24

1314 Words
Helaan napas berat terdengar dari hembusan bibir seorang wanita yang sedang gundah. Segala permasalahan dalam hidupnya seakan tidak pernah berakhir. Ada saja berbagai macam masalah yang datang silih berganti. Kemarin saja tiga kali ia bertemu dengan orang-orang yang tak inginkannya dan ketiga-tiganya dalam satu lingkungan, keluarga yang sama dari ayah, anak, calon menantu datang silih berganti membuat tensi darah tingginya naik. Tinggal Ibu dan adik, Ben saja yang belum bertemu dengannya. Jangan sampai Winarti dan Sheila, adiknya Ben ikut-ikutan menyerangnya bisa-bisa ia jadi bara api yang membara. Sekarang perasaannya jadi gundah. Azura bingung harus bagaimana, jika masih tetap berada di Semarang akan membuat hidupnya tidak tenang, tapi jika harus pindah ke mana ia harus pergi. Sepanjang usianya ini hanya berada di Semarang, ke kota lain ia sangat jarang. Bahkan ia belum pernah yang namanya ke Jakarta. Bisa dibilang ia kurang gaul, kurang keren karena belum pernah menginjakkan kaki di Ibu kota. “Aku harus bagaimana sekarang,” ucapnya sedih. Seandainya Azura memiliki uang yang cukup pasti ingin segera pindah, tapi untuk keperluan sehari-hari saja ia mengalami kekurangan. Bagaimana untuk hal yang lainnya. Kegiatannya sekarang hanya menulis dari aplikasi berbayar, Mimpi. Walaupun terkadang bayaran aplikasi membaca Mimpi sering telat, tapi tak mengurangi semangatnya untuk menuangkan segala keluh kesah di tulisannya. “Aku harus nulis. Stock ceritaku udah ga ada buat update besok,” ucap Azura sambil membuka laptopnya. Laptop berwarna silver yang merupakan pemberian Ben menjadi tempatnya bekerja. Jika tidak ada laptop ia bisa menulis lewat ponsel, tapi sering mengalami kendala sebab ponselnya bukanlah keluaran terbaru dan mahal. Drrrt… drrrt… Azura melirik ponselnya yang bergetar di meja kerjanya. Dengan malas ia melihat nama yang tertera di layar ponsel. “Nah, sekarang malah beneran satu keluarga telepon aku,” ucapnya melihat nama Sheila melakukan panggilan telepon padanya. “Angka ga ya.” Azura jadi ragu. “Mau ngapain ya si Sheila telepon aku. Hmm, angkat ajalah dari pada penasaran.” “Hallo,” sapa Azura. “Hallo Ra. Gimana kabarmu dan anak-anak?” tanya Sheila. “Yaa kabar aku dan anak-anak masih sama seperti kemarin Sel. Kalau kamu gimana kabarnya?” Azura kembali bertanya keadaan mantan adik iparnya. “Nah, keadaan aku juga masih sama dengan yang kemarin, Ra.” “Kamu selalu saja bisa membalas perkataanku ya, Sel.” “Hahaha, sekali-sekali ga apa-apalah mantan kakak ipar.” “Iya deh mantan adik ipar.” Azura dan Sheila tertawa bersama. Walau Sheila merupakan adiknya Ben, tapi ia dan Sheila dulu berteman. Bahkan Sheila teman SMA dan kuliahnya dulu. “Ra, aku 3 hari lagi mau ke Semarang. Kamu datang yaa ke rumah mama dengan si kembar. Aku kangen sama keponakanku yang cool dan si cerewet,” ucap Sheila. Mendengar perkataan Sheila, ia jadi tak enak sendiri. Bagaimana mungkin ia datang bertemu keluarga yang menghina dan merendahkannya. “Eeh, kamu yang benar aja Sel suruh datang ke rumah emakmu. Aku nanti bisa di goreng hidup-hidup aku sama emakmu itu,” ucap Azura kesal. “Kalau sama kamu sih wajar mama ga suka bukan menantu idaman, hahaha.” Sheila tertawa mengejek Azura lalu berkata, “ kalau sama cucunya ga mungkinlah mama kayak gitu, Ra.” “Ga mungkin kepalamu peyang. Emakmu noh udah kayak banteng betina aja lihat aku mau diseruduk aja.” “Wah… wah… kamu kurang ajar nih ngatain emakku banteng betina, emakku ga kayak banteng betina.” Suara Sheila terdengar tak suka. “Aduuh… Maaf deh. Aku terlanjur jengkel sama emakmu.” “Dengar yaa Ra. Emakku memang bukan banteng betina, tapi singa betina, hahaha.” Sheila kembali tertawa terbahak-bahak. “Owalah dasar anak kurang asem. Kirain mau marah emaknya dihina dina ternyata malah makin ganas.” Azura menggelengkan kepalanya sendiri. “Udah pokoknya 3 hari lagi datang ke rumah mama dan bawa si kembar.” “Aku ga mau Sel. Tuh kakak iparmu si kucing garong makin gila nanti dia kalau ada aku.” “Kucing garong? Maksudmu si Rieka itu.” “Siapa lagi kalau bukan si Rieka. Dia kan kakak iparmu yang terbaru bukan aku lagi.” “Eh, sorry yaa… Rieka belum resmi jadi kakak iparku. Masih simpanan kak Ben.” “Mau simpanan kek, mau tabungan di masa muda atau tua kek, aku ga peduli.” “Kenapa ga sekalian tabungan di akhirat sekalian, Ra.” “Yaa udah sekalian deh simpanan tabungan di dunia dan akhirat. Biar halal nan barokah.” “Cie... cie… sebegitu cemburunya sama si Rieka. Masih cinta yaa sama kak Ben,” ejek Sheila. “Cemburu kepalamu bulat Sel. Tak sudi aku cinta sama kakakmu yang kena santet itu.” “Eh, ngomong-ngomong tentang dunia persantetan dan perdukunan yaa. Itu si Rieka kayaknya pake guna-guna deh, bisa aja dia pelet kak Ben jadi kayak judul-judul di film-film Guna-Guna Istri Muda.” Azura terdiam. Ia memikirkan apa benar kalau Ben telah di guna-guna sama Rieka. Melihat perilaku Ben yang berubah 360 derajat setelah mengenal Rieka. Mungkinkah Ben memang benar-benar sudah kena ilmu pelet. “Kalau guna-guna istri tua ada ga?” “Yaelah istri tua mah males kali pake guna-guna. Istri tua sih taat beribadah pada Yang Maha Kuasa. Nah, kalau istri muda taat beribadah pada Yang Maha Berduit.” Azura tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Sheila. “Hahaha, bisa aja kamu, Sel. Ga boleh gitu sama calon kakak ipar sendiri. Dosa tau.” “Hadeeh, mau dosa ataupun pahala kalau sama kucing garong aku males, Ra. Aku juga seorang istri kalau suamiku selingkuh dan lebih memilih selingkuhannya tentu aja aku sakit hati banget. Aku kan istri sah dan original bukan kw.” “Udah kayak tas aja Sel ada original dan kw segala.” “Iyalah si Rieka itu kan dari hidungnya, dagunya, dadanya semua udah di reparasi deh, udah di permak levis. Tapi, aku maklum sih namanya juga pemandu karaoke jadilah kayak gitu dan bukan hal baru lagi kalau wanita kayak Rieka itu sukanya main dukun.” “Biarlah semua jadi urusannya Rieka dan Tuhan, Sel. Lebih baik aku fokus sama anak-anak dan cari uang sendirk.” “Tapi kan kasian kak Ben, Ra. Kalau memang benar di guna-guna sama kasian sama kamu, si kembar yang jadi korban.” “Aku ga apa-apa kok, Sel. Yang penting aku ga melakukan hal yang sama seperti Rieka.” Rieka dan Azura saling berdiam diri sejenak. Mereka sibuk dengan berbagai macam kemungkinan, persoalan hidup yang berkecamuk di dalam pikiran. “Hallo Ra. Kamu masih di sana?” sapa Sheila lagi. “Ooh iya Sel. Maaf Sel aku kok jadi malah diam aja,” ucap Azura tak enak sendiri. “Hahaha, ga masalah Ra.” “Ooh iya kita sudah lama yaa ga saling telepon-telepon.” “Iya loh Ra udah lamaaa bangeetttt. Eh, aku jadi ingat masa-masa jaman SMA dan kuliah dulu deh yang indah.” “Hahaha, masa-masa sekolah yang begitu menyenangkan dan masa kuliah yang mengenal banyak hal. Jaman-jamannya belum mikir kalau pernikahan itu awal kehancuran.” Azura tersenyum mengingat kenangan indah sebelum masuk dalam pernikahan yang merenggut semua kebahagiaannya. “Maaf yaa Ra. Maaf banget aku sudah mengenalkan dan menjodohkan kamu sama kak Ben.” Sheila merasa tak enak sendiri. “Ga apa-apa Sel. Mungkin inilah yang namanya jalan kehidupan. Menikah dan bercerai sudah merupakan takdirku.” “Iya Ra.” “Jadi maaf yaa Sel aku ga enak kalau harus ke rumah Bu Winarti.” “Iya Ra, aku ngerti kok. Nanti aja aku yang ke rumahmu dari pada malah menambah masalah.” “Ok Ra. Jangan lupa bawa oleh-oleh dari Bali yaa.” “Siap bos.” Azura tersenyum sendiri setelah menyudahi pembicaraannya dengan Sheila. Sheila, Nura, dan dirinya merupakan sahabat yang selalu bersama hingga suatu persoalan membuat persahabatan mereka pun jadi berantakan meskipun ia sudah banyak mengalah pada Sheila. Sheila dulu seorang gadis yang keras kepala dan segala keinginannya harus dituruti, tapi itu dulu. Semenjak Sheila menikah, dia menjadi sosok yang berbeda dari sebelumnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD