejadian yang buruk pada Ben, walau bagaimanapun laki - laki itu ayah dari anak - anak saya. Meskipun saya sudah tidak memperdulikan dia lagi." "Kamu memang memiliki hati yang begitu baik, Ra. Sayang sekali Ben memilih jalan hidup yang salah." Azura hanya diam. Ia tidak ingin berkata apapun lagi, baginya Ben dan keluarganya hanya masa lalu yang tak pantas untuk disesali. Namun, apa yang ingin dikatakan Sugito padanya. Ia sudah lelah dari tadi hanya berputar - putar dan basa basi tak jelas. Ia masih memiliki berbagai macam kegiatan yang lebih berguna dibandingkan hal tidak jelas seperti ini. “Lalu apa yang ingin anda katakan Pak?” tanya Azura yang kesal sendiri. “Saya tau kamu pasti sangat kesal karena saya dari tidak mengatakan apa maksud dan tujuan saya.” Sugito tersenyum, tapi pandangannya sedih. “Iya Pak tolong anda beritahukan pada saya apa maksud dan tujuan anda. Saya juga memiliki banyak hal yang harus dilakukan." “Begini Azura..." Sugito melihat Azura kasihan, "apa kamu tidak ada niat untuk menikah lagi?” Mata Azura terbelalak. Ia terkejut dengan pertanyaan Sugito. Jangankan menikah lagi, laki-laki yang dekat saja belum ada. Ingin rasanya ia membakar pria tua ini yang ada di depannya dengan bara api yang panas membara. “Kenapa mata kamu kok melihat saya seperti itu? Apa salah pertanyaan saya?” Sugito menatap Azura dengan aneh. Azura mengerjapkan matanya. Apa mbah - mbah ini sudah pikun atau hilang ingatan? “Pak sepertinya pertanyaan Pak Sugito kurang tepat. Saya saja belum berpikir untuk menikah lagi.” Azura berkata dengan kesal. “Tapi ga ada salahnya kan kalau kamu menikah lagi. Kamu masih muda, masih cantik, pintar saya yakin akan banyak laki - laki yang ingin meminangmu.” Semakin Azura mendengar perkataan Sugito, semakin kesal. “Jangan menolak jodoh yang diberikan oleh Tuhan. Jangan takut untuk menikah lagi masa depanmu masih panjang. Kamu pasti bisa mendapatkan laki - laki yang terbaik untuk kamu dan anak - anakmu." Azura menghela napasnya. “Untuk saat ini belum ada Pak, tapi belum tau nanti. Saya tidak pernah menolak jodoh bila nanti ada.” “Apa mau saya jodohkan dengan laki - laki lain? Saya mempunyai kenalan seorang duda dan saya yakin bisa mencukupi semua kebutuhan si kembar.” Sumpah deh nih mbah - mbak kok makin ngawur wae. Moso aku meh dikenalke karo dudo, ojo - ojo wis tuwo koyok mbah iki. Azura berkata dalam hatinya. - Sumpah deh nih kakek - kakek kok makin asal-asalan saja. Masa aku mau dikenalkan dengan duda, jangan-jangan sudah tua lagi kayak kakek ini - “Pak saya rasa pembicaraan kita sudah tidak terlalu penting lagi. Kalau hanya membahas hal seperti ini bukan ranahnya Pak Sugito,” ucap Azura dengan tatapan tajam. Sugito terkejut dengan reaksi Azura yang tidak sesuai dengan keinginannya. Ia hanya ingin Azura memiliki seseorang sebagai sandaran hidup. “Begini Ra, kamu jangan tersinggung dulu. Saya tidak bermaksud seperti itu, saya ingin kamu dan anak-anakmu ada yang melindungi,” ujar Sugito berusaha memberi pengertian pada Azura. “Saya tidak suka jika hal pribadi dalam hidup saya ada mencampuri. Jika saya memilih untuk menikahi lagi pasti dengan pertimbangan. Saya tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama dan terjebak dengan laki - laki yang tidak bertanggung jawab dan kurang ajar lagi.” Azura berkata dengan tegas. “Maafkan saya jika menyinggungmu. Jika kamu masih di belum menikah pasti Rieka akan selalu mengganggumu merasa kamu akan merebut Ben lagi.” “Tapi menikah lagi bukan jalan keluar yang terbaik. Malah kalau saya tergesa - gesa dan salah jalan akan membuat hidup saya akan semakin berantakan. Sudah cukup semua masalah yang ada saat ini.” Saran yang diberikan Sugito ditolak mentah - mentah oleh Azura. Ia akan memberikan saran yang lain agar hidup Azura jauh lebih tenang. “Bagaimana kalau kamu pindah dari Semarang?” Sugito berkata dengan hati - hati. “Saya pindah dari Semarang?” ucap Azura tak percaya. “Jika kamu masih di kota Semarang pasti Rieka terus menerus akan mengganggumu dan Ben, dia tidak bisa harapkan. Anak saya itu seperti sudah diguna - guna sama Rieka. Apapun yang Rieka katakan pasti diturutinya.” “Mau Ben diguna - guna sama Rieka atau tidak itu bukan urusan saya lagi. Itulah resikonya Ben yang telah memilih wanita yang menurutnya terbaik.” “Memang bukan urusan kamu, tapi ini berpengaruh pada uang tunjangan anakmu. Rieka bisa saja menyuruh Ben untuk tidak memberikan uang bulanan untuk Ela dan Elo. Apa kamu ga kasihan sama anak - anakmu sendiri?” Mendengar perkataan Sugito memang masuk akal. Melihat kelakuan Rieka yang kurang ajar dan tak memiliki kesopanan kemungkinan tersebut bisa saja terjadi. “Saya memang bisa membantu kamu, tapi tidak bisa terus menerus. Kalau Winarti tau saya selalu membantu kamu bisa marah walau sebenarnya wajar jika saya memberikan uang untuk cucu - cucu saya. Ela dan Elo merupakan darah daging saya juga.” Sugito jadi serba salah sendiri. Azura menghela napasnya. Ia mengerti dengan kebimbangan Sugito. Sudah dibantu dengan biaya pindah sekolah Angela dan Angelo saja ia sudah bersyukur. “Ini saja saya mengirimkan uang untuk biaya sekolah Ela dan Elo tanpa sepengetahuan Winarti. Kalau Winarti tau akan marah - marah dan bertengkar lagi. Saya tau kalau istri saya tidak menyukai Ela dan Elo, malah tidak menganggap mereka cucu - cucunya,” keluh Sugito. “Jadi Pak Sugito selama ini tau semua perlakuan buruk dan kata - kata kasar yang dilontarkan istri anda?” Azura bertanya dengan tak percaya. Sugito menganggukan kepalanya. “Iya saya tau.” “Lalu apa tindakan anda? Membiarkan kelakuan istri anda itu?” “Aku sesekali menegurnya, tapi malah lebih marah - marah dan ujung - ujungnya bertengkar. Saya sudah tua ingin hidup tenang tanpa pertengkaran Ra.” Azura menggigit bibirnya. Ia sangat kesal pada keluarga Ben, baik itu ayah maupun ibunya. Baginya mereka bersekongkol untuk membuat mental anak - anaknya menjadi terpuruk. “Saya kecewa dengan anda, Pak Sugito! Kakek macam apa anda membiarkan cucu - cucu anda mendapatkan perlakuan seperti itu!” Azura mengembalikan semua perkataan Sugito yang sebelumnya mengatakan hal yang sama adanya. Sugito tak bisa membalas perkataan Azura. Ia sangat malu saat Azura membalikan semua perkataannya tadi yang mengatakan ‘ibu macam apa kamu membiarkan anak - anakmu sendiri dipukuli’ sedangkan dirinya sendiri hampir sama saja perbuatannya. “Sebaiknya mulai dari sekarang anda dan keluarga anda tidak usah lagi mencampuri urusan hidup saya. Tidak usah lagi menganggap anak - anaknya Angela dan Angelo sebagai cucu anda. Anak saya milik saya sendiri bukan orang lain.” Azura menatap Sugito dengan marah. “Azura jangan seperti itu. Saya sangat menyayangi Ela dan Elo. Mereka berdua cucu - cucu saya.” “Bukan! Ela dan Elo mulai sekarang bukan cucu anda lagi dan katakan pada anak anda si Ben itu kalau Ela dan Elo mulai saat ini bukan anak - anaknya lagi!” Azura bangkit dari kursinya memanggil Angela dan Angelo. “Mau ke mana Ra?” tanya Sugito tak rela Azura meninggalkannya dalam keadaan marah. “Bukan urusan anda!” “Ra itu makanannya sudah datang, kamu dan anak-anak makanlah dulu.” “Tidak perlu saya bisa makan sendiri.” “Azura tolong dengarkan saya sebentar saja.” Angela dan Angelo berlari - lari mendekati Azura. Angelo memperhatikan raut wajah Azura yang berbeda, ia yakin mamanya sedang marah. “Mama kenapa?” tanya Angelo. Belum sempat Azura menjawab pertanyaan Angelo. Sugito memanggil Angela untuk segera makan karena makanan yang dipesan sudah tersedia di atas meja. “Ela ajak mama dan kakakmu makan dulu, Nak,” ujar Sugito. Angela yang tidak mengerti apapun menjadi bingung sendiri lalu bertanya pada Azura, “mama mau ke mana? Apa mama mau pergi? Ini makanannya sudah ada.” Azura menutup mata dan menghela napasnya. Ia sudah sangat emosi, tapi harus ditahannya. “Dibungkus aja.” Azura memanggil pelayan untuk membungkus makanan yang sudah tersedia di atas meja. “Ra jangan pergi dalam keadaan emosi. Bisa berakibat tidak baik di jalan,” ucap Sugito lembut. Azura tidak memperdulikan perkataan Sugito. Ia memegang tangan Angela dan Angelo menuju meja kasir. “Biar saya yang bayar Ra,” ucap Sugito yang mengikuti Azura. “Terserah.” Azura langsung mengambil bungkusan yang telah diberikan pelayan restoran. Azura pergi dari hadapan Sugito bersama Angela dan Angelo. Ia lebih baik menghindari keluarga dan segala hal tentang Ben. Semua keputusan dalam hidupnya merupakan pilihannya bukan orang lain. Yang tahu ia bahagia maupun menderita adalah dirinya. Sugito hanya bisa menghela napasnya. Ia menyesal sudah membuat Azura marah pada perkataannya, tapi tidak bisa menyalahkannya. Ini memang kesalahannya yang terlalu dalam ikut campur dalam ranah pribadi mantan menantunya tersebut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD