Setelah mengakhiri pembicaraannya dengan Sheila membuat Azura tersenyum. Ia mengingat banyak kenangan dari masa lalu membuatnya bahagia. Kenangan-kenangan yang tercipta dari kebersamaan teman sekelas, kakak kelas, guru, atau hal yang lainnya. Menyontek berjamaah, bolos pelajaran berjamaah, hingga sangat bahagia bila jam pelajaran kosong bagaikan mendapatkan siraman surgawi.
Ingin rasanya Azura kembali di masa lalu agar tidak terlalu pusing dengan berbagai masalah hidup yang kerap menghantui orang dewasa seperti keadaannya saat ini. Seorang pelajar hanya berkewajiban untuk belajar dengan baik dan meraih prestasi yang bisa membanggakan orang tua. Memikirkan masa-masa indah dulu membuat Azura kembali teringat tentang persahabatannya dengan Nura dan Sheila. Tapi ada satu orang yang paling diingatnya dan tak bisa dilupakannya, Vino.
“Ra sini!” teriak Nura saat Azura keluar dari kamar mandi sekolah.
“Apaan sih,” ujar Azura yang kebingungan.
Nura menunjuk ke arah para cowok-cowok yang sedang main basket. “Kak Vino keren banget.”
Mata Azura berbinar-binar saat Nura menyebut nama Vino. Ia langsung melihat ke cowok-cowok kelas 12 yang serang bermain basket.
“Cakepnya bikin aku meleleh,” ujar Azura.
“Lihat-lihat itu keringatnya malah bikin makin macho,” puji Nura.
Azura dan Nura semakin berteriak kegirangan sendiri saat Vino mengambil handuk yang ada di dalam tasnya dan menyeka keringat dengan handuk kecil berwarna coklat muda tersebut.
“Aak, aku iri. Aku iri sama handuknya Kak Vino. Aku ingin sekali jadi handuknya,” ucap Azura membayangkan kalau dirinya sebagai handuk kecil yang mengusap-usap kulit wajah Vino.
“Iis, cita-citamu rendah banget sih jadi handuknya doang. Kayak aku dong pengen jadi yang mengusap-usap tuh handuk. Biar mesra gitu,” ujar Nura tak mau kalah.
“Suka-suka aku lah mau jadi handuknya kek, mau jadi kolornya kek yang penting bisa menjadi bagian yang dibutuhkan kak Vino.”
“Terserah… terserah… eh, itu itu si Vibl.” Nura dengan bersemangat kembali menunjuk Vino yang meminum air kemasan langsung dari botol air nya. “Sumpah! Kak Vino ganteng, keren, pintar, dan macho banget deh.”
“Aku iri, aku iri… aku mau jadi botolnya dong.”
Pletak!
Nura dengan semangat menjitak kepala Azura. Yang punya kepala meringis kesakitan sambil memegang kepalanya yang dijitak Nura.
“Bisa ga kdrt ga sih. Sakit tau!” pekik Azura.
“Emangnya kita suami istri apa sampai kdrt segala,” sahut Nura tak terima.
“Kdrt itu bukan dari kepanjangan kekerasan dalam rumah tangga, tapi kdrt yang aku maksud itu kekerasan dalam ranah teman. Beda jenis tau ga sih.”
“Ngomong dong mbakyu kalau artinya beda jadinya saya yang cantik jelita nan rupawan ini ga salah paham. Kalau jelas dan terang benderang begini kan enak. Emangnya kayak situ yang ga jelas dan gelap gulita.”
“Enak aja kamu bilang aku ga jelas dan gelap gulita! Jangan seenak udel nenek moyangmu juga kali.”
“Yaa ga jelaslah tadi bilangnya ‘aku iri… aku iri pengen jadi handuknya dong’ sekarang malah bilang ‘aku iri… aku iri pengen jadi botolnya dong’ jadi seorang wanita itu harus tegas dan berani memilih mana yang terbaik dalam hidupnya bukannya plin-plian begitu.”
“Ga usah sewot kali Nur. Aku ingin jadi apapun kalau itu menyangkut Vino Andreas.” Mata Azura kembali berbinar - binar saat menatap pria yang disukainya sedang beraksi di lapangan basket.
“Mbakyu, neng, non tolong sadar dulu yaa. Kalau kamu menghayal itu jangan terlalu tinggi sampai langit kedelapan deh, nanti ditendang penjaga langit dari langit kedelapan baru nangis-nangis air mata buaya betina minta maaf dan menyesal.”
“Yang penting menghayal dulu siapa tau kesampaian kak Vino melirik aku yang luar biasa mempesona ini."
“Bukan luar biasa, tapi luar binasa."
"Mana aja deh yang penting Vino menyadari kalau aku selalu ada di dekatnya."
Mimpi.”
Tuhan berikanlah hambamu yang cantik dan sholeha ini untuk bisa berkenalan dengan Vino Andreas yang cakepnya ga ketulungan. Kabulkanlah doa-doa ku ini, Tuhan. Aamiin. Azura berdoa di dalam hatinya.
“Pindah sana yuk biar bisa lihat dari dekat si kak Vino yang cakepnya anti basi itu,” ajak Azura.
“Untuk masalah yang cakep-cakep tentu saja aku sangat-sangat bersemangat perjuangan empat lima dong. Udah kayak pahlawan pejuang cinta.”
Persahabatan Azura dengan Nura yang sudah terjalin selama 2 tahun. Mereka bertemu saat masa orientasi siswa baru di SMA 100 Semarang dan dari kelas 10 sampai kelas 11 selalu satu kelas. Sekarang Nura dan Azura lebih dekat lagi di lapangan basket sekolah sehingga bisa melihat Vino secara langsung tanpa ada penghalang lagi.
Vino… Vino… terdengar suara gadis-gadis SMA yang berteriak memanggil nama pria pujaan Azura. Ingin rasanya ia menghardik mereka agar jangan memanggil nama Vino.
“Tuh anak-anak cewek kelas 10 kok pada gatel-gatel yaa manggil-manggil Vino. Bikin jengkel deh,” ujar Nura kesal.
“Mereka ga tau apa kalau di sini ada calon pacarnya Vino yang luar biasa cantiknya melebihi cewek-cewek lain,” sahut Azura yang ikutan kesal.
Azura melirik ke arah gadis-gadis kelas 10. Ia lagi kesal-kesalnya mendengar teriakan mereka yang tak tahu tempat. Baginya ini sekolah bukan ajang pencarian bakat.
“Azura awas!” Nura berteriak kencang saat bola basket menuju arah Azura.
Brugh!
Bola basket melayang tepat di wajah Azura tanpa meminta ijin untuk mendarat langsung di pipinya.
“Aduuh,” teriak Azura sambil menutup wajahnya.
Bola basket yang dengan indahnya tadi mendarat tepat di wajah Azura sekarang meluncur ke lapangan basket tanpa ada penyesalan maupun minta maaf. Kepalanya jadi sangat pusing dan malu. Ingin sekali ia membenamkan wajahnya di bawah bantal.
“Astaga maaf yaa,” ucap Vino menghampiri Azura. “Kamu ga apa-apa ‘kan?” tanyanya khawatir.
Azura mengerjapkan matanya dengan tidak percaya saat Vino sekarang berada tepat di hadapannya. Segala rasa sakit dan panas yang tadi mendera wajahnya seakan sembuh dan sirna.
“Aku ga apa-apa kok kak,” ucap Azura.
“Yakin kamu ga apa-apa? Tapi-tapi itu ada darah keluar dari hidungmu,” seru Vino tak percaya dengan apa yang Azura katakan.
“Darah? Di mana, di mana darahnya?” Azura memegang hidung yang berdarah. “Aakh, tidak. Aku berdarah ini.”
“Aku antar ke uks yaa.”
“Ga usah. Aku ga apa-apa kok.”
Tuhan, apakah engkau mengabulkan doa ku yang mendadak tadi? Apakah cara ini yang membuat aku berkenalan dengan Vino. Azura berkata dalam hatinya.
Bagi Azura kena bola basket berkali-kali pun ia rela asal bisa menarik perhatian Vino, tapi tiba-tiba ia merasa pusing dan melihat sekelilingnya seakan berputar seperti gangsingan. Badannya terasa lemas, tulang-tulang persendian kaki-kakinya seakan tak mampu menahan berat badannya. Tak lama ia pun tak sadarkan diri.
Vino dengan sigap menahan tubuh Azura agar tidak terjatuh di lantai dan segera menggendong tubuh Azura ke ruangan uks. Nura hanya bisa menganga. Mulutnya terbuka tak percaya dengan kejadian yang ada di depannya. Kisah ini seperti adegan sinetron yang biasa ditontonnya.